Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Pagi di rumah baru


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang, dua insan khusuk bersimpuh di atas sajadahnya. Doa-doa mereka panjatkan pada Sang Pemilik Hidupnya.


Zahra mencium punggung tangan Reyhan, Reyhanpun mencium kening istrinya itu lalu memeluknya. Reyhan berbisik padanya," Semoga kita akan selalu seperti ini, bersama putra-putri kita kelak, kita kan menua bersama,"


"Insyaalloh Mas," jawab Zahra yang makin mempererat pelukannya.


Zahra beranjak dari duduk, melepas mukenah dan merapikannya. Ia membuka pintu teras kamarnya. Seperti yang pernah Reyhan bilang setiap rumahnya ada kolam renangnya. Zahrapun terpesona dengan taman kecil penuh bunga di samping kolam renang.


Reyhan kemudian mengajak Zahra untuk Room tour rumah baru mereka. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Reyhan membukakan pintu sebuah kamar dan berkata," Sayang ini nanti kamar anak-anak kita, aku ingin anak yang banyak," ucap Reyhan seraya memeluknya dari belakang.


" Banyak? berapa mas?"


" Berapapun aku mau, biar rumah kita ramai?" jawab Reyhan.


Lantai atas terdiri dari 4 kamar tidur, ruang santai di tengah-tengah ruangan. Dari masing-masing kamar terdapat balkon yang menghadap ke luar.


Reyhan mengajak ke dapur memperkenalkan kepada seluruh ART. Terlihat dua orang wanita paruh baya memasak di dapur, dan dua orang laki-laki, seorang Satpam bernama Pak Yanto dan seorang tukang kebun merangkap menjadi sopir bernama Pak Yuda.


Reyhan dan Zahra tengah duduk di meja makan, mengamati dua ART yang sedang sibuk menghidangkan makanan.


Setelah selesai ke dua ART itu pun berdiri mempersilahksn tuannya untuk sarapan.


'" Zahra ini ibu-ibu yang membantu kita mengurus rumah, yang ini bi Siti yang kamu temui semalam dan yang satunya Bi Ira," seraya menunjuk kearah para ART.


" Salam kenal ibu-ibu yang cantik, trimakasih sebelumnya sudah membantu kami," ujar Zahra tersenyum manis.


" Sama-sama Bu. monggo sarapan," jawab Bi Irah.


" Panggil aja 'Mbak' ya Bi, biar kesannya awet muda gitu. Kalo 'Bu' kesannya tua banget," ujar Zahra. Membuat ke dua ART nya tersenyum.


" Iya Mbak," jawab kedua ART.


Suara bel berbunyi, Bibi Siti berlari membukakan pintu. Bu Fatma masuk ke dalam rumah menghampiri Reyhan dan Zahra di meja makan. Zahra dan Reyhan berdiri menyalami Bu Fatma


" Mama ayo sarapan?" ajak Zahra, seraya memundurkan kursi dan meminta mertuanya duduk.


" Kebetulan mama juga belum sarapan," jawab Bu Fatma.


Merekapun sarapan bersama, selesai sarapan mereka melanjutkan mengobrol di teras samping rumah yang menghadap ketaman dan kolam renang.


" Zahra bagaimana suka rumahnya? Mama harap kamu betah tinggal di sini,"


" Suka banget Ma, Insyalloh betah Ma," jawab Zahra.


" Mama sangat berharap bisa segera menimang cucu dari kalian,"


" Insyaalloh Ma, doakan saja," jawab Reyhan seraya memegang pundak Bu Fatma yang tengah duduk. Sementara Zahra tersipu malu mendengar percakapan tentang anak.


" Oh iya Ma, trimakasih banyak ya telah membelikan baju buat saya, cantik-cantik sekali," ucap Zahra mengalihkan pembicaraan.


" Kamu suka?" tanya bu Fatma

__ADS_1


" Suka sih, cuma baju tidurnya sama semua, gak ada kancingnya" jawab Zahra


" Kenapa, kalau gak suka nanti beli lagi, apa mau Mama antar?"


" Gak usah ma, Reyhan suka sekali kok, nanti kapan-kapan biar saya antar belanja sendiri saja Ma," ujar Reyhan.


" Kamu ini!" ucap Bu Fatma seraya mencubit pinggang Reyhan, membuatnya meringis.


Waktu menunjukkan pukul 08.30 Reyhan berpamitan untuk berangkat ke Kantor. Sementara itu bu Fatma mengajak Zahra berbelanja kebutuhan dapur ke sebuah supermarket.


Reyhan meminta Pak Yuda mengantar Bu Fatma dan Zahra ke supermarket di sebyah mall. Sampai di supermarket Bu Fatma layaknya mertua yang baik mrngajari Zahra bahan-bahan dapur yang di butuhkan serta apa saja keperlyan Reyhan yang di sukai maupun yang tidak di sukai.


Bu Fatma memasukkan banyak bahan makanan kedalam keranjang belanjaan seraya menjelaskan kepada Zahra. Ternyata banyak sekali, mungkin akan susah ia ingat bila tidak di catat. Biasanya sebelum menikah ia tidak perlu repot-repot mengurusi urusan perdapuran karena sudah ada Ibu dan ARTnya.


Zahra hanya mendengarkan mertuanya itu seraya mendorong stroler, sesekali mengambil barang yang di minta oleh Bu Fatma.


" Zahra tolong ambilkan kaldu jamur disana!"


" Iya ma,"


" Reyhan lebih suka pakai kaldu jamur, ia tidak suka vetsin,"


" Itu juga, kecap manis, asin, minyak wijen, minysk inggris," ujar Bu Fatma menunjuk barang-barang.


" Iya Ma," seraya meraih botol-botol yang mertuanya sebutkan.


" Reyhan suka sekali nadi goreng,"


Tiba-tiba Karin muncul di hadapan mereka. Karin memeluk Bu Fatma dan asik bercakap-cakap, ia tak menghiraukan Zahra. Zahrapun meninggalkan Bu Fatma yang mungkin sedang melepas rindu dengan Karin.


Ia memilih melihat-lihat barang yang mungkin ia butuhkan. Iapun memgambil satu box pembalut, kapas dan beberapa alat kosmetik favoritnya.


Zahra menuju ke tempat di mana ia meninggalkan mertuanya, namun ternyata baik karin dan mertuanya sudah tidak ada di tempat. Zahrapun segera menuju kasir. Petugas kasir menyebutkan nominal yang harus ia bayar, iapun segera mengeluarkan kartu ATM yang telah di berikan Reyhan beberapa hari yang lalu. Iapun baru sadar bahwa Reyhan belum pernah memberikan nomor PIN nya.


Zahrapun memeriksa dompetnya dan mengeluarkan ATM pribadinya sambil mengomel sendiri, "Ini orang niat ngasih nafkah nggak sih, masak ngasih ATM nya doang, gak sekalian nomor PINnya. Untung saja aku bawa ATM sendiri."


Petugas kasir yang mendengar Zahra bicara sendiri jadi tersenyum.


Zahra membawa dua kantong plastik besar, matanya menelusuri keberadaan mama mertuanya itu. Hatinya bergumam, " Oh mama, kok menantunya ditinggal sih demi mantu idamannya yang nggak kesampaian itu,"


Zahra yang awalnya biasa saja, kini merasa cemburu ketika mendapati mama mertuanya bersenda gurau dengan Karin yang dulu sempat akan di jodohkan dengan Reyhan itu di ujung kedai kue dan kopi.


Zahra menghampiri Bu Fatma dan Karin.


" Maaf Zahra mama sampai melupakanmu, habisnya lama tidak bertemu Karin jadi keasyikan ngobrol,"


" Tidak apa-apa Ma,"


" Oh iya kamu masih ingat Karin kan?"


"Iya Ma, apa kabar Mbak Karin?"

__ADS_1


" Baik, belanja apa saja mborong rupanya?" jawan Karin.


" Iya banyak sekali, sekalian ngajarin Zahra belanja keperlyan dapur dan juga yang di butuhksn Reyhan," jawab Bu Fatma. Zahra hanya tersenyum.


" Iya harus di ajari Ma, apalagi Zahrakan masih anak kemarin sore, apa lagi biasanya orang kampung belanjanya kan di pasar tradisional," jawab Karin dengan sinis.


Zahra mencium gelagat kurang sedap dari arah pembicaran Karin. Ada bumbu-bumbu perpaduan merica dan asam menjadi rasa iri, cemburu dan benci.


" Iya Mbak Karin gak tau tuh Mas Reyhan memang sukanya yang muda dan yang segar-segar. Kalau makan saja sukanya lalap pakai timun yang muda gak suka tuh yang tua-tua," ujar Zahra, karena tidak mau bertengkar di hadapan mama mertuanya iapun bicara ngawur seolah menyindir Karin yang sudah berumur namun belum menikah dan gagal mendapatkan Reyhan.


Bu Fatma dan Zahra berpamitan dengan Karin. Zahra berusaha bersikap biasa saja kepada Karin yang telah meremehkannya.


" Kami pergi dulu ya Mbak, sampai jumpa!" ucap Zahra berbicara dengan gaya sok imut meninggalkan Karin yang terlihat memaksakan tersenyum kepadanya dan Bu Fatma.


Ketika mobil sudah meluncur menuju rumah, Zahrapun mngirim pesan pada Reyhan,


" *Assalamu'alaikum Mas, apa sedang sibuk?"


" Wa'alaikumussalam, say. Ada apa?"


" Niat nggak sih ngasih nafkah?"


" Niat banget sayang nafkah lahir batin,"


" Masak ngasih ATMnya saja, mana PINnya?"


" Maaf lupa, aku belum bilang pakai tanggal pernikahan kita biar kamu mudah mengingatnya,"


" Ya sih ingat, ingat juga tragedinya,"


" Sekarang kartunya kamu pegang, terserah kalau kamu ganti,"


" Sudah ya Mas ini aku dari supermarket sama Mama, selamat bekerja,"


" Iya sayang, jangan lupa sholat tepat waktu, makan siang, tidur siang,"


" Iya Maaasss!"


" Tunggu entar malam aku kasih doble nafkah lahir batinya jangan marah lagi,"


" itu sih enak di kamu mas!"


Bu Fatma dan Zahra turun dari mobil setibanya di halaman rumah Zahra. Bi Siti menghampiri mereka membawakan barang belanjaan.


Bu Fatmapun berpamitan dengan Zahra, " Mama langsung pulang ya," seraya memeluk menantunya itu.


" Kog tidak menginap disini saja Ma?"


" Kapan-kapan saja, lagian rumah kita berdekatan. Sewaktu-waktu Mama bisa kesini."


" Hati-hati Ma," ucap Zahra sembari mencium tangan mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2