Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Antara Ngidam atau aneh


__ADS_3

Pagi yang cerah Reyhan mulai berolah raga ringan dengan melakukan gerakan kelentukan. Wajahnya secerah mentari pagi apalagi kalau bukan karena semalam mendapatkan servis yang memuaskan dari istrinya sesuai rekomendasi dokter. Ia merasakan bagai pengantin baru saja, bagaimana tidak hampir dua bulan pusakanya tidak pernah terpakai akibat kecelakaan yang menimpanya.


Reyhan menghampiri Zahra yang terdengar hoak-hoek karena mual. Reyhan mengambilkan minyak aroma terapi dan mengajaknya duduk di taman menghirup udara segar. Setelah beberapa jam mualnyapun hilang. Kejadian itu hampir terjadi di setiap pagi.


" Kasihan kamu sayang, kamu harus banyak makan yang bergizi, lihat badan kamu terlihat kurus karena sering muntah, andai di izinkan aku lebih memilih yang mual-mual kamu yang ngidam," ujar Reyhan seraya memijat pundak istrinya dengan lembut


" Iya kamu jadi lebih berisi Mas, sepertinya kamu harus mulai berolah raga, aku nggak bisa bayangin perutmu jadi buncit, pipimu tembem, badanmu jadi gendut kamu sih akhir-akhir ini doyan makan doyan jajan,"


" Gak lah aku akan tetap jadi Reyhan yang tampan dan sexi plus berwibawa,"


"Berwibawa? Arogan tau!?"


" Cool"


" Hem, terserah!" ucap Zahra yang ingin muntah.


" Oh iya sayang, kalau kamu kuat nanti siang minta antar sopir ke kantor ya, kita makan siang bareng, kangen sekali lama tidak makan siang bareng," pinta Reyhan.


" Kayaknya baru dua mingguan deh Mas kita gak makan siang bersama, semenjak kamu mulai aktif ke kantor lagi," jawab Reyhan.


" Ini kayaknya aku ngidam loh, kamu mau anak kita ileran?"


" Iya deh, aku usahain, ngidam apa kesempatan ya?!"


Bi Ira menemui kedua tuannya, " Mbak sarapan sudah siap,"


" Trimakasih , Bi, kami akan segera sarapan,"


Merekapun menuju ke ruang makan. Semenjak Zahra hamil ia lebih sering melayani istrinya itu. Semenjak hamil Zahra lebih suka sarapan dengan roti dan susu saja.


" Sayang mau di buatkan susu rasa apa?" tanya Reyhan.


" Rasa mocca saja Mas," jawab Zahra.


Reyhanpun bergegas membuatkan susu kehamilan untuk istrinya tercinta. Setiap hari harus dari tanggannya sendiri untuk urusan membuat susu, ia beralasan agar dirinya dan anaknya kelak memiliki kedekatan batin. Entah atas doktrin siapa yang telah memberinya ide itu.


Selesai sarapan Reyhan berpamitan untuk ke kantor, tak lupa ia mencium istrinya seperti kebiasaanya sejak dulu hanya saja di tambah adegan mencium perut istrinya lalu berkata," Papa kerja dulu sayang, baik-baik di rumah dengan mama ya."


Reyhanpun pergi diantar oleh sopir pribadinya ke kantor. Sesampainya di kantor ia langsung menuju ke ruangannya. Seperti biasa para pegawai memberi hormat dengan membungkukan kepala, ia pun membalas dengan anggukan. Gayanya tidak banyak berubah, sedikit senyum, jalan seperti orang berwibawa katanya sendiri. Namun orang yang belum mengenalnya pasti menilainya arogan dan sombong.


Reyhan duduk di meja kerjanya, setelah menanda tangani beberapa berkas ia teringat sesuatu.


" Jojo!" panggil Reyhan.


" Iya Pak!" raut mukanya terlihat tidak senang dengan panggilan tuannya itu.


" Ayo ikut aku!"


Reyhan berdiri lalu berjalan keluar ruangan, Jodi mengikiuti di belakangnya. Mereka menaiki lift, menuju loby. Mereka berhenti di pintu gerbang perusahaan, seorang satpam memberi hormat lalu kembali ke pos satpam. Reyhan mondar-mandir menunggu sesuatu. Jodi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya," Bapak menunggu siapa?"


" Jam berapa Jojo?" Reyhan balik bertanya padahal ia pun mengenakan jam tangan.


" pukul 08.45 menit Pak," jawab Jodi setelah melihat arloji di pergelangan tangannya.


" Oke, kita tunggu 5 menit lagi," jawab Reyhan.


Jodi semakin penasaran apa yang sedang di tunggu oleh tuannya itu.


Tiba-tiba Reyhan berteriak, tepat puk ul 09.50 menit.

__ADS_1


" Hei Tunggu! Berhenti!" pekik Reyhan menghentikan seorang abang tukang bakso yang tengah membawa gerobaknya dengan sepeda motor. Alhasil tukang bakso menjadi terkejut, ia berfikir akan di rampok atau jangan-jangan dia depcollector yang mau mengambil paksa sepedanya. Jodi dan satpam yang ada di dekatnya pun jadi terkejut. Mereka berfikir apa gerangan salah tukang bakso itu hingga sampai membuat tuannya itu marah.


Reyhan mendekati tukang bakso, tukang bakso itupun menjadi ketakutan.


" Tolong buatkan saya dua porsi bakso, saos, sambal, dan kecapnya di mangkuk terpisah," pinta Reyhan.


" Siap pak, aduh jantung saya mau copot, saya kira bapak mau ngerampok atau mau mengambil paksa sepeda saya, soalnya saya lupa belum nyicil sepeda," ujar tukang bakso yang menyeringai, hatinya yang berdebar-debar berangsur berdetak secara normal.


" Memang tampang saya cocok jadi depcollector?"


" Iya Pak," jawab tukang bakso.


" Mungkin besok saya akan bekerja sampingan menjadi depcollektor," jawab Reyhan manggut-manggut memegangi dagunya.


Jodi sampai terbatuk-batuk berusaha sekuat tenaga menahan tawa mendengar percakapan Bosnya dengan tukang bakso itu.


Dua porsi bakso dan satu mangkuk berisi kecap, saos dan sambal telah siap.


" Berapa pak?" tanya Reyhan.


" 20 ribu Pak," jawab tukang bakso.


Reyhan merogoh saku dan mengeluarkan dompet, ia menyerahkan selembar uang seratus ribuan.


" Ini Pak saya beli sama mangkoknya, segini cukup?"


" Kebanyakan pak,"


" Sudah ambil kembaliannya,"


" Trimakasih Pak,"


" Siap Pak! Kenapa tidak suruh saya atau OB saja Pak kalau hanya mau beli bakso, ginikan bisa menurunkan harga diri dan wibawa Pak Reyhan saja di lihat oleh karyawan," ucap Jodi yang sedikit meringis menahan panas di tangannya membawa dua mangkuk bakso yang mengepul uapnya. Sedangkan Reyhan membawa mangkuk berisi kecap, saos dan sambalnya.


" Pecat saja yang berani ngomongin saya di belakang, lagian kalau aku nyuruh kamu atau OB mana tahu bskso yang saya incar sejak kemaren," ucap Reyhan.


" Bapak sampai hafal lewatnya, jam 09.55 WIB," ucap Jodi.


Jodi meletakkan bakso di atas meja, Reyhanpun duduk di sofa di depan meja.


" Sekarang pesankan di kantin es jeruk, krupuk dan pesankan on line martabak telur yang terkenal itu,"


" Siap Pak,"


Reyhan telah menghabiskan dua mangkuk bakso sendiri dan beberapa potong martabak. Tiba-tiba Zahra datang ke kantor langsung menuju ruangan Reyhan.


" Astaghfirulloh, apa ini sayang?" ucap Zahra terkejut melihat dua mangkuk bekas bakso, satu kotak martabak dan yang baru datang bersamaan dengannya, jodi meletakkan dua bungkus cilok dan somay.


" Selamat siang Nyonya," ucap jodi.


" Selamat siang jodi, apa suamiku bekerja sangat keras hingga kamu memberi makanan sebanyak ini?"


" Ini belum seberapa Nyonya, keanehan suami Nyonya bahkan akan beralih profesi menjadi depcollektor,"


" Apa?" Zahra terkejut.


Reyhan melempar bolpoin kearah jodi.


" Sayang, aku lagi ngidam,"

__ADS_1


" Ngidam kok aneh Tuan!" jawab Jodi.


" Apa mau aku lempar dengan laptop ini?" ucap Reyhan dengan kesal.


" Maaf Pak Jodi, harap maklumi suami saya, lagi ngidam," ucap Zahra dengan senyum.


" Tidak apa-apa Nyonya, mungkin jiwa Nyonya dan Tuan tertukar saat kecelakaan itu, buktinya yang hamil Nyonya yang ngidam Tuan, apalagi sekarang Tuan manggil saya 'Jojo' seperti panggilan Nyonya ke saya, dan sekarang Nyonya panggil saya 'Jodi',"


" He, Jojo, kamu kira ini Film atau sinetron pake judul jiwa yang tertukar segala," Jawab Reyhan emosi.


Zahra tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Jodi. Ia duduk mencicipi Martabak telur yang masih tersisa di meja. Jodipun pamit keluar ruangan meninggalkan pasangan suami istri yang menurutnya jiwanya tertukar itu.


" Mau ngajak makan siang, kok malah di tinggal makan duluan," ucap Zahra.


" Inikan cuma camilan sayang, kamu mau kita makan siang di mana?" tanya Reyhan sembari mencium istrinya lalu berbaring dengan tumpuhan paha Zahra sebagai bantal lalu mencium perutnya.


" Sayang ngidam kamu ini sudah level aneh sayang, sepertinya kamu harus periksa kedokter, masak kamu ngidam sampai mau pindah profesi jadi depcollector?"


" Apaan sih sayang, aku tadi cuma bercanda, godain abang tukang bakso yang tadinya mengira aku ini depcollector yang mau nyita sepedanya,"


" Kamu beli di jalan sendiri?" tanya Zahra di sela tawanya.


" Sama Jojo, habisnya kepingin banget, mulai kemaren ngincar bakso ini,"


" Enak?"


" Lumayan,"


Jam istirahatpun tiba, Zahra meminta makan siang di restoran dekat kantor, ia sedang ingin makan Iga bakar. Setelah makan siang Zahra kembali pulang ke rumah.


***


Beberapa kali Reyhan meminta Zahra makan siang bersama, namun tidak untuk beberapa hari berikutnya. Reyhan merasa kasihan jika Zahra harus mondar-mandir ke kantor.


Beberapa hari tidak makan siang bersama, Zahra merasa rindu juga. Ia berinisiatif memberi kejutan untuk Reyhan. Ia memasak sendiri menu makan siangnya. Zahrapun sangat antusias ingin mendengar pendapat suaminya untuk hasil karyanya itu.


" Sempurna! Sayur Asem ala cheff Zahra Queen," ucap Zahra setelah mencicipi masakannya. Tanganya menirukan seorang magician yang terkenal itu.


Zahrapun segera meluncur ke kantor Reyhan. Sesampainya di depan pintu ia menjumpai Jodi yang berjaga.


" Selamat siang Nyonya!" sapa Jodi.


" Selamat siang Jodi, apa suamiku sibuk?"


" Nyonya, tunggu!" cegah Jodi.


Ceklek!


" Astagfirulloh Mas, teganya kamu padaku, aku sedang hamil anakmu Mas. Apa karena tidak mendapat kepuasan dariku kamu mencari kepuasan dari wanita lain?" air matanya mengucur deras.


Seorang wanita dan Reyhan terkejut ketika Zahra tiba-tiba datang. Zahra kemudian pergi memberikan rantang di tangan Jodi, ia menoleh ke belakang suaminya tak mengejar. Air matanya mengalir, hatinya marah dan kecewa.


Wanita mana yang tidak kecewa mendapati suaminya bertelanjang, hanya kain kecil menutupi bagian pahanya. Wanita itu sedang mengusap lembut bahu suaminya, sedangkan suaminya menutup mata menyeringai seolah menikmati sentuhan wanita itu.


Ia terus berlari menuju lobby. Wanita itu berdiri sedangkan Reyhan ingin berdiri namun mengurungkan niatnya, ia kembali duduk di sofa dengan terengah-engah.


" Jodiiii ngapain kamu bengong, kejar dia!" pekik Reyhan.


Jodi yang berada di depan pintu dengan terbengonh-bengong itu lalu masuk dan meletakkan rantang di meja. Ia berlari mengejar Zahra.

__ADS_1


__ADS_2