
Vino beberapa hari sudah menyerahkan semua pekerjaan pada asistennya. Usaha cafe yang di wariskan padanya sudah sangat maju. Ia pun membuka dealer motor dan bengkel untuk memenuhi kecintaannya pada motor.
Vino memilih menginap dulu di Villa Anggrek yang secara sah sudah di wariskan kepada Reyhan. Alasanya apalagi kalo bukan agar lebih sering mengunjungi Zahra.
Seperti sore itu, kerabat Zahra menjumpai Vino yang sedang hendak mengunjungi Zahra. Maklum karena di desa seminggu sebelum hajatan rumah Zahrapun sudah ramai oleh para tetangga yang membantu.
" Eh nak Vino, kok sudah kesini, harusnya gak boleh, masih di pingit pengantinnya?" ujar Bi Ririn, Bibinya Zahra.
Namun Vino hanya tersenyum menanggapinya.
Mendengar kedatangan Vino, Pak Rohman membuka pintu utama rumah tersebut.
" Kebetulan kamu datang, Zahra sejak pagi mengurung diri di kamar,"
Pak Rohman segera mengajak Vino ke kamar Zahra yang berada di lantai dua. Sampai di depan pintu Vino mengetuk pintu, " Zahra, ini aku Vino tolong buka pintunya!" Namun tak ada suara sahutan dari dalam.
Pak Rohman mencari kunci duplikat rumahnya, karena sangat panik iapun sampai lupa dimana meletakkan kunci-kunci itu. Vino meminta izin untuk mendobrak pintu kepada Pak Rohman.
Setelah Pak Rohman mengizinkan, Vino di bantu oleh Azzam mendobrak pintu kamar Zahra. Setelah berjuang sekuat tenaga akhirnya pintu kamar terbuka. Semua mata tertuju pada Zahra yang tergeletak di lantai,
" Zahra!" teriak Vino dan Azzam serentak.
Azzam memeriksa denyut nadi adiknya itu, ternyata masih ada tanda-tanda kehidupan. Entah berapa lama Zahra pingsan.
Vino segera membopong Zahra menuruni anak tangga menuju mobilnya. Azzam dan Bu Maryam ikut bersama Vino membawa Zahra ke rumah sakit terdekat. Kepala Zahra ada di pangkuan ibunya. Bu Maryam tak henti-hentinya menitihkan airmata melihat kondisi anaknya itu.
Sampailah mereka di UGD rumah sakit. Dokter jaga segera menangani Zahra. Vino berada di luar bersama Azzam. Mereka tak henti-hentinya mondar-mandir karena cemas.
Setelah mendapat penanganan dari dokter, Zahra akhirnya siuman. Matanya terbuka dan melihat sekeliling, dan berkata dengan lemah, " Ibu".
" Iya nak, Ibu disini sayang,"
Perawat dan dokter memeriksa kembali keadaan Zahra. Setelah itu Zahra dipindahkan ke kamar rawat inap.
Azzam dan Vino menemui dokter untuk menanyakan keadaan Zahra.
__ADS_1
" Maaf Dokter adik saya kenapa?" tanya Azzam.
" Untuk hasil lebih jelasnya nanti menunggu hasil laboratorium, sementara hasil cek tekanan darahnya sangat rendah kemungkinan itu yang menyebabkan pasien pingsan," jawab Dokter.
Vino menemui Zahra di kamar rawat inap, menatapnya dengan iba. Wanita di hadapannya itu kini lemah tak berdaya.
"Zahra bagaimana keadaanmu? apa yang kamu rasakan?" tanya Vino seraya memegang kepala Zahra yang tertutup jilbab instans,
Zahra hanya tersenyum, membalas pertanyaan Vino.
" Apa harus kita tunda dulu pernikahan kita?"
Zahra hanya menggelengkan kepala.
Vino tahu kenapa Zahra seperti saat ini. Dari matanya ia kurang tidur dan pikirannya tertekan. Zahra dari luar terlihat kuat dan tegar menghadapi masalah, namun dalam hatinya lemah dan tak berdaya.
Apalagi ia mengingat penuturan Bu Maryam beberapa waktu yang lalu, bahwa akhir-akhir ini Zahra sering menunda makan dan kadang seharian tidak nafsu makan.
Hasil laboratorium yang di bacakan dokterpun menunjukkan adanya gejala types. Dokter menyarankan agar Zahra menjaga pola makan dan menjaga pikirannya agar tetap rilex agar terhindar dari stress yang dapat mengganggu lambungnya.
Vino tahu saat ini yang ada dalam fikiran Zahra adalah Reyhan. Patah hati yang di rasakan Zahra membuat raganyapun tak berdaya.
Zahra yang masih lemah memaksa orang tuanya untuk membawanya pulang, karena besok adalah hari pernikahannya dengan Vino.
Dokter akhirnya mengizinkan Zahra pulang dengan syarat bahwa orang tuanya menanda tangani bahwa pasien pulang paksa sehingga bila terjadi apa-apa pihak keluarga tidak akan menuntut pihak Rumah Sakit.
Malam itu Bu Fatma datang kerumah Zahra, ia sangat khawatir akan keadaan calon menantunya itu. Setelah menemui Zahra di kamar, Bu Fatma dan Vino turun ke ruang tamu berkumpul bersama keluarga Zahra.
Vino telah mendengar bahwa Azzam tidak lagi bekerja di perusahaan Vanessa sehingga kebenaran yang akan ia ungkap tidak lagi menjadi alasan ancaman keselamatannya. Demi menyelamatkan Zahra kini Vino harus melanggar janjinya untuk tidak memberitahukan kebenaran tentang perpisahannya dengan Reyhan kepafa siapapun.
Setelah semua yang ada di ruang tamu terdiam dalam fikiran masing-masing, Vinopun membuka suara, meskipun awalnya ia ragu, " Sebenarnya saya tahu kenapa Zahra seperti ini, "
" Apa maksud kamu Nak? coba ceritakan pada kami apa sebenarnya yang terjadi, semenjak pulang dari Jakarta ada yang mengganjal di hati Ibu tentang Zahra," tanya Bu Maryam.
" Sebenarnya pernikahan kami ini terpaksa, yang di inginkan Zahra adalah Mas Reyhan bukan aku " ujar Vino
__ADS_1
" Apa maksudmu Vino?" tanya Bu Fatma yang terkejut dengan pernyataan putranya itu.
" Kami terpaksa menikah atas desakan Vanessa atasan Zahra yang tergila-gila dengan Reyhan. Ia berulang kali mengancam Zahra agar melepaskan Reyhan, hingga akhirnya dia menggunakan cara kotor dengan menuduh Azzam menggelapkan uang perusahaan dan memenjarakannya tentunya semua itu hanya rekayasa Vanessa saja untuk memaksa Zahra memutuskan hubungannya dengan Reyhan. Vanessa berjanji akan melepaskan Azzam bila Zahra memenuhi keinginannya dan ini semua syarat yang ia ajukan."
Vino memutar video rekaman yang sempat ia ambil waktu itu. Semua sedih dan geram mengutuk perbuatan Vanessa. Azzam berkali-kali memejamkan mata menahan air matanya agar tidak menetes.
" Meskipun saya sangat mencintai Zahra, namun saya harus memaksa Reyhan untuk pulang menikahi Zahra, Mas Reyhan harus tahu semuanya,"
" Tapi Vino,,," ujar Azzam yang kata-katanya tertahan.
" Mas Reyhan, tidak mencintai Vanessa," ujar Vino.
Malam semakin larut Vino dan Bu Fatma berpamitan untuk pulang ke Villa Anggrek. Semua keluarga besar Bu Fatma telah tiba di Villa semua untuk acara pernikahan besok.
Semua keluarga berkumpul di kamar Zahra, tidak ada sepatah katapun membahas yang telah di ceritakan Vino. Mereka tidak ingin putri kesayangan mereka semakin terluka hatinya. Bu Fatma berulang kali mencium kening putrinya itu, begitu juga dengan Azzam.
" Ah mas Azzam tumben sih cium-cium Zahra, biasanya hobi nimpukin Zahra," ujar Zahra yang mencoba tersenyum dalam wajah letihnya.
" Biar adik Mas yang tersayang cepat sembuh, kalo kamu sakit gini aku gak ada teman berantem" jawab Azzam.
" Kan ada Kak Sofi yang bisa Mas godain,"
Zahra mengeluh pusing, Bu Maryam dan Pak Rohman menemani tidur Zahra. Azzampun meledek Zahra," Kayak bayi, tidur di temani Ayah sama Ibu,"
" Biarin ya sayang, sebelum putri ibu ada teman boboknya sendiri, kapan lagi bisa menemani putri kesayangan ibu tidur," jawab Bu Maryam.
" Iya, Mas Azzam iri tuh Bu, sana minta di nina boboin Kak Sofi!"
"Tentu dong, Week dasar bayi besar manja," ujar Azzam menggoda adiknya sebelum betanjak dari kamar Zahra seraya merangkul Sofia istrinya.
Ia sengaja menggoda adiknya itu agar Fikiran Zahra teralihkan dari rasa sakit dan sakit hatinya.
Sementara itu Vino berusaha menghubungi Reyhan. Berulangkali menelphon namun tidak ada jawaban dari Reyhan.
Vino berfikir mungkin benar-benar Reyhan tidak akan datang kepernikahannya, namun kali ini Vino harus sebisa mungkin membawa Reyhan ke hadapan Zahra.
__ADS_1