
Nada dering ponsel Zahra berbunyi, namun Zahra tak menghiraukannya. Ia akhirnya meraba-raba dengan mata terpejam keatas meja, karena ponsel berdering berulang-ulang tidak mau berhenti. Ia meraih ponsel dan menggesek keatas tanda hijau.
"Zahra"
"Assalamu'aikum, siapa ini?" teriakan laki-laki mengejutkannya seketika kantuknya hilang.
"Reyhan, bos kamu?"Jawab rehan dengan kesal karena dari tadi panggilan telphonnya tidak di jawab.
"Ada apa Mas bos malam-malam gini telphon saya?" Jawab Zahra santai
"Malam kamu bilang, kamu tidak punya jam?" Jawab Reyhan makin kesal.
Zahra menyalakan lampu kamar dan melihat jam dinding menunjukkan pukul 5 pagi, membuatnya terkejut.
" Aaargg!! mas bos tunggu ya keburu subuhnya habis?" Zahra menutup telephonnya dan berlari kekamar mandi kemudian sholat subuh.
Selesai sholat Zahra mencoba menghubungi bosnya itu, namun panggilannya tidak di jawab. Zahra membuka notif whatshapnya, ternyata Reyhan menulis pesan.
Segera ke cafe, ada tugas untuk mu.
Zahra segera mandi dan berganti pakaian setelah membaca pesan tersebut. Hatinya mulai gelisah, takut kalau di beri tugas macam-macam oleh bosnya itu.
Sesampainya di cafe, segera ia membuka pintu menuju ruangan Reyhan. Suasana masih sepi, para karyawan belum ada yang datang kecuali satpam yang berjaga mulai tadi malam.
"Assalamu'alaikum?" Zahra menyapa Reyhan yang duduk di sofa.
"Wa'alaikumussalam" Jawab Reyhan.
" Bapak tidak ngantor hari ini?" Tanya Zahra. Zahra sudah tahu kalau Reyhan selain pengusaha kuliner, ia juga bekerja di perusahaan properti. Ia banyak mendengar kehidupan bosnya itu dari sesama karyawan di cafe.
"Apa kamu lupa kalau hari ini hari minggu?" Jawab Reyhan.
"Iya mas bos, semenjak saya kerja di sini, saya tidak punya hari minggu untuk libur, pagi kuliah, sore sampe malam kerja, liburnya gantian lagi?" Keluh Zahra panjang lebar.
"Itu bukan urusan saya?"
"Terus apa tugas saya?"tanya Zahra dengan sedikit kesal.
"Membujuk Ibu saya untuk makan, dan pastikan Ibu saya makan, karena dari kemaren sore mogok makan. Nanti Koki akan memasak, kamu tinggal bawa kerumah saya."
" Tapi saya belum tahu rumah mas bos?"
"Nanti saya kirim alamatnya?" Jawab Reyhan.
"Siap bos! Sekarang mas bos mau kemana?" Zahra penasaran karena pakaian bosnya hari itu memakai costum olah raga.
" Ayo ikut!" Reyhan keluar ruangan. Zahra mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Reyhan mulai lari kecil, Zahrapun mengikuti dari belakang.
"Apa ini termasuk tugas mas bos?"Tanya Zahra dengan ngos-ngosan. Untung Zahra datang mengenakan kaos, celana casual dan sepatu sport.
Reyhan hanya tersenyum mananggapi pertanyaan Zahra. Mereka joging mengelilingi komplek ruko yang masih tutup semua, jalananpun sepi pagi itu. Setelah sekitar 30 menit mereka sudah kembali ke cafe. Beberapa karyawan sudah datang melihat kearah mereka berdua dengan tatapan curiga.
" Zahra, pergi ke dapur, kalau makanan sudah siap segera antar!" Perintah Reyhan kemudian kembali ke ruangannya. Zahra masih ngos-ngosan duduk di kursi.
" Dari mana mbak Zahra?"Tanya doni yang sedang melap meja.
"Di kerjain sama Bos mu itu" Jawab Zahra sekenanya. Mendengar jawabannya Doni hanya mengernyitkan dahi.
***
Zahra akhirnya menemukan alamat yang diberikan Reyhan dengan menggunakan aplikasi Gmap. Jaraknyapun hanya sekitar 10 menit dari cafe.
Zahra memencet tombol bell, seorang satpam menghampiri, membuka pintu gerbang.
" Ada apa mbak?" tanya satpam.
" Saya di utus Mas Reyhan kesini, membawa makanan." Seraya mengangkat plastik berisi beberapa kotak makanan.
Zahra mendorong sepeda maticnya kedalam dan memarkirkannya dekat pos satpam. Satpam itupun menunjukkan tempat Ibu Fatma, ibu dari Reyhan berada. Mereka melewati pintu samping yang terhubung ke dapur dan di sampingnya ada taman dan kolam renang.
Zahra melihat dari kejauhan sesosok wanita paruh baya duduk termenung di kursi dekat kolam renang. Zahra sedikit gugup dan takut, hatinya bergumam apakah ibunya Mas Reyhan galak juga seperti anaknya. Zahrapun memberanikan diri menghampirinya.
"Wa'alaikum salam" Ibu Fatma menjawab salam dengan mengamati gadis di hadapannya itu dari atas sampai bawah, Wajah Zahra yang cantik, kulit putih, hidung mancung, dengan senyum mengembang di bibirnya.
" Saya Zahra tante, Mas bos menyuruh saya kesini, mengantar makanan dari cafe."
"O kamu suruhan Reyhan, bawa ke dapur saja sana."
"Baik tante" Jawab Zahra seraya melangkah ke dapur.
" Bu mana piring dan sendoknya?" Tanya Zahra tanya pada ART yang kebetulan memasak di dapur.
" Mbak utusan Mas Reyhan?" Tanya Bik Siti seraya menyerahkan piring dan sendok
"Iya Bi?"Jawab Zahra seraya memindahkan nasi goreng ke piring. Zahrapun kembali ke hadapan Ibu Fatma.
" Tante silahkan makan?" pinta Zahra Seraya menyodorkan piring.
"Anda belum pergi juga, taruh saja di meja makan nanti saya makan." Jawab Ibu Fatma dengan ketus dengan memalingkan muka.
"Maaf bu, saya di minta memastikan ibu untuk makan. Kenapa sih tante kok mogok makan, nanti sakit loh."
Ibu Fatmapun tak menghiraukan Zahra yang membujuknya untuk segera makan. Ia hanya duduk mematung.
__ADS_1
Zahrapun sudah hampir habis kata-kata rayuanya. Mulai dari memuji tante cantik sampai menakut-nakuti kalau masuk rumah sakit.
Sampai akhirnya Zahra pura-pura menangis.
" Hiks hiks hiks." Membuat Ibu Fatma menoleh kepadanya.
Zahra meletakkan piring di meja samping kursi tempat Bu Fatma duduk.
"Tante tega sama saya, apa tante tidak tahu anak tante itu suka menyiksa orang lain. Kalau sampai tante tidak makan saya akan di bunuh sama anak tante. hiks "
Bu Fatma memandang Zahra dengan mengernyitkan dahi keheranan, dalam hatinya bertanya-tanya.
Masak segitunya anak ku
Zahrapun melanjutkan actingnya, dia menyeka air matanya.
" Tante kalau tidak makan, saya mati karena di bunuh mas bos, pastinya mas bos masuk penjara, dan arwah saya tidak akan terima. Tante yang akan saya hantui tiap malam. tante, tolong aku,, tante,, tolong aku" Zahra menirukan adegan hantu di film-film, membuat Bu Fatma ketakutan, membuatnya menyerah. Kedua ART yang menyaksikan dari kejauhan menahan tawa.
"Cukup-cukup aku akan makan" Teriak Bu Fatma terlihat bergidik ketakutan, lalu mengambil piring dan menyendokkan kemulutnya. Zahra mengambil ponsel dan memotretnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Bu Fatma.
"Buat bukti tante, permisi ya"
Akhirnya satu piring nasi goreng ludes di lahap, rupanya Bu Fatma menahan lapar dari tadi malam. Zahra melihat dengan terenyum lega, misinya kali ini berhasil.
" Apa betul anak Tante segitunya zahra?"
Tanya Bu Fatma yang mulai melunak bicaranya.
" Sebenarnya sih tidak gitu tante, maaf saya bohong tadi. Tapi tante, memang betul mas reyhan jutek, dingin dan terlihat kejam, menakutkan." Jawab Zahra dengan memicingkan matanya.
"Sebenarnya dia dulu tidak seperti itu, dia baik dan selalu ceria, semenjak ayahnya meninggal dia jadi seperti itu."
Bu Fatma pun akhirnya bercerita tentang masa lalu Reyhan. Ayahnya meninggal ketika Reyhan kelas 3 SMA karena kecelakaan. Reyhan merasa bersalah karena sebelum meninggal, Ia merengek meminta ayahnya menonton pertandingan basket di sekolahnya. Ayahnya yang selalu sibuk bekerja akhirnya meluangkan waktu akan menonton pertandingan basket antar sekolah yang waktu itu Tim Reyhan masuk Final. Naas mobil yang di kendarai ayahnya di tabrak oleh truk yang sopirnya mengantuk.
Mendengar hal itu Zahra terharu dan bersimpati pada bosnya yang tadinya ia benci.
"Lalu kenapa tante mogok makan?Tanya Zahra.
"Reyhan menolak perjodohan dengan anak teman almarhum Ayah Reyhan, saya ingin dia segera menikah dan hidup bahagia. Karin anak yang baik pasti akan menjadi pendamping yang baik buat Reyhan?"
" Maaf tante bukannya saya ikut campur, bukankah Mas Reyhan sudah terpukul dengan meninggalnya Ayahnya Mas Reyhan, mengapa menambah bebannya dengan memaksa menikah dengan orang yang tidak ia cintai tante."
"Saya harap Reyhan mencintai Karin juga, mereka sejak kecil selalu bersama dan sudah akrab, Karin sangat mencintainya." Jawab Bu Fatma.
Tanpa di sadari hari sudah siang, Zahrapun berpamitan. Ia hendak kembali ke cafe menemui Reyhan.
__ADS_1