
Suara alarm dari ponsel membangunkan Zahra. Ia segera mandi dan sholat. Ia mengira Reyhan semalam sudah pulang namun ia mendapati Reyhan tertidur di Sofa. Zahra duduk disampingnya berusaha membangunkannya, " Mas Reyhan bangun!" ucap Zahra seraya menggoyangkan kakinya, Namun Reyhan masih belum bangun.
Zahrapun membiarkanya tidur saja, ia beranjak dari duduknya hendak membuatkan kopi untuk Reyhan ketika nanti ia bangun.
Tiba-tiba Reyhan menarik tangan Zahra. Zahra menoleh kearah Reyhan, namun Reyhan menariknya lagi iapun jatuh dalam pelukan Reyhan. Zahra menindih Reyhan. Reyhan melingkarkan tangan ke pinggang Zahra, Iapun berbisik padanya " Selamat pagi istriku,"
" He bangun Mas Reyhan, kamu ngigau ya, aku belum jadi istrimu," ujar Zahra berusaha melepas pelukan Reyhan .
" Dari tadi sudah bangun, apa kamu tidak merasakannya," jawab Reyhan seraya tersenyum genit.
" Dasar mesum," ujar Zahra seraya mencubit hudung Reyhan yang mancung. Zahrapun akhirnya terlepas dari pelukan Reyhan. Namun tangan Reyhan menarik tangan Zahra ketika hendak pergi, Ia berkata, " Ayo kita cepat-cepat menikah, aku ingin setiap pagi ada yang membangunkanku, dan ketika ku buka mata aku melihat senyum manismu.
" Minta dulu aku pada kedua orang tuaku, aduh Mas Reyhan pagi-pagi ngomongin nikah, sudah mandi dulu sana."
Reyhan akhirnya kembali ke apartemennya. Kebetulan hari itu hari minggu jadi Zahra masih bermalas-malasan di depan TV. Setelah mandi Reyhan kembali ke apartemen Zahra. Ia duduk di samping Zahra, lalu memegang dahinya serta menanyakan keadaanya, " Apa sudah baikan?"
" Sudah Mas, trimakasih ya telah merawatku semalam,"
"Bukankah sudah seharusnya? Mulai sekarang kita baikan ya, gak boleh saling menyakiti," ujar Reyhan seraya mengangkat jari kelingkingnya. Zahra pun menyetujuinya, ia mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Reyhan keduanya saling tersenyum.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Reyhan
" Belum Mas, aku gak masak hari ini."
"Ya udah nanti aku pesankan makanan lewat gofood saja ya kebetulan Bi mina libur hari ini? kamu mau makan apa?"
" Pesan saja buat Mas Reyhsn sendiri, aku lagi malas makan," jawab Zahra
" Kamu harus makan biar cepat pulih kesehatanmu. Baiklah aku akan buatkan sesuatu untukmu,"
Reyhan menuju ke dapur. Ia mencari bahan makanan yang bisa ia olah untuk di jadikan sarapan. Ia membuka lemari pedingin, ia pun menemukan dan mengambil selada, tomat dan timun. Ia kembali menuju meja makan dan mengambil beberapa potong roti tawar.
Reyhan mulai menyalakan kompor, meletakkan teflon diatasnya. Ia menuangkan margarin, membuat telur dadar, lalu meletakkan roti tawar diatasnya, tak lupa ia membolak-balikkan roti dan telur tadi. Setelah terlihat matang ia mematikan kompor, memberi irisan tomat, selada dan mentimun lalu melipat rotinya dan jadilah roti bakar ala Reyhan.
Zahra yang berada di ruang tamu mencium aroma lezat masakan yang di buat Reyhan, ia pun menjadi merasa lapar. Reyhan membawa hasil masakannya dan menunjukkannya pada Zahra dengan berkata, " Oke sudah jadi inilah Roti bakar ala cheff Reyhan," sembari tersenyum.
" Hem kelihatannya enak?"
__ADS_1
" Enak dong, kamu harus coba," ujar Reyhan seraya memotong roti dengan garpu dan menyuapkannya kepada Zahra.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu yang kebetulan terbuka karena ketika masuk Reyhan lupa menutup kembali.
" Hah Pak Reyhan, Zahra!" teriak Silfi, Devi dan Lita serentak. Mereka terkejut dengan kehadiran Reyhan bersama Zahra, apalagi Reyhan tengah menyuapi Zahra. Zahra dan Reyhan tak kalah terkejut langsung menoleh kearah pintu.
Reyhan berdiri menjauh dari Zahra dan mempersilahkan Silfi dan kawan-kawannya masuk. Reyhan berkata," Silahkan masuk kalian! masuk rumah orang kok teriak-teriak."
" Maaf Pak Reyhan kami cuma syok saja, melihat kalian berdua-duan disini. Maaf Pak bila mengganggu, kami cuma mau tau keadaan Zahra saja," ujar Silfi.
Zahra pun berdiri menghampiri mereka, dan berkata, " Silahkan masuk semuanya,"
Silfi dan kawan-kawanya pun duduk bersama Zahra. Reyhanpun masuk kedapur mengambilkan segelas susu kepada Zahra. Ia hendak meninggalkan Zahra bersama teman-temannya dulu, sebelum pergi ia berkata pada Zahra, " Zahra ini roti dan susunya, ingat kamu harus segera makan dulu!"
" Iya Mas, trimakasih," jawab Zahra.
Reyhanpun meninggalkan Zahra bersama teman-temannya. Ia kembali ke apartemennya kembali.
Setelah Reyhan pergi, Silfi dkk jadi heboh sendiri mereka penasaran dengan hubungan mereka yang tidak selayaknya atasan dan bawahan.
" Zahra oh Zahra kok bisa Pak Bos ganteng di di sini?" tanya Silfi
" Jangan-jangan kalian pacaran ya?" sahut Lita.
"Ya ampun kamu gak takut saingan sama Nona Vanessa?" tanya Silfi.
Pertanyaan yang bertubi-tubi dari teman-temannya membuat Zahra semakin lapar, ia pun segera melahap roti bakar buatan Reyhan, sambil berkata, " Kalian ini bertanya bertubi-tubi membuatku jadi lapar, udah nanti jawabannya."
" Enak? jangan bilang Pak Reyhan yang masakin juga ini?" tanya Devi
" Iya dong, Pak Reyhan jago masak, silahkan di coba!"
Mereka akhirnya berebut sepotong roti yang seharusnya jatah Reyhan untuk sarapan.
" Hem enak sekali," ujar Silfi yang diikuti teman-temannya
Selesai menghabiskan roti mereka kembali menatap Zahra dengan kompak sambil senyum-senyum curiga.
__ADS_1
" Ada apa kalian melihatku seperti itu?" tanya Zahra
" Kamu belum menjawab pertanyaan kami, jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan ya!" ujar Silfi
" Hem baiklah aku akan cerita, tapi ini rahasia ya. Sebenarnya Pak Reyhan itu calon suamiku."
" Apa?" tanya Silfi dkk serentak. Mereka semua terkejut.
Zahrapun akhirnya bercerita tentang Reyhan dan mengapa sampai Zahra ada di Jakarta. Ketiga temannya itu mendengarkan cerita dengan sangat antusias.
" Zahra beruntung sekali kamu bisa bersama Pak Reyhan kembali, membuatku iri," ujar Lita.
" Terus Pak Zaky bagaimana, diakan kelihatannya sangat menyukaimu?" tanya Devi
" Saya hanya menganggapnya kakak saja, dia kan teman Kakakku Mas Azzam."
" Maksud kamu Pak Azzam, manager keuangan itu?" tanya Silfi
" Ya ampun Zahra ternyata kamu penuh kejutan," ujar Lita.
" Kok kamu gak pernah bilang sih?" tanya Silfi.
" Untuk apa aku bilang-bilang?"tanya Zahra balik.
" Paling tidak Si Mery gak akan berani membuly kamu?" jawab Silfi.
" Saya ingin orang mau menyukai saya karena kepribadian saya dan juga kemampuan saya sendiri. Bukan karena aku adik manager atau calon istri Direktur."
" Sip lah kalo gitu aku setuju" ujar Silfi.
Setelah lama mereka mengobrol panjang lebar, datanglah Azzam bersama Sofi. Azzam dan Sofi menghampiri Zahra. Mereka terlihat cemas. Azzam pun memegang dahi Zahra dan bertanya, " Kamu sudah tidak apa-apa Zahra? kata Reyhan kamu demam tinggi sampai pingsan?"
" Sudah tidak apa-apa Mas, jangan khawatir," jawab Zahra.
" Kalo masih sakit kita kedokter," sahut Sofi.
" Tidak apa-apa Kak Sofi, saya sudah sembuh, jawab Zahra.
__ADS_1
" Sudah ada dokternya Pak Azzam," ujar Silfi
" Dokter Cinta," ujar Devi dan Lita kompak.