Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Ingin selalu bersama


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu dari luar kamar membuyarkan lamunan Reyhan.


" Permisi mbak Zahra, Mas Reyhan, Bu Maryam meminta anda berdua untuk turun, sarapan sudah siap," ujar Bibi Sumi ART keluarga Zahra yang berbicara dari balik pintu.


" Iya Bi," sahut Reyhan.


Reyhanpun membangunkan istrinya itu, namun Zahra hanya menggeliat. Reyhanpun menggoda istrinya dengan menciuminya serta meraba-raba tubuhnya sehingga Zahra merasa geli dan seketika itu duduk memandang Reyhan kesal.


" Ayo sarapan dulu, ingat pesan dokter kamu tidak boleh telat makan,"


" Tapi,, " ujar Zahra dengan malas-?malasan.


Reyhan pun mengangkat tubuh Zahra," Minta di gendong lagi ya?"


" Nggak-enggak, turunkan aku," jawab Zahra sembari memukul dada Reyhan dengan kedua tangannya.


Reyhan membawa Zahra duduk di ruang makan, Azzam, Sofia dan kedua orang tuanya sudah duduk di depan meja makan menatap mereka berdua.


Bu Maryam menghampiri Zahra yang masih terlihat lemas," Sayang apa masih sakit kok kamu masih lemas, perutnya masih sakit, pusing?" tanya Bu Maryam sembari memegang kening Zahra.


" Tidak Bu, saya sudah sehat," jawab Zahra mencoba menghentikan kekhawatiran ibunya itu.


"He Bos, kamu apakan adik gue sampai lemas gitu, gak lihat dia baru sembuh, jangan bilang kamu ajak main-main ya? Sabar dikit napa!" ujar Azzam menatap Reyhan.


" Mas Azzam apaan sih?" Zahra salah tingkah.


" Auwww!!" Azzam menjerit, Sofi sengaja menginjak kaki Azzam, memberi isyarat agar berhenti meledek adiknya.


Reyhan yang salah tingkahpun hanya bisa menggaruk-garuk kepala.


Reyhan mengambilkan makanan untuk Zahra.


" Seharusnya aku yang melayanimu Mas," ujar Zahra.


" Tidak apa-apa, gantian ya!" ujar Reyhan.


" Tangan kamu kenapa?" celetuk Azzam melihat bekas merah kebiruan di lengan Reyhan.


" Di gigit macan," jawab Reyhan


Azzam tertawa cekikikan mendengar jawaban Reyhan, Azzam pun menimpali menyindir Zahra" Hati-hati ya kadang bisa manja seperti kucing, tapi kalau sudah marah bisa-bisa lebih buas dari macan,"


" Ibuuuuu,, Mas Azzam!" ujar Zahra merajuk mengadu pada ibunya.


" Sudah - sudah kalian ini sudah pada menikah, masih saja seperti anak kecil, malu dong," ujar Bu Maryam menengahi.


" Tuh kan keluar manjanya," ujar Azzam.

__ADS_1


" Nak Reyhan, Ibu mohon sabar ya menghadapi anak ibu. Zahra memang sejak kecil di manja oleh Ayahnya, namun Ayahnya juga terlalu over protektif pada Zahra, Ya jadinya seperti ini kadang manja dan juga keras kepala." ujar Bu Maryam seraya mengambilkan makan untuk Pak Rohman.


" Iya bu," jawab Reyhan.


" Ayah nanti Mas Reyhan mau ke Villa mengambil baju ganti di sana, Zahra ikut ya!" pinta Zahra pada Pak Rohman.


" Sekarang kamu sudah menikah, sudah tidak perlu meminta izin Ayah, kemanapun kamu sekarang harus meminta izin pada suamimu, sekarang kamu bukan tanggung jawab Ayah lagi, sepenuhnya baik-burukmu jadi tanggung jawab suamimu," ujar Pak Rohman panjang-lebar.


" Ayah, Zahra jadi sedih," ujar Pak Rohman.


" Reyhan, sejak kecil saya tidak pernah berbuat kasar pada Zahra, saya harap kamu juga seperti itu," pinta Pak Rohman.


" Iya Pak, Insyaalloh saya akan menjaga amanah Bapak."


" Panggil 'Ayah' saja," sanggah Pak Rohman.


" Iya, Ayah,"


" Sekalian kami mau pamit. Saya dan Sofia mau kembali ke Bandung, Insyaalloh minggu depan kami akan pulang kesini lagi, menghadiri resepsi kalian," ucap Reyhan.


" Iya Zam, trimakasih banyak ya," jawab Reyhan.


" Bos, panggil aku Kakak dong, sekarang aku sudah jadi kakak iparmu.


" Azzam sajalah, canggung rasanya," jawab Reyhan.


" Adik ipar tidak sopan," jawab Azzam.


" Iya Kak, cepat buatin aku ponakan, nanti aku main ke Bandung," jawab Zahra.


" Eh kamu kan sudah menikah buat sendiri dong, masak gak berani?" ujar Sofi meledek.


" Tuh kan, Kak Sofi jadi ketularan Mas Azzam," jawab Zahra merajuk.


" Sudah sayang, nanti kita buat banyak anak, mau berapa, 11, 12? kita kalahkan Mas Azzam dan Kak Sofi," bujuk Reyhan.


" Tidaakk!" jawab Zahra menjerit, membuat semua orang tertawa.


***


Setelah melepas kepergian Azzam dan Sofi. Reyhan berpamitan untuk ke Villa Anggrek miliknya yang tidak jauh dari rumah Zahra.


Siang hari Reyhan dan Zahra berboncengan mengendarai sepeda motor milik Zahra, mereka menuju ke Villa. Beberapa pasang matapun melihat mereka, Zahra pun menyapa satu- persatu tetangganya yang ia jumpai sepanjang jalan menuju Villa.


Sesampainya di Villa, Reyhan meminta resepsionis membawakan beberapa minuman dan camilan. Iapun meminta mensterilkan wilayah daerah kamar Reyhan agar orang lain tidak melintasi area tersebut.


Villa anggrek memiliki beberapa bangunan Villa. Ada yang bertemakan alam, klasik dan modern. Dalam satu Villa terdapat sekitar 10 kamar dengan dua lantai, sudah di lengkapi dengan dapur dan ruang tamu. Terdapat pula aula yang luas yang biasanya di gunakan untuk rapat, diklat, seminar ataupun resepsi pernikahan.


Khusus untuk Villa pribadi Reyhan, berada di samping resepsionis, menghadap ke timur. Viewnya langsung menghadap ke area persawahan dan keperkebunan. Terdapat 4 kamar yang saling membelakangi. Tepat di kamar favorit Reyhan terdapat kolam renang.

__ADS_1


Zahra merebahkan diri di ranjang dengan alas berwarna putih, khas seperti di hotel. Kamar mandinya pun di desain seperti hotel bintang lima.


Reyhan kemudian menyusul membaringkan diri di samping Zahra. Ia pun bertanya," Kamu suka? apa kita nanti tinggal disini saja?"


" Terserah Mas Reyhan saja, kemanapun kamu tinggal aku akan ikut," jawab Zahra.


" Aku juga ingin selalu bersamamu, kamu tinggal pilih, mau di rumah yang di Malang apa di sini? Setelah acara resepsi di rumah Mama, aku akan ajak kerumah kita yang di kota Malang," ujar Reyhan.


" Ciee orang kaya, rumahnya banyak," goda Zahra yang menghambur kepelukan Reyhan, persisnya menindih Reyhan.


" Milik kamu juga sayang," jawab Reyhan, sembari membalikkan tubuh Zahra.


" Mau apa?"


" Kamu yang duluan, membangunkan yang tidur," jawab Zahra


Tok! tok! tok!


" Permisi Pak, saya mengantar pesanan Bapak," ujar pegawai Villa yang berada di balik pintu .


" letakkan di luar saja," jawab Reyhan.


Kelengahan Reyhan, membuat Zahra kabur, lepas dari pelukannya.


" Jangan masih sakit!" seraya keluar kamar.


" Ayo berenang dulu, cuaca tidak terlalu panas," ajak Reyhan.


" Aku tidak bisa berenang, dan lagian tidak bawa baju renang."jawab Zahra.


" Aku akan mengajarimu, pakai dalaman saja,"


" Malu ah,"


" Aman, cuma kita berdua, pagar sudah saya minta di tutup, tidak akan ada yang kesini," bujuk Reyhan, seraya mendekap Zahra, tangannya sudah melepas kemeja Zahra, dan melepas celana panjangnya.


" Apaa-apan sih?" ujar Zahra yang menutupi bagian dadanya.


Reyhan melepas celana pendeknya, hanya mengenakan boxer dan melepas kaosnya sendiri. Iapun langsug mengangkat tubuh Zahra, dan turun kekolam renang yang dangkal, lalu pelan-pelan menuju ke kolam yang dalam.


Zahra yang ketakutan berpegangan erat pada tubuh Reyhan. Rupanya Reyhan tidak benar-benar ingin mengajarinya berenang, hanya alasannya saja untuk bermesraan dengan Zahra di kolam renang.


Tak henti-hentinya Reyhan mencumbuinya. Tangan satunya memegang tubuh Zahra agar tidak tenggelam dan satunya lagi liar menjamah tubuh mungil Zahra. Kali ini Zahra tidak bisa kabur, karena kelemahannya ada di tangan Reyhan. Bagaimana mau kabur? sudah pasti Ia akan tenggelam.


Zahrapun hanya bisa pasrah terhadap perlakuan suaminya itu, apalagi dia sudah mulai menyukai sentuhan-sentuhan Reyhan.


Cukup lama Reyhan memanjakan istrinya itu di kolam renang. Reyhanpun mengangkat tubuh Zahra dari kolam renang ke kamar tidur. membaringkannya di ranjang. Pastinya kali ini Reyhan tidak akan gagal lagi setelah penolakan yang ia dapatkan pagi tadi.


Akhirnya malam itu mereka mereka menginap di Villa. Keesokan paginya baru kembali kerumah orang tua Zahra.

__ADS_1


Kini hari-hari mereka di sibukkan dengan persiapan resepsi pernikahan yang kedua kali. Acara sudah di atur sedemikian rupa oleh Bu Fatma. Zahra hanya tinggal mencoba baju rancangan yang sudah di pilihkan langsung oleh designer ternama.


Kali ini keluarga Bu Fatma menginginkam acara pernikahan putranya berlangsung lancar tanpa ada tragedi seperti waktu mengelar pesta di rumah Zahra.


__ADS_2