
Zahra mengendarai mobil sport merah, menyusuri jalanan kota Malang. Mobilnya berhenti di anak Perusahaan Indah Raya Property milik Keluarga Vanessa, ia berharap dapat bertemu dengan wanita itu. Ia sendiri ingin tahu apa sebenarnya motif Vanessa mengirimkan foto-foto itu dan mengapa baru sekarang ia muncul?
Zahra bertanya kepada seorang resepsionis, namun jawabannya sungguh mengecewakan. Vanessa tidak berada di tempat dan resepsionis itu tidak mau memberikan informasi apapun kepadanya.
Zahrapun kembali mengendarai mobilnya, kini otaknya sedang buntu, hatinya kacau. Ia terus saja berjalan tanpa tujuan jelas. Ia melintasi perkampungan, persawahan, hampir dua jam ia mengemudi hingga sampilah ia di sebuah pantai di Malang Selatan.
Iapun memarkirkan mobil dan membeli tiket. Entah mengapa hatinya menuntun untuk ke sini. Mata Zahra mengedar kesegala penjuru. Menikmati keelokan karya Sang Maha Pencipta membuatnya lebih damai. Udara segar membuatnya sedikit rehat dari kekalutan pikiran yang beberapa hari ini menyesakkan dada.
Zahra sudah lama tak mengunjungi pantai dengan ciri khas adanya pura yang berdiri di bibir pantainya itu. Pantai Balekambang yang sejak dulu menjadi ikon kota Malang.
Deburan ombak membasahi kaki Zahra. Ia berjalan semakin menantang ombak. Ia menangis sejadi-jadinya meluapkan apa yang ia rasakan.
Dua orang laki-laki tanpa ia sadari mengikutinya. Tiba-tiba berlari ke arah Zahra ketika ia mulai berjalan maju menuju pantai yang lebih dalam. Mereka menyngka Zahra akan bunuh diri.
" Zahra berhenti!" teriak kedua laki-laki itu secara bersamaan. Karena saling terkejut keduanyapun saling berpandangan mengisaratkan pertanyaan.
Zahra menoleh mencari asal sumber suara. Iapun terkejut mengapa dua orang itu bisa ada di sini, Ia pun bertanya,
"Vino, Novan ngapain kalian disini?"
" Tenang Zahra, semua bisa di bicarakan baik-baik. Jangan ambil jalan pintas!" ucap Vino.
" Zahra. ingat Istighfar! bunuh diri itu dosa," sambung Novan
" Kalian ini ngomong apa? Siapa yang mau bunuh diri?" tanya Zahra kesal.
" Syukurlah" ucap Vino.
" Kenapa kalian mengikuti aku?"
" Aku melihatmu keluar rumah dengan menangis, aku khawatir padamu," jawab Vino.
Zahra beralih melihat kearah Novan, mengisaratkan meminta jawabannya juga.
" Aku tadi melihatmu di lampu merah, aku penasaran kenapa kamu tidak masuk kerja," jawab Novan dengan gugup, karena merasa ketahuan masih penasaran dengan kehidupan Zahra.
" Ngapain kamu kepo urusan orang? tepatnya istri orang?" tanya Vino sedikit nyolot.
" Apa urusanmu? kamu suaminya? jadi kamu yang membuat Zahra sedih seperti ini? akan aku hajar kamu!" ujar Novan terpancing emosi, tangannya sudah mengepalkan tinju kearah Vino.
" Kalian mau berkelahi? Sana di tengah laut sekalian, biar sekalian di tepukin sama hiu! Bikin tambah pusing saja,"
Zahra berjalan kembali ke daratan. Ia duduk di sebongkah batu, tatapannya kosong tenggelam dalam lamunan. Ia tidak bisa membayangkan jika berpisah dengan Reyhan, Ia sudah terlanjur mencintsinys. Di sisi lain hatinya tidak bisa menerima jika suaminya pernah menyentuh wanita lain selain dirinya apa lagi sampai memiliki anak dari wanita itu.
Novan dan Vino saling dorong ketika hendak menyusul Zahra.
" Minggir kamu! ini urusan keluarga," ucap Vino.
" Kamu yang minggir! aku sahabatnya Zahra lebih tepatnya mantan pacarnya,"
" Situ masih mantan kekasih, aku mantan tunanangannya,"
Mereka akhirnya menyusul Zahra. Memandangi Zahra dari balik punggungnya. Angin sepoi-sepoi membeli wajahnya membuat ujung jilbabnya melambai-lambai.
__ADS_1
Zahra masih dalam keheningannya, matanya menatap ombak yang menari-nari yang tiada lelah datang dan pergi. Pakaian Zahra yang tadinya basahpun sampai kering lagi. Entah sudah berapa jam ia termenung.
Kedua laki-laki masih berdiri ikut hening, menatap mantan kekasihnya itu. Vino tiba-tiba mendengus, menghembuskan nafas dengan kencang lalu berkata tanpa menatap lawan bicaranya, " Apa kita tidak terlalu menyedihkan? kita barisan para mantan, menunggui mantan kita yang sedang menangisi kekasihnya?"
" Bukan menyedihkan lagi, tapi sudah level tragis," jawab Novan.
" Yah,,, tepat tragis," ucap Vino mengiyakan.
" Hey, kenapa kamu jadi sok kenal sok dekat gini?" tanya Noval.
" Enak saja, kamu yang sok kenal sok dekat. Kalau aku sih wajar, banyak orang yang kenal. Orang terkenal," jawab Vino dengan congkak.
" Iya sih, wajahmu tidak asing, seperti pernah melihatmu " seraya memegang dagu, mengamati Vino dari ujung kaki sampai ujung rambut.
" Nah ingat kan?" tanya Vino percaya diri.
" Iya, sepertinya aku pernah melihat mu di berita kriminal. Jangan-jangan kamu seorang kriminal. "
" Ngawur! kamu gak punya ponsel canggih ya? dasar cupu? Apa kamu gak tahu aku ini seorang Youtuber, selebgram dengan 30 juta followers " ucap Vino berapi-api dengan berkacak pinggang.
Novan hanya tersenyum masam menanggapi laki-laki yang baru di kenalnya itu. Iapun duduk di atas pasir, jarinya memainksn butiran-butiran pasir. Vino ikut duduk di sampingnya.
Novan menoleh dan bertanya," Ngapain ikut-ikutan duduk?"
" Capek tahu!" jawab Vino kesal.
Zahra tak menghiraukan suara berisik dari dua orang di belakangnya itu. Ia masih saja diam, sementara senja mulai menampakkan pesonanya, jingga merona akan segera berganti gelap gulita.
" Zahra ayo pulang!" ujar Novan juga.
Zahra akhirnya berdiri menatap dua lelaki itu dengan kesal.
" Sudah ya melamunnya, hanya dengan melamun tidak akan menyelesaikan masalah. Kalaupun kamu ingin menenangkan hati lebih baik curhat sama Alloh, sholat! bukan di sini bengong berjam-jam kalau kesambet jin penunggu laut gimana?hiii serem," ujar Vino.
Keseriusan ucapan Vino mengundang tawa Zahra. Zahrapun tertawa terbahak-bahak.
" Tuh kan, tadi nangis sekarang ketawa. Apa dia kesambet betulan," ujar Vino ketakutan seraya merangkul Novan yang berada di sampingnya.
Novan memicingkn mata melihat tingkah Vino. Novanpun berusaha melepaskan pelukan Vino dan berkata, " Ih najis!"
Zahra semakin tertawa melihat tingkah dua orang dihadapannya itu.
"Hey kamu ustad dadakan, tidak usah ngajari aku, aku sudaj tahu," ujar Zahra di sela tawanya.
" Sudah tahu ngapain kamu kesin?"
"Sebenarnya aku tidak tahu bisa sampai disini, sebenarnya aku hanya ingin muter-muter saja, di tengah jalan aku tersesat tidak tahu arah pulang, HP ku juga habis batrenya," ujar Zahra dengan mewek.
"Apa?!" ucap Novan dan Vino serempak.
" Sudah ayo pulang!" ajak Vino seraya menarik tangan Zahra.
" Lepaskan!" Zahra mengibaskn tangannya.
__ADS_1
Zahra berjalan mendahului dua laki-laki itu menuju parkiran. Vino melaju dengan pelan agar mobilnya dapat tetap terlihat oleh Zahra. Merekapun berjalan beriringan. Sedangkan Novan sudah melaju dengan cepat meninggalkan mereka berdua.
Vino memarkirkan mobil di pelataran sebuah masjid di tepi jalan. Vino menghampiri Zahra, " Ayo sholat dulu!"
Zahrapun mengangguk.
Seusai sholat Vino menunggu Zahra di serambi masjid. Cukup lama Zahra mengadu pada Sang Penciptanya.
Zahra kemudian duduk di samping Vino, Vino menoleh ke arah wanita di sampingnya yang terlihat lebih segar karena wajahnya terkena air wudlu.
" Apa Kak Reyhan tahu kamu di sini?"
Zahra hanya menggelengkan kepala.
"Apa yang membuat kalian bertengkar?" tanya Vino lagi.
" Tanyakan sendiri pada Kakakmu, apa yang telah dia perbuat?"
" Apa hal itu juga yang membuatmu berhenti di depan cafe waktu iti?"
" Ya, aku sedang kalut, tidak tahu mau mengadu pada siapa? aku tidak mu melibatkanmu lagi dalam urusanku dengan mas Reyhan."
" Bukankah kita sudah sepakat akan bersahabat selamanya, kenapa kamu harus ragu datang padaku?"
Zahra berdiri di ikuti oleh Vino. Mereka kembali mengemudikan mobil menuju kota Malang.
Vino masih mengikuti Zahra di belakang mobilnya, hingga Zahra sampai di depan rumahnya.
Satpam membukakan pintu gerbang setelah mendengar suara klakson. Ia sudah mengenali mobil majikannya itu.
Setelah memarkirkan mobil Zahra masuk kerumahnya. Tidak ada tanda-tanda Reyhan di rumah. Kamarpun masih gelap ketika Ia masuk membuka pintu.
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan berkata," Dari mana saja kamu? aku mencarimu, ponselmu juga tidak aktif. Apa kamu lupa aku masih suamimu, kamu masih tanggung jawabku,"
" Lepaskan aku!" Zahra berontak.
" Kenapa kamu tidak mau aku peluk, tapi kamu mau di peluk laki-laki lain?" ujar Reyhan yang semakin mempererat pelukannya.
" Jaga mulutmu!"
" Apa aku salah? pagi tadi kalian berpelukan, apa kamu mengadu pada mantan pacarmu itu?"
" Dasar otak mesum, apa perlu aku jelaskan. Apa yang kamu lihat hanya sepenggal kejadian, bisa-bisanya kamu bilang seperti iti. Vino adik kamu menyelamatkanku, aku hampir terjatuh dari tangga."
" Entah mengapa Vino selalu jadi penyelamatmu, kenapa bukan aku? apa hal itu juga yang membuatmu menyesal menikah denganku?"
Reyhan mulai mengangkat tubuh Zahra keranjang.
" Apa yang akan kamu lakukan?"
" Aku suamimu, aku bebas melakukan apapun denganmu, sudah berapa hari kamu tidak melayaniku," ujar Reyhan seraya mrnciumi Zahra.
Zahra terisak membuat Reyhan melepaskannya, dan mengurungkan niatnya. Ia hanya melampiaskan kekesalannnya saja.
__ADS_1