
Reyhan dan Zahra rasanya tak ingin kembali pulang, masih ingin berlama-lama di pulau Bali. Meskipun bukan kali pertama mereka berlibur ke Bali, namun kali ini berbeda karena bersama orang tercinta.
Reyhan masih saja berbaring di tempat tidur bermalas-malasan sedangkan Zahra sudah berdandan rapi.
" Sayang gimana kalau kita nambah beberapa hari lagi di sini?" pinta Reyhan.
" Katanya masih banyak pekerjaan yang harus segera di urus? Ayo buruan ganti baju!"
" Kalo dulu kesini belum ada pasangan, cuma nahan ngiler lihat bule-bule pada buka-bukaan, gak berani lihat lama-lama, takut gak kuat iman,"
" Apa jadi sekarang sudah berani lihat lama-lama?"
" Mubadzir gak di lihat, kan sudah ada kamu, kalaupun ngiler sudah ada tempat berpulang,"
" Apa?! jadi selama jalan sama aku, kamu curi-curi pandang sama bule-bule itu dan kamu lampiaskan padaku hasratmu itu, oh teganya kamu Mas, menjijikkan sekaliii!!" ujar Zahra penuh amarah, berlari ke arah Reyhan yang terlentang diatas kasur bermain ponsel.
Bug!
Bug!
Plak!
Bug! Bug! Bug!
Zahra secepat kilat sudah menindih Reyhan, duduk diatas perutnya, memukul dada laki-laki itu berulang-ulang, menepuk pipi kiri dan kanannya berulang ulang.
Reyhan yang tak sigap tidak menduga respon Zahra yang membabi buta, hanya bisa pasrah menerima pukulan dan amukan dari Zahra.
" Ampun sayang, ampun! aku tadi cuma bercanda, sumpah!! aku hanya menggodamu," ujar Reyhan.
Zahra tidak memperdulikan ucapan Reyhan,
Bug! Bug!
" Kamu jahaaat!!" pekik Zahra.
" Aduh ini sudah KDRT, kamu sudah tambah berat sayang, turun!! bukan hanya macan tapi ini sih preman pasar!" ucap Reyhan tanpa perlawanan.
Reyhanpun mengambil alih keadaan, Zahra dengan mudah ia gulingkan kini berganti Ia yang diatas.
Cup!
Kecupan mendarat di bibir Zahra, membuat Zahra berhenti berteriak. Zahra manyun, masih termakan candaan Reyhan.
" Maaf sayang, aku cuma bercanda, cuma kamu satu-satunya di hatiku, mulai sekarang hanya kamu yang akan aku pandang, tapi aku kan tidak bisa menutup mata, kalau memang mereka yang melintas di hadapanku," rayu Reyhan.
" Awas ya!!! biarin mau kamu bilang aku egois, pokoknya tidak boleh melirik wanita lain selain aku apalagi sampai menyentuhnya," ujar Zahra.
" Iya sayang," ucap Reyhan.
" Ayo kita pulang!" pinta Zahra.
__ADS_1
" Nanggung, posisinya sudah pas, sekali lagi, yang terakhir di Bali!" ucap Reyhan.
Reyhanpun melancarkan aksinya, kali ini ialah pemenangnya, berhasil memancing Zahra kepelukannya meskipun harus terlebih dahulu merasakan pukulan bertubi-tubi dari tangan Zahra yang kecil namun terasa sakit juga.
Kini Zahra tidak dapat berkutik, posisinya sudah terkunci. Iapun hanya bisa pasrah, tidak mungkin bisa melarikan diri dari Reyhan yang kekuatannya lebih besar dari dirinya. Kali ini Zahra membiarkan suaminya itu menang.
Zahra yang sudah berdandan merasa perfect , tinggal meluncur ke Bandara kini harus acak-acakan karena ulah Reyhan. Sebenarnya sih dirinya sendiri yang terpancing emosi karena candaan suaminya itu.
Zahra dan Reyhan berjalan terburu-buru setengah berlari menuju ruang tunggu Bandara. Reyhan menyeret koper yang awalnya berangkat hanya satu koper dan bawaannya kini bertambah dua tas diatasnya. Ia tak habis pikir istrinya membeli apa saja? yang katanya sih buat oleh-oleh itu.
Zahra terus saja mengomel sepanjang jalan. Karena ulah Reyhan mereka hampir saja tertinggal pesawat.
" Ini gara-gara kamu Mas kita jadi terburu-buru, lihat aku sampai gak bedakan gak lipstikan," ujar Zahra yang berjalan di depan Reyhan lalu menoleh menunjukkan bibirnya yang tak berlipstik dengan memonyongkan bibirnya.
Reyhan hanya terlihat santai tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya itu.
Sampai di ruang tunggu mereka langsung menuju kabin pesawat mencari tempat duduk.
" Alhamdulillah, telat beberapa detik saja kita bisa ketinggalan pesawat," ujar Zahra seraya duduk lalu mengeluarkan bedak dan lipstiknya.
" Udah cantik kok, meskipun tanpa bedak dan lipstik," ujar Reyhan yang menatap Zahra.
" Awas aja bilang jelek, siap-siap puasa satu bulan," ujar Zahra ketus.
" Hem sudah mulai nih kelihatan sifat aslinya. betul juga yang di bilang Vino ' Singa betina', untung cantik," Reyhan bicara sendiri dengan pelan.
" Apa mas bilang apa?"
" Enggak, kamu cantik,"
Reyhanpun melirik istrinya itu, " Oo sudah tudur, untunglah daripada ngomel gak jelas. Ginikan lebih manis," ujar Reyhan.
" Hem?"
" Hust,,, hust!" ucap Reyhan seraya mengelus-elus kepala Zahra seperti ayah yang menina bobo kan anaknya, berharap ia tak jadi bangun.
Zahrapun tertidur sampai tiba di Bandara Abdul Rachman saleh - Malang.
Reyhan membangunkan Zahra, " Sayang bangun, ayo turun!"
Zahra menggeliat, " Kok turun, kenapa? apa di batalkan penerbangannya?" tanya Zahra kebingungan.
" Ini sudah sampai di Malang,"
" Perasaan tadi pesawatnya belum tinggal landas?"
" Hadewh gemesnya aku!!! untung ini di tempat umum, kalau tidak sudah aku******hihh," ujar Reyhan gemes mencubit kedua pipi Zahra.
" Aduh sakit!" pekik Zahra.
" Bener-bener kamu Zahra kalau tidur seperti beruang yang sedang hibernasi, kalaupun kamu di lempar dari pesawat ke kutup utara mungkin gak bakalan terbangun,"
__ADS_1
" Hem! tega kamu Mas, kamu samakan aku dengan beruang!" jawab Zahra yang manyun, berdiri lalu berjalan mendahului Zahra.
" Haduh kayaknya ini ciri-ciri wanita yang mau datang bulan, wah jadi puasa betulan aku nanti, ngambek lagi kan, salah ngomong lagi kayaknya aku, dasar wanita!" gumam Reyhan.
" Apa?!" Zahra menoleh
Sepanjang jalan dari Bandara menuju rumah kediaman Zahra, Zahra sibuk memosting moment-moment keberbagai sosial media miliknya.
Tanggapan dari para temannyapun beragam, ada yang mengucapkan selamat ada yang juga menulis bahwa mereka iri.
Tak lupa Nella dan Keyla menanggapi dengan tulisan, Aduh bikin ngiri deh.
Zahrapun melakukan panggilan video call bersama kedua sahabatnya itu. Reyhan hanya senyum-senyum saja melihat istrinya yang asyik bersenda gurauan dengan sahabatnya itu sesekali menimpali juga. Ia berkonsentrasi mengemudi.
" Bilang sama mereka suruh cepat nikah, nikah itu enak kok," ujar Reyhan menyahut.
" Keyla, Nella dapat saran dari Mas Reyhan suruh cepat-cepat nikah, katanya nikah itu enak,"
" Mas Reyhan, tunggu saja undangannya ya," teriak Nella.
Zahra pun mengarahkan ponsel ke hadapan Reyhan.
Percakapan lewat ponsel itupun sudah terputus. Suasana kembali hening, ternyata Zahra sudah tertidur. Reyhan hanya melirik kearah Zahra dan tersenyum.
Zahra masih tertidur hingga sampai di halaman rumahnya. Reyhan memandang wajahnya, ia senyum-senyum sendiri. Iapun mencoba membangunkannya,
" Zahra bangun sudah sampai," sembari mengecup pipi Zahra, Namun Zahra tak bereaksi.
Reyhan bergumam dalam hati," Kasihan juga dia, sudah aku kerjai hingga tak terhitung berapa kali, mumpung hoonymoon. Kasihan dia kecapekan. Maaf ya sayang, kamu sih bikin gemes gak nahan kalau dekat-dekat."
Reyhanpun kembali mencium bibir Zahra, namun Zahra hanya menggeliat lalu mengalungkan tangannya di leher Reyhan, sementara matanya masih terpejam.
Pak Rohman dan Bu Maryam muncul dari balik pintu. Pak Rohman menyapa Reyhan, " Kalian sudah datang, kenapa Zahra?"
" Pasti ketiduran, biasa Zahra susah di bangunkan kalo tidur," imbuh Bu Maryam.
" Biar saya angkat ke kamar Bu," jawab Reyhan.
Reyhanpun mengangkat Zahra yang tertidur pulas. Reyhan memandang wajahnya, ia sangat menyukai wajah polos itu, terlihat tenang ketika tidur.
Reyhan menaiki tangga satu persatu. Ia merasa istrinya semakin berat, iapun bergumam, Zahra-Zahra sepertinya kamu bertambah berat, awas nanti ya aku minta imbalan untuk menggendong kamu ini.
Zahra menggeliat mengerjab-ngerjabkan matanya. Ia tersenyum genit menatap wajah Reyhan. Reyhan menatap Zahra dan berkata, " Ayo turun! berat tau?!"
Namun Zahra makin mempererat tangannya yang melingkar di leher Reyhan. Ia pun menolak," Hem gak mau, nanggung, tinggal sedikit lagi sampai kasur,"
" Hem dasar manja!!!, awas ya aku nanti minta imbalan," ujar Reyhan.
" Siap Mas Bos!"jawab Zahra dengan senyum-senyum genit.
Akhirnya Reyhan menurunkan Zahra di ranjang, namun Zahra tak mau melepaskan tamgannya dari leher Reyhan. Ia menarik tubuh Reyhan hingga menindih tubuhnya. Zahra mulai genit membabi buta menyerang Reyhan. Reyhan pasrah tanpa perlawanan. Hatinya bergumam, " Nih anak kenapa kok jadi gini, jangan-jangan ketempelan leak Bali, apa lagi ngigau? mulai minta duluan gini? Biarin ah, aku juga yang enak,"
__ADS_1
Akhirnya Reyhan meladeni ulah istrinya itu.
bersambung,,