
Sekembalinya Zahra dari Batu, Ia kini tengah sibuk mempersiapkan acara wisudanya minggu depan. Zahra dan kawan-kawan berburu pakaian kebaya di sebuah butik yang akan ia kenakan pada acara tersebut. Ia mencoba busana kebaya beberapa kali mencari yang cocok.
Dering ponsel berbunyi, Zahra segera menjawab panggilan telephon yang masuk. Ternyata dari Reyhan. Zahra memberi salam, " Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Zahra kamu sekarang di mana?" tanya Reyhan.
" Saya di butik mas, mau beli baju buat wisuda," jawab Zahra
" Share lock, aku mau kesana."
" Ngapain mas Reyhan kesini? ini aku sama teman-temanku."
" Kirim saja," desak Reyhan.
Panggilan terputus, Zahrapun mengomel sendiri sembari menatap ponselnya, " Hem jadi bos, jadi pacar sama saja suka maksa, hem."
Zahra kembali melihat-lihat baju, akhirnya satu stel baju kebaya berwarna kuning emas jadi pilihannya. Kini tinggal menunggu kedua temannya yang belum menemukan yang cocok.
" Zahra!"
" Mas Reyhan, kok cepat sekali?"
" Aku ada di dekat sini, sudah dapat bajunya?"
" Sudah mas tinggal nunggu mereka."
" Tinggal saja tidak apa-apa Zahra," ujar Nella yang menyadari keberadaan Reyhan.
"Iya Mas Reyhan, bawa saja Zahra," dahut Keyla.
" Ya sudah aku pinjam teman kalian bentar ya," ujar Reyhan.
" Nella, Keyla! maaf saya duluan ya," Zahra berpamitan.
"Oke! balas Nella dan Keyla.
Reyhan dan Zahra keluardari butik. Reyhan bertanya pafa Zahra, "Mana kunci motormu?"
"Ini, Mas Reyhan gak bawa mobil?'
"Nggak, biar bisa boncengin kamu."
"Kita mau kemana?"
" Kita makan siang bersama ."
Merekapun berboncengan hingga sampai di depan rumah Reyhan. Zahra berfikir kalau Reyhan akan mengajaknya makan siang di sebuah restoran mewah, namun ternyata di rumah orang tua Reyhan.
__ADS_1
"Mas kok kesini?" tanya Zahra
"Kita makan siang dengan Mama, sekalian akan saya perkenalkan dengan Mamaku."
" Kan sudah kenal."
" Ia. Dulu kenalannya sebagai pegaiwaiku, sekarang kenalan sebagai calon istriku," ujar Reyhan menggoda Zahra seraya menatap wajahnya.
"Aku malu, takut."
" Jangan takut, mamaku baik bukan?"
Seorang satpam membukakan pintu gerbang , Reyhan dan Zahra turun dari sepeda, langsung menuju ruang makan.
Di atas meja makan sudah terhidang berbagai makanan. Zahra belum sempat duduk, Ibu Fatma keluar dari kamar menghampiri mereka dan bertanya, " Tumben Reyhan kamu pulang makan siang dirumah?"
"Iya, Ma, ada yang mau saya kenalkan ke Mama."
" Ibu sudah kenal, bukan kah itu Zahra, pegawai yang kamu kirim untuk membujuk mama. Sekarang mau kamu suruh apa lagi dia?"
Zahra bersalaman mencium punggung tangan Bu Fatma. Ia merasa takut, malu dan minder karena statusnya sebagai pelayan cafe. Ia takut calon mertuanya itu akan menolak dirinya.
Reyhan menarik kursi di ujung meja untuk mempersilahkan Bu Fatma duduk. Kemudian menarik kursi lagi, mempersilahkan Zahra duduk. Reyhan duduk di samping Zahra. Bu Fatma mengamati sikap anaknya dalam memperlakukan pegawainya itu.
"Ma, ini Zahra calon menantu Mama," ujar Reyhan lembut.
Sontak ucapan Bu Fatma membuat ciut hati Zahra. Ia tertunduk malu, menyadari statusnya yang berbeda kelas dengan keluarga Reyhan.
"Ma, saya mohon jangan bicara seperti itu di hadapan Zahra, masalah Karin sudah kita bicarakan dulu. Saya tidak mencintai Karin Ma, Zahra yang saya cintai, Dia yang telah merubah hidup saya."
" Maafkan mama Reyhan, Saya hanya kecewa karena kamu menolak Karin anak sahabat Almarhum Papamu."
" Ma, saya mohon restuilah kami."
" Reyhan, kalau memang gadis ini yang jadi pilihanmu, Mama terserah kamu, asalkan kamu bahagia."
"Trimakasih, Ma."
Reyhan mengambilkan nasi untuk Bu Fatma dan Zahra. Ia merasa kasihan kepada Zahra yang merasa terpojokkan. Zahra makan dengan canggung. Selesai makan Ia hendak ikut membereskan piring kotor, namun Reyhan mencegahnya. Reyhan berpamitan untuk kembali kekantornya dan mengantar Zahra pulang.
***
Reyhan mengantar Zahra sampai ke gerbang kosan Zahra. Kemudian menelphon sopir pribadi untuk menjemputnya. Jabatan baru sebagai direktur di perusahaannya membuat ia mendapatkan fasilitas mewah termasuk supir pribadi.
" Masuk dulu Mas, sambil nunggu mobilnya datang," pinta Zahra. Reyhanpun mengikuti permintaaan Zahra. Ia duduk di serambi rumah kos.
" Zahra, saya minta maaf atas ucapan Mama tadi, saya mohon jangan di masukkan hati, ya," ujar Reyhan, seraya menatap Zahra yang terlihat berbeda, tidak seceria biasanya
__ADS_1
" Ucapan Mamanya Mas Reyhan ada betulnya juga kok, saya sadar Mas, saya cuma dari keluarga biasa Mas, jauh bila di bandingkan dengan keluarga mas Reyhan, apa Mas yakin dengan hubungan kita? Saya takut. Apa tidak sebaiknya Mas cari wanita lain."
" Jangan bicara seperti itu, kita harus yakin dengan cinta kita, apapun rintangannya kita hadapi bersama. Ingatlah Zahra, kamu sekarang yang paling berharga di hidupku."
Mobil yang menjemput Reyhanpun datang. Ia pun berpamitan lalu pergi. Meninggalkan Zahra dalam kegalauan hatinya. Ucapan Bu Fatma terngiang-ngiang dalam benaknya .
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti. Zahra yang hendak masuk kamar menghentikan langkah dan menoleh kearah pintu gerbang. Bu Fatma turun dari dalam mobil, menenteng tas bermerek, dan mengenakan perhiasan yang mewah.
Zahra mempersilahkannya duduk di kursi teras.
" Silahkan duduk Bu," pinta Zahra. Setelah Bu Fatma duduk iapun ikut duduk. Ia bertanya pafa wanita di hadaoannya itu dengan sopan,
" Ada apa Ibu kemari?"
" Hanya ingin memastikan siapa kamu, kok bisa anak saya sampai menyukaimu dari pada Karin," jawab Bu Fatma sedikit ketus.
Kali ini Zahra berusaha menguatkan hati menghadapi calon mertuanya itu. Ia tersenyum mendengar perkataan Bu Fatma. Ia berkata dengan tersenyum, " Apa yang mau Ibu ketahui tentang saya, saya akan menjawabnya apa adanya saya."
" Apa motif kamu mendekati anak saya?"
" Bu maaf, saya tidak ada motif apa-apa, saya tulus mencintai Mas Reyhan. Bukan saya yang mendekati anak Ibu, melainkan anak Ibu yang mengejar-ngejar saya."
Wajah Bu Fatma masih belum puas mendengar jawaban Zahra. Ia masih penasaran dengan pilihan anaknya Itu. Bagaimana gadis sederhana seperti Zahra bisa memikat hati anaknya di banding dengan Karin yang lebih cantik menurutnya, lebih cerdas, elegan, modern dan berkelas. Ia dulu sangat berharap Karin menjadi menantunya. Ia kembali bertanya tentang kelyarga Zahra,
" Dimana orang tua mu, kenapa kamu tinggal di sini?"
"Kedua orang tua saya di Batu bu, saya tinggal disini biar lebih dekat dengan kampus tempat kuliah saya, sorenya saya bisa bekerja di Cafe. Oh iya Ibu mau minum apa biar saya buatkan dulu?"
"Tidak usah repot-repot, saya akan segera pergi. Saya hanya mengingatkan jangan sampai menyakiti anak saya," ujar Bu Fatma yang masih ketus.
Bu Fatma berdiri dari duduknya. Setelah mengucap salam ia pun pergi. Zahra ikut berdiri, hatinya masih berdebar-debar menghadapi Bu Fatma. Ia sadar calon mertuanya itu masih belum sepenuhnya menerima kenyataan kalau Zahra lah pilihan hati Reyhan.
Haduh Anak sama Ibunya kok sama-sama bikin orang jantungan, dasar anak mami. Aku mau nyakitin apa coba?apa bukan anaknya itu yang galak?
Galak, tapi kenapa aku suka ya?
Zahra tersenyum sendiri mengingat perilaku bosnya itu sebelum dia jadi kekasihnya. Kedatangan teman-temannya membuyarkan lamunannya.
" Zahra kamu mau es kelapa muda? ini aku bungkusin sekalian, tanya Nella. Di tangannya menenteng banyak barang belanjaan.
"Sini, trimakasih."
Srot! srot! dalam sekejap es kelapa muda habis airnya, tinggal beberapa serutan kelapa.
"Hah, Za kamu ini kayak orang habis lari maraton saja, kehausan apa doyan?" ejek Keyla.
"Hemm,, ini lebih dari lari maraton, lebih dari ujian skripsi dengan dosen super killer, ntar aja ceritamya," jawab Zahra sembari menyandarkan diri di sandaran kursi seraya mengatur nafas, nenenangkan hatinya yang masih berdebar-debar.
__ADS_1