Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Sama-Sama Merindu


__ADS_3

Esok harinya. Kediaman Harlow nampak sunyi dan senyap. Seperti tak berpenghuni. Jika kemarin Lunna menangis tersedu-sedu meratapi kemalangan. Namun tidak hari ini, dia lebih banyak terdiam. Lunna pun bingung pada dirinya sendiri, mengapa perubahan moodnya berubah-ubah. Sedari pagi, ia mencari ponsel mininya namun tak kunjung ketemu.


"Dimana ponselku?!" Lunna menghentak-hentakan kaki sejenak kemudian melanjutkan pencariannya. Dia sangat kesal pada diri sendirinya karena tak dapat mengingat nomor handphone, Jack, Yuri ataupun Kristin.


'Pasti di tempat Daddy atau Grandpa!' Lunna mendengus kemudian duduk di tepi ranjang.


"Berpikirlah, Lunna. Kau harus menemukan cara agar keluar dari mansion ini! Titik!!!" Lunna berseru sembari mengepalkan kedua tangannya ke udara. Tiba-tiba pergerakkan tubuhnya terhenti tatkala mendengar suara pintu terbuka. Secepat kilat, ia merebahkan diri di kasur, berakting seperti orang yang tak berdaya.


"Nak, kau sudah makan?" Lily membawa nampan berisi makanan dan minuman, berjalan perlahan mendekati Lunna yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Hmm, belum Mom, aku belum lapar." Lunna merubah posisi tubuh dengan menyenderkan kepalanya di sandaran tempat tidur.


Lily duduk di tepi ranjang sembari mengusap punggung kanan Lunna. "Nak, makan lah sedikit, kalau kau tidak makan, Jack pasti akan marah padamu," ucap Lily. Hanya kalimat yang terlintas dibenaknya. Dia yakin jika menyebutkan nama Jack, Lunna akan makan.


'Kasihan Mommy, walau bagaimana pun, Mommy Lily yang paling baik di antara Daddy dan Grandpa, baiklah aku makan saja.'


"Mommy benar, aku harus makan, Jack pasti akan mencabikku kalau aku tidak makan."


Mendengar perkataan Lunna. Lily mengembangkan senyuman. Sepuluh menit pun berlalu, piring dan gelas Lunna sudah terlihat kosong.


"Mom, boleh kah Lunna meminta tolong?"


Lily mendekat, kemudian mengelus kepala Lunna. "Minta tolong apa?" tanyanya sambil merapikan helaian rambut anaknya.


"Ponselku Mom, tidak ada, bisakah Mommy meminta ponselku pada Daddy atau Grandpa," kata Lunna menampilkan mata memelas.


Lily tergugu, dilanda kebingungan, sebab Leon dan mertuanya tak memperbolehkan Lunna memakai ponsel untuk sementara waktu.


"Mom, please!" Lunna mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Nak, untuk saat ini Daddy dan Grandpa melarangmu memakai ponsel."


Lunna menarik nafas panjang, seketika terlintas satu nama yang dapat membantunya.


"Mom!"

__ADS_1


"Iya, Nak. Ada apa?"


"Bisakah Mommy menyuruh Darla kemari, aku sangat bosan, Mom."


Lily mengulas senyuman sembari mengangguk. Ia kebingungan dengan perubahan sikap Lunna. Kemarin, Lunna meraung-raung histeris saat mendapat informasi jika ia dan Jack sudah bercerai. Namun sekarang Lunna sudah terlihat lebik baik.


*


*


*


Bugh!!


"Awh! Kau gila atau apa Lunna? Mengapa meninjuku?" Darla baru saja menyelenong masuk ke dalam kamar, namun Lunna sudah melayangkan bogeman di tubuhnya. Beberapa menit lalu, ia mendapat pesan singkat dari Lily, Aunty-nya jika Lunna memintanya ke mansion.


Lunna tak langsung menjawab. Ia mendengus kasar, melipat tangan di dada.


"Lunna?!" Darla bagaikan patung manekin karena Lunna tak menghiraukan dirinya sama sekali.


"Apa?!" kata Lunna ketus.


"Aku memerlukan bantuanmu mengirim pesan pada Kristin untuk dia ke sini. Aku mau bertemu Jack." Lunna yakin jika Kristin dan Yuri saling mengirim pesan karena keduanya sudah berpacaran. Jadi dia berniat menanyakan kabar Jack. Ada perasaan aneh menjalar di hatinya. Entahlah, dia takut Jack kenapa-kenapa. Belum lagi dia sudah bercerai dengan Jack. Meskipun status ia dan Jack tak terikat lagi. Ia tetap mencintai Jack. Lunna yakin Grandpa telah melakukan sesuatu pada Jack.


"Whats?! Kau tidak gila, Kan, Lunna? Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk kemari." Darla geleng-geleng kepala sejenak.


"Iya, aku memang gila! Gila karena Jack!" Lunna menghela nafasnya.


'Apa Lunna tau, jika ia akan dinikahkan dengan seseorang.' Darla bermonolog di dalam hatinya.


"Aish, kau ini makan tuh cinta! Lagian kenapa kau mencintai musuhmu? Sudah jelas-jelas dia menganiayamu?" Sebelum kemari, Darla sudah mengetahui permasalahan Lunna di grup whatsapp keluarga.


"Hahaha, jangan lupakan kau juga yang bodoh karena cinta, kau menunggu Breslin atau bisa kita sebut paman lilin, agar cepat menduda." Lunna memutar bola mata ke atas.


Darla merengut kesal. Kisah cintanya pun juga miris menunggu cinta bertepuk sebelah tanganya itu agar cepat bercerai dari istrinya. Pria itu adalah Breslin, atau Darla panggil dengan sebutan Eslin, bodyguard sewaktu dia kecil dulu.

__ADS_1


"Aku menunggu dia menduda karena istrinya juga tak baik. Ah sudah lah, apa imbalannya jika aku membantumu?" tanya Darla to the point. Sejujurnya dia kasihan pada kisah cinta Lunna yang tak mendapat restu dari keluarganya itu.


Lunna menyeringai tipis. "Aku akan membelikanmu sepuluh truk es krim kesukaanmu!" sahutnya.


Darla mengembangan senyuman, lalu berkata,"Oke, deal! Awas saja kau tak menepati janjimu, aku beberkan rahasiamu pada Aunty Lily!"


"Katakan saja, dan aku juga akan memberitahu Mommyku, jika kau mencintai Breslin!"


"Si@l!" Darla melempar tas g*ccinya ke lantai. Namun detik kemudian ia segera mengambil tasnya lagi.


"Sekarang kau pulang buatkan aku juga jengkol, aku sudah lama tak makan, makanan favoritku itu. Lalu belikan aku juga makanan Jepang! Dan jangan lupa kirimkan pesan pada Kristin!" perintah Lunna bossy.


"Dasar sepupu laknat!!" Darla mendengus dan menutup pintu kamar dengan kuat.


Selepas kepergian Darla. Lunna berjalan menuju balkon, berdiri di pagar pembatas. "Hah, capek sekali berakting agar terlihat baik-baik saja. Aku harus menyusun rencana! Berjuanglah Lunna demi cintamu, tunggu aku Jack. Aku berharap kau baik-baik saja, Baby," katanya dengan mengedarkan pandangan ke bawah sana. Lunna dapat melihat bodyguard Grandpa dan Montero lalu-lalang menjaga mansion.


Di lain tempat.


Setelah kejadian Lunna di ambil paksa Simon. Jack benar-benar kacau. Dia seperti kehilangan arah. Bingung harus memulai dari mana. Perusahaannya mengalami penurunan saham dikarenakan ulah Simon dan Leon. Belum lagi, informasi yang didapatkan dari Yuri. Jika ia dan Lunna tak memiliki hubungan lagi. Jack seperti kehilangan separuh jiwanya. Yuri termenung, meratapi nasib Jack. Jack lebih banyak terdiam dan tak mau makan sama sekali.


Saat ini, Jack tengah duduk di balkon, menikmati semilir angin menerpa wajahnya. Pria itu menatap lurus ke depan. Jack merindukan tawa dan harum tubuh Lunna. Ia menarik nafas panjang, kemudian melirik peraduannya kala mengingat bayangan percintaan Lunna dan dirinya terekam jelas dibenaknya.


Detik selanjutnya. Jack beralih menatap pemandangan hutan di depan sana. "Aku merindukanmu,...."


Yuri menyelenong masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan. "Tuan, makan lah." Dengan perlahan Yuri meletakan nampan di atas nakas kemudian menoleh ke arah Jack.


Jack bergeming tak mengucapkan satu patah katapun. Tengah asik membayangkan wajah Lunna.


"Tuan, ini demi Lunna A. Yuri mohon, Tuan bisa memulai lagi dari awal, katakan saja semuanya pada Lunna. Alasan anda membalaskan dendam padanya. Lunna A, pasti kecewa jika Tuan, tak mau makan sama sekali," Yuri berucap pelan menatap punggung Jack.


Hening sesaat!


"Kau benar, Lunna pasti akan marah padaku, aku harus menjelaskan pada Lunna." Secepat kilat Leon memutar badannya kemudian berjalan, mendekati nakas, mengambil piring di atas nampan.


Seulas senyum tipis terukir di wajah Yuri, melihat Jack makan dengan lahap.

__ADS_1


'Sensei dan Justin akan datang kemari. Yuri akan memberitahu Tuan Jack di waktu yang tepat. Yuri harus melindungi Tuan Jack.'


Yuri mendapatkan informasi jika Sensei dan Justin akan ke Los Angeles. Ia yakin jika ada mata-mata yang membeberkan kejadian kemarin malam. Yuri takut jika Sensei akan melakukan sesuatu yang buruk pada Jack.


__ADS_2