
Zahra dan Reyhan tengah berbahagia. Semua keluarga dari pihak Zahra dan juga Reyhan berkumpul bersama di kediaman baru milik pasangan pengantin baru itu. Mereka turut mengundang anak yatim dan tetangga.
Hadir pula keluarga Nabila, Ayah dan Ibunya.
Acara pembacaan dilanjutkan makan bersama secara prasmanan. Para tetangga membawa pulang nasi kotak dan kue. Anak-anak yatim mendapat tambahan amplop dan peralatan belajar dari Reyhan dan Zahra.
Tinggallah keluarga terdekat saja yang bertahan di rumah tersebut, mereka membantu merapikan rumah.
Entah apa yang menjadi motivasi Vino yang terlihat sangat rajin dan antusias ikut mengangkat piring-piring kotor masuk ke dapur.
" Permisi Mas," ucap Nabila yang membawa piring kotor namun terhalang oleh Vino.
" Sini biar saya bawa!" pinta Vino. Nabilapun memberikan tumpukan piring kotor itu dan ia membawa gelas-gelas kotor di atas nampan kedalam dapur. Mereka berjalan beriringan. Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata mencuri pandang.
Keluarga Zahra, Bu Fatma dan keluarga Nabila mengobrol di ruang tamu. Sementara itu Zahra sibuk menyapu lantai yang terlihat kotor, meskipun Reyhan melarangnya agar tidak kecapekan, namun Zahra tidak mau berhenti, akhirnya Reyhanpun ikut membantunya.
Zahra dari awal melihat gelagat Vino yang mencurigakan, Iapun berbicara pelan pada Reyhan,
" Mas Reyhan, lihat tuh si Vino, ngapain coba dari tadi ngintilin Nabila terus?" ucap Zahra yang berada di ruang tengah, melihat Vino di dapur.
" Biarin, mau PDKT kayaknya," jawab Reyhan.
" Aduh Mas, Nabila tuh masih polos, baru keluar dari pesantren dan baru kuliah, takutnya Vino nanti PHP in Dia lagi,"
" Kamu gak rela sama Vino atau gak rela Nabilannya?"
" Apaan sih mas, aku dan Vino sudah masa lalu, kamu ini cemburuan terus!," ujar Zahra seraya melayangkan gagang sapu ke arah Reyhan, dengan tangkas Reyhan menangkisnya dengan gagang sapunya. Alhasil mereka seperti anak kecil yang bermain pedang-pedangan. Zahra membabi buta menyerang Reyhan, namun Reyhan terus berhasil menangkisnya.
"Weekk," ledek Reyhan.
" Awas mas!" sahut Zahra.
Vino dan Nabila melewati mereka berdua. Vinopun berkata, " Cie,,,cie romantisnya pengantin baru, gini ya romantisnya main pedang-pedangan, ini romantis apa KDRT? Rasain kamu Kak, baru tahu rasa kan menikah sama singa betina, ha ha ha"
PLAKK!!
" Auwwww!!" Pekik Vino, gagang sapu yang di pegang Zahra mendarat tepat di pantat Vino.
" Ada apa?" teriak Bu Fatma yang duduk di ruang tamu terkejut mendengar teriakan Vino.
" Tidak apa-apa Ma, cuma ada kucing yang bertengkar mainan sapu kena saya,"
" Oooo, ada-ada saja," ucap Bu Fatma. Bu Fatmapun sempat berfikir 'kok bisa kucing pegang sapu?' namun ia membiarkn saja dan melanjutkan bercengkrama dengan Bu Maryam dan kelurganya.
" Mas Vino tidak apa-apa?" tanya Nabila
" Sakit," jawab Vino sok memelas kepada Nabila.
" Maaf Vino ya, sudah Nabila tidak apa-apa Vino itu sudah kebal dengan pukulan saya.
__ADS_1
" Dasar kakak ipar tidak berpri ke adikan," ucap Vino manyun.
Reyhanpun mengambil sapu milik Zahra," Sini, kamu membahayakan sekali," lalu meletakkan di pojok dapur.
Nabila meninggalkan mereka bertiga dan ikut bergabung dengan para orang tua.
" Vino sini," Zahra menarik baju Vino yang hendak membuntuti Nabila.
" Apa lagi?"
" Mas Reyhan bentar ya aku mau ada urusan bentar sama Vino,"
" Jangan lama-lama, nanti aku cemburu?"
" Sudah basi pake cemburu-cemburuan," ucap Vino.
Zahra menarik Vino ke teras samping rumahnya, " Vino kamu serius mau PDKT sama Nabila, ingat anak itu masih polos, aku nggak mau kamu mempermainkan dia seperti cewek-cewek kamu yang lain, dia berbeda,"
" Iya dia berbeda seperti kamu, aku tidak akan bermain lagi Zahra, sama seperti aku serius sama kamu dulu,"
" Maaf Vino," ucap Zahra. Suasana berubah 180' yang tadinya di iringi senda gurau kini berubah serius.
" Aku harus move on bukan dari kamu?"
" Maaf aku kira kamu sudah melupakanku, baiklah Vino segeralah cari wanita lain dan lupakan aku,"
" Apa kamu mau mendukungku mendekati Nabila?"
" Iya Kakak iparku, aku berjanji," ucap Vino dengan tersenyum, segera membalik keadaan agar tidak terbawa suasana yang membuat keduanya bersedih.
Zahrapun tertawa, mendaratkan kepalan tangannya ke lengan Vino.
" Tolong Kak Reyhan, bawa istrimu menjauh dariku!!! ia mulai menganiaya aku lagi," Pekik Vino.
Reyhanpun datang, " Ayo sayang, kita gabung sama Mama di depan!" ajak Reyhan seraya merangkul istrinya menjauh dari Vino.
Vinopun tersenyum sendiri, melihat Zahra dan Reyhan melangkah pergi.
Vino mengekor di belakang kakaknya itu, ia duduk di depan Nabila. Vino mencuri-curi pandang kearah Nabila. Setelah menyadari hal itu Nabila pun menunduk bermain dengan ponselnya agar tidak terlihat canggung
Tiba-tiba Bu Fatma bertanya kepada Nabila, " Nabila sekarang kelas berapa?"
" Saya sudah kuliah tante, baru semester 4, tante, jurusan Tarbiyah,"
"Wah hebat, sudah punya calon pasangan apa belum? anak tante nih ada yang jomblo, mungkin bisa berjodoh??"
" Tante bisa saja, mana mungkin anak tante mau sama saya anak kampung," ujar Nabila.
" Mau!" ujar Vino semangat.
__ADS_1
Membuat semua mata tertuju pada Vino semua termasuk Nabila. Vino menatap satu persatu orang-orang yang terbengong menatapnya. Merasa tersudutkan iapun mengalihkan pembicaraan.
"Ia saya mau minum," seraya mengambil air mineral.
" Silahkan minum nak Vino," pinta Bu Maryam.
Obrolan harus terhenti waktu sudah semakin malam, H. Ismail memohon izin undur diri. Tadi waktu berangkat mereka di jemput oleh Pak Rohman. Vinopun menawarkan diri untuk mengantar mereka, karena Pak Rohman dan juga istrinya akan menginap di rumah Zahra.
Akhirnya Vino pun mengantar Nabila dan keluarganya yang tidak jauh dari rumah Zahra. Sekitar 30 menit akhirnya mereka tiba di kediaman Nabila.
Vino ikut turun, ia melihat rumah Nabila yang sederhana. Di samping depan rumahnya terdapat musholla kecil dan beberapa ruang bersekat-sekat rupanya sebuah TPQ atau Taman Pendidikan Al Qur'an dan MADIN.
" Trimakasih Mas Vino telah mengantar kami" ucap Nabila.
Vino yang terbengong mengamati sekelilingpun jadi terkejut, " Sama-sama Nabila,"
" Silahkan mampir dulu Nak Vino", ucap Pak Ismail.
" IYa Pak," jawab Vino. Ia pun mengekor di belakang Pak Ismail memasuki rumah.
" Trimakasih sudah mau mampir ke rumah kami," ucap Nabila.
Setelah bercakap-cakap cukup lama, Vinopun berpamitan untuk kembali pulang.
***
Reyhan dan Zahra baru saja selesai sholat Isya'. Zahrapun menghampiri Reyhan yang berbaring di tempat tidur. Ia menyandarkan kepalanya di dada Reyhan.
Sesuatu yang beberapa hari ingin ia utarakan pada suaminya itu, " Mas aku ingin bekerja,"
"Kenapa sayang? apa kurang jatah yang aku beri?" tanya Reyhan sembari mengelus-elus kepala Zahra.
" Bukan itu masalahnya, uang yang kamu beri sudah lebih dari cukup, masalahnya aku bosan di rumah terus," ucap Zahra sembari mengangkat kepala lalu duduk bersila.
" Kamukan bisa cari kesibukan lain sayang selain bekerja, les renang atau apalah? Bukannya gak boleh aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Aku ingin kamu cepat hamil sayang," ucap Reyhan seraya ikut duduk di samping Zahra.
" Apa kamu tahu kalau stres juga bisa membuat sulit hamil, lagian aku juga masih muda,"
" Iya kamu masih muda, aku sudah berumur," jawab Reyhan.
"Iya ya kamu sudah tua," ujar Zahra sembari tersenyum meledek suaminya itu.
" Baiklah terserah kamu tinggal pilih mau ngurus toko bahan bangunan, atau ikut di kantor aku, tapi janji kalau kamu hamil harus segera berhenti bekerja,"
" Iya sayang, aku maunya di kantor kamu, biar tiap waktu bisa bertemu kamu. Kalau di toko bahan bangunan ketemunya tiap hari semen, paku, besi dan kawan-kawannya,"
" Udah ayo bobok," ujar Reyhan seraya memeluk Zahra dari belakang.
" Trimakasih sayang," ujar Zahra sembari mencium Reyhan.
__ADS_1
bersambung....