Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Pangeran kecil


__ADS_3

Reyhan merasa bahagia pangeran kecilnya telah lahir dengan selamat, namun ia juga bersedih karena istrinya masih belum sadarkan diri di ruang ICU. Ia menunggu di depan pintu berharap dokter segera memberi kabar tentang keadaan istrinya. Vino keluar ruangan memegangi tangannya, melihat Reyhan ia menjadi geram. Ia menghampiri kakaknya, menendang kaki Reyhan dengan kesal.


" Dari mana saja kamu kak? lihatlah istrimu itu memang singa betina, tanganku penuh jejak kukunya, dan bukan itu saja sekarang ia menghisap darahku," ujar Vino seraya menunjukkan kedua lengannya.


Reyhanpun memeluk adiknya itu dan berkata," Trimakasih Vino kamu telah menjadi adik ipar dan sahabat yang baik untuk Zahra,"


" Selamat juga untukmu, kamu sekarang jadi seorang ayah, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan Zahra lagi."


" Aku tidak bisa berjanji apa-apa, karena janji akan kalah dengan takdir. Aku hanya bisa berdo'a semoga kami selalu bersama,"


klek!


Pintu ruangan terbuka, dokter muncul dari balik pintu. Reyhan membrondong pertanyaan bertubi-tubi, dokterpun menenangkannya.


" Tenang Pak, istri anda sudah melewati masa kritisnya, kita tunggu pasien siuman,"


" Apa saya boleh menemuinya?" tanya Reyhan.


" Silahkan!"dokterpun meninggalkan Reyhan dan Vino.


Reyhan berjalan mendekati Zahra yang terbaring lemah. Matanya tertutup rapat dan wajahnya pucat.


" Zahra bangun, aku sudah datang. Maafkan aku sayang karena terlambat datang, maafkan aku tidak bisa menepati janji untuk menemani persalinanmu," ucap Reyhan seraya mengecup kening Zahra. Tak terasa air matanya membasahi pipinya.


Waktu berganti, namun Zahra belum ada tanda-tanda untuk sadar. Reyhan semakin gusar. Dokter hanya bisa menenangkannya dengan memintanya bersabar dan menunggu. Baginya menunggu satu jam rasanya bagaikan setahun.


" Zahra aku merasa kamu sedang menghukumku, bangunlah sayang, anak kita membutuhkanmu," bisik Reyhan di telinga Zahra.


Di luar ruangan telah datang orang tua Zahra, bahkan Nabila dan kedua orang tuanyapun datang menjenguk. Vino masih di sudut ruangan, ia tak kalah khawatirnya dengan Reyhan.

__ADS_1


Bu Fatma menceritakan semua kejadian semalam kepada keluarga Zahra. Keluarga Zahra bergantian menjenguk Zahra dan juga bayinya. Kesedihan masih belum hilang dari raut wajah orang-orang itu. Menunggu dan menunggu Zahra siuman.


Nabila membawakan nasi kotak dan minuman ke hadapan Vino, " Mas makanlah dulu, kata Bu Fatma dari pagi belum makan, bukankah kamu habis mendonorkan darah untuk Mbak Zahra? kamu harus makan untuk memulihkan tenagamu,"


" Aku takut Zahra kenapa-napa, semalam aku melihat Zahra begitu kesakitan, aku ingin menangis, tapi aku berpura-pura kuat di hadapannya, agar dia pun kuat," tak terasa air mata Vino meleleh.


Nabila baru menyadari bahwa laki-laki di hadapannya itu yang menurutnya aneh, pecicilan, urakan, tapi ternyata bisa menangis juga.


" Sebesar itu Mas Vino mencintai Mbak Zahra? beruntung sekali Mbak Zahra di kelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya,"


Vino menyeka air matanya dan meraih kotak nasi yang ia abaikan sebelumnya, " Trimakasih, ngomong-ngomong siapa yang bercerita kalau aku mencintai Zahra?" ujar Vino seraya melahap nasi yang di beri oleh Nabila.


" Aku mendengar dari Bibi Maryam,"


" Kalau hatiku sudah bersih dari Zahra, aku akan menemui kedua orang tuamu, aku tidak mau kamu menganggap cintaku padamu hanya pelampiasan saja," ujar Vino dengan santainya.


Nabila terkejut, Ia menimpuk bahu Vino dengan tas yang ia jinjing. Vinopun jadi terkejut, hingga tersedak.


" Apaan sih? enak-enak makan, kenapa wanita suka menganiaya pria? apa ini yang membuat banyak pria mati duluan," ucap Vino kesal.


" Apa kamu sadar apa yang kamu ucapkan? apa kamu sedang nembak aku atau merayuku? lagian siapa yang suka sama kamu?" ujar Nabila kesal lalu pergi meninggalkan Vino yang terlihat bingung.


" Kenapa aku merasa Nabila mirip Zahra ya? dasar kakak sama adik sama saja, suka menganiaya aku. Apa kata-kataku ada yang salah?" Vino terus berfikir apa yang barusan ia katakan. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia mengatakan cinta padanya.


" Aduh kenapa lapar bisa bikin aku bicara ngawur, apa dia pikir aku laki-laki penggoda ya, belum pendekatan kenapa aku ucapkan cinta? pasti dia ngira aku playboy," ucap Vino.


Diruang ICU, Bu Maryam mendekatkan bayi Zahra. Ia membawa cucunya keruangan tempat Zahra di rawat, setelah meminta izin perawat. Bu Maryam membaringkan tubuh bayi di dada Zahra, berharap sang cucu mau menghisap air susu Ibunya. Bayi itu terus mencoba menghisap, bayi itu menangis kencang merasa apa yang di inginkannya belum tercapai.Tiba-tiba mata Zahra terbangun mendengar suara tangisan bayi.


" Anakku! dimana anakku?" ucap Zahra lirih. Ia belum menyadari bayi itu dalam dekapannya.

__ADS_1


" Bangun sayang, anakmu membutuhkanmu," ucap Bu Maryam.


" Ibu,"


" Iya sayang, lihatlah anakmu, ia haus kamu harus memberinya minum,"


Dokterpun datang dan memeriksa Zahra. Zahra terus mendekap bayinya, membiarkan bayi itu menghisap dengan kuat apa yang sekarang menjadi miliknya itu.


" Syukurlah sayang kamu sudah sadar, lihatlah bayi kita menguasai milikku," ujar Reyhan.


" Mas, kamu melanggar janjimu,"


" Maafkan aku, aku akan menerima hukumanku,"


Bu Fatma dan Bu Maryam terlihat bahagia mendapati anak-anak mereka tengah berbahagia.


" Hey pangeranku, kenapa lama sekali kamu menyusu, apa kau sudah kelaparan, sisakan sedikit untuk Ayah, kamu sudah berani merebut barang kesukaan Ayah rupanya,"


Mendengar ucapan Reyhan, Bu Fatma memukul Reyhan dengan tas jinjingnya, " Hust!!"


Reyhan hanya bisa nyengir kesakitan plus malu, sadar ucapannya di dengar kedua orang tua Zahra. Zahrapun ikut malu.


Mendengar kelahiran putra Reyhan dan Zahra, banyak kerabat, teman, rekan bisnis, dan juga para karyawan di perusahaannya datang silih berganti menjenguk di rumah sakit untuk memberi ucapan selamat. Kini kamar perawatan Zahra dan bayinya di jadikan satu, di sudut ruangan terdapat tumpukan hadiah dari orang-orang yang menjenguknya.


Akhirnya anak dan istri Reyhan boleh di bawa pulang. Ia sampai harus menyiapkan mobil tersendiri untuk membawa Zahra dan bayinya serta satu mobil untuk mengangkut barang-barang hadiah tersebut. Pekerjaan mengangkut hadiah di serahkan kepada Vino dan Nabila. Kedua insan itu diam membisu mengangkat satu persatu barang-barang masuk ke dalam mobil. Hingga sampai di kediaman Reyhan mereka masih diam, memindahkan barang-barang di bantu oleh sopir dan satpam masuk ke dalam rumah.


Sementara itu kedua nenek baru tengah menimang-nimang cucu mereka. Kedua Nenek itu memutuskan akan tinggal sementara waktu di kediaman Reyhan membantu merawat bayi mereka. Zahra sendiri belum berpengalaman merawat bayi, ia pun tampak kesusahan ketika mau menyusui bayinya. Bu Fatma dan Bu Maryam dengan telaten mengajarinya.


Reyhan merasa menjadi orang yang paling berbahagia. Ia sudah mencari nama yang baik untuk anaknya. Terjadi perdebatan kecil dengan istrinya, karena Zahra ingin memberi nama 'Reza', yang merupakan penggabungan dari nama Reyhan dan Zahra, namun menurut Reyhan nama itu terdengar seperti nama perempuan, kurang gagah untuk anak laki-lakinya.

__ADS_1


__ADS_2