Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Terkuaknya kebenaran 2


__ADS_3

Setelah beberapa hari Bu Fatma sudah dapat di pindahkan keruang perawatan. Kesehatannya berangsur membaik. Namun tidak dengan ketegangan antara Zahra dan Reyhan. Zahra hampir tidak mau bicara dengan Reyhan. Ia memilih menghindarinya. Hari-harinya di habiskan untuk menemani Bu Fatma.


Reyhan semakin tak sabar menunggu hasil kerja asistennya itu yang meminta tambahan waktu untuk melakukan tugasnya mengumpulkan bukti-bukti kebohongan Vanessa.


Sepulang dari kantor Reyhan menemui Bu Fatma yang sudah bisa di ajak bicara meskipun kondisinya masih lemas. Reyhan mencium punggung tangan Bu Fatma dan bertanya kabar, " Bagaimana keadaan Mama?"


" Reyhan wanita itu dan bayinya?" tanya Bu Fatma dengan lemas.


" Sudahlah Ma, semua baik-baik saja, Mama tahu Reyhan kan? mana mungkin Reyhan seperti yang di katakan wanita itu? Semua bohong ma, tahu sendiri anak mama ganteng, banyak wanita yang tergila-gila dengan Reyhan sampai bawa-bawa bayi," ujar Reyhan dengan tersenyum.


Zahra hanya diam, hatinya berkata bisa-bisanya Reyhan bercanda dalam kondisi seperti itu. Bu Fatma menoleh kearah Zahra dan bertanya, " Apakah betul Zahra?"


Zahra menoleh kearah Reyhan lalu kembali menatap Ibu mertuanya dengan tersenyum yang di paksakan, " Iya Ma, wanita itu berbohong."


Zahra berusaha meyakinkan Bu Fatma agar tidak memikirkan wanita itu lagi. Padahal ia juga membohongi dirinya sendiri. Ia masih percaya akan hasil tes DNA yang di bawa Vanessa ke hadapan Bu Fatma.


Suara derap langkah berhenti di depan Ruang VVIP rumah sakit tempat Bu Fatma di rawat. Terdengar suara Vino menghentikan seseorang untuk masuk. Reyhan dan Zahra keluar ruangan, sedang Bi Ijah menunggui Bu Fatma


Vanessa dan pengawalnya berada di depan ruangan. Reyhan tiba-tiba menghampiri Vanessa menyeretnya menjauh dari pintu. Ia mencekik leher Vanessa menguncinya di tembok, Vanessa tak bisa berkata-kata. Kedua pengawal Vanessa berusaha menarik tangan Reyhan namun belum berhasil, kedua pengawal itu pun memukuli Reyhan berulang-ulang.


Bersamaan dengan itu keluarga Pak Rohman datang, " Astaghfirulloh," ucap Bu Maryam terkejut melihat kejadian itu


" Mas tolong hentikan, lepaskan Mas! aku akan pergi darimu selamanya kalau kamu sampai melukai Vanessa!"


Reyhan segera melepaskan cekikan dari leher Vanessa. Vanessa terengah-engah mengambil nafas.


" Kamu gila Reyhan," ucap Vanessa yang masih terengah-engah.


" Kamu yang gila, menghadapi orang gila sepertimu juga harus dengan cara gila," ujar Reyhan penuh emosi. Matanya terbuka lebar, seperti elang yang hendak mencabik-cabik mangsanya.


Kedua pengawal Vanessa memegangi kedua tangan Reyhan agar tidak kembali menyakiti majikannya lagi.


Kedua orang tua Zahra masih diam seribu tanya memeluk Zahra yang tengah menangis sesenggukkan. Tak lama Jodipun datang.


" Lepaskan!" ujar Jodi.


Namun kedua pengawal Vanessa masih belum mau melepaskan tangan Reyhan.


" Lepaskan dia," ujar Vanessa. Pengawal itupun langsung melepaskan Reyhan.


" Jodi apa yang kamu dapatkan?"


Jodipun mengeluarkan beberapa dokumen dan mulai berbicara dengan suara rendah, menyadari ia berada di rumah sakit.


" Nona Vanessa, anda telah memalsukan hasil tes DNA bukan?" tanya Jodi.


" Itu Asli, "


" Maaf tapi hasil yang saya dapatkan menunjukkan bahwa bayi yang anda bawa bukan anak Pak Reyhan. Bayi itu bahkan bukan anak anda. ini bukti-buktinya rumah sakit dimana istri sopir anda melahirkan, Buku KIA istri sopir anda? Bagaimana jika anda saja belum pernah hamil, mana bisa melahirkan?"

__ADS_1


" Omong kosong apa yang kalian buat untuk lari dari tanggung jawab?" ucap Vanessa penuh amarah.


" Hust!! pelankan suara anda Nona! atau satpam akan menyeret anda keluar rumah sakit ini," ujar Jodi mendekati Vanessa lalu berbicara lagi.


" Coba anda hubungi sopir anda sekarang, dia sekarang dalam perjalanan keluar kota membawa bayi anda, ups! Bayi mereka sendiri bukan?"


Tiba-tiba dering ponsel Vanessa berbunyi, iapun berbicara dengan seseorang di telephon yang ternyata Ayahnya Vanessa.


" Hallo Pa!"


" Vanessa! berhenti bermain-main sekarang pulanglah!"


" Papa!" Vanessa merengek.


" Semua bukti kejahatanmu sudah papa lihat, atau kamu mau Reyhan memasukkanmu ke penjara, atau kamu mau mencemarkan nama baik keluargamu sendiri? hentikan kebodohanmu atau aku akan mencoretmu dari daftar ahli waris ku,"


" Papa tunggu!"


Vanessa kesal karena Papanya menutup telepon.


" Awas kamu ya!" ucap Vanessa sembari menunjuk Jodi penuh amarah.


" Maaf Nona, aku sudah membocorkan kenakalanmu di luar rumah pada Papa anda, sekarang pulanglah jadilah anak yang baik atau Papamu akan menghukummu," ujar Jodi dengan senyum penuh kemenangan.


Vanessa melihat kearah Reyhan dan Zahra bergantian penuh kebencian. Bahkan kata maafpun tak terlontar dari mulutnya. Ia pergi dengan pengawalnya keluar dari rumah sakit.


" Kerja bagus Jodi, Trimakasih," ucap Reyhan seraya menepuk bahu Jodi.


Reyhanpun menghampiri Zahra dan berkata, " Sudahku bilang kan, sebelum 30 hari aku akan membuktikan kebenarannya, aku tidak bersalah."


" Maafkan aku Mas," Zahrapun menghambur memeluk Reyhan.


"Aku memaafkan mu tapi hukuman untukmu karena tidak percaya padaku akan tetap berlaku," jawab Reyhan.


Reyhan melepas pelukannya lalu beralih mencium tangan kedua orang tua Zahra, " Maafkan atas ketidak nyamanan yang terjadi,"


" Tidak apa-apa Nak, kami percaya padamu," ucap Bu Maryam.


Vino yang ikut menyaksikan kejadian itupun memeluk Reyhan dan berkata," Maafkan aku Kak, telah berburuk sangka padamu."


" Kamu sekarang percayakan, kalau aku akan selalu menjaga kakak iparmu tersayang," jawab Reyhan.


Kedua orang tua Zahra kemudian masuk ke ruangan, berbincang dengan Bu Fatma.


Di sisi lain di kediaman Vanessa. Vanessa mengamuk, membanting semua barang yang berada di dekatnya.


" Mana sopir brengsek itu, aku sudah membayar mahal untuk anak itu, kini se enaknya dia bawa kabur."


" Maaf Nona mereka sudah pergi,"

__ADS_1


" Zahra!!! kalau aku tidak bisa memiliki Reyhan kamu pun tidak boleh. Awas kamu aku akan membunuhmu,"


Pyar! Semua barang-barang hancur membuat semua penghuni rumah ketakutan.


" Maaf Nona, Tuan memerintahkan anda hari ini juga kembali ke Jakarta," ucap seorang pengawal.


" Diam kamu!!! bisa-bisanya aku kecolongan, pasti di rumah ini ada penghianat."


***


Kedua orang tua Zahra menginap di rumah Reyhan. Pagi itu Zahra ingin pulang ke rumah karena Bu Fatma sudah berangsur membaik, ia juga sudah lama tidak bekerja.


Reyhan dan Zahra berjalan menuju parkiran yang agak jauh dari gedung rumah sakit. Tiba-tiba sebuah mobil mengarah ke arah mereka dengan cepat. Zahra yang berada di depan Reyhan rupanya menjadi incaran pengemudi itu.


" Zahra awas!!" Teriak Reyhan.


Bruk!!


Reyhan mendorong Zahra, namun naas Reyhan sendiri yang tertabrak.


Zahra menghampiri suaminya yang tergeletak di halaman rumah sakit dengan bersimpah darah.


" Mas Reyhan, bangun!!" Zahra menangis histeris. Baju dan tangannyapun berlumuran darah segar Reyhan.


Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara tabrakan di jalan raya tak jauh dari rumah sakit. Ternyata orang yang menabrak Reyhan merasa panik hingga mengemudi dengan kecepatan tinggi. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan terguling.


Semua orang yang ada di sekitar rumah sakit menghampiri Zahra dan Reyhan. Petugas medis segera membawa Reyhan ke UGD. Zahra terus menangis di samping suaminya. Vino yang datang segera menenangkan Zahra yang menangis histeris dan mengajak menjauh dari tubuh Reyhan karena merepotkan dokter dan perawat yang menangani Reyhan.


Tak lama datang sesosok tubuh wanita yang berlumuran darah yang mereka kenali dibawa ke UGD rumah sakit, wanita itu Vanessa yang berusaha menabrak Zahra, namun malah menabrak Reyhan.


" Vanessa! wanita itu yang mau membunuhku Vino!" ujar Zahra histeris.


" Sudah tenanglah, kamu juga terluka Zahra, keningmu berdarah. Perawat tolong obati dia juga," pinta Vino menunjuk Zahra.


Zahrapun berbaring, perawat membersihkan luka-lukanya. Bibirnya tak hentinya bicara, " Vino lihat kakakmu! katakan padanya aku tidak akan memaafkannya jika sampai dia pergi meninggalkanku. Apalagi sampai bersama wanita jahat itu!" Zahrapun tiba-tiba pingsan.


Vino kebingungan, ia menghubungi kedua orang tua Zahra. Setelah kedua orang tua Zahra datang barulah ia menanyakan kondisi Reyhan.


Dokter meminta tanda tangan Vino untuk melakukan operasi karena pendarahan hebat di kepala Reyhan. Vinopun meminta Dokter melakukan yang terbaik untuk kakaknya itu.


Tiba-tiba Vino bersandar di dinding, rasanya ia tak sanggup melihat semua kejadian yang menimpa keluarganya bertubi-tubi. Mamanya baru saja membaik, ia tidak akan bisa menjawab bila nanti ia menanyakan Reyhan dan Zahra.


Tepukan lembut menyentuh bahu Vino, " Kamu harus kuat Mas, sekarang kamu lah satu-satunya yang harus kuat dan bertahan dalam keluarga Mas, kamu pasti bisa, demi Bu Fatma, demi Kak Zahra dan Kak Reyhan.


Vino menoleh kearah suara dan berdiri, " Trimakasih Nabila, kapan kalian datang?"


" Sudah tadi, sebelum kecelakaan itu, kami tadi di ruangan Bu Fatma, lalu kami keluar karena mendengar ke gaduhan,"


Nabila dan keluarganya kemudian meninggalkan Vino untuk melihat keadaan Zahra.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2