Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Sekretaris istimewa


__ADS_3

Zahra dan Azzam tengah sarapan bersama, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Zahra berdiri dan membukakan pintu. Ia menjumpai Reyhan di depan pintu, lapun tersenyum dan menyapa Zahra, " Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikummussalam, ada apa Mas Reyhan pagi-pagi kesini?" tanya Zahra heran.


" Saya mau mengajak kamu berangkat bareng," jawab Reyhan.


" Tapi saya biasanya berangkat, sama Mas Azzam."


Azzam mendengar suara laki-laki berbicara dengan adiknya itu, iapun bertanya " Siapa Zahra?"


" Mas Reyhan," jawab Zahra.


Zahra mempersilahkan Reyhan masuk kedalam ruang tamu. Iapun menawarkan sarapan kepada Reyhan, " Mas Reyhan mau sarapan juga?"


" Tidak, trimakasih," jawab Reyhan.


Reyhan menunggu di ruang tamu, sementara Zahra bersiap-siap. Azzam yang sudah selesai sarapanpun menghampirinya, lalu menyapanya, " Selamat pagi Reyhan, apa kamu mau minum kopi?"


" Tidak usah repot-repot Azzam, saya cuma mau mengajak Zahra berangkat bersama."


" Sebenarnya tidak perlu repot-repot menjemput Zahra, Dia sudah biasa berangkat sama saya."


" Tidak apa-apa Azzam, biar sekalian bicara tentang pekerjaan," ujar Reyhan.


" Yakin nih, gak ada maksud lain?" tanya Azzam meledek.


" Rupanya kamu sangat ahli menilai orang Zam? kita sama-sama laki-laki, mungkin pikiran kita sama? sebagai calon kakak ipar aku minta sama kamu bantulah aku baikan lagi sama Zahra. Paling tidak izinkan aku mendekatinya lagi," jawab Reyhan panjang lebar.


" Oke, saya orangnya bisa di ajak kompromi, asalkan kamu berjanji akan selalu menjaga Zahra dan tidak akan menyakitinya lagi."


"Baik aku berjanji," ujar Reyhan.


" Oke, aku pegang kata-katamu," ujar Azzam seraya mengangkat jari telunjuk menunjuk kearah muka Reyhan.


Zahra keluar dari kamar sudah berdandan rapi. Ia tidak mendengar begitu jelas obrolan Azzam dan Reyhan. Dari raut wajah mereka terlihat tegang, Zahrapun bertanya, "ada apa?"


" Ini urusan laki-laki sama laki-laki," jawab Azzam seraya berdiri.


Mereka akhirnya berangkat bersama-sama ke kantor. Reyhan membukakan pintu mobil untuk Zahra, Zahrapun masuk mobil duduk di kursi depan, Ia mengucapkan trimakasih pada Reyhan seraya tersenyum manis. Zahra memperhatikan Reyhan yang dari tadi senyum-senyum sendiri, Zahrapun bertanya padanya, " Kenapa Mas Reyhan dari tadi senyum-senyum sendiri?"


" Bahagia saja, karena sekarang kita bisa selalu bersama lagi," jawab Reyhan.

__ADS_1


" Tapi apa Mas gak malu nantinya, kalau karyawan lain menggunjing perlakuan mas ini, berlebihan pada sekretarisnya?"


" Kenapa harus malu, biarin orang ngomong apa. Bukankah memang betul kalau kamu Sekretaris Istimewaku?"


" Ah masak sih?" tanya Zahra.


" Sekretaris tercinta," ujar Reyhan seraya mendekatkan mukanya kearah Zahra.


Setelah sampai di depan pintu loby kantor, Reyhan turun dan segera membukakan pintu untuk Zahra. Zahra menyadari banyak pasang mata memperhatikan mereka, iapun berbisik pada Reyhan, " Mas Reyhan, aku bisa buka sendiri, lihat semua orang melihat kita."


Namun Reyhan hanya tersenyum dan kembali membetulkan posisi mobilnya di parkiran. Zahra menuju lift, Silfi dan teman-temannya menghampirinya. Silfi bertanya pada Zahra, " Eh gimana ceritanya kalian kok bisa barengan gitu?"


Zahra belum sempat menjawab namun Lita menyahut, " Eh Zahra, kapan-kapan cerita dong gimana kerja dengan Si Bos ganteng itu."


" Hem, satu lagi nih yang tergoda sama artis kampung dadakan," ujar Mery menyela.


" Ah Mery, bilang aja kamu iri," sahut Silfi.


Tiba-tiba Reyhan menarik tangan Zahra masuk ke dalam lift. Zahra hanya pasrah mengikuti bosnya itu. Zahra tersenyum melambai pada teman-temannya. Wajah-wajah kagum terlihat dari Silfi dan kawan-kawannya. Lain halnya dengan Mery yang nampak kesal di wajahnya.


Reyhan masih menggandeng tangan Zahra selama di lift. Zahra baru menyadari setelah keluar dari lift dan beberapa pasang mata melihat kearah mereka. Reyhan berjalan, tatapannya lurus kedepan, sesekali menganggukkan kepala ketika karyawan memberi hormat. Zahra berusaha melepas tangan Reyhan, namun Reyhan belum melepaskannya. Zahrapun berkata, " Pak Reyhan tolong lepaskan tanganku, apa kamu tak lihat semua orang melihat kita?"


Akhirnya Reyhan melepas genggaman tangannya. Zahrapun merasa lega. Mereka memasuki ruang kerja masing-masing.


Zahra mengetuk pintu ruangan Reyhan. Suara Reyhan dari dalam menyahut mempersilahkannya masuk. Zahrapun menyampaikan pesan, " Pak Reyhan, resepsionis memberitahu bahwa Pak Rizal dari PT.Angkasa Jaya sudah datang, Pak Reyhan mau menemui di sini apa di tempat laon?"


" Langsung minta resepsionis mengantar keruangan saya saja," jawab Reyhan.


Zahra kemudian menelphon bagian resepsionis untuk mengantar Pak Rizal keruangan Reyhan.


Resepsionis mengetuk pintu, kemudian Zahra membukakan pintu. Seorang laki-laki memasuki ruangan. Reyhan mempersilahkannya duduk di sofa, " Silahkan duduk Pak Rizal!"


" Oke, trimakasih Pak Reyhan, akhirnya kita bertemu lagi," ujar Rizal seraya berjabat tangan dengan Reyhan. Merekapun kemudian duduk bersama. Reyhan menyadari pandangan kolega bisnisnya itu tak lepas dari Zahra.


Rizal seorang pembisnis muda itu seumuran dengan Reyhan. Wajahnya tak kalah tampan dari Reyhan. Ia sudah sering berurusan bisnis dengan Reyhan, begitu juga kali ini mereka akan membahas tentang kerjasama bisnis property mewakili perusahaan masing-masing.


Zahra menawari minuman kepada Rizal, " Permisi Pak Rizal mau minum apa?"


" Apa saja Nona cantik?" jawab Rizal.


" Zahra tolong pesankan kopi saja untuk kami berdua," ujar Reyhan.

__ADS_1


" Iya Pak, saya permisi dulu," ucap Zahra berpamitan.


Mata Rizal terus memandang Zahra hingga ia hilang dari balik pintu.


" He brow itu sekretaris barumu ya? pintar sekali kamu memilih sekretaris cantik sekali, boleh dong aku deketin?" tanya Rizal


" No! He memangnya aku mau skretarisku jadi mangsa buaya sepertimu?"


" Ah kamu Reyhan, yang bening-bening di embat sendiri," ujar Rizal berkelakar. Kali ini mereka tidak seformal tadi. Karena memamg sejak dulu mereka berteman.


" Iya lah, dia itu sekretaris istimewaku," ujar


Reyhan. Kemudian mereka tertawa bersama.


" Jangan-jangan itu pacar kamu, eh saya kira kamu sudah jadian dengan Vanessa? enakkan diakan pewaris perusahaan ini, masa depan cerah brow."


" Sudahlah, kamu ini mau bahas bisnis atau bahas wanita?" tanya Reyhan, kali ini wajahnya mulai serius. Akhirnya Rizal mengeluarkan proposal dari dalam tasnya.


Zahra memasuki ruangan, diikuti seorang OB yang membawakan dua cangkir kopi. Zahra mempersilahkan Rizal untuk meminum kopinya, " Silahkan diminum Pak?"


" Trimakasih cantik," jawab Rizal.


Zahra mengernyitkan dahi mendengar panggilan seorang laki-laki di hadapanya itu. Reyhan meminta Zahra untuk melihat agenda mereka siang nanti. Zahrapun membacakan beberapa agenda siang sampai sore nanti. Reyhan sengaja mengusir Rizal secara halus, agar temannya itu tahu bahwa ia sibuk sekali. Reyhan juga tidak ingin Rizal menggoda sekretarisnya itu lagi.


Rizal akhirnya beranjak dari tempat duduknya, di ikuti oleh Reyhan. Mereka saling bersalaman. Reyhan berkata, " Trimakasih Pak Rizal, saya akan menghubungi anda kembali nanti, setelah proposalnya kami pelajari."


" Oke, aku berharap perusahaan kita bisa bekerja sama lagi. Zahra saya harap kita akan sering bertemu," ujar Rizal seraya melambaikan tangan pada Zahra yang tengah merapikan meja tamu. Zahra hanya membalasnya dengan nengangguk dan tersenyum.


Reyhan kembali kemeja kerjanya. Ia memandang Zahra yang masih merapikan meja tamu, Reyhanpun berkata padanya,


" Biarkan saja Zahra, kamu cukup panggil OB lewat telephon, biar mereka membersihkannya."


" Tidak apa-apa, ini proposalnya," ujar Zahra seraya menyerahkan proposal yang masih tertinggal di meja tamu.


" Mungkin aku harus segera menikahimu dan kamu bisa berhenti bekerja, kamu bisa duduk manis di rumah," ujar Reyhan tiba-tiba membahas pernikahan.


"Apaan sih Pak, bahas pernikahan? memang aku mau?" ujar Zahra tersipu malu.


Reyhan berdiri mendekati Zahra, semakin mendekat, namun Zahra terus mundur kebelakang, hingga Zahra tersudut di tembok. Reyhan berbisik padanya, " Bukankah kamu juga mencintaiku? berhentilah berpura-pura membenciku Zahra, aku sudah tidak tahan dengan sikap kamu yang sok jual mahal padaku, aku tidak suka melihat laki-laki lain menggodamu, aku tidak suka mereka memandangimu, dan berusaha menarik perhatianmu," ujar Reyhan seraya memegang kedua bahu Zahra seolah akan menciumnya. Zahra yang bertubuh kecil tidak sebanding kekuatannya dengan Reyhan yang kekar. Ia tidak bisa berkutik, Reyhan mengunci posisinya.


Sontak saja Zahra teriak, " Lepas! atau aku akan menamparmu, aku akan teriak, lepas! kamu menyakitiku," ujar Zahra melotot kearah Reyhan.

__ADS_1


Reyhan kemudian melepas pegangan tangannya, dan menarik Zahra dalam pelukannya. Zahra berusaha melapaskan diri. Reyhan berbisik padanya, " Maaf, Maafkan aku Zahra! aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya takut kehilanganmu, apa kamu tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Berbulan-bulan kamu meninggalkan aku, aku seperti orang gila mencarimu kemana-mana."


Zahrapun berhasil lepas dari pelukan Reyhan. Ia berlari menuju ruangannya. Ia tidak suka Reyhan yang suka memaksa. Namun Ia merenungi kata-kata Reyhan. Apakah ia bisa menerima kembali laki-laki itu. Apa mungkin ia harus memberi kesempatan kedua untuk hubunganya dengan Reyhan.


__ADS_2