
Acara pertunangan Azzam dan Sofi sudah selesai, mereka tengah sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan di gelar beberapa bulan lagi. Kedua orang tua Zahra sudah pulang kampung sehari setelah acara pertunangan tersebut berlangsung . Hal tersebut membuat Zahra sering sendirian di apartemen. Reyhan tidak lagi menjemput atau mengantarnya pulang kerja. Zakypun memiliki kesempatan besar untuk mendekati Zahra.
Jarak antara Reyhan dan Zahra semakin renggang. Kesalahpahaman mewarnai hubungan mereka. Reyhan merasa Zahra telah berubah dan telah pindah kelain hati. Iapun merasa lelah karena hubungannya dengan Zahra belum ada kejelasan. Meskipun ia selalu berusaha memperbaiki hubungan mereka namun selalu saja salah dimata Zahra. Meskipun kini Reyhan dekat dengan Vanessa namun ia masih belum bisa melupakan Zahra.
Zahra juga berfikir bahwa Reyhan tidak lagi mencintainya. Meskipun Ia menyadari kesalahannya telah bersikap acuh pada Reyhan namun ia terlalu gengsi untuk meminta maaf. Ia baru menyadari ketika melihat kedekatan Reyhan dan Vanessa. Ia merasa cemburu juga merasa kehilangan. Kini Zahra harus memendam sendiri penyesalannya.
Seperti waktu itu di acara ulang tahun Vanessa. Zahra menghadiri pesta bersama Zaky. Pesta di gelar di tepi kolam renang sebuah hotel bintang lima di Ibu Kota. Zaky dan Zahra tampil serasi , teman-teman Zahra mengira iapun sudah jadian dengan Zaky. Sehingga Silfi dan kawan-kawannya meledekinya.
" Waow Zahra dan Pak Zaky serasi sekali. Kayaknya ada yang baru jadian nih?" ujar silfi
" Wah perlu di rayain nih!" sahut Lita.
" Hem,,semoga langgeng ya," ujar Mery yang dengan mimik wajah mengejek.
Zaky hanya senyum-senyum saja menghadapi bawahannya itu. Namun Zahra merasa malu, ia pun menyangkalnya, " Aduh siapa sih yang jadian? kalian salah paham tau?"
Acara pemotongan kue akan segera di mulai, seorang pemandu acara memberi pengumuman. Reyhan dan kedua orang tuanya berada di samping Vanessa.
Vanessa memberi potongan kue pertama kepada kedua orang tuanya. Kemudian MC berbicara," Nah kepada siapa lagi ya potongan kue kedua, tentunya untuk orang yang spesial"
Vanessa menyuapkan potongan kue mulut Reyhan. Reyhan awalnya malu-malu membuka mulut, namun akhirnya ia menerima suapan kue itu dari tangan Vanessa, sorak tepuk tangan terdengar dari para tamu undangan. Vanessa tersenyum bahagia, Reyhan terlihat memaksakan diri untuk tersenyum juga. Vanessa mencium pipi Reyhan.
Zahra menatap Reyhan dengan kecewa, Reyhan menyadari hal tersebut, Iapun segera melangkah menuju Zahra, namun ketika ia hendak melangkah tangan Vanessa menariknya. Sehingga ia membiarkan Zahra pergi menjauh dari kerumunan.
Zahra berada di tepi kolam renang bersama rekan-rekannya. Zaky mengambilkan minuman untuk Zahra. Mery menghampiri Zahra dan berkata, "Sepertinya ada yang patah hati nih? Eh Zahra jangan mimpi deh mendapatkan Pak direktur, Dia tuh cocoknya sama, nona Vanessa,"
Zahra pun mendekati Mery," Maaf ya Merry bukannya kamu yang patah hati, bukannya kamu yang selalu berusaha mendekatinya?apa kamu pernah lihat kalau aku mendekati Pak Direktur?"
" Jangan munafik deh, lo kan selalu keganjenan kalo dekat-dekat Pak Reyhan," balas Mery.
" Udah deh kalian jangan bertengkar," ujar Silfi melerai.
" Eh jangan ikut-ikut deh kamu, mau sok-sok an belain dia lagi!" ujar Mery seraya mendorong Silfi. Zahra yang berada di belakangnya ikut terdorong.
Byur! suara orang tercebur. Ternyata Zahra terpleset dan tercebur kedalam kolam karena Mery mendorong Silfi, dan silfipun tanpa sengaja menabrak Zahra yang ada di belakangnya.
Semua mata tertuju pada Zahra yang berusaha berenang ketepian, namun ia tidak bisa berenang. Reyhan sontak terjun kekolam renang menyelamatkannya.
Ia mengangkat Zahra yang basah kuyup dan terbatuk-batuk karena tanpa sengaja menelan air kolam. Ia meletakkan di kursi santai yang berada tak jauh dari kolam. Silfi mendekatinya dan bertanya " Zahra kamu tidak apa-apa?"
Zahra hanya menggelengkan kepala. Zaky segera melepas jasnya dan menyelimutkannya pada Zahra.
Reyhan berkata pada Zahra," Ayo aku antar pulang"
__ADS_1
" Biar saya antar saja pak," ujar Zaky.
Vanessa menghampiri kerumunan dan menarik tangan Reyhan. Zakipun menggandeng Zahra ke dalam mobilnya dan mengantarnya pulang.
Sesampai di apartemen Zahra meminta Zaky untuk pergi. Akhirnya Zahra sendirian, karena Azzam tengah mengantar Sofi ke Bandung untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu keponakannya. Azzam dan sofi pun menginap di rumah saudaranya itu.
Zahra duduk menangis di sofa dengan baju yang masih basah kuyup. Perasaanya kacau, namun ia hanya bisa menangis. Reyhan mengetuk pintu, namun suara ketukan pintu berkali-kali itu tidak Zahra hiraukan. Ia larut dalam tangisannya. Pintu tidak terkunci sehingga Reyhanpun masuk dan mendapati Zahra tengah menangis.
Reyhan memeluk Zahra, Zahrapun membalas pelukannya. Badan Zahra menggigil, ia kedinginan. Reyhanpun berkata," Maafkan aku Zahra"
" Aku yang harusnya minta maaf Mas," jawab Zahra.
Reyhan memegang keningnya lalu berkata, " Zahra badan kamu panas sekali, kamu demam, cepat ganti pakaianmu!" pinta Reyhan.
Zahrapun beranjak dari duduknya, hendak masuk ke dalam kamar untuk ganti baju. Namun kepalanya terasa berat, ia merasa pusing, tiba-tiba pandangannya gelap, ia terjatuh dan pingsan. Reyhan segera berlari kearah Zahra, Ia mengangkat tubuh Zahra dan membaringkannya di tempat tidur. Reyhan panik, " Zahra bangun!" Ia berusaha menyadarkan Zahra
Ia melihat Zahra dengan baju yang masih basah, iapun tidak mungkin menganti pakaiannya. Segera ia menelphon ART yang belum lama ia pekerjakan, Ia berharap belum pulang dan masih di apartemennya, " Hallo Bi Mina, ada di mana?"
" Masih di rumah Mas Reyhan, masih beres-beres," jawab Bi Mina.
" Bi Mina tolong segera ke Apartemen nomor 9 ya, cepat!"
" Iya Mas."
" Ayo sini Bi" ujar Reyhan seraya mempercepat langkahnya.
" Iya Mas," jawab Bi Mina yang tergopoh-gopoh.
" Bi tolong ganti pakaian Zahra, saya akan ke apotik sebentar beli obat, tolong jaga Zahra semoga cepat siuman, nanti kalo belum siuman kita bawa ke Rumah Sakit."
Sementara Bi Mina mengganti pakaian, Reyhan berjalan dengan cepat menuju apotik yang ada di sebrang jalan apartemennya. Setelah mendapatkan obat demam, segera ia kembali ke apartemen. Ia melihat Zahra yang sudah di ganti pakaiannya dan bertanya pada Bi Ima, " Bagaimana Bi apa Zahra sudah sadar?"
" Belum Mas, panasnya tinggi, biar saya ambilkan air hangat untuk mengompresnya," jawab Bi Ima.
Sementara Bi Ima mengambil air, Reyhan duduk memandangi Zahra. Wajahnya yang cantik dengan rambut basah terurai. Jiwa laki-lakinya rasanya ingin mengecup bibir mungilnya, namun ia menahan godaan itu. Ketika ia mendekatkan wajahnya, Zahra tersadar.
Zahra terkejut, " Mas Reyhan?" seraya hendak duduk. Ia memegangi kepalanya yang pusing.
Zahra duduk dan menyadari bajunya ada yang menggantinya. Ia pun menyilangkan tangan di dada dan berkata, " Siapa yang mengganti pakaianku, jangan bilang itu kamu?" ujar Zahra dengan ketakutan.
Dalam keadaan seperti itu Reyhan masih sempat menggodanya, " Lalu siapa? sudahlah tidak usah malu, bukankah sebentar lagi kita akan menikah?"
" Apa? tega kamu Mas," ujar Zahra dengan menangis. Ia merasa kesuciannya ternoda. Reyhan hanya tersenyum genit padanya.
__ADS_1
Tiba-tiba Bi Mina masuk ke dalam kamar Zahra dengan membawa baskom dan sapu tangan lalu berkata, " Non Zahra sudah bangun? Maaf Mas Reyhan agak lama, tadi saya mencari sapu tangan di kamar Mas Reyhan,"
" Iya gak apa-apa, bawa sini airnya!"
Reyhan mencelupkan sapu tangan kedalam air kemudian melipat dengan ukuran lebih kecil lalu meletakkan di dahi Zahra.
" Kamu tiduran dulu," Zahrapun kembali tiduran.
" Maaf Non Zahra, tadi saya panik tidak sempat memakaikan bra Non Zahra," ujar Bi Mina.
Zahra sontak melihat ke arah dadanya yang terlihat menonjol, karena ia hanya mengenakan pakaian tidur yang tipis. Ia pun segera menarik selimut menutupi dadanya. Wajahnya tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
" Jadi Bi Mina yang mengganti baju saya?"
" Iya Non"
" Trimakasih Bi"
Reyhan meminta Bi Mina membuatkan teh hangat untuk Zahra, serta mengambil makanan yang tadi di masaknya di apartemen Reyhan. Setelah mengantar makanan, Reyhan meminta Bi Mina untuk pulang. Reyhan kemudian meminta Zahra duduk. Ia menyuapi Zahra dan memintanya untuk minum obat.
Zahra terlihat tersenyum malu mendapat perhatian dari Reyhan. Reyhan terus mengecek suhu tubuh Zahra. Ia pun meminta Zahra kembali berbaring dan Reyhan mengompres keningnya dengan air hangat.
Reyhan menarik kursi untuk duduk dan mendekatkan pada tempat tidur. Ia bertanya pada Zahra seraya memegang kepalanya," Apa masih pusing?"
" Sedikit, sebaiknya Mas Reyhan pulang?"
" Tidak apa-apa aku akan menjagamu di sini, Azzam menitipkanmu padaku untuk menjagamu, sebelum Dia tadi berangkat."
" Bukankah pestanya belum selesai, kenapa kamu menyusulku pulang?"
" Aku mengkhawatirkanmu?"
" Kenapa?" tanya Zahra
" Apa kamu masih tanya alasannya?"
"Tentu,"
" Sudahlah Zahra kita buang ego kita masing-masing. Kalau kita sama-sama mencintai, untuk apa saling menyakiti."
Reyhan menatap lembut wanita yang tengah berbaring dengan lemah itu. Zahrapun bertanya, " Apa kamu masih mencintaiku? bagaimana dengan Vanessa?"
" Selamanya aku akan mencintaimu, Vanessa hanya teman biasa."
__ADS_1
Zahra tersenyum mendengar jawaban Reyhan. Reyhanpun mencium punggung tangan Zahra dan menggenggamnya hingga Zahra tertidur. Malampun semakin larut. Reyhan tidur di sofa ruang tamu, ia tak mau terlalu berlama-lama di kamar Zahra. Ia takut imannya tidak kuat memandang wanita cantik yang terbaring tak berdaya dengan baju minimnya itu, apa lagi mereka hanya berdua.