
Reyhan makin sering lembur dan mengerjakan pekerjaan kantor di cafe. Otomatis sudah menjadi tugas Zahra untuk menemaninya. Membuatkan kopi, makanan, ataupun sekedar camilan. Zahra sudah terbiasa pulang larut malam. Ia mulai terbiasa menemani bos muda itu, terbiasa dengan sikapnya. Seperti malam itu, Zahra sudah berganti pakaian menuju ruang kerja Reyhan, namun tidak menjumpainya. Zahra merasa senang ia akan pulang lebih awal.
Alhamdulillah, asyik bos gak ada. Gumam Zahra dalam hati.
" Mau kemana kamu?" tanya Reyhan dari arah belakang Zahra, membuatnya terkejut. Zahra hanya bisa menggigit bibir bawah dan memicingkan mata, lalu berbalik dengan senyuman menyeringai.
"Eh Mas Bos, gak kemana mana kok, lagi nunggu Mas Bos, malam tanpamu bagai sayur asam tanpa asam, hi,,hi,hi", jawab Zahra mengelak.
"Hem,,naik," perintah Reyhan.
Reyhan menaiki tangga, ia membawa dua piring nasi goreng. Zahra membuntuti dari belakang. Tangannya mengepal, seakan-akan mau menonjok Reyhan di depannya, dengan ekspresi marah merapatkan giginya. Tiba-tiba Reyhan berhenti dan berbalik, seketika Zahra tersenyum pura-pura menepuk nyamuk kekanan dan kiri.
Plak!! Plak!!
Reyhan kembali melanjutkan jalanya, kemudian menaruh dua piring nasi goreng di meja dekat balkon.
"Duduk, temani aku makan?" perintah Reyhan.
"Trimakasih mas bos, saya sudah makan," tolak Zahra
"Yakin gak mau coba, ini aku masak sendiri lo?"
" kenyang," ujar Zahra, seraya duduk di kursi depan Reyhan.
Reyhan menyodorkan sendok kedekat mulut Zahra. Zahra tak bisa menolaknya, ia pun membuka mulutnya. Mereka saling berpandangan, membuat keduanya canggung.
"Hem,, lezat sekali mas," ucap Zahra seraya mengunyah pelan-pelan.
Akhirnya Zahra makan dengan lahap, Reyhan hanya melihatnya dengan terbengong menyaksikan Zahra makan dengan cepat. Reyhanpun bergumam dalam hati,
Katanya sudah kenyang, dasar rakus.
"HuK uhuk!!" Zahra terbatuk.
Dengan sigap Reyhan memberinya minum.
__ADS_1
" Makanya makan pelan-pelan, katanya kenyang, gak kamu makan sekalian tuh piring," goda Reyhan.
"Habis enak mas bos, jago masak juga mas bos," puji Zahra.
Selesai makan, Reyhan mulai bekerja dengan kertas gambar dan penggaris di meja gambar. Ia adalah seorang arsitek di sebuah perusahaan pengembang perumahan. Zahra yang bosan bermain dengan ponselnya, kemudian mengintip hasil karya Reyhan. Iapun menggoda Bosnya itu.
"Bagus bos desain rumahnya? mau dong kalau nanti aku mau bangun rumah di desainkan mas bos, tapi jangan minta bayaran mahal-mahal."
Reyhan berhenti dari aktivitasnya, menyilangkan tangan ke dada, mengamati Zahra dari ujung kaki sampai kepala, kemudian memegang dagunya dengan jari. Ia berkata pada Zahra, " Hemm,, bukan hanya desain yang akan aku berikan, tanah, rumah beserta isinya akan kuberikan asalkan kamu mau jadi istriku."
"Mas bos apaan sih, sorry ya bos saya bukan cewek matre yang gampang tergoda dengan iming-iming harta kekayaan," jawab Zahra.
" Tapi kamu suka kan sama saya?"
" Aduh Bos jangan GR dong"
"Aku lihat di matamu."
Reyhan mulai mendekat, Zahra seperti tak bisa bergerak, Reyhan semakin mendekat, hampir mencium Zahra, Zahra terlihat memerah. Zahrapun menghentikan aksi bosnya itu dengan berkata, " Bos, ingat janjinya, jangan melewat batas." Zahrapun memalingkan muka
" Ha ha ha aku hanya bercanda, lihat mukamu merah seperti tomat."
Zahra kesal dan lari keluar ruangan, ia bergumam dalam hati dengan kesal,
Dasar bos genit, mamanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
***
Pagi hari di kampus begitu dingin, Zahra menunggu Keyla dan Nella membuatnya mengantuk dengan berpanggku dagu. Vino mengejutkan lamunannya.
"Hay, say"
" Aw! Vinooo, kamu ngagetin aja."
" Pagi-pagi ngantuk melulu, gak bisa tidur kangen aku ya?" goda Vino.
__ADS_1
"Iya sayang, aku kangen banget,,,,kangen nonjok kamu?" balas Zahra dengan tonjokan mendarat di bahu Vino.
"Aww!! sakit Za"
" he he he,, maaf, makannya pagi-pagi jangan nggombalin orang," sahut Zahra seraya tersenyum meledek.
"Jalan yuk ntar malam!" ajak Vino
"Maaf aku gak bisa, ada tugas tambahan dari mas bos."
"Tugas tambahan apa maksud kamu?"
" Melakukan tugas yang di berikan oleh Si Bos, salah satunya menemani Mas Bos kalau lembur di cafe."
"Kamu tidak di apa-apain kan sama mas bos mu itu?"
" Ya tidak dong, lagian mana berani dia sama aku?"
"Iya siapa juga yang berani sama singa betina sepertimu Za?"
"Vino! awas ya kamu ngatain aku singa betina, kamu tuh sukanya godain aku, gombalin si singa betina ini, hati - hati jatuh cinta betulan ya," balas Zahra
" Aku jatuh cinta betulan Zahra."
"Preet" Zahra beranjak dan membuang muka.
Vino lalu mengejar Zahra.
"Maaf dong, jangan ngambek," aku kan bercanda.
Zahra pun tidak kuat menahan tawa kalau sudah berada di dekat Vino. Mau ngambekpun tidak bisa lama-lama.
Keyla dan Nella akhirnya datang mereka bertiga duduk kembali di kantin. Sambil menunggu dosen pembimbing skripsi masing-masing, mereka mengobrol. Keyla dan Nella sudah penasaran dengan cerita Zahra yang sudah pernah janji mau cerita tentang bosnya itu dan kenapa dia selalu pulang malam.
Gelak tawa terdengar, mereka berempat asyik bercerita.
__ADS_1