Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Welcome to Japan


__ADS_3

Di sisi lain, satu negara namun berbeda kota. Saat ini, Lunna dan Kristin berada di dalam mobil, keduanya tengah menatap satu-persatu etalase toko di sudut-sudut kota Tokyo. Mata Lunna enggan berkedip berdecak kagum sesaat, melihat pemandangan di sepanjang jalan.


"Lun, lihat itu Tokyo Skytree!" Kristin berseru nyaring sembari menunjuk menara tertinggi di dunia setinggi 634 meter.



[Sumber : google]


Dengan cepat Lunna menoleh,lalu berkata,"Wow, kalau malam hari pasti keren, Kris. Eh, apa masih lama? Aku sangat lapar Kris! Sebelum ke tempat penginapan, kita cari makanan dulu."


Kristin mendengus sebelum berucap,"Aish, bukannya tadi kau sudah makan jengkol!"


Kristin tentu saja teringat beberapa menit yang lalu, Lunna menyantap makanan kesukaannya di dalam mobil. Kristin menggelengkan kepala, kemarin Lunna masih sempat-sempatnya memesan semur jengkol pada Darla untuk ia bawa ke Jepang.


"Itu kan makanan pembuka, nah sekarang kita cari cemilan Kris, aku penasaran menyantap makanan Jepang langsung ditempatnya!" protes Lunna sambil memanyunkan bibir.


"Iya, iya, Lunna A." Kristin menyebutkan nama Lunna dengan penuh penekanan. Kemudian memutar bola mata malas.


Lunna merekahkan senyuman karena permintaannya dikabulkan. Ia sangat senang, akhirnya untuk pertama kalinya bisa ke Jepang sembari berkerja. Kapan lagi coba, pikir Lunna. Akibat pekerjaan membuatnya kesusahan untuk berliburan ke luar pulau.


"Kau memang yang terbaik, Kris!" Lunna berseru sembari menoel-noel pipi Kristin.


"Ish, sudahlah! Ingat pakai topimu, siapa tahu saja di sini ada fansmu, lebih baik kita berhati-hati!" Kristin menyambar topi berwarna merah di dalam tasnya dan menaruh topi di kepala Lunna.


"Haha, okey! Aku akan ingat," kata Lunna, lalu beralih menatap keluar jendela mobil.


Sesuai rencana Lunna dan Kristin keduanya memutuskan untuk makan sebentar di salah satu tempat jajanan yang tak jauh dari penginapan. Tepatnya di distrik Asakusa.


Dengan langkah riang Lunna mencari makanan yang sekiranya ingin ia santap. Kristin mengekorinya di belakang, sembari mengirim pesan singkat pada Yuri.


Wanita bermodel bob itu sekarang mulai menyukai Yuri. Sudah beberapa hari ini keduanya saling berkirim pesan. Ya, walaupun isi pesan itu seputar, Lunna, Lunna, dan Lunna. Kristin tak mempermasalahkan hal itu, karena Yuri sepertinya belum menyukai dirinya. Ia akan menunggu Yuri sampai pria itu menyadarinya. Tempo lalu, ia pernah mengajak Yuri untuk berkencan tapi Yuri malah menolaknya dengan alasan banyak pekerjaan.


"Kris!" panggil Lunna. Saat ini berhenti di salah satu restoran kue. Kristin menoleh, dan menaruh cepat ponselnya. Kemudian bergegas menghampiri Lunna.

__ADS_1


"Ayo kita makan di sini saja!" Lunna menarik tangan Kristin masuk ke dalam. Keduanya memilih-milih makanan sembari bercengkrama ria. Lunna tengah mencicipi Junjunbe Melonpan (roti melon jumbo).


Dengan lahap keduanya menyantap banyak makanan di daerah tersebut. Menikmati makanan sembar melihat lautan manusia yang juga berburu kuliner sama seperti mereka. Hingga waktu menunjukkan pukul dua siang.


"Aduh, perutku begah!" Lunna memegang perutnya yang sudah penuh dengan makanan.


Kristin juga melakukan hal serupa. "Ini semua gara-gara kau, Lun. Gagal sudah dietku! Bagaimana kalau naik lagi!" serunya sembari menyandarkan tubuh di dinding.


"Ya kalau naik, turunkan saja! Kau ini ribet sekali!" cerocos Lunna. Kristin enggan membalas, malah memutar bola mata ke atas, sekarang perutnya benar-benar sakit karena terlalu banyak makan.


"Aha, aku punya ide, bagaimana kalau kita berbelanja! Kan termasuk olahraga, hehe." Lunna menegakkan tubuh sembari merapikan topinya.


"Whats?! Semalam kita sudah belanja di mall, Lunna!" protes Kristin cepat.


"Kan di LA. Bukan di sini, ayo lah Kris, mumpung syutingku jadwalnya lusa!"


Lunna tetap tak gentar dengan keinginannya tersebut. Malas berdebat, Kristin terpaksa menuruti permintaan Lunna. Dengan muka tertekuk Kristin mengikuti langkah kaki Lunna pergi ke pusat perbelanjaan.


"Aku mau membelikan Romeo, boxer hello kitty." Lunna sedang melihat-lihat celana khusus pria. Entah mengapa ia merindukan adiknya itu.


Kristin menggeleng perlahan mendengar perkataan Lunna. "Lun, adikmu itu sudah besar, mengapa kau belikan dia boxer motif hello kity, kau ini ada-ada saja!" katanya sembari melihat-lihat kaos pria di depan matanya.


"Ish, suka-suka aku. Lucu tahu, haha, semua adikmu perempuan, jadi kau tidak tahu bagaimana rasanya memiliki adik laki-laki yang bisa kau kerjai," Lunna mengangkat wajah dengan angkuh. Kristin berdecak kesal menanggapi perkataan Lunna.


Waktu menunjukkan pukul lima sore. Matahari mulai bergerak perlahan ke ufuk barat. Lunna dan Kristin sudah keletihan. Sembari membawa kantong belanja. Keduanya menunggu kedatangan mobil di sisi jalan.


"Oh my God! Aku kalap, Kris." Lunna mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan kantong.


"Kau pikir hanya kau saja!" Kristin juga mengangkat ke udara, enam buah kantong yang bertengker di tangannya sedari tadi. Lalu terdengar suara tawa dari keduanya.


"Kristin!" pekik seseorang yang sangat Lunna dan Kristin kenal. Lantas keduanya memutar badan.


Deg.

__ADS_1


Mata Lunna terbelalak. "Yuri...kenapa dia ada di sini.. Jangan bilang...."


"Kristin!"


Yuri tak kalah terkejutnya. Pria itu menatap tajam Kristin yang nampak salah tingkah. Sedangkan Aoki terdiam di sebelah Yuri, tak mengerti situasi sekarang, belum lagi dia memang tidak bisa berbahasa inggris.


"Hehe, kenapa kau ada di sini Yuri?" Lunna menampilkan gigi-gigi putihnya. Berusaha mencairkan suasana yang mencekam.


"Seharusnya Yuri yang bertanya! Mengapa kalian ada di sini?" Yuri masih memandang sengit Kristin. Sebab beberapa jam yang lalu. Ia mendapatkan informasi dari Kristin bahwa Lunna sedang tidur di apartment-nya.


"Kau jangan memarahi Kristin, Yuri. Ini semua salahku, hehe. Aku ada syuting di Jepang." Lunna berjalan mendekati Yuri, kemudian berbisik.


"Apa Jack ada di sini?" tanya Lunna sembari melirik seorang wanita bertubuh munggil di samping Yuri melayangkan tatapan tidak suka padanya.


Yuri enggan menyahut, namun menarik tangan Lunna, menjauhi Kristin dan Aoki saling melemparkan pandangan.


"Iya, Tuan Jack ada di sini. Lunna A, pulanglah Yuri mohon, di sini tidak aman," kata Yuri menampilkan guratan kecemasan diwajahnya.


"Kau bicara apa sih?!" Lunna mengibaskan tangan Yuri. Ia mendengus sesaat karena Yuri sudah berani mengatur dirinya sama seperti Jack.


"Yuri mohon, Lunna jangan di Jepang. Lebih baik Lunna kembali ke LA."


"Tidak bisa! Aku ada syuting di sini, kau tidak punya hak!" Lunna melipat tangan di dada.


"Tapi Lunna, nanti Tuan Jack bisa meng–"


"Aku tidak peduli Yuri, maka dari itu kau harus tutup mulut! Jangan sampai Jack tahu aku ada di sini!" Tak mau berlama-lama Lunna bergegas meninggalkan Yuri.


'Aduh, bagaimana ini?! Jangan sampai Sensei tahu.'


Yuri dilanda kepanikan. Ia nampak grasak-grusuk, melihat kepergian Lunna dan Kristin tanpa bisa bernegosiasi lagi.


"Yuri, siapa wanita tadi?" tanya Aoki penasaran. Kedua matanya masih memandang mobil yang ditumpangi Lunna dan Kristin bergerak perlahan di ujung sana.

__ADS_1


__ADS_2