Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Jakarta


__ADS_3

Setelah sampai di Jakarta Zahra tinggal bersama kakaknya yang bernama Azzam. Mereka tinggal di sebuah apartemen. Beruntung apartemen kakaknnya memiliki dua kamar.


"Zahra, kamu bisa merapikan barang-barangmu di kamar ini." Ujar Azzam seraya menunjuk sebuah kamar yang nampak sangat rapi.


" Iya mas, trimakasih, aku bakalan merepotkan kamu." Jawab Zahra dengan tersenyum.


" Ya gak apa-apa lah, sudah lama kamu gak ngerepotin aku. Bukankah sejak kecil kamu selalu ngerepotin aku."


"Ah mas Azzam masih gak maafin kenakalan Zahra waktu kecil. Zahra sekarang sudah gede, gak bakalan bikin repot banyak-banyak kok."


Mereka teringat sewaktu mereka sama-sama masih kecil, sebagai kakak orang tuanya selalu meminta untuk menjaga adiknya itu. Tidak jarang keusilan adiknya membuat ia terkena masalah dan juga amarah dari ayah dan ibunya. Meskipun demikian Azzam selalu menyayangi adiknya itu.


Azzam menjelaskan isi apartemennya, menunjukkan ruangan dapur, dll. Azzam juga menjelaskan jadwal kerjanya, dan melarang adiknya itu keluar dari lingkungan apartemen tanpa seizinnya. Ia tahu adiknya itu baru pertamakalinya menginjakkan kaki di jakarta. Ia tidak mau adiknya tersesat di jalan.


Malam tiba, Zahra memeriksa ponselnya. Ia melihat banyak sekali notifikasi di aplikasi WAnya. Salah satunya dari ibunya. Ia segera menghubungi ibunya karena lupa belum mengabari orang tuanya.


Terlihat di notif ponselnya nomor Reyhan memanggil berulang-ulang dan mengirimkan sebuah pesan.


'Zahra dimana kamu? maafkan aku, aku ingin bertemu denganmu, kita bicarakan baik-baik.'


Zahrapun menghapus pesan itu lalu memblokir nomornya.


***


Keesokan harinya Zahra bangun pagi-pagi. Selesai sholat ia menuju dapur hendak memasak. Namun ternyata Azzam sudah di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


" Masak apa mas? lain kali biar aku yang memasak ya." Ujar Zahra.


" Oke, apa kamu bisa masak?" Tanya Azzam ragu. Karena ia belum pernah melihat adiknya itu memasak. Karena semenjak kecil dirumah orang tuanya sudah ada yang membantu


memasak.


" Bisalah sedikit-sedikit." Jawab Zahra


"Kebetulan stok makanan di kulkas menipis, sepulang kerja kita belanja." Ujar Azzam


Setelah sarapan Azzam meninggalkan Zahra sendiri di apartemen untuk bekerja.


" Zahra ingat pesanku, hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


" Iya kak."


***


Hampir setiap hari Zahra tinggal di dalam apartemen, hanya sekali-kali Azzam mengajaknya keluar untuk sekedar makan atau jalan-jalan ke Mall. Azzam sangat sibuk dalam pekerjaannya. Dalam perusahaan ia baru saja mendapatkan promosi jabatan untuk menduduki jabatan sebagai manager. Padatnya pekerjaan akhir-akhir ini membuatnya sering lembur dan kadan-kadang sering rapat mendadak. Ia tidak bisa setiap saat menemani adiknya itu.


Zahra mulai merasa bosan, setiap hari waktu ia habiskan nonton TV dan bermain dengan gagetnya. Ia berfikir akan melamar pekerjaan.

__ADS_1


Keinginan itu akhirnya ia sampaikan kepada Azzam ketika mereka makan malam.


" Mas, saya ingin bekerja, apa kamu bisa membantuku mencarikan pekerjaan untukku?"


"Coba nanti saya tanyakan di perusahaanku bekerja."


" Trimakasih ya Mas."


Setelah makan malam Zahra mencuci piring, terdengar suara bel berbunyi. Zahra membuka pintu, di dapatinya seorang laki-laki tampan berdiri di depan pintu. Laki-laki itu terkejut karena yang membukakan pintu seorang gadis cantik. Sebelum Zahra bertanya Azzam sudah muncul di belakangnya.


"Zaky! masuk!


Laki-laki itupun masuk dan duduk di sofa. Zahra menawari mereka minum.


" Mas mau minum apa?" Tanya Zahra


"Tidak usah repot-repot."


" Buatkan kopi susu saja Zahra." Jawab Azzam


Sementara Zahra membuatkan minum, Zaky yang sering berkunjung ke apartemen Azzam, penasaran dengan gadis yang tiba-tiba ia jumpai di apartemen temannya itu.


"Zam, siapa itu tadi?"Tanya Zaky


" Adik ku."


" Awas ya lu macem-macem sama adik guwe, playboy kampret."


" Kan adik lu, adek gue juga dong."


" Modus."


Zahra meletakkan kopi buatannya. Ia hendak masuk kembali. Namun Zaky mengajak berkenalan. Ia berdiri mengulurkan tangan.


" Hey, aku Zaky teman abangmu, nama kamu siapa?"


" Namaku Zahra mas Zaky." Jawab Zahra.


"Zahra, tadi katanya mau nulis surat lamaran, buruan nanti kemalaman." Ujar Azzam yang sengaja mengusir adiknya agar tidak berlama-lama di ruang tamu.


" Ah lu Zam, belum juga tanya-tanya."


Zahra segera kembali kekamarnya. Zaky adalah orang asing pertama yang ia kenal di Jakarta. Ia berharap ketika ia bekerja dapat memiliki banyak teman agar dapat melupakan Reyhan. Orang yang ia cintai namun menyakiti hatinya.


Semenjak tahu kalau ada Zahra tinggal di apartemen Azzam, Zaky makin sering berkunjung dengan berbagai alasan. Kadang ia mengantar makanan untuk Zahra dan kakaknya itu. Zahrapun semakin akrab dengan Zaky. Zaky sosok yang humoris mengingatkannya pada sosok Vino, membuat Zahrapun merasa nyaman. Namun Azzam selalu menasehatinya agar selalu hati-hati dengan orang yang baru ia kenal. Apalagi Azzam sadar kecantikan adiknya itu bisa mengundang banyak pandangan mata laki-laki.


" Zahra nanti kalau kamu bekerja, ingat pesanku, hati-hati dengan orang yang baru kamu kenal. Apalagi dengan laki-laki."

__ADS_1


"Iya Mas, Apa termasuk dengan Mas Zaky?" Jawab Zahra.


" Iya juga, tapi Zaky itu sebenarnya orang baik, jadi aku tidak begitu kuwatir kalau kamu berteman dengannya."


Keesokan harinya Zahra mendapat undangan interview di perusahaan tempat kakaknya bekerja. Azzam mengajak Zahra naik mobil bersamanya. Tak lupa Azzam selalu menasehatinya di berbagai kesempatan. kuwatir terhadap adiknya yang masih polos itu.


"Zahra, untuk awal-awal mungkin kamu akan mendapatkan pekerjaan yang berat. Aku tidak bisa membantumu lebih banyak. Anggap saja belajar mulai dari nol. awalnya saya juga seperti itu, berkat kerja keras, dan doa saya bisa mendapatkan posisi saat ini."


" Siap Bos." Jawab Zahra dengan senyum optimis.


Azzampun mengusap kepala adiknya itu dengan tersenyum pula.


Interview berjalan lancar, iapun di terima bekerja sebagai staf di bagian pemasaran. Azzam tidak bisa membantunya secara langsung, karena bukan di bawah pimpinanannya langsung. Azzam sebagai manager di bagian keuangan meminta Zaky yang menjabat sebagai manager pengembangan usaha memantau adiknya itu.


Tentu saja Zaky tak menolaknya, karena diam-diam ia menyukai Zahra.


Zahra akan mulai bekerja mulai senin depan. Azzam akan mengajak adiknya itu berbelanja kebutuhannya termasuk membelikan pakaian yang layak yang akan ia kenakan sewaktu bekerja nanti. Azzam mengenalkannya pada seseorang yang spesial. Mereka janjian bertemu di cafe tempat biasa mereka makan.


Seorang wanita berjilbab duduk di meja seorang diri. Azzam dan Zahra menuju kearahnya. Melihat kehadiran Azzam wanita itu berdiri dan tersenyum manis.


" Assalamu'alaikum." Sapa Azzam.


" Wa'alaikumussalam"


" Zahra kenalin ini teman Mas Azzam namanya Sofia."


Merekapun bersalaman mengenalkan diri.


" Sofia."


" Zahra."


Mereka bertiga akhirnya duduk bersama.


" Sofia, ini adikku yang baru datang dari Batu, Jawa Timur, minta tolong nanti ajak dia belanja keperluan untuk bekerja di kantor, besok senin ia akan mulai bekerja." Pinta Azzam.


" Siap pak Bos, yang penting dananya." Jawab Sofia tertawa ramah, Zahrapun ikut tertawa.


" Bercanda Zahra, kakakmu ini, orangnya terlalu serius jadi harus sering di ajak bercanda." Ujar Sofia.


" Iya Kak sofi, galaknya persis ayah." Ujar Zahra menimpali.


Sofia sudah mengenal Azzam sejak kuliah, sehingga ia mengenal Azzam dengan sangat baik. Azzam dan Sofia sudah lama menjalin hubungan, mereka berencana akan segera mengenalkan diri pada keluarga masing-masing. Posisi baru Azzam di perusahaan membuatnya lebih percaya diri untuk segera melamar Sofia kepada orang tuanya.


Selesai makan, Sofia mengajak Zahra untuk berbelanja. Mereka menyusuri toko pakaian, sepatu dan tas. Walau baru berkenalan mereka sudah terlihat akrab.


Akhirnya Zahra memborong banyak pakaian, beberapa tas dan sepatu. Sofia pulang mengendarai mobilnya, begitu juga dengan Azzam dan Zahra.

__ADS_1


__ADS_2