Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Bos muda di mabuk asmara


__ADS_3

Reyhan berulangkali menelphon Zahra, namun tidak ada jawaban. Ia kemudian datang ke cafe sore hari, namun ia tidak menemukannya. Ia mulai gelisah, ada rindu ada marah, karena seharian Zahra tidak bisa di hubungi. Ia masuk keruangan Vino, namum Vino tidak ada di tempatnya. Gita asisten Vino menghampiri Reyhan di ruangan Vino dan bertanya padanya, "Maaf, mas Reyhan mencari mas Vino?"


" Kamu tahu dimana Zahra?" Reyhan tanya balik.


" Zahra minta izin cuti mas, dia pulang ke Batu."


"Berapa hari?"


"Tiga hari kata mas Vino?"


"Jadi Vino tahu?"


"Iya iyalah, aku kan calon suaminya," ujar Vino dari depan pintu, yang ternyata mendengar percakapan mereka.


"Jangan harap!" Ujar Reyhan.


Vino hanya senyum-senyum melihat kakaknya yang gelisah. Gita terdiam di buat bingung dengan dua bosnya itu. ia pun bergumam dalam hati.


Sebenarnya siapa sih calon suami Zahra, kok berebut gitu. Zahra beruntung sekali kamu di rebutin dua cowok kayak Mas bos bos muda


ini.


Reyhan berlalu dari ruangan Vino, menuju ruangan pribadinya. Ia mencari tumpukan berkas, berharap menemukan surat lamaran yang dulu Zahra bawa.


Akhirnya ia menemukannya, selembar foto copy KTP ia bawa. Reyhanpun tersenyum melihat alamat yang tertera, ia mengenal tempat itu. Ternyata lokasi rumah Zahra tidak jauh dari Villa milik Reyhan. Villa tersebut di urus oleh pamannya untuk di sewakan kepada para wisatawan dan juga untuk acara-acara pesta dan resepsi.


Reyhan memacu mobilnya dengan cepat berharap lekas sampai di kediaman Zahra.


Akhirnya iapun berhenti sejenak di tepi jalan.


Apa yang aku lakukan, ini gila, mengapa aku harus mengejarnya sampai sana. Apa ini cinta?Biarlah kalau aku memang sudah tergila-gila padamu Zahra. Aku datang cinta.


Iapun melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa Kilometer lagi.


Sampailah ia di depan rumah Zahra, namun hari mulai gelap.


Iapun turun dari mobil, kebetulan Pak Rohman Ayah Zahra sedang menikmati kopi di teras rumah.


" Assalamu'aikum." Sapa Reyhan.


"Wa'alaikumussalam, mencari siapa mas?"jawab Pak Rohman.


"Apa betul ini rumah Zahra?"


" Iya betul, saya ayahnya, ada apa anda mencari anak saya?"


" Maaf pak, saya Reyhan, teman Zahra di tempatnya bekerja.


"O gitu, mari silahkan masuk."


Reyhan duduk di kursi tamu, Bu Maryam memanggil Zahra di kamar lantai dua.


" Zahra, ada temanmu di bawah, segera turun," perintah bu Maryam.


" Siapa bu?" tanya Zahra

__ADS_1


"Ibu lupa tanya."


Zahrapun bergegas turun di ikuti kedua temannya yang ikut menginap.


"Mas bos! kok disini?" Zahra terkejut.


Reyhan hanya tersenyum, ia bingung mau berkata apa, karena di depan ayah Zahra.


"O ini bos kamu, yang katanya jahat itu?"


"Ti, tidak ayah, tadi kan sudah bilang, kalau Zahra bercanda." Zahra salah tingkah. Begitu juga Reyhan.


"Zahra tolong buatkan minum!" perintah Pak Rohman.


"Tidak usah repot-repot Pak," ujar Reyhan.


" Tidak apa-apa mas, oh iya maaf sebenarnya tujuan anda kemari ada urusan apa? bukannya Zahra sudah minta izin cuti?" tanya Pak Rohman mengintrogasi laki-laki yang ada di hadapannya itu.


" Sudah pak, begini pak, sebenarnya saya, bagaimana saya menjelaskan ya pak?" Reyhan yang biasanya terlihat tegas, arogan kini terlihat sopan dan tidak bisa berkutik di hadapan Ayah Zahra.


"Ada masalah dengan anak saya?" tanya Bu Maryam.


"O tidak bu, sebenarnya saya mencintai putri bapak dan Ibu, saya ingin melamar Zahra?"


"Ha!" Zahra terkejut mengintip dari balik tirai.


Ia ingin masuk ke ruang tamu membawa minuman, namun Keyla dan Nella menahannya.


"Hust tunggu dulu," bisik Keyla.


"Waow ini baru laki-laki sejati," bisik Nella


Dari ruang tamu masih terlihat wajah-wajah serius. Ayah Zahra sama halnya dengan Zahra juga terkejut dengan pernyataan laki-laki di hadapannya itu.


"Begini mas, kalau saya tidak bisa mengatakan ya atau tidak, biarlah Zahra yang menjawab. Kalau kalian serius, silahkan bawa keluarga anda kesini untuk melamar anak saya."


"Zahra!" panggil Pak Rohman.


" Ya ayah," jawab Zahra.


Zahra meletakkan tiga kopi diatas meja lalu duduk di samping ayahnya.


"Zahra, Mas Reyhan ini mau melamarmu, bagaimana pendapatmu?" tanya Pak Rohman pada putrinya itu.


" Zahra apa kata Ayah saja," jawab Zahra karena bingung mau menjawab apa. Mau menjawab 'iya' terlalu malu.


"Begini saja, mas Reyhan bawa orang tua anda kesini, kalau memang serius, biar kedua belah keluarga saling mengenal dulu, jadi jangan terburu-buru," tegas Pak Rohman.


"Iya pak terimakasih."


"Ini sudah malam, apa Mas mau nginap disini?"


"Tidak perlu repot Pak, saya akan bermalam di Villa dekat sini."


"Apa boleh saya ajak Zahra jalan-jalan sekitar sini, sambil melihat-lihat pemandangan."

__ADS_1


" Iya, silahkan, tapi ajak kedua temannya juga ya," jawab Pak Rohman. Ia sengaja mengirim dua teman Zahra agar tidak menimbulkan fitnah bila tetangganya melihat.


***


Zahra berjalan beriringan bersama Reyhan. Dua temannya membuntuti di belakangnya.


Mereka berjalan-jalan di sekitar rumah Zahra. Mereka berhenti di teras samping rumah.


" Mas bos! nekat banget sih!" ujar Zahra sewot.


"Iya karena aku serius."


Kedua teman Zahrapun menjauh dari kedua pasangan itu. Membiarkan mereka berbicara dengan leluasa.


"Sekarang aku serius nanya, kamu maukan jadi istriku?" tanya Reyhan seraya memandang Zahra.


" Ih gak romantis amat, masak melamar gak bawa apa-apa sih?" gurau Zahra menghalau rasa malu dan perasaan yang berdebar-debar didadanya.


Reyhan segera memetik bunga mawar di sampingnya.


" Maukah kamu menikah denganku Zahra?" tanya Reyhan seraya berlutut dengan satu kakinya.


Lama Reyhan tidak mendengar jawaban.


Kalau kamu setuju ambil bunga ini, kalau tidak setuju buang saja bunga ini.


Dengan malu-malu Zahra mengambil bunga dari tangan Reyhan.


Reyhan tersenyum, namun senyuman itu tiba-tiba hilang ketika Zahra hendak melempar bunga mawar itu.


Zahra mengayunkan lengan kuat-kuat lalu melakukan gerakan melempar.


Hap!


Raut muka Reyhan berubah hampir menangis. Tiba-tiba tangan kiri Zahra mengulurkan bunga mawar kearah hidung Reyhan. Zahra tertawa lalu berlari, Reyhanpun ikut tertawa.


" Dasar nakal, awas ya kamu ngerjain aku," ujar Reyhan geram. iapun mengejar Zahra.


Rupanya Zahra menerima lamarannya, Ia hanya berpura-pura membuang bunganya.


Zahra berlari, melintas di depan temannya yang duduk menikmati apel. Di belakangnya menyusul Reyhan mengejarnya.


"Kenapa mereka lari?" tanya Nella


" Gak tau? mungkin main kejar-kejaran."


Reyhan menangkap Zahra dari belakang, dan mendekapnya. Nella dan Keyla secara spontan memejamkan mata saling, berpelukan dan berteriak


"Bukan muhrim!" teriak Nella dan Keyla.


Reyhanpun melepaskan pelukannya dan tertawa bersama. Mereka menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Untung Ayah Zahra mengirim kami," ujar Nella.


" Awas Mas bos macam-macam ya!" gurau Keyla.

__ADS_1


Merekapun tertawa bersama. Malam semakin larut Reyhan berpamitan dengan kedua orang tua Zahra.


Malam yang indah bagi Zahra dan Reyhan. Mereka kali ini tak kan bisa tidur karena sedang di mabuk asmara.


__ADS_2