
Zahra terbangun mendengar suara adzan subuh berkumandang. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ia menoleh kesamping mencari pria yang akhir-akhir ini hobi membangunkan dirinya dengan mencium kening dan pipinya itu, namun kini sudah tidak ada lagi di sampingnya.
Zahra berfikir mungkin Reyhan pergi kemasjid. Iapun segera mandi dan sholat. Selesai sholat ia hendak pergi ke dapur untuk membantu memasak.
Zahra menuruni anak tangga melewati ruang tamu. Ia pun tak habis fikir kenapa bisa suaminya tidur di sofa. Ia mendekat kearah Reyhan dan membangunkannya.
Ia menggoyang-goyangkan kaki Reyhan namun belum bangun juga. Ia mencoba cara suaminya ketika membangunkannya. Zahra mendekatkan wajahnya kewajah Reyhan dan mencium bibirnya. Alhasil Reyhan membuka mata, kini mata mereka beradu, Reyhan menarik tubuh Zahra hingga menindih tubuhnya. Reyhanpun berkata," Akhirnya kini keinginanku jadi kenyataan, saat ku buka mata di pagi hari wajahmulah yang ingin selalu kulihat pertama kali,"
Reyhan balas mencium bibir Zahra. Namun Zahra segera beranjak dan berkata pada suaminya itu, " Buruan keburu habis subuhnya,"
" Jam berapa ini?" tanya Reyhan.
" Jam setengah lima," jawab Zahra seraya menunjuk kearah jam dinding.
" Astaghfirulloh," Reyhanpun beranjak dari tempatnya berbaring.
" Lagian kenapa kamu bisa pindah tidur disini sama Vino?" tanya Zahra penasaran.
" Entar saja ceritanya."
Reyhanpun berusaha membangunkan Vino dengan memanggilnya, namun Vino belum juga bangun. Reyhan mendekat kearah Vino yang tidur di sisi sofa yang lain. Ia menggoyang-goyangkan kaki Vino dan berkata, " Vino bangun!"
Namun Vino masih belum bangun. Zahrapun mempunyai inisiatif, " Sini biar aku bangunin,"
Zahra mengambil sedikit air mineral sisa semalam yang tergeletak di meja lalu memercikkan air kemuka Vino, Vino hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mengusap percikan air yang terjatuh di mukanya namun matanya masih terpejam.
Zahra akhirnya menjewer daun telinga Vino, lalu berteriak, " Hei Vino adikku sayang, baanguun!!!"
Vinopun terkejut membelalakkan mata lalu duduk mendengar jeritan Zahra.
Reyhanpun segera menarik tangan Zahra mendekap dalam pelukannya," Hei istriku sayang, sepertinya kamu gak pernah deh panggil kata sayang padaku, malahan panggil sayang pada pria lain,"
" Kamu cemburu? oke suamiku sayang, aku akan panggil sayang mulai sekarang," jawab Zahra.
Reyhanpun ingin mencium istrinya itu yang mulai terlihat genit.
" Woiii, tahu diri dikit napa! kalau berbuat mesum jangan disini! Pagi-pagi sudah bikin para jomblo baper," ucap Vino setengah berteriak.
Alhasil teriakannya itu mendapat timpukan bantal sofa dari Reyhan.
__ADS_1
" Sudah-sudah, kalian mandi dulu! keburu habis subuhnya," ujar Zahra menengahi perang bantal diantara kakak-adik itu.
Zahrapun bergegas ke dapur sesuai niat awalnya tadi. Ia melihat dua ART sedang memasak di dapur. Iapun menyapa mereka, " Bi apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Zahra dengan tersenyum ramah.
" Selamat pagi Nona. Non Zahra kembali saja, biar kami yang mengerjakan," Jawab salah satu ART.
" Tidak apa-apa Bi, saya sudah biasa memasak Bi, masih belajar juga sih, saya mau membuat kopi untuk Mas Reyhan, dimana ya bi bahannya?" tanya Zahra.
" Biar saya buatkan Non,"
" Tidak usah, biar saya sendiri saja," jawab Zahra.
Seorang ART kemudian menunjukkan tempat gula dan kopi. Zahrapun merebus sedikit air untuk membuatkan kopi suaminya itu.
Sembari menunggu airnya mendidih, Zahra membantu memotong-motong sayuran.
" Saya kira orang kaya sarapannya roti, ternyata sama nasi juga,"
" Iya non kalo Nyonya dan Mas Reyhan suka sarapan nasi, sedangkan Mas Vino suka sarapan roti dengan segelas susu," jawab ART.
"Oh iya Bi panggil saja mbak gitu, jangan panggil 'nona' kesannya gimana gitu?" pinta Zahra.
" Salam kenal Bibi-Bibi yang cantik," balas Zahra. Membuat para ART itu tertawa. Zahrapun melanjutkan memotong sayuran.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya. Ternyata Reyhan memeluknya dari belakang sembari mengecup pipi kiri Zahra.
" Mas!! malu dilihat Bi Ijah dan Bi Iyah," ujar Zahra sembari melirik kedua ART yang menundukkan kepala dengan menahan tawa
" Kami akan tutup mata Mbak Zahra" jawab Bi Iyah.
" Biar seperti di Film-Film kesukaanmu," ujar Reyhan.
"Malu dilihat orang,"jawab Zahra.
Zahrapun melepaskan tangan Reyhan. Ia ingin membuatkan kopi untuk Reyhan karena airnya sudah mendidih. Namun suaminya itu selalu mengikuti kemana Zahra melangkah, seperti seorang anak yang tidak mau berpisah dengan ibunya. Zahrapun berkata pada suaminya itu, " Mas tunggu disana biar aku buatkan kopi," ujar Zahra seraya menunjuk meja kursi yang ada di kolam renang.
" Gak mau!"
" Mas menghalangi jalanku, aku tidak bertanggung jawab kalau air panas ini pindah ke tubuh mu,"
__ADS_1
"Apa? baru beberapa hari aku menikahimu, kamu mau melakukan KDRT padaku?"ujar Reyhan menggoda.
" Mas, kamu tahu sendiri kalau aku gugup gimana?" ujar Zahra seraya menatap suaminya dengan air panas di tangannya.
" Oh iya, aku lupa, kamukan Miss.ceroboh, ih jadi takut," jawab Reyhan. Iapun menuruti keinginan istrinya untuk duduk di kursi samping kolam renang.
" Hemm??!!" Zahra manyun.
Tak berapa lama Zahra menghampiri Reyhan dengan secangkir kopi dan secangkir teh, Ialu meletakkannya di meja.
" Mas kopinya sudah siap," ucap Zahra dengan senyum ceria.
" Mau aku ajari berenang?" tanya Reyhan dengan tatapan genit.
" Dasar modus!!" jawab Zahra.
Reyhan beranjak dari duduk, mendekati Zahra lalu mengangkat tubuhnya.
" Jangan!! please!" Zahra berteriak memohon.
Reyhan ternyata hanya menggodanya, Iapun mendudukkan Zahra di pangkuannya dan memeluknya dari belakang.
" Semua rumahku ada kolam renangnya, kamu harus belajar berenang. Dengan memiliki kemampuan berenang yang baik bisa menolong diri sendiri ataupun orang lain jika dalam bahaya, apalagi nanti kita punya anak. Bukankah anak-anak suka berenang, nanti siapa yang menjaga mereka hayo?"
" Baiklah kesayanganku, nanti aku belajar berenang, nanti carikan instruktur cewek ya,"
" Siap sayang," jawab Reyhan seraya menciumi leher Zahra, Membuat Zahra berontak karena merasa geli.
Sepasang mata sendu menyaksikan keromantisan mereka tanpa mereka sadari. Vino tanpa sengaja melihat mereka dari atas balkon kamarnya.
Vino yang malang. Kini ia harus selalu pura-pura bahagia dihadapan semua orang. Dia mulai memandangi lagi bros milik Nabila, hatinya bergumam " Dapatkah aku melupakanmu Zahra? mungkin dengan aku medekati gadis lain aku akan bisa melupakanmu."
Tuba-tiba Bu Fatma muncul dari belakang dan memeluk Vino lalu berkata, " Anak mama yang ganteng harus segera mencari gadis lain ya, apa kamu lupa semboyanmu yang dulu? ' putus satu tumbuh seribu'."
Vinopun mencoba tersenyum dan kembali memeluk ibunya," Iya dong Ma, masak playboy patah hati, terpuruk, tak berdaya? Ogah Ma! Gak ada keren-kerennya"
Bu Fatma merasa bajunya hangat dan basah. Baru kali ini setelah sekian lama ia melihat Vino menangis.
Vino segera menyeka air matanya dan kembali tersenyum, ia tak mau melihat ibunya ikut sedih.
__ADS_1
" Aku akan Move on Ma," ujar Vino seraya mengepalkan tangan keatas lalu memukulkannnya ke dadanya yang bidang. Bu Fatmapun tersenyum melihat anaknya mempunyai semangat untuk bangkit lagi.