Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Unduh Mantu


__ADS_3

Tibalah hari yang dinantikan, mempelai pria membawa mempelai putri ke rumah orang tua mempelai putra. Iring-iringan mobil pengiring pengantin dari keluarga Zahra memadati jalanan. Semua keluarga, sanak famili dan juga tetangga turut mengantarkannya.


Pasangan pengantin berjalan di depan pengiring, layaknya raja dan ratu. Kali ini gaun biru muda menjuntai kelantai menjadi gaun pertama yang di kenakan oleh Zahra.


Acara resepsi di buka dengan lantunan ayat suci Alqur'an yang di lafalkan oleh sepupu Zahra bernama Nabila. Nabila lebih muda dari Zahra. Ia juga masih kuliah di universitas islam di Malang. Sejak SD sudah belajar di pesantren. Zahra meminta secara khusus menjadi Qori' di acara pernikahannya. Suara merdu Nabila membuat para tamu undangan tersentuh hatinya mendengarkan dengan khusuk.


Selanjutnya MC mempersilahkan sambutan perwakilan dari mempelai putri. Kali ini di wakili oleh Pak Dhe kakak dari Ayah Zahra yang bernama H. Ismail Marzuki. Beliau adalah yang di tuakan di keluarga Pak Rohman.


H. Ismail memberikan sambutan tentang penyerahan mempelai putri kepada keluarga mempelai putra, serta sedikit memberi tausyiah.


Acara resmi di tutup dengan do'a, serta makan-makan dengan cara prasmanan. Alunan lagu nasyid dan gambus mengalun di sela-sela acara. Selesai berfoto dengan pengantin, pihak keluarga mempelai putripun undur diri.


Nabila baru ingat di minta membawakan tas berisi sedikit baju ganti milik Zahra. Ia pun meminta izin untuk kembali masuk kedalam rumah orang tua Reyhan. Iapun meminta Ayahnya menunggu di dalam mobil.


Nabila bergegas masuk melewati pintu samping dengan membawa tas jinjing yang tidak begitu besar. Ia berjalan tergesa-gesa, karena tidak ingin rombongannya menunggu lebih lama.


Brakk!!


Zahra menabrak Vino yang berjalan dari arah samping.


" Maaf," ucap Vino


" Saya yang minta maaf karena jalan terburu-buru, saya mau memberikan tas milik Mbak Zahra"


" Sini biar saya taruh di kamarnya, saya adik suaminya Zahra,"


Nabila yang dari tadi menunduk kini mengangkat kepala menyerahkan tas milik Zahra.


"Trimakasih," ucap Nabila.


Gadis kecil yang mengenakan kerudung dan busana lebar itu segera berbalik ingin segera kembali ke rombongan. Namun langkahnya terhenti mendengar suara Vino, Tunggu!"


Nabilapun berhenti dan berbalik namun tatapannya masih manundukkan pandangan.


" Kamu Nabila kan?" tebak Vino


" Kok Mas tahu?"


" Kan tadi MC nyebutin namamu ' Nabila Khoirunnisa', kenalkan aku Vino," seraya mengulurkan tangan.


Namun Nabila membalasnya dengan menyatukan kedua tangan di depan dada, Vinopun menurunkan tangannya kembali.


" Permisi Mas Vino, saya sudah di tunggu rombongan," Nabilapun bergegas meninggalkan Vino.


" Tunggu!" teriak Vino namun Nabila sudah terlalu jauh. Vino memungut bros yang tergeletak di lantai. Ia mengira bahwa benda itu milik Nabila yang terjatuh ketika mereka bertabrakan.


Vinopun mengantongi bros berbentuk bunga yang terbuat dari susunan mutiara berwarna putih. Ia bergegas meletakkan tas Zahra di kamar. Ia hampir lupa tujuannya masuk kedalam rumah, iapun segera ketoilet.


***


Acara seremonial serah terima pengantin putri ke pihak pengantin putra telah usai. Acara berganti dengan suasana yang lebih santai. Semakin sore tamu semakin banyak berdatangan. Kini panggung musik di kuasai oleh band Vino Cs. Kali ini Vino mangajak beberapa penyanyi lokal baik pria maupun wanita untuk mengisi acara di pernikahan kakaknya itu.


Tibalah suara emas Vino menyihir tamu undangan. Salah satu tembang milik Judika yang berjudul " Cinta Karena Cinta" mengalun merdu. Semua penonton terpesona penampilannya, apalagi beberapa gadis ikut bernyanyi di bawah panggung. Begitu juga dengan Zahra yang ikut memujinya.


" Bagus ya suara Vino, keren!" ujar Zahra yang duduk di kursi pelaminan bersama Reyhan.

__ADS_1


" Bisa-bisanya kamu memuji laki-laki lain, walaupun itu adikku, di saat seperti ini ," jawab Reyhan.


" Kamu cemburu?"


Reyhan hanya diam lalu, turun dari pelaminan.


" Mas!" cegah Zahra. Ia mengira Reyhan marah.


" Sebentar," ucap Reyhan.


Setelah Vino turun dari panggung, tiba-tiba terdengar suara yang tak kalah merdu dari suara Vino. Zahra dan tamu undangan mencari asal suara pria yang menyanyikan lagu milik alm.Uje yang berjudul "Bidadari Surga".


Ternyata Reyhan keluar dari balik kerumunan tamu, seketika tamu menepi memberikan jalan. Reyhan bernyanyi sambil berjalan pelan menuju arah Zahra yang tengah duduk sendiri di pelaminan.


Zahra saking takjubnya menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka Reyhan bisa bernyanyi juga.


Sesampainya di depan Zahra, Reyhan berjongkok lalu menyerahkan bunga mawar yang ia sembunyikan di balik punggungnya kepada Zahra. Alhasil aksinya itu membuat Zahra merasa bagaikan di terbangkan keawan. Riuh tepuk tangan tamu undangan memuji aksi Reyhan. Semua senang dan bahagia.


Namun ada sosok yang terlihat tidak suka, dialah Karin. Karin merasa Zahra telah merebut Reyhan darinya. Ia berfikir karena kehadiran Zahra lah yang membuat Reyhan menolak perjodohan mereka.


Hati Karin makin meradang ketika melihat Reyhan mencium kening dan kedua pipi Zahra lalu memeluknya di hadapan tamu undangan. Iapun segera pergi meninggalkan pesta.


***


Pesta telah usai, Zahra berbaring di kasur karena kelelahan. Seharian berdiri dan duduk lagi, berdiri lagi, dst, bersalaman dengan para tamu undangan.


Reyhanpun merebahkan diri di samping istrinya. Kini Reyhan mulai terbiasa tidur memeluk istrinya. Reyhan tidak bisa tidur tiba-tiba keinginannya muncul. Ia mencoba tidur tengkurap, terlentang, miring kanan-miring kiri namun matanya masih belum bisa terpejam. Zahra akhirnya terbangun karena merasa terganggu dengan Reyhan yang tidak bisa diam.


" Tingkahmu Mas kalo tidur seperti anak kecil," ujar Zahra dengan suara serak setengah sadar.


" Sini aku nina boboin," jawab Zahra seraya menarik kepala Reyhan lalu mendekapnya di atas dadanya.


Zahra mengelus-elus kepala Reyhan. Sementara itu Reyhan merasa mendapat angin segar iapun berniat melancarkan aksinya. Namun sayang harapannya kandas seperti prajurit yang kalah sebelum berperang, setelah mendongakkan wajahnya melihat Zahra yang sudah kembali tertidur pulas.


Reyhan yang kepalanya berada tepat di dada Zahra membuat keinginannya semakin memuncak. Iapun berbicara sendiri, " Zahra kamu PHP saja, kalo gini bikin bertambah buruk keadaan."


Reyhan kini semakin klimpungan bagaimana cara menjinakkan juniornya yang sudah terlanjur bangun siap tempur.


Iapun bangkit dari ranjang dan berolah raga. Mulai dari Joging dan push up, berharap setelah kelelahan ia dapat tertidur pulas.


Sementara itu, Vino hendak berbaring di tempat tidurnya tanpa mengganti baju, sesuatu mengganjal di dalam saku celananya, Iapun segera mengambil benda tersebut.


Ia memandangi sebuah bros berbentuk bunga itu, ia pun teringat sosok si empu benda yang ada di tangannya itu.


'Nabila' wajah gadis sholihah itu mulai bermain-main difikiran Vino. Rupanya jiwa playboynya mulai bangkit setelah lama ia jadi laki-laki setia. Ya setia menunggu dan memperjuangkan cintanya, berharap Zahra membalas cintanya. Hatinya hingga kini masih di kuasai oleh Zahra.


Sayang seribu sayang, kini cintanya harus kandas karena Zahra telah jadi milik orang tepatnya milik kakaknya sendiri.


Vino berusaha mengikklaskannya meskipun berat. Ia menganggap semua ini hukum karma yang harus ia terima karena telah banyak menyakiti hati wanita.


Entah sudah berapa gadis yang telah ia buat menangis karena putus cinta. Kini ia merasakan sendiri sakitnya di tinggalkan oleh orang yang ia cintai. Sakit! Mungkin inilah yang dinamakan 'luka tapi tak berdarah'.


Vino mulai berfikir bahwa ia seharusnya harus move on meskipun sangat sulit baginya melupakan Zahra


Rasa penasaran terhadap sepupu Zahra bernama Nabila itu, mendorong langkahnya ingin segera bertemu Zahra. Hingga ia lupa waktu telah menginjak tengah malam.

__ADS_1


Tok! tok! tok!


Suara ketukan pintu menghentikan Reyhan yang tengah push up. Ia membuka pintu seraya melap keringatnya yang bercucuran, ia pun bertanya pada Vino yang berdiri di depan pintu menatapnya penuh tanda tanya,


" Ada apa malam-malam begini?"


" Apa aku mengganggu?" taya Vino yang merasa bersalah mungkin datang di saat tidak tepat.


" Kamu pikir!!"


" Maaf, besok saja!"


" Cepat ada apa?"


" Apa Zahra sudah tidur?"


" Sudah dari tadi, selesai acara langsung tidur,"


" Kirain habis ngapa-ngapain,"


" Dasar otak mesum! ngapain kamu cari Dia?"


" Kok Kakak kringetan gitu, emang ACnya mati?"


" Nggak, cuma lagi olah raga saja,"


" 0Ooo! Aku cuma mau nanya soal Bros ini, ya sudah besok saja" ujar Vino seraya menunjukkan sebuah bros dalam genggamannya itu.


" Apa!! cuma urusan bros kamu malam-malam begini kesini?!" ujar Reyhan kesal, ia mengira ada keperluan darurat.


" Maaf deh, aku lupa kalau ini sudah tengah malam. Bukan cuma tentang brosnya, lebih tepatnya pemilik brosnya, Nabila sepupunya Zahra," ucap Vino seraya memegang tengkuknya sendiri karena salah tingkah dan malu.


Reyhan pun menutup pintu lalu keluar kamar, Vino membuntuti Kakaknya itu. Mereka menuju lantai dasar, disana terdapat meja tenis. Reyhan melempar raket kepada Vino, Vino menangkap dengan tepat. Akhirnya mereka pun bermain tenis meja sambil mengobrol. Suatu hal yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan berdua.


" Apa gadis itu yang membuatmu tidak bisa tidur?" tanya Reyhan.


" Entahlah?" jawab Vino.


" Dia gadis yang baik, sholihah anak pesantren lagi, ya semoga saja orang tuanya mau menerima kamu yang urakan ini." ujar Reyhan seraya menunjuk Vino dengan raket dari atas hingga bawah.


" Ah terlalu jauh kakak berfikir," jawab Vino.


" Ya sebaiknya memang kamu harus segera move on, aku laki-laki biasa yang juga merasa risih bila laki-laki lain meskipun itu adikku sendiri menatap istriku dengan tatapan cinta, apalagi bukankan Zahra dulu juga sempat jatuh hati padamu?"


Percakapan ringan itu menjurus ke hal yang serius, membuat Vino terdiam. Ia tertunduk memegang meja tenis dengan kedua tangannya


" Ya, seharusnya aku harus segera dapat melupakannya, meskipun itu sulit, apalagi aku kenal dia jauh sebelum Kakak mengenalnya bukan? aku lebih dulu mencintainya," ujar Vino seraya mengangkat kepala menatap Reyhan.


" Maafkan aku," ucap Reyhan.


" Tidak ada yang perlu dimaafkan, jodoh di tangan Alloh, lagi pula Kakak lebih baik dari aku, lebih pantas mendapatkan Zahra. Bahagiakan Dia Kak! agar pengorbananku ini tidak sia-sia," ujar Vino dengan tersenyum


" Pasti!"


Mereka akhirnya melanjutkan permainan, hingga merasa kelelahan. Mereka berdua pun tertidur di kursi sofa ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2