
Selepas kepergian si pria tua. Simon berjalan ke arah kaca raksasa. Kedua matanya menatap keindahan Kota Los Angeles dari atas gedung. Dua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Lex," panggil Simon pada seorang pria berdiri tegap di ujung sana. Sedari tadi, berada di ruangan jua, mendengar semua pembicaraan Simon dan si pria tua.
Lexi, tangan kanan Leon dahulu, mengangkat wajahnya begitu mendengar panggilan. "Iya, Tuan!"
"Apa aku salah menyembunyikan kebenaran tentang orangtua Lunna? Aku tidak mau dia terluka, Lex. Leon menitipkan pesan padaku untuk jangan mengatakan padanya. Ia juga tak mau melihat Lunna bersedih."
Suara Simon terdengar pilu, mengingat Leticya, putri sulungnya meninggalkan dirinya terlebih dahulu. Dia teramat menyesal, jarang memberikan perhatian kepada Leticya dan Leon kala itu.
Lexi terenyuh mendengar kegundahan Simon. Kedua matanya menatap sendu punggung' pria yang menyerupai wajah Leon.
"Anda tidak salah, Tuan. Setidaknya sekarang Nona Lunna sudah bahagia."
Simon berbalik, melemparkan senyuman pada Lexi. "Iya, kau benar, apa jadwalku hari ini?" tanyanya sembari melirik ke arloji di pergelangan tangan.
Lexi segera mengeluarkan tablet berlogo apel yang tersampir di jas. Lalu menggeser-geser layar sesaat.
"Tiga puluh menit lagi, anda akan ada pertemuan bersama Mr. Luis di Hotel Greece."
Simon mengangguk. "Baik lah, Lex, aku minta kau mencarikan jadwal kosong agar aku bisa bertemu Lunna." Melangkah cepat menuju ambang pintu.
Membungkuk sedikit. "Baik, Tuan," kata Lexi sambil menatap nanar punggung Simon.
'Kasihan Nona Lunna, aku juga tidak mau melihatnya terluka.'
*
*
*
__ADS_1
Gereja Katedral.
Lima menit sebelum acara pemberkataan nikah di mulai. Lunna baru saja tiba bersama Kristin di pelataran parkir. Dengan perlahan Lunna mengangkat gaun pengantin yang mewah dan elegan itu.
"Bagaimana, aku cantik tidak?" tanyanya wajah pongah dengan mengangkat dagu sedikit.
Kristin memutar bola mata malas. Ia mendengus pelan. "Iya kau selalu cantik, Lunna!" Kristin jenggah dengan sikap Lunna, di detik-detik moment sakral malah tak panik sama sekali. Pasalnya untuk masuk ke dalam gereja dibutuhkan waktu empat menit dan dia sudah menghabiskan satu menit di pelataran Gereja.
"Ayo, kita ke dalam!" Kristin berseru nyaring, agar Lunna dapat segera melangkah masuk ke dalam.
Sementara itu, di dalam gereja. Jack meradang, kala Lunna belum nampak batang hidungnya. Dia menatap lurus ke depan pintu gereja. Sedari tadi grasak-grusuk. Sedangkan Yuri di samping badan Jack memandang datar atasannya. Dia juga keheranan mengapa Lunna belum juga tiba. Padahal sudah diberi ultimatum oleh Jack, tadi dia tak sengaja mendengar pembicaraan Jack dan Kristin bertelepon.
'Lunna A, cepat lah datang. Yuri tak mau video Lunna tersebar gara-gara Tuan Jack. Yuri tak mau mereka melihat paha Lunna A.' Benak Yuri teringat video Lunna A yang menampilkan bagian kaki Lunna terekspos.
"Tuan, itu Lunna A."
Yuri mengembangkan senyuman saat melihat Lunna menyembul di balik pintu, dengan memakai gaun pengantin berwarna putih gading, memperlihatkan belahan dadanya. Dahi Yuri berkerut hingga tiga lipatan, sebab Lunna biasanya menggunakan pakaian sopan. Lantas mengapa di moment sakral malah mengenakan pakaian terbuka.
Jack menoleh ke ambang pintu, memicingkan mata, dan menatap penuh arti pada Lunna.
Tak mau membuang banyak waktu. Jack mengulurkan tangan tatkala Lunna berada di dekatnya.
'Cih, sok sekali dia, di depan Romo! Harus kah aku menerima tangannya itu?'
Jack melototkan mata."Lunna, pegang tanganku," desisnya pelan sambil melirik Romo sekilas.
Pria bertubuh besar itu mengulum senyum, melihat mempelai pengantin saling melemparkan pandangan dengan cara yang tak biasa ia pernah lihat.
Dengan terpaksa Lunna menerima uluran tangan Jack, setelah melihat sorot mata Jack berkilat menyala.
Kini, Jack dan Lunna saling berhadapan memindai penampilan masing-masing. Romo yang berada di tengah keduanya mulai membacakan doa. Tamu yang hadir di gereja hanya Kristin dan Yuri saja selebihnya tidak ada.
__ADS_1
Setelah mengucapkan janji suci. Jack dan Lunna menatap satu sama lain. Keduanya berbicara melalui mata ke mata. Pancaran mata Jack dan Lunna begitu tajam' setajam sebilah pedang. Sampai Romo pada akhirnya mengucapkan doa sakral.
"Dengan ini mereka bukan lagi dua orang yang terpisahkan. Tapi mereka sudah menjadi satu, dan resmi menjadi suami dan istri yang sah. Tuan Jack Harlow dan Nyonya Lunna, untuk kemuliaan Tuhan mari kita bertepuk tangan dengan meriah. Dalam nama Yesus Kristus.... Amin."
Gemuruh tepukan tangan Yuri dan Kristin bergema di dalam gereja. Keduanya mengembangkan senyuman sampai lupa jika pengantin baru di depan hanya menikah kontrak. Jack dan Lunna baru saja selesai melakukan pemberkatan dan tukar cincin. Kini, moment yang paling dinantikan mempelai pengantin biasanya.
"Silahkan di tatap pasangannya. Ini lah suami dan istri yang tercinta. Berikan ciuman yang tak terlupakan dan paling mesra!" Romo berniat menggoda pengantin baru.
'Whats?! Kenapa aku baru ingat moment ini, hih aku tidak mau berciuman dengannya.'
Berbeda dengan Jack. Dia malah tersenyum penuh arti, melihat raut wajah menahan sebal.
"Silahkan!"
Romo berucap kembali kala sang mempelai tak bergeming sama sekali. Tak pelak membuat Romo sedikit mengerutkan dahi samar, ketika aura yang terpancar dari Jack dan Lunna berbeda tak seperti pengantin baru pada umumnya.
Lunna hanya terdiam, tak mau memulai, karena memang pada dasarnya Jack yang harus melabuhkan kecupan di bibir ataupun kening. Seketika, Jack merengkuh pinggang Lunna. Wanita berwajah tirus itu terlonjak saat tak ada jarak yang terbentang di antara mereka. Desiran aneh menjalar di tubuh Lunna sejenak. Ia berusaha menetralisir rasa gugup yang tiba-tiba menderanya.
'Ih, aku harus mandi kembang tujuh rupa! Dia sudah menyentuh badanku!'
Wajah Jack semakin mendekat. Pria itu memiringkan kepalanya. Entah sadar atau tidak Lunna langsung memejamkan mata. Pangkal hidung mereka hampir bersentuhan. Dahi Lunna berkerut samar, saat hanya merasakan hembusan nafas menerpa pipinya. Dengan cepat Lunna membuka kelopak mata. Dan ternyata wajah Jack sudah menjauh dengan senyuman penuh arti. Keduanya tidak berciuman.
Lunna memicingkan mata, mengetatkan rahang sesaat. Merasa bodoh karena telah dikelabui. Jack sedang berakting? Sepertinya pria di depan pantas mendapatkan piala oscar tahun ini. Sampai-sampai Romo yang berada di tengah tersenyum sumringah mengira kedua mempelai sudah berciuman. Secara bersaman pula suara tepukan tangan terdengar lagi dari Kristin dan Yuri.
Setelah selesai bersalaman bersama Romo. Jack dan Lunna keluar dari gereja bersama Yuri dan Kristin mengekori dari belakang.
"Hari ini kau harus tinggal di Mansionku!" perintah Jack ketus setelah berada di parkiran Gereja.
"Tidak mau! Besok saja, aku ada syuting!" Lunna berseru cukup nyaring.
Jack tersenyum sinis."Ini perintah istriku!" Saat melihat Romo hendak berjalan menuju mobil di parkiran.
__ADS_1
"Iya suamiku!" Lunna tersenyum kecut pada Romo yang tanpa sengaja menatap ke arahnya.
'Suami, suami, hoek!'