Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
SAH


__ADS_3

Suara riuh menjawab pertanyaan penghulu," bagaimana para saksi, SAH?"


" SAH,"


" SAH,"


Satu kali tarikan nafas ijab kabul dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai, telah menghalalkan Zahra untuk Reyhan.


Penghulu meminta mempelai pria menemui istrinya. Reyhan berjalan dengan tegap meskipun hatinya gugup.


Begitu juga Zahra, suara langkah kaki menuju kamarnya seirama dengan degupan jantungnya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.


Ada desiran hangat melewati dadanya ketika melihat Reyhan memasuki kamarnya, Reyhan di pandu oleh perias dan WO nya untuk berdiri.


Zahra mencium punggung tangan Reyhan sesuai intruksi WO.


Rayhan memegang kepala Zahra dengan tangan kiri dan menengadahkan tangan kanannya. Reyhanpun berdoa untuk istrinya, mencium kening Zahra. Lalu Reyhan memeluk Zahra erat.


Salah satu kru WO memberitahukan setelah ini kedua mempelai menuju kursi pelaminan. Semua orang meninggalkan ruang kamar Zahra.


Tinggal Zahra dan Reyhan, yang berada di kamar, mereka saling berpandangan, air mata Zahra menetes, dan berkata " Trimakasih Mas Reyhan, karena aku kamu telah mengorbankan pekerjaan dan jabatan demi aku," air mata Zahrapun menetes.


"Mengapa kamu menangis?apa kamu menyesal menikah denganku yang sekarang jadi pengangguran?" tanya Reyhan.


" Tidak," jawab Zahra seraya menggelengkan kepala.


Reyhanpun memeluk Zahra seraya berbisik," Aku mencintaimu Zahra, jangan tinggalkan aku lagi," lalu memandang Zahra.


Pandangan Reyhan tertuju pada bibir Zahra yang mungil dengan polesan lipstik berwarna merah muda yang terkesan natural. Reyhanpun mendekatkan bibirnya hendak mencium Zahra.


" Mas!" ujar Zahra menahan dada Reyhan dengan tangannya.


" Kenapa? bukankah kita sudah halal,"


" Aku malu," ujar Zahra seraya menundukkan wajah.


Zahra memegang dagu Zahra dan mendekatkan sekali lagi wajahnya ingin mencium bibir mungil Zahra.


Tok tok!!


Reyhan terkejut, Zahra tersenyum memandang Reyhan yang gagal dua kali ketika memcoba ingin menciumnya.

__ADS_1


" Masuk!" seru Reyhan.


Vino membuka pintu, dan berkata, " Selamat Kakak, dan kakak iparku yang cantik," seraya memeluk Reyhan.


" Trimakasih adikku," jawab Reyhan.


" Ayo segera turun! Zahra bagaimana keadaanmu, jangan memaksa jika masih lemah, " tanya Vino


" Bagaimana kita turun atau tetap disini saja?" tanya Reyhan.


" Ayo kita harus turun, para tamu sudah menunggu kita," jawab Zahra.


" Jangan di paksakan Zahra," ujar Vino


" Sayang sekali gaun pengantinnya cantik-cantik masak gak di pakai," jawab Zahra.


Reyhan akhirnya menggendong Zahra menuruni anak tangga menuju kursi pelaminan.


Para tamu undangan yang sudah hadir bersalaman dengan mempelai berdua.


"Zahra! Selamat ya," ucap Keyla dan Nella. Merekapun berpelukan lalu berfoto bersama. Seluruh keluarga dari mempelai putri dan putra bergantian berfoto bersama pasangan pengantin itu


Vino masih tetap berusaha tetap tersenyum melihat mereka, meskipun hatinya merasa kehilanggan, kehilangan calon pengantinnya. Mungkin bila Reyhan tidak datang, maka dirinya lah yang akan bersanding dengan Zahra di pelaminan. Vino berusaha menepis fikirannya tentang Zahra, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Hatinya bergumam,


Zahra berbahagilah, aku akan tetap menjadi mataharimu, meskipun kamu seperti bulan, meskipun tak bersama, sinar cintaku akan selalu menerangimu.


Kedua sahabatnya Radit dan Revan memeluknya, " Gue salut sama lo brow," ujar Revan.


" Mungkin aku tidak akan sekuat dirimu Vino, aku bangga padamu pren," ucap Radit.


" Hah, tahukah kalian bahwa katanya kasta tertinggi dari cinta adalah merelakan, merelakan orang yang kita cintai untuk bahagia, meskipun tak bersama kita, merelakan takdir yang telah di gariskan," ujar Vino.


Keyla dan Nella mengajak Radit, Revan dan Vino untuk berfoto bersama pengantin.


Sorepun tiba, semakin sore tamu semakin banyak berdatangan. Zahra merasa tubuhnya tidak lagi kuat untuk berdiri menyalami tamu undangan. Reyhan menuntunnya masuk kedalam rumah, tiba-tiba Zahra pingsan. Reyhsn mengangkat tubuh Zahra menaiki tangga menuju kamarnya lalu membaringkan badanya, dengan di bantu periasnya Reyhan melepas baju pengantin yang bagian bawahnya lebar memayung itu, mengganti baju yamg sedikit lebih nyaman dan longgar.


Setelah berdiskusi dengan keluarga, Reyhanpun membawa Zahra ke rumah sakit di temani Sofia istri Azzam. Bu Maryam tetap di rumah menyambut tamu yang masih berdatangan.


Zahra harus menjalani rawat inap karena kondisinya memburuk. Zahra akhirnya siuman juga, ia menoleh kearah Reyhan yang sejak tadi menggenggam tangannya, ia pun berbicara pelan padanya, " Maaf mas seharusnya hari ini hari yang indah buat kita,"


" Dimanapun ada kamu semuanya jadi indah sayang," ujar Reyhan seraya mengecup kening Zahra.

__ADS_1


Sepasang pengantin itu akhirnya menghabiskan malam pertamanya di rumah sakit.


Keesokan harinya keluarga Zahra dan Reyhan datang bergantian menjenguk Zahra di rumah sakit


Begitu juga Vino, ia menemui Zahra dan Reyhan di ruang rawat inap.


" Zahra! ayo semangat cepat sembuh, masak malam pertama di rumah sakit? Cepat sehat biar bisa cepat pulang, cepat-cepat bikinin aku ponakan yang lucu-lucu," ujar Vino menggoda Zahra.


" Hust anak kecil ngomong apa?" jawab Reyhan. Zahrapun hanya tersipu malu.


Malam-malam sepasang pengantin baru itu di habiskan di rumah sakit. Reyhan tak pernah meninggalkan Zahra sendiri.


Malam itu Zahra tidak bisa tidur, Reyhan yang tertidur di sofa terbangun tengah malam. Ia menjumpai istrinya masih terjaga. Reyhanpun menhampiri istrinya dan bertanya," Kenapa sayang?"


" Aku mau pulang," jawab Zahra.


" Besok kita tunggu dokter dulu, bila dokter mengizinkan kamu boleh pulang, kita akan pulang, memang sudah merasa enakan badannya?"


" Aku sudah merasa sehat Mas, aku gak bisa tidur," jawab Zahra.


Reyhanpun naik ke tempat tidur Zahra, lalu memeluk Zahra, " Sini aku peluk," ujar Zahra.


Reyhan memeluk Zahra dan mengusap lembut rambut panjangnya, Zahrapun meringkuk di pelukan Reyhan layaknya anak kecil yang bermanja dengan orang tuanya.


Kantuk mulai meniup kelopak matanya, Zahrapun terpejam. Tiba-tiba Zahra terkejut, " Aw!" mata Zahra yang hampir terpejam kembali terbuka.


" Ada apa?" tanya Reyhan.


" Sepertinya ada yang bergerak-gerak di bawah, jangan-jangan ada binatang," ujar Zahra.


Reyhan menggaru-garuk kepala dan meringis menahan malu, lalu menyingkap selimut, " Mana? tidak ada kan?"


Bagaimana juniornya tidak bereaksi, dia laki-laki dewasa yang normal, kini ia memeluk seorang wanita, apalagi wanita itu kini menjadi istrinya yang sejak pernikahannya belum sempat ia menyentuhnya layaknya paengantin baru.


Zahrapun kembali tidur, Reyhan mengelus-elus kepala Zahra, agar ia cepat tertidur.


" Cepat tidur sayang biar cepat sembuh, besok kita bisa pulang, nanti akan aku tunjukkan padamu apa yang bergerak-gerak tadi," ujar Reyhan.


" Hem?" Zahra sudah antara sadar dan tidak, kantuk sudah tidak bisa tertahankan sehingga ia tidak begitu jelas mendengar perkataan Reyhan.


Zahra sudah tertidur pulas, kini berganti Reyhan yang tidak bisa tidur. Saat keinginannya sedang puncak-puncaknya, ia hanya bisa gigit jari, hanya bisa memandangi wajah wanita cantik dalam pelukannya itu.

__ADS_1


__ADS_2