Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Pengakuan


__ADS_3

Reyhan menghembuskan nafas dengan kencang lalu mulai bicara," Sebenarnya kejadian itu sebelum aku menikahimu. Dulu aku sangat frustasi ketika kamu memilih Vino, aku merasa kau telah menghianatiku. Aku kecewa dan terluka. Vanessa datang menghiburku dan saat itu ia mengenalkanku dengan minuman keras. Baru pertama kali meneguk minuman itu seumur hidupku. Aku mabuk dan Vanessa mengantar pulang ke apartemen. Aku masih ingat saat itu kepalaku pusing lalu tak sadarkan diri. Paginya aku melihat Vanessa tidur di sampingku, seperti yang kamu lihat dalam foto itu.Tapi Zahra, terserah kamu percaya atau tidak. Aku merasa tak melakukan apapun dengan Vanessa."


" Bagaimana aku bisa percaya mas, bukankah saat itu kamu mabuk tak sadarkan diri? Kamu pun sebenarnya ragukan? dalam keadaan seperti itu bisa berbuat apa saja? Dan setelah semua terjadi kamu masih berani menemui dan menikahiku?"


Zahra menyeka air matanya, iapun melanjutkan bicara dengan suara yang semakin serak," Bagaimana kalau dia hamil? hampir satu tahun kejadian itu? mungkin dia sudah melahirkan?"


" Tidak mungkin Zahra! aku tidak melakukan apapun?"


Zahra berdiri menatap keluar jendela, membelakangi suaminya lalu berkata," Baiklah Mas, buktikan kalau kamu memang tidak berzina dengannya! kalau kamu tidak bisa membuktikannya, aku tetap pada keputusanku, ceraikan aku! aku tidak bisa hidup denganmu dengan bayang-bayang wanita lain."


Setelah pembicaraan itu Zahra dan Reyhan pergi bersama-sama kerumah sakit menjenguk Bu Fatma. Meskipun satu mobil mereka sama-sama diam membisu.


Sesampainya di rumah sakit ketika mereka menemui Bu Fatma mereka bersikap seperti biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


" Bagaimana keadaan Mama sekarang?" tanya Zahra seraya mengusap lembut tangan bu Fatma.


" Sudah enakan Zahra, Mama bosan di sini, pengen pulang," jawab Bu Fatma.


" Kita tunggu dokter dulu ya Ma," bujuk Reyhan.


Bu Fatma mengangguk, wajahnya berseri senyumpun merekah dari bibirnya.


Akhirnya Dokter yang menangani Bu Fatma datang memeriksa. Bu Fatma di perbolehkan pulang namun harus rutin kontrol sampai kesehatannya benar-benar pulih.


Reyhan dan Zahra mengantar Bu Fatma pulang kerumahnya. Zahra meminta menginap di rumah Bu Fatma.


" Ma, biarkan saya menginap di sini, agar bisa merawat mama?"


" Nanti merepotkan kamu sayang, sudah ada Bi Ijah dan Bi Iyah," jawab Bu Fatma.


Reyhan tahu Zahra hanya ingin menghindarinya, dia pun ikut mencegah Zahra," Iya sayang, kita pulang saja,"


" Bolehkan Ma? lagian sudah lama saya tidak menginap di sini" bujuk Zahra kepada mama mertuanya tanpa memperdulikan Reyhan.


" Iya sayang, terserah kamu saja," jawab Bu Fatma.


Malam tiba Zahra ingin segera merebahkan diri di kasur yang empuk, setelah seharian menemani Bu Fatma, mulai dari menyuapinya dan menemani mengobrol. Setelah Bu Fatma tertidur barulah ia bisa beristirahat.


Zahra membuka lemari dan mengambil baju tidur. Beberapa bajunya masih tertinggal di kamar itu, kamar yang dulu mereka tempati bersama Reyhan sebelum pindah kerumah mereka sendiri.

__ADS_1


Zahra begitu mengantuk, hingga setelah kepalanya menempel pada bantal iapun tertidur masuk ke alam mimpi. Zahra melihat Reyhan dan Vanessa tengah berdua dengan seorang anak kecil di pangkuanya. Mereka tertawa bahagia. Zahrapun berteriak, " Tidak!" iapun terbangun dari tidurnya.


Zahra duduk mengusap air mata yang menetes tanpa ia sadari. Ia berharap kejadian pagi tadi hanya mimpi seperti yang barusan terjadi. Tapi kenyataanya itu bukan mimpi. Ia berusa memejamkan matanya kembali.


Waktu masih belum terlalu malam ketika Zahra kembali terlelap. Namun ia terbangun lagi ketika ia meresakan dekapan seseorang. Zahra menoleh kearah wajah yang memeluknya dari belakang itu, sontak saja ia bangun mengibaskan lengan kekar itu dan terduduk seraya meraih selimut menutupi tubuhnya. Reyhan merasa terganggu iapun terbangun memicingkan mata memandang Zahra.


"Kenapa kamu disini?" tanya Zahra dengan geram.


" Ini kamarku," jawab Reyhan.


" Pulang sana!"


" Ini rumahku juga,"


" Keluar! aku tidak sudi sekamar denganmu," Zahra berdiri menunjuk pintu.


"Tidak mau!" jawab Reyhan seraya menarik selimut menutupi tubuhnya lagi.


" Baiklah kalau gitu aku yang keluar," ucap Zahra seraya melangkahkan kaki menuju pintu.


Reyhanpun melempar selimut yang menutupi tubuhnya beranjak dari tidur. Ia berdiri dengan kesal, " Tunggu!"


Reyhan meneruskan ucapannya," Kamu ingin Mama curiga dengan hubungan kita?"


Zahrapun kembali ke tempat tidur, dan berkata" Aku tidak mau seranjang denganmu, dan jangan menyentuhku. Setiap kali kamu menyentuhku, mengingatkanku pada wanita itu,"


" Terserah!!! aku sudah ngantuk apa kamu tidak lihat jam berapa sekarang?" jawab Reyhan.


" Kenapa kamu yang marah!" jawab Zahra seolah menantang laki-laki di hadapannya itu.


" Memangnya kamu saja yang bisa marah? sudah cukup aku membujukmu, meminta maaf padamu. Kalau kamu sudah tidak percaya padaku lagi, TERSERAH!" Reyhan mulai emosi, sifat aslinya yang dulu kembali muncul. Iapun kembali merebahkan diri di ranjang. Menutupi tubuhnya dengan selimut.


Tinggal Zahra berdiri mematung, ia baru sadar bahwa suaminya masih Reyhan yang dulu, Reyhan yang baru ia kenal, egois dan dingin. Sikap Reyhan membuat Zahra semakun terluka.


Zahra menuju sofa yang ada di ujung kamar, ia meringkuk menangis menyesali apa yang telah terjadi. Ia kembali teringat hari pernikahannya, mengapa ia tidak memilih Vino kalau akhirnya ia akan terluka juga. Kalaupun dulu ia memilih Vino tentunya memang sudah siap hatinya terluka karena diawali dengan luka.


Zahra akhirnya tertidur di sofa. Suara adzan subuh menggema membangunkan Zahra dari tidurnya. Namun tanpa ia sadari ia sudah berada di tempat tidur, Ia membuka selimut dam turun dari ranjang.


Zahra menjumpai Reyhan di sudut ruangan tengah duduk bersila menghadap kiblat. Zahra bergegas mandi dan berwudlu. Iapun sholat di belakang Reyhan. Meskipun sedamg bertengkar, ia masih sholat di belakang imamnya yaitu Reyhan.

__ADS_1


Selesai sholat ia segera turun melihat keadaan Bu Fatma. Zahra berjalan tergesa-gesa hingga ia hampir terjatuh dari tangga, untungnya Vino yang melintas hendak naik kekamarnya dengan sigap menangkap Zahra. Zahra jatuh dalam pelukan Vino.


Reyhan melihat dari lantai atas, ia tidak melihat keseluruhan kejadian. Reyhan hanya melihat Zahra berada dalam pelukan Vino.


" Trimakasih Vino," ucap Zahra.


" Hati-hati, kamu menginap disini?"


"Iya,"


Zahra telah berjalan menjauh ketika Vino hendak bertanya tentang suatu hal.


" Zahra!"


Zahra sudah menghilang di balik pintu kamar Bu Fatma. Zahra melihat Bu Fatma baru saja menunaikan sholat. Iapun mencium punggung tangannya.


" Bagaimana keadaan Mama?"tanya Zahra.


" Sudah enakan, Zahra,"


" Alhamdulillah,"


" Kamu mau kekantor hari ini?"


" Iya Ma, memang kenapa?"


" Tidak apa-apa, mama hanya ingin jalan-jalan ke taman saja,"


" Akan saya temani Ma, biar saya cuti daja hari ini,"


" Iya, bukankah itu perusahaan suamimu sendiri, gak perlu takut kalau mau bolos," ucap Bu Fatma lalu tertawa, membuat Zahra ikut tertawa.


" Tapi Ma, sebagai Bos Mas Reyhan tetap galak!"


" Sama kamu juga?"


" He em," Zahra mengsngguk, lalu keduanya tertawa.


Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap anak dan ibu mertua itu. Sejak tadi berdiri mendengar percakapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2