
" Sekali ini Zahra, jawablah yang jujur, sebenarnya ada apa? saya akan mencoba ikhlas bila memang kamu bahagia?? Sekali lagi aku tanya Aku atau Vino? Jujurlah, aku tidak akan bertanya lagi.
Ucapan Reyhan seakan menggema berulang-ulang. Lama Zahra tak menjawab, akhirnya iapun membuka suara mencoba menahan tangisnya, " Sekali lagi saya minta maaf mas, saya berdoa semoga Mas Reyhan segera menemukan jodoh yang lebih baik dari aku. Saya minta sebagai kakak dari Vino, restuilah kami."
Tak ada salam perpisahan, lama mereka tak bicara, akhirnya mereka memutus panggilan masing-masing.
Esok hari tiba, Azzam datang ke apartemen bersama Sofia Istrinya. Mereka hendak mengantar kedua orang tua mereka ke bandara untuk kembali ke Malang.
Azzam terkejut melihat Zahra juga mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Azzampun bertanya pada adiknya itu, " Loh kamu juga mau pulang Zah?"
" Iya Mas, aku sudah mengundurkan diri dari kantor, oh ya jangan lupa ajak Kak Sofi pulang di hari pertunanganku ya!" jawab Zahra dengan pura-pura bersikap ceria seperti biasanya.
" Insyalloh Zahra," Sofi yang menjawab.
" Kok mendadak sekali?" tanya Azzam penasaran.
" Sudah jauh hari aku fikirkan Mas, kayaknya aku gak cocok tuh dengan udara Jakarta, Panas," jawab Zahra menyudahi rasa penasaran Kakaknya itu.
" Alhamdulillah Zam, adikmu mau pulang, kan janjinya ke Jakarta cuma sebentar sama Ibu dan Ayah," ucap Bu Maryam ikut menimpali percakapan mereka.
Zahra berjalan pelan menyeret koper menyusuri koridor, melihat kearah pintu apartemen Reyhan, berharap melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Kedua orang tuanya telah berjalan jauh di depannya.
Tak di sangka Reyhan keluar dari dalam lift, mencium punggung tangan kedua orang tua Zahra secara bergantian.
" Maaf Bu saya tidak bisa ikut mengantar, hati-hati di jalan," ucap Reyhan.
"Tidak apa-apa Reyhan, maafkan kami bila selama disini sering merepotkan kamu," jawab Bu Maryam.
" Sama-sama Bu," jawab Reyhan.
Reyhan berjalan meninggalkan mereka menuju apartemennya, langkahnya terhenti di hadapan Zahra.
Zahra tertunduk dan berkata," Trimakasih untuk semuanya Mas, mungkin ini terakhir kalinya kamu melihatku,"
__ADS_1
" Berbahagilah! itu sudah cukup bagiku,"
Mereka akhirnya berjalan berlawanan arah. Kini tak lagi ada air mata, sebuah ketegaran yang coba mereka perlihatkan satu sama lain.
ucapan Reyhan yang menginginkannya bahagia, rasanya bagai belati menyayat hati. Bagaimana seseorang yang telah ia sakiti, malah menginginkan kebahagiannya, seharusnya caci maki yang harus ia dapatkan. Zahra meninggalkan Kota Jakarta membawa lukanya, hatinya bergumam " Bagaimana aku bisa bahagia, sedangkan bahagiaku jika hanya aku bersamamu Mas Reyhan. Ya berbahagialah juga! Bila kamu bersedih maka akupun juga bersedih."
***
Udara sejuk kota Batu Kabupaten Malang menerobos jendela kamar Zahra. Kamar yang berbulan-bulan ia tinggalkan. Kini ia kembali dengan rasa yang sama seperti dulu ia pergi. Rasa kehilangan dan sakit bahkan lebih sakit.
Zahra berdiri di samping balkon kamarnya melihat kebawah samar-samar pohon apel yang mengelilingi rumahnya. Suara Bu Maryam menyadarkan lamunannya, " Zahra kenapa belum tidur? sepertinya ada yang berubah sejak kamu datang dari Jakarta?"
" Tidak bu," jawab Zahra seraya menghampiri Ibunya. Ia bergelayut manja di lengan ibunya. Lalu mengajak duduk di kasurnya, Bu Maryam membelai lembut rambut panjang Zahra, yang ia biarkan terurai.
" Perasaan Ibu tidak enak Zahra semenjak kakak kamu di penjara. Ada yang mengganjal hati Ibu ketika melihat Reyhan menggandeng wanita lain, dulu Ibu lihat kalian baik-baik saja, kenapa justru sekarang kamu lebih dekat dengan Vino?"
Deg!
" Zahra baru sadar Bu, Vino yang lebih mencintai Zahra, do'akan kami ya Bu, oh iya bu Vino akan melamar Zahra," jawab Zahra.
" Ibu dan Ayah selalu mendo'akan kebaikan mu dan juga Azzam, anak-anak kami," ucap Bu Maryam.
Sudah berhari-hari Zahra kurang tidur, belaian lembut Bu Maryam mengantarkan putrinya itu ke alam mimpi. Bu Maryam menaikkan selimut ke tubuh putrinya itu, menutup jendela kamar dan mematikan lampu kemudian meninggalkan Zahra yang tengah tertidur lelap.
***
Ting!
Suara pesan masuk di ponsel Zahra, sebuah SMS yang lagi-lagi tak ada dalam daftar kontaknya. Dalam isi pesan, Zahra sudah tahu siapa pengirimnya, siapa lagi kalo bukan Vanessa.
"Kapan kamu akan bertunangan, bukankah kamu sudah menemukan calon suamimu? aku ingin kamu nanti mengunggah pertunangan dan pernikahanmu di semua akun Medsosmu"
Zahra melempar ponsel keatas kasur, melepaskan kekesalannya.
__ADS_1
Suara dering dari ponselnya membuat Zahra meraih lagi ponselnya. Bak gayung bersambut, Vino menghubunginya,
" Assalamu'alaikum,"
" Wa'alaikumussalam, Vino "
" Bagaimana apa masih harus kita teruskan permintaan Vanessa?"
" Iya Vino, kali ini Dia memintaku mengunggah acara pertunangan dan pernikahan kita ke semua akun Medsosku, aku gak tahu apa rencananya,"
" Mungkin untuk meyakinkan Kak Reyhan saja,"
" Apa kamu sudah bicara dengan keluargamu Vino? Aku minta tolong semua ini biar kita saja yang tahu, jangan sampai orang lain tahu?"
" Aku akan bicara denan Mama, secepatnya aku akan kerumahmu,"
***
Vino membicarakan dengan Mamanya untuk acara lamaran. Mamanya sempat ragu apa yang di ucapkan anaknya itu, iapun menghubungi Reyhan.
Reyhan berbicara dengan Bu Fatma melalui sambungan telephon seluler, Reyhan meyakinkan Mamanya itu bahwa dirinya sudah mengikhlaskan Zahra bersama Vino. Reyhanpun menolak permintaan mamanya untuk menghadiri pertunangan adiknya dengan alasan sibuk dengan pekerjaan kantor.
Hari yang di rencanakanpun tiba, Vino beserta keluarganya menuju kediaman Zahra. Berbagai seserahan yang terbungkus indah di bawa oleh anggota keluarga.
Vino terpaku melihat gadis yang berada di hadapannya itu, mengenakan gaun muslim berwarna merah maroon, dengan balutan hihab warna senada. Gadis satu-satunya yang tidak dapat ia dapatkan sewaktu kuliah. Kini gadis itu akan menjadi tunangannya dengan cara yang tidak ia duga. Dalam kebahagiaannya sejatinya ia begitu berduka. Bagaimana bisa ia bertunangan dengan gadis yang tidak mencintainya. Kini Vino harus sadar pertunangan ini karena keterpaksaan.
Bu Fatma membisikkan di telinga Vino, " Ayo pasangkan cincinnya, mau sampai kapan kamu memandangnya?"
Akhirnya Vino dan Zahra bertukar cincin. Suara tepuk tangan riuh mengiringinya. Acara di akhiri do'a dan pembahasan kelanjutan hubungan oleh keluarga inti dan tokoh yang di tuakan oleh masing-masing keluarga sesuai adat jawa. Keluargamembahas hari baik untuk melangsungkan pernikahan.
Sementara itu, Reyhan menyaksikan acara pertunangan Zahra dan Vino melalui live streaming. Hatinya hancur, namun Vanessa berusaha menghiburnya. Vanessa sengaja hadir ke apartemen Reyhan untuk memperlihatkan siaran tersebut.
Vanessa mengajak Reyhan untuk menemaninya makan malam. Reyhan tidak ada alasan untuk menolaknya, apalagi tidak ada lagi wanita yang harus ia jaga hatinya, tidak ada lagi wanita yang selalu cemburu ketika ia dekat dengan wanita lain. Ya kini wanita itu Zahra yang kini jadi milik Vino adiknya.
__ADS_1