
Dikantor Zahra sedang disibukkan dengan pekerjaannya di depan laptop. Ia sibuk mengirim file-file melalui email ke perusahan lain yang bekerja sama dengan perusaahaan tempat ia bekerja. Semua sudah Ia lakukan sesuai yang di perintahkan oleh Reyhan. Zahrapun teringat bahwa Reyhan harus meeting dengan Direktur salah satu stasion televisi swasta untuk membahas kerjasama tentang pemasaran property perumahan dan perkantoran.
Zahrapun menemui Reyhan di ruangannya, Iapun seperti biasanya yang kadang lupa mengetuk pintu ruangan Reyhan. Alhasil ia mendapati pemandangan yang membuat hatinya hancur. Bagaimana tidak sakit hati baru saja ia berbaikan dengan kekasihnya itu, kini ia mendapati kekasihnya di peluk oleh wanita lain.
Reyhan menghadap jendela, matanya menerawang ke angkasa, di belakangnya Vanessa memeluk erat. Bunyi pintu terbuka membuat keduanya menoleh kearah pintu.
Reyhanpun berusaha melepaskan diri dari pelukan Vanessa. Sedangkan Vanessa bersi keras tidak mau melepaskan Reyhan. Reyhan berkata padanya," Tolong lepaskan Vanessa!"
"Tidak aku tidak akan melepaskanmu, sampai kamu berjanji tidak akan meninggalkanku lagi," pekik Vanessa.
Zahra hanya mematung di depan pintu tanpa berkata apa-apa. Reyhan mencoba memberikan penjelasan, " Zahra, ini tidak seperti yang kamu kira."
" Maaf bila kehadiran saya mengganggu, saya hanya ingin mengingatkan agenda Pak Reyhan hari ini. Satu jam lagi Bapak harus meeting dengan pihak stasion televisi," ujar Zahra lalu menutup pintu dan meninggalkan mereka. Zahra menoleh ke belakang tidak ada tanda-tanda Reyhan mengejarnya.
Zahra kembali keruangannya mempersiapkan berkas-berkas yang akan ia bawa menemani Reyhan meeting. Zahra menghubungi Zaky melalui sambungan telephon,
" Hallo Mas Zaky?"
"Ia Zah, ada apa?"
" Saya bareng Mas Zaky ke tempat meeting ya," pinta Zahra tanpa basa-basi.
" Oke, siap! Tapi Pak Reyhan?"
" Nanti menyusul, mungkin dengan Nona Vanessa."
Zahra menutup sambungan telephon dan bergegas menuju basement. Sesampainya disana Zaky suda siap dengan mobilnya. Zahra membuka pintu depan langsung duduk di samping Zaky. Zaky menoleh kesamping dengan tersenyum bahagia karena sudah lama tidak bersama Zahra. Iapun menyapa Zahra, " Hallo sayang!"
" Sayang-sayang kepalamu peyang," jawab Zahra ketus.
" Kenapa kamu Zahra kok marah-marah? kamu habis di marahi Pak Reyhan?"
" Maaf Mas Zaky aku jadi emosi, ayo buruan nanti terlambat," ujar Zahra menimpali.
__ADS_1
Zaky hanya diam tidak mendapat jawaban dari Zahra. Zahra melihat keluar jendela. Zaky sesekali mengajak berbicara Zahra, namun hanya jawaban singkat-singkat yang ia dapat.
" Azzam bentar lagi nikah, bakal sendirian dong kamu di apartemen?"
" ya," jawab Zahra singkat
" Kapan orang tua kamu datang ke Jakarta lagi?"
" Gak tahu."
Sementara itu di kantor Reyhan dan Vanesa masih berdebat. Reyhan masih berusaha menenangkan Vanessa,
" Vanessa aku mohon demi persahabatan kita, tolong berhenti mengejar-ngejar aku. Aku sudah punya calon istri."
" Maksud kamu apa Reyhan? terus apa arti perhatianmu padaku selama ini?"
"Aku bersikap baik padamu bukan berarti aku mencintai kamu, aku hanya menganggapmu teman."
" Sudah cukup Vanessa, jangan sentuh dia, atau aku akan berbuat yang lebih kejam darimu, aku akan melupakan hubungan pertemanan kita!" teriak Reyhan yang semakin di buat kesal oleh Vanessa.
" Apa kamu lupa Reyhan, akulah yang membuatmu sampai di posisi ini, kamu punya jabatan di perusahan di Malang dan di sini itu karena aku memohon pada Papaku."
" Aku tidak pernah mengharapkan itu Vanessa."
" Apa kau tahu aku ahli waris dari perusahaan ini, jika kamu menikah denganku perusahaan ini akan jadi milikmu juga."
" Sudahlah Vanessa, hartamu tidak akan bisa membeli perasaanku, lebih baik kamu cari laki lain yang lebih dari aku,"
" Tidak, aku maunya sama kamu."
Bunyi ponsel Reyhan berdering berkali-kali, Ia baru mengambilnya dan melakukan panggilan balik. Tertera nama Zahra di layar ponsel, Reyhanpun mendengarkan Zahra berbicara,
Pak Reyhan kalau sudah selesai dengan Nona Vanessa, tolong segera ke sini. Semua orang sudah menunggu Bapak.
__ADS_1
Sambungan telephon terputus. Reyhan bergegas menuju ketempat rapat, meninggalkan Vanessa yang penuh amarah. Reyhan mengendari mobil dengan kecepatan tinggi, untungnya jalan tidak ada kemacetan yang panjang hanya ketika lampu merah menyala terlihat kemacetan sehingga ia datang ketempat rapat dengan tepat waktu.
Sesampainya di ruang rapat Reyhan duduk di samping Zahra. Reyhan melirik ke arah Zahra yang terlihat kesal. Reyhan hanya berfikir nanti saja ia memberi penjelasan tentang kejadian di kantor.
Acara rapat berjalan lancar diakhiri penandatanganan oleh kedua belah pihak. Setelah rapat selesai Zahra bergegas meninggalkan ruangan, ia menunggu Zaky di depan loby mengambil mobilnya. Tak lama Zakypun muncul dengan mobil hitamnya. Zaky turun dari mobil dan membukakan pintu.
Zahra hendak masuk, namun ia terhenti, Reyhan menarik tangan Zahra dan berkata, " Maaf Pak Zaky, Zahra akan kembali ke kantor bersama saya."
" Baik Pak," jawab Zaky. Zaky segera masuk kembali dan meninggalkan mereka berdua.
Reyhan menggandeng tangan Zahra menuju parkiran yang berada di dekat loby. Reyhan membukakan pintu, Zahrapun masuk dan duduk di kursi depan.
Selama perjalanan Zahra hanya diam, begitu juga dengan Reyhan. Reyhan tahu wanita di sampingnya sedang marah. Ditengah perjalanan Reyhan menghentikan mobil di sebuah parkiran cafe yang berbeda dari lainnya. Meskipun di tengah kota, cafe itu begitu asri nuansa alam.
Reyhan dan Zahra duduk di meja dekat kolam ikan dan air mancur. Zahra mengarahkan pandangan kearah ikan-ikan yang asyik berenang menghindari tatapan mata Reyhan.
Reyhan memegang tangan Zahra dan berkata " Maafkan aku Zahra, aku tahu kamu marah melihat kejadian tadi. Sebenarnya aku dan Vanessa tidak ada hubungan apa-apa seperti yang berulang kali aku katakan padamu. Aku hanya menganggapnya teman, namun Vanessa teropsesi padaku. Aku sudah menjelaskan padanya aku sudah punya calon istri, namun dia tidak terima dan marah-marah, tidak mau melepaskanku."
"Lalu?" tanya Zahra sinis.
" Aku sudah memutuskan untuk memilih kamu Zahra, tolong jangan marah lagi. Bukankah kita sudah berjanji menghadapi semuanya bersama."
" Saya hanya takut Mas,"
" Apa yang kamu takutkan?"
" Kekuasaan dan harta bisa membuat orang silau dan dengan kekuasaan dan harta juga orang bisa melakukan apapun,"
" Kamu tidak perlu takut Zahra, aku akan selalu bersamamu. Kita akan menghadapi sama-sama. Setelah pernikahan Azzam dan Sofi kita akan ke Malang menemui orang tuamu membahas pernikahan kita."
Zahra hanya diam, bukannya ia tidak percaya pada Reyhan, Ia hanya memikirkan Vanessa yang bisa bertindak apa saja dengan kekuasaan dan hartanya.
Zahra menikmati makanan yang di pesan oleh Reyhan. Ia tidak mau membahas lebih lanjut pembicaraan tentang hubungan Vanessa dan Reyhan itu. Reyhanpun memahami kondisi Zahra yang masih kesal.
__ADS_1