Terjebak Cinta Bos Muda

Terjebak Cinta Bos Muda
Istri Rasa Selingkuhan


__ADS_3

Zahra sudah bekerja hampir satu bulan lamanya. Pembawaan Zahra yang supel membuatnya sudah di kenal dari jajaran pimpinan perusahaan dan karyawan lain.


Banyaknya kenalan Zahra, membuatnya dapat mudah mengetahui seluk beluk perusahaan suaminya itu. Satu hal yang ia ketahui adalah yang di sembunyikan oleh Reyhan dengan rapi selama ini. Sebenarnya Zahra sering memergokinya sedang bersedih, murung, dan terlihat banyak beban.


Salah satu keahlian Reyhan yang baru saja ia kenali yaitu sangat sempurna menyimpan rahasia. Dengan mudah ia mengubah suasana menjadi ceria ketika Zahra bertanya tentang keadaannya. Hanya alasan capek saja yang sering ia lontarkan menjawab pertanyaan rasa penasaran Zahra.


Mungkin salah satu hal yang membuat Reyhan dulu melarangnya bekerja di perusahaanya yaitu agar Zahra tidak mengetahui nasib perusahaannya.


Setelah menncari berbagai informasi dari beberapa rekannya ia mengetahui fakta bahwa perusahaannya sedang buruk mendekati gulung tikar.


Banyak tender besar yang gagal mereka dapatkan. Kalaupun memang hampir dapat, maka perusahaan pesaing dengan mudah menjegalnya. Seolah-olah ada yang sengaja mempersulit keadaannya.


Zahra teringat ancaman Vanessa, iapun berfikir apakah benar ancamannya kini terjadi. Dimana Vanessa akan menghancurkan karier Reyhan bila Zahra tidak menjauhinya.


Melihat perusahaan suaminya hampir kolep, iapun menghubungi ayahnya agar ikut berinvestai di perusahaan Reyhan meskipun hanya sedikit. Ia juga berupaya menghubungi kenalannya yang berminat untuk berinvestasi.


Akhirnya banyak rekan-rekan bisnis Reyhan yang tiba-tiba mau bekerja sama dan berinvestasi di perusahaannya.


***


Siang itu Zahra menemui suaminya di ruangannya. Mengetahui suaminya banyak pikiran ia ingin menghiburnya.


Tok! tok! tok!


"Masuk!" jawab Reyhan


" Mas bolehkah Ayahku berinvestasi di perusaahan mu?"


" Tentu boleh, memang Ayahmu punya banyak uang?"


" Hem, jangan meremehkan ya!" jawab Zahra sembari menuju kursi Reyhan. Ia memijit kepala Reyhan dengan lembut, membuat Reyhan merasa rileks.


Merasa badanya segar, Ia pun menarik Zahra dalam pangkuannya.


Ia mencium bibir Zahra dengan menahan kepala Zahra dengan satu lengannya. Mereka hanyut dalam suasana, tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.


tok! tok! tok!


Zahra gelagapan lalu bersembunyi di bawah meja Reyhan.


" Masuk!"


Jodi masuk membuka pintu, dan berkata," Pak Kepala bagian perlengkapan ingin menemui bapak,"


" Suruh masuk!" jawab Reyhan


" Pak, maaf mulut Pak Reyhan belepotan, habis makan apa?" tanya Jodi tanpa ekspresi


Reyhan menarik selembar tisyu lalu melap bibirnya, sementara menatap Jodi dengan tajam, menyembunyikan hatinya yang merasa malu.


Seorang lak-laki masuk mengahampiri Reyhan, lalu duduk di depan meja Reyhan. Setelah mengobrol membahas rencana pembelian barang-barang perlengkapan proyek ia pun menyodorkan berkas, dan Reyhanpun menanda tanganinya.


Zahra kembali berdiri ketika laki-laki itu pergi.


" Mas kamu kok betah sih bekerja dengan manusia tanpa ekspresi itu," ujar Zahra.


" Siapa yang kamu maksud? Jodi?" tanya Reyhan.


" Iya, Jojo,"


" Hem, kenapa gak suka, kalau gak suka aku cari sekretaris baru saja. Sekretaris wanita saja kayaknya," ujar Reyhan.


" Oh nggak, jangan-jangan! mending Jojo saja,"


" Kenapa?"


" Nanti godain kamu,"


" Cuma kamu sayang yang berhasil menggoda aku,"

__ADS_1


" Eh sorry Mas Bos, sejak dulu aku gak pernah loh nggodain kamu,"


Reyhan tertawa lalu kembali memeluk istrinya, bibirnyapun kembali mendarat di bibir Zahra,


Tok! tok! tok!


Zahra dan Reyhan berhenti dari aksi mereka lalu saling berpandangan, Zahra kembali menunduk bersembunyi di balik meja.


"Masuk!"


" Permisi pak, saya membawa desain yang akan kita bawa ke calon klian kita. Saya yakin kita akan memenangkan tender pembangunan rumah sakit itu pak," ucap Novan.


Reyhan dan Novan beradu argumen tentang desain bangunan yang ada dihadapannya itu.


Pembicaraan Novan berhenti ketika melihat bibir dan pipi Reyhan terdapat jejak bibir dan lipstik. Mereka saling berpandangan cukup lama, Novan tidak berani berkta-kata.


Reyhanpun sadar mungkin hal yang di ucapkan Jodi tadi kembali terulang. Iapun segera meraih selembar tisyu mengusap bibir dan pipinya. Benar saja ketika ia melihat tisyu yang barusan ia gunakan ternyata ada noda merah-merah bekas lipstik Zahra.


Zahra yang di bawah mejapun langsung mengenali siapa laki-laki yang beradu argumen dengan suaminya itu.


Menurut Zahra mereka berdua 11-12 kecerdasan dan sikapnya. Jiwa kepemimpinannya terlihat menonjol. Hanya saja Novan sikapnya lebih lembut dan ramah.


Reyhan sendiripun mengakui kecerdasan dan keahlian pegawai barunya itu. Ia berharap dapat menjadikan perusahaannya lebih maju.


Zahra kembali bangkit dari persembunyiannya. Ia tertawa terbahak-bahak melihat wajah Reyhan yang malu.


" Zahra, kamu ini suka mempersulit diri kamu sendiri, sekarang kamu mempersulit aku,"


" Kok bisa? "


" Gara-gara kamu meminta menyembunyikan identitasmu, jadinnya gini, mau ketemu saja main sembunyi-sembunyi. Rasanya aku berselingkuh dengan istriku sendiri. Istri rasa selingkuhan tahu!" ujar Reyhan kesal.


" Hem, ngambek nih?" tanya Zahra.


Zahrapun menggelitiki suaminya itu. Membuat Reyhan menggeliat karena geli. Zahrapun berlari ketika Reyhan ingin membalasnya dan Reyhanpun mengejarnya. Mereka berlarian di ruangan Reyhan.


Tok! tok! tok!


" Jodi Pak!"


" Masuk!"


Jodi pun memasuki ruangan, melihat Reyhan yang terengah-engah. Iapun terkejut melihat Zahra tiba-tiba ada di ruangan Bosnya itu tanpa sepengetahuannya.


" Kapan anda kemari Nyonya?"


" Sudah tadi?" jawab Reyhan. Membuat Jodi terdiam dan berfikir.


" Waktunya makan siang, makanannya di bawa kesini atau makan di luar?" tanya Jodi.


" Bawa kesini saja, bawakan sekalian buat istri saya!" perintah Reyhan pada Jodi.


"Baik Pak,"


" Tunggu! Bawanya nanti saja sekitar jam satu siang, dan tolong pastikan tidak ada yang mengganggu saya sampai istirahat selesai,"


Reyhanpun mengunci pintu, lalu menatap Zahra seolah harimau menemukan mangsa. Zahra menatap curiga pada suaminya itu dan bertanya, " Apa yang akan kamu lakukan?"


" Bukankah kamu kesini mau menggoda Bosmu ini pegawaiku yang cantik? dan kini aku benar-benar tergoda," ujar Reyhan seraya melonggarkan dasinya, melepas jasnya lalu melempar ke meja.


" Mas jangan macam-macam ini di kantor?"


" Siapa yang memulai duluan?" tanya Reyhan.


Reyhanpun berhasil membuat Zahra tersudut. Ia tidak bisa berkutik. Reyhan melancarkan aksinya membuat Zahra sulit untuk menolaknya. Akhirnya sesuatu yang mereka inginkan terjadi juga.


Zahra membersihkan diri di kamar mandi yang berada di ruangan Reyhan. Sedangkan Reyhan masih rebahan di sofa. ia masih berantakan, dan matanya terpejam.


Tok! tok! tok

__ADS_1


Bunyi ketukan pintu membangunkannya.


" Masuk!"


Pria di balik pintu berusaha membuka pintu namun terkunci. Reyhan pun terpaksa berdiri dengan malas membuka pintu. Jodi menatap Reyhan penuh tanda tanya. Ia tak pernah melihat Reyhan seberantakan itu. Tuannya itu selalu tampil rapi dalam berbagai keadaan.


Jodi meletakkan nampan berisi makan siang tuannya itu. Ia kemudian merapikan meja yang berserakan. Mengambil Jas Reyhan dan meletakkan di sofa dengan rapi.


Jodi menatap dengan tatapan aneh, ketika mendengar suara orang yang mandi di kamar mandi.


" Apa yang kamu pikirkan? Dia istriku?"


" Istri anda membuat anda seberantakan ini?" ucap Jodi datar.


" Kalau kamu nanti menikah pasti kamu akan merasakannya. Wanita bisa membuatmu menjadi bukan dirimu lagi," ucap Reyhan seraya menunjuk Jodi dengan jarinya.


" Itulah salah satunya yang membuat saya sampai saat ini belum menikah Pak, menurut saya makhluk yang bernama 'wanita' itu menakutkan,"


" Tidak juga, hanya saja kamu belum jatuh cinta," ujar Reyhan.


Zahra keluar dari kamar mandi, ia sudah berdandan dengan rapi. Iapun duduk di samping Reyhan. Melihat makanan di hadapannya itu membuat matanya berbinar-binar, " Hem, kelihatannya lezat, aku lapar sekali, aku harus makan yang banyak, tenagaku sudah habis terkuras,"


" Tenagaku juga terkuras habis, menghadapi kenakalanmu,"


Jodipun menelan salivanya sendiri mendengar percakapan suami-istri di hadapannya itu. Pikirannyapun menebak-nebak apa yang telah mereka lakukan di ruangan itu, membuatnya tiba-tiba bergidik dan merinding.


" Permisi Pak Reyhan dan Nyonya, Selamat makan, saya kembali keruangan saya.


Jodi pun meninggalkan ruangan Reyhan dengan penuh tanda tanya.


***


Jam istirahatpun usai. Zahrapun kembali keruangannya. Sepanjang jalan menuju ruangannya ia berfikir membuat alasan apa jika rekan-rekan kerjanya bertanya, kenapa ia menghilang tiba-tiba selama itu.


Baru saja ia duduk seseorang menghampirinya," Zahra dari mana saja, di cari Pak Andre kepala bagian?"


" Iya Sasa, trimakasih,"


Zahrapun bergegas keruangan Andre. Andre menyerahkan beberapa berkas untuk ia pelajari sebagai contoh dan memberikan setumpuk pekerjaan padanya.


Novan menghampiri Zahra dan bertanya, " Aku tadi mencarimu, kamu kemana saja?


" Ada apa?"


" Enggak ada apa-apa, sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang. Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu. Kapan kamu ada waktu?"


" Aduh gimana ya, gini aja kapan-kapan aku akan menghubungimu bila ada waktu," jawab Zahra. Ia tahu arah pembicaraan Novan.


Novanpun berbalik akan meninggalkan Zahra.


" Tunggu!" cegah Zahra.


Novan berbalik dan bertanya, " Ada apa?"


" Aku sudah menikah," ucap Zahra.


" Aku tahu,"


" Dari mana?"


" Cincin itu," jawab Novan seraya menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Zahra.


Novanpun kembali mendekat dan lebih dekat ke wajah Zahra, " Cinta tak harus memiliki bukan? mungkin saat ini kita belum berjodoh, tapi kita tidak tahu kedepannya?"


Novan berlalu meninggalkan Zahra yang terpaku mendengar ucapan Novan. Ia berusaha mencerna apa maksud ucapannya itu.


Zahra kembali teringat kebersamaannya dengan Novan sewaktu SMA. Iapun mengingat ketika Novan membonceng dirinya berkeliling kota Batu dengan sepeda motor lalu mengantarnya pulang berakhir dengan amarah dari Pak Rohman yang harus Zahra terima.


Ia tak menyangka Novan masih menyimpan perasaan cinta padanya. Dari kata-katanya, Zahra merasa seolah ia masih mengharapkan dirinya. Sedangkan kini Zahra hanya menganggapnya sahabat tidak lebih. Hatinya sepenuhnya ia hibahkan untuk Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2