
Kedua belah keluarga yaitu keluarga Zahra dan Vino sepakat memutuskan pernikahan mereka akan di gelar satu bulan setelah pertunangan. Meskipun pernikahan mereka terpaksa, namun mereka tetap mempersiapkan pernikahan dengan sebaik mungkin layaknya pasangan pada umumnya.
Kelak pernikahan dan resepsi akan di gelar di kediaman Zahra. Vino ingin memberikan yang terbaik untuk Zahra, iapun mengajak Zahra menemui desaigner ternama khusus untuk baju pengantin mereka. Meskipun awalnya Zahra menolak namun ia tetap mengikuti kemauan Vino.
Pembuatan gaun pernikahan mereka tidak memakan waktu lama. Zahra diminta mencoba pakaian pengantinya oleh sang desaigner. Setelah beberapa menit di ruang ganti, ia pun keluar. Vino menatap takjub wanita di hadapannya itu. Gaun pengantin berwarna gold bergaya gaun pengantin modern namun tetap menggunakan hijab. Membuat Zahra semakin terlihat anggun.
" Bagaimana Vino?" tanya Zahra, seraya menghampiri Vino yang diam mematung
" Cantik sekali," jawab Vino.
Zahrapun tersenyum mendengar pujian dari Vino.
" Vino, apa aku bisa membalas semua kebaikanmu? apa aku bisa membalas cintamu yang begitu besar padaku, aku takut mengecewakanmu," ujar Zahra yang mulai meneteskan air mata.
" Zahra, aku tidak memaksa kamu mencintaiku, aku yakin cintamu akan datang pada waktu yang tepat, biarlah mengalir seperti air mengalir, sekarag hapus air matamu," ujar Vino seraya meyeka air mata di pipi Zahra. Zahrapun mulai kembali tersenyum.
Butiq yang mereka kunjungi ada di Kota Malang. Vino sengaja mengajak Zahra untuk mampir ke cafe yang kini jadi miliknya. Maksud hati ingin menghiburnya namun ternyata Zahra semakin bersedih. Kenangan kebersamaannya denga Reyhan berputar-putar di dalam ingatanya seperti sebuah film.
Zahra duduk di kursi, beberapa pelayan lama yang mengenalnya menghampiri sekedar bertanya kabar dan bersalaman.
" Vino, maaf bisakah kamu mengajakku ke warung baso di depan kampus, sumpah aku kangen banget, aku juga kangen Nella dan Keyla," ucap Zahra seraya berdiri berusaha mengalihkan ingatannya tentang Reyhan.
" Baik Nona, apa sih yang nggak buat Nona Zahra?" ucap Vino menggoda, membuat Zahra tersenyum.
Vino membukakan pintu mobil buat Zahra, kemudian Vino mengemudikan mobil dengan cepat.
Sampailah mereka di depan warung yang menjual aneka baso dan mie. Setelah memarkirkan mobil, Vino dan Zahra mencari tempat duduk yang kosong.
Akhirnya Zahra menemukan meja yang kosong. Sambil menunggu pesanan diantar, mereka sibuk dengan ponselnya.
Sebuah kejutan kecil dari Vino, Ia menghubungi Nella dan Keyla yang kebetulan bekerja di Malang. Kebetulan juga hari libur jadi mereka bisa diajak untuk berkumpul.
" Assalamu' alaikum, Zahra," sapa Keyla.
" Wa'alaikumussalam, Keyla! Nella!!" jawab Zahra terkejut. Merekapun berpelukan melepas rindu.
" Apa kabar Zahra, dah kangen pengen dong cerita selama di jakarta, akhir-akhir ini kamu gak pernah hubungi kami lagi?" ujar Nella
__ADS_1
" Aku baik, maaf sibuk banget aku. Wah ini kan Radit dan Revan?" tanya Zahra pada laki-laki yang berada di belakang Nella dan Keyla.
" Hei Zahra, lama gak ketemu?" sapa Radit.
Akhirnya merekapun makan bersama sambil reoni kecil-kecilan. Pertemuan singkat itu sedikit membuat Zahra melupakan masalah yang tengah ia hadapi.
Teman-teman Zahra terkejut ketika ia menyampaikan undangan untuk hadir di pernikahan mereka. Radit dan Revanpun meledek habis-habisan Vino dan Zahra,
" Cie, Vino ternyata setelah berkelana akhirnya kembali juga eh teman sendiri ternyata jodohnya," ujar Radit
" Za, kamu gak salah milih nih, Si Tom n jery nikah juga,"
" Eh jangan salah biasanya dari benci jadi cinta loh," jawab Vino.
Zahra hanya tersenyum menimpali candaan teman-temannya itu.
***
Di Jakarta Reyhan betul-betul kehilangan semangat hidupnya. Vanessa berhasil mengajak kedunianya, mengikuti gaya hidupnya.
Seperti malam itu, Vanessa mengajak Reyhan kesebuah Club Malam. Vanessa menyodorkan minuman keras padanya, awalnya ia menolak. Namun Vanessa terus memaksa untuk mencobanya, akhirnya ia pun mau mencobanya.
Vanessa menopang tubuh Reyhan yang sempoyongan. Mereka keluar dari lift menuju apartemen Reyhan. Azzam tak sengaja melihat mereka. Melihat kondisi Reyhan, ia pun merasa miris.
Vanessa membawa Reyhan kekamar. Vanessa mencoba menggoda Reyhan yang berada diantara sadar dan tidak sadar. Alkohol membuatnya mabuk.
Vanessa mencoba melepas kancing kemeja Reyhan satu persatu, lalu mencium bibirnya. Tak disangka Reyhanpun membalas ciuman Vanessa, lalu memeluk erat tubuhnya. Hal itu membuat Vanessa semakin tergoda untuk melanjutkan aksinya.
Reyhan mendorong tubuh Vanessa ke atas kasur, dan berkata, " Zahra!"
Bruk!!
Reyhan jatuh tak sadarkan diri disamping tubuh Vanessa.
Vanessa yang semakin memuncak hasratnya harus gigit jari karena Reyhan langsung tak sadarkan diri. Mendengar nama rivalnya disebut oleh Reyhan membuatnya semakin kesal.
Pagi hari Reyhan terbangun dengan kepala yang terasa berat. Ia menoleh kesamping, alangkah terkejutnya , ia mendapati Vanessa berada di balik selimut tebalnya, hanya terlihat kepalanya saja.
__ADS_1
" Astagfirulloh! apa yang aku lakukan?" Reyhan mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
Vanessa menggeliat dan menggercapkan matanya, menyapa Reyhan yang bertelanjang dada menatap kearahnya dengan bingung, " Pagi sayang, tidurnya nyenyak sekali"
" Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Reyhan.
" Apa kamu lupa yang kamu perbuat semalam?" ujar Vanessa sembari bergelayut manja di bahu Rehan.
" Tidak mungkin, kita tidak melakukan apa-apa,"
" Ah kamu jahat, kalau aku hamil bagaimana, kamu harus bertanggung jawab" sembari memukul lengan Reyhan.
Reyhan beranjak dari kasur lalu masuk kekamar mandi. Reyhan mengutuk dirinya sendiri karena berbuat ceroboh dan sampai mabuk-mabukan.
Azzampun melihat Vanessa pagi-pagi keluar dari kediaman Reyhan. Ia pun menyimpulkan bahwa Vanessa bermalam dengan Reyhan. Azzampun bergumam dalam hati, " Gak nyangka kelakuan kamu sebenarnya seperti ini Reyhan,"
***
Sejak kejadian malam itu Reyhan dan Vanessa semakin dekat. Reyhan berusaha melupakan Zahra sehingga ia melampiaskan kepada Vanessa.
Reyhanpun tidak menolak ketika Vanessa memintanya melamarnya kepada kedua orang tuanya.
Vanessa mengajak Reyhan menemui kedua orang tuanya untuk membicarakan pertunangan mereka.
Kabar pertunangan mereka telah sampai pada Zahra. Zahra semakin terpukul dengan kabar tersebut. Ia merasa kini benar-benar akan kehilangan Reyhan, sehingga ia berusaha mengikhlaskannya walaupun begitu berat.
Bu Fatma mengajak Vino ke Jakarta untuk menghadiri pertunangan Kakaknya itu,
" Vino besok kita ke Jakarta ya, Kakakmu mau bertunangan," ajak Bu Fatma.
" Tidak Ma, aku tidak mau?"
" Kenapa sayang? apa karena Dia tidak hadir di acara pertunanganmu dengan Zahra. kini kamu mau membalasnya?"
" Bukan itu, Ma. Aku tidak suka dengan Vanessa calon tunangannya Kak Reyhan. Dia mendapatkan Kak Reyhan dengan cara licik,"
" Apa maksud kamu Vino?" tanya Bu Fatma yang heran dengan pernyataan anaknya itu.
__ADS_1
" Sudahlah Ma, saya juga masih sibuk ngurus pernikahanku sendiri yang kurang satu minggu Ma,"
" Kan masih ada waktu sayang," jawab Bu Fatma.