
Reyhan menatap dua wanita yang ia sayangi sedang asyik bercengkrama. Iapun masuk menyapa Ibunya, " Bagaimana keadaan Mama?" sapa Reyhan seraya memeluk ibunya.
" Sudah baikan sayang,"
Dihadapan Ibunya ia memeluk istrinya yang tengah berdiri, tentu saja Zahra tidak bisa menolak di hadapan ibu mertuanya. Reyhan tentunya sengaja melakukannya, sudah sejak kemaren tidak memeluk istrinya itu.
" Mama jangan percaya kata-kata Zahra, Siapa yang galak, justru sekarang bawahan lebih galak dari atasan," ucap Reyhan yang semakin mempererat pelukannya. Zahra hanya tersenyum, hatinya bergumam,
Dasar! curi-curi kesempatan
Iapun menumpahkan kekesalan dengan menginjak kaki Reyhan sekencang-kencangnya ketika Bu Fatma tidak melihat mereka.
" Auww!" pekik Reyhan seraya mengangkat kaki
" Ada apa Reyhan?" tanya Bu Fatma terkejut.
" Ini Ma kayaknya kaki Reyhan di gigit nyamuk, nyamuknya segede gajah,"
" Sini aku pukul nyamuknya," ucap Zahra seraya mengambil bantal.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Zahra memukul Reuyhan berkali-kali, Reyhan menghindar namun Zahra terus mengejar.
" Kamu ini mau memukul nyamuk atau mau bunuh aku?!" teriak Reyhan
" Kalian ini ada-ada saja, sudah ayo kita sarapan!" ucap Bu Fatma di sela tawanya.
Bu Fatma berjalan terlebih dulu menuju ruang makan. Zahra dan Reyhan mengekor di belakangnya. Mereka beradu pandang dan bicara setengah berbisik,.
" Bisa-bisanya cari kesempatan," ucap Zahra kesal.
Reyhan hanya diam lalu mempercepat langkahnya menuju meja makan.
Reyhan menarik kursi, mempersilahkan ibunya untuk duduk. Tak lupa ia juga menarik kursi untuk Zahra, namun kali ini Zahra memilih menarik kursi di sebelah Bu Fatma sendiri dan mengacuhkan Reyhan.
Vino yang dari tadi sudah siap di meja makan membaca gelagat mencurigakan diantara Zahra dan Reyhan. Biasanya di berbagai keadaan kesempatan mereka selalu menunjukkan kemesraan. Vinopun berfikir apa mereka sedang bertengkar? lantas apa yang membuat mereka bertengkar?
Reyhan membuyarkan lamunan Vino, " Pagi-pagi sudah bengong, awas kesambet!"
" Apaan sih, bukan bengong tapi ngantuk," ujar Vino mengelak.
" Pulang jam berapa kamu semalam?" tanya Reyhan menyelidik.
__ADS_1
" Biasa Bos, anak muda, gaul gaes," jawab Vino menepuk sisi dada kanan dengan tangan kirinya.
" Lain kali jangan malam-malam pulangnya Vino, kasihan Mama," ujar Zahra menasehati Vino.
" Baiklah kakak iparku yang cantik, kata-katamu adalah petuah bagiku," jawab Vino berusa membuat banyolan.
Bukan tawa yang ia dapatkan, melainkan satu pak tisyu melayang dari tangan Reyhan mendarat di dada Vino.
" Sudah jangan ribut pagi-pagi. Reyhan hari ini biar Zahra libur kerja dulu, mau menemani Mama jalan-jalan di taman ya,"
" Terserah Zahra saja, Ma. Ingat Mama tidak boleh capek-capek" jawab Reyhan.
****
Di Taman.
Bu Fatma tengah duduk memandangi bunga-bunga yang bermekaran di taman dekat komplek perumahan mewah tidak jauh dari rumahnya. Zahra ikut duduk bersamanya. Bu Fatma mulai bercerita tentang masa lalu suaminya.
" Sebelum ayahnya Reyhan meninggal sering mengajak kami kesini."
Zahra mendengarkan cerita Bu Fatma dengan seksama. Konsentrasinya buyar ketika melihat sosok yang ia kenal dari kejauhan.
" Maaf Ma, sebentar ya,"
Zahra berusaha mengejar wanita yang mendorong stroller bayi yang sangat mirip dengan Vanessa. Ketika Zahra hampir sampai di ujung taman, wanita dan bayinya sudah menghilang.
Ia segera menghapus butir-butir air mata yang membasahi pipinya. Ia berbalik dan menghampiri ibu mertuanya. Ia tak ingin mamanya melihat kesedihannya. Iapun kembali duduk dikursi tempat Bu Fatma duduk.
" Siapa yang ingin kamu temui tadi Zahra?"
" Teman Ma, sayang nggak kekejar, keburu pergi," jawab Zahra.
Setibanya Zahra di rumah, ia meminta izin untuk kekamarnya. Apa yang telah ia lihat itu terus saja berputar-putar di otaknya menimbulkan tanda tanya besar.
Ia segera menghubungi Silfi teman kerjanya dulu di Jakarta,
" Hallo Silfi!"
" Zahra!!!" terdengar Silfi sangat terkejut
" Aduh biasa saja kali!" ujar Zahra ikut terkejut dengan pekikan Silfi.
" Maaf, habisnya aku kangen banget, kabarnya kamu sudah menikah dengan Mas Bos ya?"
" Iya Silfi, oh ya ngganggu nggak aku ini?"
" Nggak lah, apasih yang nggak buat lo?"
__ADS_1
" Bagaimana kabarnya Nona Vanessa?" tanya Zahra sedikit ragu.
" Gosipnya setelah Pak Reyhan memutuskan pertunangan dengannya, Bu Vanessa pergi ke Hongkong, mengurusi bisnis ayahnya yang di sana,"
" Apa kamu dengar, mungkin dia hamil atau melahirkan gitu?" tanya Zahra menelisik.
" Tidak sih, tapi gak tau juga, kan Dia menetap di Hongkong, emangnya kenapa sih?"
" Aku melihatnya di Malang dengan membawa bayi," ujar Zahra berbisik.
" Ah masak sih? Hamil sama siapa dia? Kan Dia belum menikah."
" Sudah ya, trimakasih untuk waktunya. Met kerja ya,"
" Sama-sama Zahra,"
Setelah menghubungi Silfi. Ia mulai berfikir kenapa Vanessa baru muncul sekarang kalau memang di hamil? Mengapa dia tidak meminta pertanggung jawaban dari Reyhan sejak dulu. Apa jangan-jangan Reyhan sudah tahu tapi menyembunyikannya?
Banyak pertanyaan berjubel-jubel di kepalanya, membuat Zahra pusing.
***
Di Kantor.
Reyhan berusaha menghubungi nomor Vanessa, namun nomor sudah tidak aktif. Iapun segera menelphon seseorang untuk mengetahui kebenaran tentang Vanessa.
Ia tidak ingin berlarut-larut bertengkar dengan istrinya. Apalagi secepatnya ia harus mendapatkan bukti kalau dia tidak pernah berhubungan dengan Vanessa, kalau tidak dapat bukti tentu saja Zahra akan menuntut cerai darinya.
Urusan dengan Vanessa cukup menyita pikiran Reyhan, sehingga mengurangi konsentrasinya dalam bekerja. Ia tak mau terjebak lagi oleh Vanessa apalagi sampai berpisah dari Zahra.
Tiba-tiba seseorang menelpon Reyhan memberitahukan bahwa Vanessa tengah berada di Malang. Setelah sebelumnya Vanessa sempat tinggal di Hongkong.
Reyhan segera memacu mobilnya menuju perusahaan milik Vanessa di Kota Malang. Perusahaan tempat ia bekerja dulu. Sesampainya di loby perusahaan ia bertanya kepada seorang resepsionis,
" Winda, apa Nona Vanessa ada?" tanya Reyhan pada mantan bawahannya itu.
" Beberapa hari yang lalu Nona Vanessa kekantor, hanya sekali itu Pak Reyhan."
" Minta tolong hubungi saya bila Dia kesini?" pinta Reyhan.
Reyhan meninggalkan kantor, setidaknya ia tahu Vanessa tengah berada di Malang. Ia harus segera menemukan Vanessa untuk menjelaskan maksud membuat ke kisruhan dalam rumah tangganya. Walaupun sebenarnya ia sudah dapat menebak maksud Vanessa hanya untuk balas dendam.
Reyhan masih tetap pada pemikirannya bahwa ia sama sekali tidak berbuat macam-macam dengan Vanessa.
Reyhan kembali ke rumah orang tuanya. Ia mencari Zahra, namun Bu Fatma bilang bahwa Zahra telah pulang ke rumahnya sendiri. Reyhan segera menyusul istrinya. Setibanya di rumah ia menanyakan keberadaan Zahra pada Bi Ira. Menurut penuturannya Zahra belum pulang kerumah.
Reyhanpun mencoba menghubungi nomor ponsel milik Zahra. Tak ada jawaban dari Zahra. Reyhan mulai kesal ia melampiaskan dengan meninju tembok sekencang-kencangnya. Hatinya bergumam,
__ADS_1
" Dimana kamu Zahra?"