
Reyhan keluar dari rumah Vanesa dengan perasaan kacau. Ia mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Ia bingung harus kemana. Ia tak sanggup menampakkan wajah dihadapan istrinya.
Pengakuan Vanessa lama-kelamaan meruntuhkan keyakinannya pada diri sendiri. Keraguan dan rasa tak percaya bahwa dirinya telah menghamili seorang wanita dalam keadaan mabuk.
Pembalasan dendam Vanessa kini benar-benar ia rasakan. Reyhan di hantui rasa bersalah pada Zahra istrinya dan juga anak yang katanya hasil hubungannya dengan Vanessa.
Reyhan menghentikan mobilnya di parkiran cafe D'Amor. Ia langsung menuju kamar di lantai dua. Ia tak menghiraukan para pegawai cafe yang menyapa, bahkan Vino yang menyapapun tak ia hiraukan. Reyhan merebahkan diri di ranjang hingga ia tertidur.
Vino merasa iba dengan nasib rumah tangga kakaknya itu. Iapun menghubungi beberapa orang untuk membantunya menyelidiki tentang Vanessa dan bayinya.
Sementara itu Zahra masih menunggu Reyhan untuk makan malam. Meskipun sedang tidak akur mereka masih menyempatkan untuk makan malam bersama seperti biasanya. Malam semakin larut namun Reyhan tak kunjung pulang. Akhirnya Zahra beranjak dari meja makan.
" Mbak Zahra sebaiknya makan dulu," saran Bi Ira.
" Nanti saja Bi," jawab Zahra lalu pergi menuju kamar tidur.
Reyhan terbangun tengah malam. Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam. Ia segera turun menuju mobilnya. Ia mulai mengemudikan mobilnya dengan pelan, hatinya bergumam, " Mengapa aku harus pulang? Bukankah pulang atau tidak Zahra sudah tidak perduli."
Meskipun demikian Reyhan tetap pulang ke rumahnya.
Bi Ira membukakan pintu. Dari sorot matanya terlihat sudah sangat mengantuk dan lelah, Reyhanpun berkata, " Maaf Bi membangunkan mu malam-malam begini,"
" Tidak apa-apa Pak, saya juga belum tidur, soalnya Mbak Zahra juga baru masuk kamar, mulai tadi menunggu Bapak,
Mbak Zahra juga belum makan."
" Iya Bi, trimakasih," ucap Reyhan.
Reyhan membuka pintu kamar, lampu masih menyala. Seperti biasa beberapa hari ini Zahra selalu tertidur di sofa. Reyhan mengangkat tubuh istrinya dan memindahkannya ke tempat tidur. Zahra tiba-tiba terbangun. suara perut kroncongan berbunyi membuat Reyhan tersenyum. Reyhanpun berkata," Tunggu disini aku akan ambil makanan,"
" Tidak usah mas, ini sudah larut, aku malas makan," jawab Zahra.
Reyhan tidak mendengarkan kata-kata Zahra. Ia tetap saja menuju dapur. Tak lama kemudian Ia sudah kembali dengan membawa dua piring nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauknya meletakkannya di meja.
" Ayo makan! jangan sampai kamu sakit, itu akan membuat rasa bersalahku semakin besar."
Zahra berdiri menuju sofa, ia melihat kearah Reyhan. Ia merasa heran akan sikap suaminya yang tiba-tiba kembali lembut tidak seperti beberapa hari yang lalu.
Zahra makan dengan lahap karena sangat lapar. Reyhan mengunyah makanannya sesekali tersenyum melihat istrinya yang begitu lahap.
__ADS_1
Selesai makan Reyhan membereskan piring kotor kedapur. Kini ia kembali kekamar dengan berjalan lambat sembari mengatur nafas. Malam ini ia akan mengambil keputusan untuk dirinya dan Zahra.
Reyhan melihat istrinya masih duduk bersandar di atas ranjang, hanya lampu tidur sebagai penerang.
" Bolehkan aku duduk di sampingmu?" tanya Reyhan.
Zahra hanya mengangguk seraya tersenyum memberi isyarat mengiyakan.
Reyhan duduk di samping Zahra, dan mulai bicara,
" Zahra aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku yang sangat hina ini di matamu. Aku hanya ingin kamu tahu kamulah wanita satu-satunya di hatiku selain mama. Saat ini aku tidak bisa membuktikan apa-apa padamu. Aku rela jika kamu ingin berpisah dariku jika itu bisa membuatmu bahagia,"
Zahra mulai meneteskan airmata, iapun bertanya " Apa kamu sudah menyerah?"
" Bukannya aku menyerah, aku hanya tak ingin semakin membuatmu terluka, jika mempertahankanmu di sisiku. Aku sudah belajar banyak hal tentang cinta. Jika Vino bisa berkorban untukmu, mengapa aku tidak bisa?"
" Apa ini sebuah pengakuan tentang Vanessa dan bayinya?"
"Apapun nanti hasil pembuktiannya, yang aku tahu tujuan Vanessa hanya membalas dendam. Sekarang pikirkan tentang perasaan kita berdua. Bila memang kita akan berpisah aku ingin kita berpisah dengan baik-baik dan memiliki kenangan indah di akhir cerita kita. Meskipun pada akhirnya perpisahan tetaplah menyakitkan."
Zahra semakin terisak ketika mendengar kata perpisahan.
" Sebenarnya aku tak ingin berpisah, tapi aku juga tak ingin memaksamu tetap tinggal di sisiku. Hanya satu permintaanku, berikan aku waktu mengulang kembali hari-hari indah kebersamaan kita. Satu bulan saja bisakah kita hidup seperti dulu."
" Permintaanmu itu sangat sulit mas, semakin kita bersama semakin kita akn terluka jika perpisahan itu tiba," jawab Zahra
" Bisakah kita mencoba, bisakah kamu acuhkan dulu rasa bencimu padaku?"
"Bukankah kamu tak suka hal rumit?"
" Kamu boleh mengajukan gugatan kepengadilan, setelah berpisah denganmu aku tak akan bisa hidup dengan wanita lain selain kamu,"
Zahra memeluk Reyhan dan berkata, " Ya aku akan mencobanya, satu bulan saja bukan?"
Jarum jam tak terasa telah menunjukkan pukul 02.00 WIB, mereka masih terjaga. Mata mereka saling beradu namun kemudian saling membelakangi hingga tertidur.
***
Pagi hari pertama sesuai permintaan Reyhan. Zahra seperti biasa sholat berjamaah. Pagi-pagi Reyhan berolah raga joging di sekitar rumahnya. Setelah itu ia menghampiri Zahra yang tengah membaca sebuah buku. Ia masih menggunakan handuk kimononya.
__ADS_1
" Zahra aku akan mengajarimu berenang, kali ini berenang betulan," ujar Reyhan.
" Dingin,"
" Ayo!" Reyhan mengangkat Zahra kekolam renang.
Reyhan dengan sabar melatihnya berenang, hingga Zahra terlihat sangat kegirangan ketika ia bisa mengapunkan diri di air.
Reyhan berusaha melancarkan aksinya dengan mencoba mencium Zahra, namun Zahra menolaknya, dengan berkata, " Aku menyetujui permintaanmu Mas, tapi tidak dengan satu hal itu, aku harap kamu mengerti meskipun aku masih istri sah kamu. Kita hanya akan bersikap layaknya suami istri tapi tidak untuk berhubungan,"
" Baiklah, tapi aku tidak akan menolaknya jika kamu yang meminta duluan," ucap Reyhan dengan tersenyum genit.
" Jangan terlalu berharap," jawab Zahra.
" Ayo kita coba lagi, sekarang gerakkan tangan dan kakimu, dorong tubuhmu kedepan!" pinta Reyhan.
Zahra begitu bersemangat berlatih berenang. Ada sedikit kemajuan ketrampilan berenangnya.
Selesai berenang mereka membersihkan diri dan berganti pakaian kerja. Sarapan sudah menunggu mereka di meja makan. Selesai sarapan seperti biasa Reyhan berangkat ke kantor terlebih dahulu. Reyhan mencium pipi kiri dan kanan Zahra. Kali ini Reyhan belum beranjak sebelum Zahra membalas ciumannya. Akhirnya dengan malu-malu Zahra mencium pipi Reyhan, lalu mencium tangannya. Reyhan mengucap salam fan Zahrapun menjawab salam.
Meskipun kebiasaan itu sudah berlangsung hampir satu tahun namun kali ini terlihat canggung setelah terjadi pertengkaran diantara mereka.
Zahra menyusul berangkat ke kantor. Kali ini ia mengemudikan sepeda motornya. Lagi-lagi di jalan ia melihat Vanessa menggendong bayinya. Zahra kemudian menghentikan sepedanya di sebuah taman.
" Vanessa!"
" Rupanya kamu Zahra! Apa kabarmu?" tanya Vanessa yang sok baik.
" Tidak usah basa-basi, kenapa kamu mengganggu hidupku lagi?" tanya Zahra.
" Aku hanya kasihan kepada bayiku. Ia membutuhkan ayahnya."
" Apa maksudmu, anak siapa itu?"
" Tanyakan pada suamimu,"
" Kalau itu anak Mas Reyhan kenapa baru sekarang kamu muncul dan mau meminta pertanggung jawaban?"
" Jangan bercaya kata-katanya Zahra, pasti dia berbohong," sahut Vino yang tiba-tiba muncul di belakang Zahra.
__ADS_1