Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Pertunangan Reyhan dan Vanessa


__ADS_3

Vino akhirnya mengikuti permintaan Mamanya untuk ikut menghadiri pertunangan Reyhan. Mereka sengaja datang ke Jakarta jauh sebelum hari H, kebetulan Vino mendapat undangan lagi ke salah satu stasiun Televisi.


Vino dan Bu Fatma menginap di apartemen Reyhan. Sebisa mungkin Vino dan Reyhan bersikap baik di hadapaan orang tuanya, agar Bu Fatma tidak tahu kalau hubungan adik-kakak itu sedang renggang.


Vino menghampiri Reyhan yang sedang rebahan di kasurnya sepulang kerja, sementara itu Vino berbicara tanpa melihat wajah kakaknya. Matanya menerawang keluar jendela kamar, " Apa tidak sebaiknya Kakak pikir-pikir dulu sebelum bertunangan dengan Vanessa? maaf bila aku ikut campur."


" Apa lagi yang harus aku pikirkan, dia cantik, kaya, baik dan setia," jawab Reyhan.


" Apa kamu mencintainya?" tanya Reyhan.


" Cinta, ha ha ha. Untuk apa cinta bila hanya membuat luka," jawab Reyhan dengan tawa yang mengejek.


" Kak, kamu sedang tidak baik-baik saja, dan aku tahu keputusanmu menikahi Vanessa hanya pelampiasan belaka. Coba pikirkan sekali lagi! atau kamu akan menyesal, wanita itu bukan wanita baik-baik," ujar Vino, kali ini Ia menatap tajam kearah kakaknya.


" Apa urusanmu? setelah kamu merebut Zahra, bisa-bisanya kamu mengajariku tentang cinta, tentang wanita, hah!" jawab Reyhan berdiri menatap adiknya itu.


" Kak!"


" Apa kamu pikir, yang baik itu seperti Zahra, penghianat itu mudah sekali berpindah hati?"


" Berhenti bilang hal buruk tentang Zahra! aku dan Zahra itu ter,, " ujar Vino yang tidak melanjutkan kalimatnya. Ia sudah berjanji tidak akan menceritakan hal sesungguhnya pada Reyhan.


" Apa makasudmu?" tanya Reyhan.


Reyhan tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya itu, karena Vino bergegas keluar dari kamar Reyhan.


Vino kembali kekamarnya, ia mencari ponselnya yang dulu rusak yang tertinggal di salah satu kamar di apartemen Reyhan. Lama ia mencari hampir putus asa, membuka setiap laci dan lemari namun belum juga menemukanya, akhirnya ia membuka laci di sudut meja yang menjadi harapan terakhirnya, dan akhirnya ia menemukannya.


Vino melepas pelan-pelan kartu memory dari phonsel yang rusak dan memindahkan ke phonsel yang baru. Ia berharap rekaman itu sudah tersimpan.


Beruntung rekaman itu sudah tersimpan di kartu memory, Vino pun menyalinnya ke memory internal ponshelnya.


Ia meletakkan kartu memory itu di sebuah kotak kecil, berharap suatu saat Reyhan membukanya, sehingga ia tetap memenuhi janjinya kepada Zahra.


***

__ADS_1


Acara pertunangan Reyhan dan Vanessa di gelar di sebuah hotel bintang lima. Para wartawan infotaiment sejak sore sudah menunggu untuk meliput acara putri salah satu konglomerat di Indonesia itu.


Kemewahan dan kemegahan acara menggambarkan status sosial kedua keluarga. Vanessa mengenakan gaun merah tanpa lengan, terlihat cantik dan elegan.


Reyhan menatapnya dengan pandangan kosong, entah apa yang ada dalam pikirannya, yang jelas ia tidak bahagia.


Acara pertukaran cincin pun dilaksanakan, Reyhan terlihat ragu untuk memasangkan cincin di jari manis Vanessa. Berulang kali Vanessa berbisik pelan, " Ayo Reyhan, apa kau tidak lihat semua menunggu kita?"


Reyhan menatap kesekeliling, semua tamu sedang menunggu momen pertukaran cincin mereka. Seakan begitu berat Reyhan memasangkan cincin itu, hingga akhirnya cincin terselip di jari manis Vanessa. Suara riuh tepuk tangan para undangan terdengar, senyum Vanessapun mengembang, Reyhan memaksakan diri ikut tersenyum.


Keesokan harinya Zahra tengah bersantai di dalam kamarnya, ia menyalan TV dan kebetulan salah satu acara infotaimen sedang menyiarkan berita acara pertunangan Vanessa dan Reyha.


Dalam wawancara Vanessa dan Reyhan memamerkan cicin pertunangan meteka kepada awak media. Senyum mengembang dari wajah keduanya.


Lainhalnya dengan Zahra yang menyaksikan. berita tersebut, air mata menetes membasahi pipi, hatinya hancur seakan ribuan pisau menancap disana, sakit ya sakit sekali rasa yang ia rasakan.


Namun apalah daya, bukan salah Reyhan yang meninggalkannya, namun Zahra sendiri telah meninggalkannya meskipun terpaksa. Semua keputusan sudah ia ambil dan kini hanya bisa meratapi mencoba mengikhlaskan semuanya.


Vino seakan tahu bahwa Zahra tengah bersedih, ia pun menghubungi melalui sambungan ponsel untuk menguatkan hatinya, ?" Assalamu'alaikum Zahra!"


" Wa'alaikumussalam," jawab Zahra.


" Kayak tahu saja aku menangis,"balas Zshra


" Apa kamu tidak tahu, kalo aku punya indra ke enam?" ujar Vino bergurau.


" Indra yang mana lagi nih, indra lestari, indra riani atau indra brugmen?"


" Indra brugmen? emang mau main pedang-pedangan? masih normal, mau bukti?"


" Ha ha ha,Vino-vino," ujar Zahra.


Vino mendengar tawa dari Zahra, membuat hatinya lega, paling tidak bisa sedikit menghiburnya.


Ingin rasanya Vino selalu bersama Zahra, agar tidak ada lagi air mata duka yang menetes.

__ADS_1


Pembicaraan merekapun berakhir. Zahra mendengar suara ramai di bawah. Meskipun dari pagi sudah ramai karena para tetangga turut membantu di dapur mempersiapkan acara pernikahannya, namun kali ini lebih ramai.


Zahra segera turun kelantai satu rumahnya. Ternyata Azzam dan Sofi sudah datang dari Jakarta. Ternyata para tetangganya itu sedang mennggoda pasangan pengantun baru, yaitu kakaknya. Zahra menyambut kakak dan kakak iparya itu.


Zahra memeluk Sofi dan Azzam. Zahrapun ikut-ikutan meledek kakaknya itu, " Mas Azzam kayaknya agak gemukan? lebih terlihat ganteng deh,"


" Kalo ganteng sih sudah pasti, dari bayi memang ganteng, kalo gemukan ini akibat hasil karya kakak iparmu itu," jawab Azzam dengan sombongnya.


" Maksudnya hasil karya?" tanya Zahra.


" Tiap hari makannya nambah, maklumlah istri Masmu ini piintar masak, chef mah lewat," jawab Azzam. Sofia yang mendengarkan mereka hanya senyum-senyum saja.


"Makanya kamu belajar masak, biar masakanmu ensk,nanti suamimu bisa betah di rumah,"


" Emang masakanku gak enak, awas ya padahal dulu waktu aku tinggal sama Mas Azzam gak pernah nolak apa yang aku masak, Hem mentang-mentang punya istri pintar masak," jawab Zahra kesal.


" Terpaksa,"


" Sudah-sudah nanti dulu bertengkarnya, biar Mas dan Mbakmu istirahat dulu," ujar Bu Maryam menengahi kedua anaknya yang beradu mulut.


Selesai meletakkan koper ke kamar, Azzam dan Sofi bergabung dengan kedua orang tuanya dan Zahra di ruang tamu untuk berbincang-bincang.


Azzam bercerita kepada kedua orang tuanya dan Zahra, bahwa sekarang ia sudah pindah tempat kerja. Sekarang membantu di perusahaan orang tua Sofia, dimana Orang tuanya memiliki pabrik mebel yang berada di daerah Bandung tempat kelahirannya.


Zahra bahagia mendengar hal tersebut dan berkata pada kakaknya, " Alhamdulillah Kakak sudah keluar dari perusaahan itu, setelah kejadian waktu itu,"


" Saya juga tidak habis fikir, saya sudah mengkroscek data-data di komputer, sepertinya ada yang merekayasa laporannya. Ya sudahlah yang penting nama ku sudah bersih. Yang jadi pertanyaan dan masih penasaran sampai saat ini, siapa yang ada di balik semua ini."


" Sudahlah kak tidak usah di bahas lagi, yang berlalu biar berlalu,"


"Iya, ngomong-ngomong aku terkejut lo kamu kok bisa-bisanya mau menikah dengan Vino, bukankah selama ini kamu dan Reyhan sangat dekat, apa karena Reyhan selingkuh dengan wanita itu?" tanya Azzam, tiba-tiba menyinggung soal Reyhan.


Deg!!


Zahra terkejut, pertanyaan itu muncul dari kakaknya.

__ADS_1


" Tidak Mas, mungkin aku yang selingkuh. Sudahlah jangan bahas lagi, aku mau istirahat dulu," ujar Zahra sewot, lalu pergi meninggalkan Azzam dan kedua orang tuanya.


Azzam dan kedua orang tuanya menangkap sinyal-sinyal kesedihan di wajah Zahra. Bu Maryam pun bercerita kepada Azzam akan perubahan Zahra semenjak pulang dari Jakarta. Zahra yang sering melamun tidak seceria dulu. Merekapun mengira mungkin masalah yang sama seperti dulu karena cinta segitiga diantara Zahra, Reyhan dan Vino.


__ADS_2