Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Villain


__ADS_3

Untuk pertama kalinya. Justin melihat sang Mommy begitu ketakutan. Dengan perlahan ia mengusap punggung Erika. Lalu berkata,"Mommy, lihat apa?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Justin. Erika malah mengeratkan pelukannya. Justin semakin bingung dengan sikap Mommy-nya. Karena tak mau banyak bertanya kembali ia berusaha menenangkan Mommy-nya agar lebih tenang.


Melihat ketidakberdayaan Erika, Justin sangat tak tega, hatinya sakit. Ia jadi teringat aksinya kemarin ketika membunuh buah hati Jack. Apa ini karma untuknya. Entah lah, tapi yang jelas Justin amat menyesali perbuatannya. Karena iri pada adiknya membuat hatinya seperti iblis. Sekarang ibu dan anak itu saling memeluk satu sama lain.


Mozzy menghela nafas pelan melihat keduanya. Dia berharap dapat segera menemukan si pelaku. Padahal Mozzy sudah memeriksa CCTV di seluruh mansion namun hasilnya nihil. Yang ada dia malah menemukan sebuah kamera rusak di lantai empat dan lantai tiga di koridor yang menuju kamar Yuri dan Justin.


"Lebih baik Mommy beristirahat ya." Justin mengurai pelukan setelah melihat sang Mommy sudah tenang. Erika mengangguk kemudian berdiri dengan pelan.


"Mozzy, periksa semua ruangan tanpa terkecuali. Kita akan bertemu sepuluh menit lagi. Aku harus mengantar Mommy ke kamarnya."


"Baik, Tuan."


Justin menuntun Mommynya menuju kamar yang berdekatan dengan kamarnya. Sedari tadi perasaan Justin sangat tak karuan. Selepas kepergian Justin dan Erika.


Mozzy berlalu pergi hendak melakukan tugasnya. Sedangkan di ujung sana. Seseorang bersembunyi di balik pilar dengan senyum evilnya.


Sesuai perkataan Justin. Saat ini, Mozzy dan Justin duduk saling berhadapan.


"Bagaimana kau sudah mendapatkan petunjuk?" tanya Justin to the point.


"Hm, maafkan saya Tuan," jawab Mozzy apa adanya.


Justin menarik nafas kasar. "Hah..."


Justin telah mengetahui insiden tadi dari Mommy-nya. Erika mengatakan jika melihat seseorang berkeliaran di lantai empat. Ketika menikmati secangkir teh. Ekor mata Erika melihat siluet hitam berperawakan tinggi dan besar lalu lalang di belakang tubuhnya.


Erika tentu saja keheranan, semula ia mengira hanya berhalusinasi namun lama kelamaan tercium bau aneh dari siluet tersebut. Erika berpikir mungkin hantu saja atau apa. Akan tetapi dia tak mau menerka-nerka dan memilih mengabaikan siluet itu. Namun saat dia mengacuhkannya bayangan itu malah kembali mengacaunya dengan berlari-lari dari satu pilar ke pilar yang lain. Erika yang begitu ketakutan bergegas turun memakai lift.


"Justin-sama," panggil Aoki dari belakang.


Seketika Justin dan Mozzy menoleh bersamaan. Justin tersenyum tipis melihat Aoki mau menampakkan mukanya. Dia sedikit keheranan mengapa akhir-akhir ini Aoki suka mengurung diri di dalam kamar.


"Iya, ada apa Aoki?" tanya Justin.


"Mommy di mana?" Aoki menundukkan kepalanya tatkala di tatap begitu intens oleh Justin.

__ADS_1


"Mommy sedang tidur," jawab Justin cepat.


"Oh, di kamar mana? Aoki tidak menemukan Mommy di kamar yang biasa Mommy tempati."


"Di dekat kamarku, kau ingin menemuinya? Tapi sayangnya Mommy sudah aku suruh tidur, tadi ada seseorang yang ingin menyerang Mommy," kata Justin.


"Benar kah? Kasihan Mommy, iya, Aoki mau bertemu Mommy membahas masalah hubungan kita."


Mendengar perkataan Aoki. Justin beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Aoki.


"Hm, lebih baik besok saja ya." Justin mengelus kepala Aoki perlahan. Ia tahu jika Aoki belum menaruh hati padanya akan tetapi Justin bertekad akan membuat Aoki jatuh cinta padanya.


"Baik lah, kalau begitu Aoki kembali ke kamar dulu."


***


Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Penghuni mansion Harlow sudah berada di pulau mimpi. Berbeda dengan beberapa penjaga di depan, bersiap sedia melakukan tugasnya masing-masing. Mozzy dan kawan-kawannya tengah menikmati secangkir kopi hitam sambil sesekali menyinari hutan belantara di depan sana.


"Erika..." panggil seseorang dengan lirih tepat di telinga kanan Erika. Orang itu menatap tajam dan dingin pada wanita tua yang tengah tertidur pulas itu.


Tak mendapatkan balasan. Orang itu segera mengambil sebilah pedang di balik pakaiannya. Kemudian mengangkat tangannya ke udara.


"Mom!" panggil Justin menyelenong masuk ke ruangan yang minim pencahayaan. Dan dengan cepat menyalakan lampu di sisi kanan namun tiba-tiba seseorang berjubah hitam berlari cepat dari balik pintu.


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


"Argh!!!" teriak Justin menggelegar. Secara bersamaan pula pintu tertutup otomatis dari luar.


"Hahaha! Mati kau!!!" sahutnya dengan melototkan mata. Ia menyeringai tipis, melihat Justin tengah merosot ke bawah perlahan.


"Justin!!" Erika keluar dari tempat persembunyian di bawah meja, nampak tetesan darah mengalir di perut sebelah kirinya.


Justin menoleh. Kedua matanya terbelalak melihat sosok yang sangat ia kenal.


"Justin bangun, Nak." Erika memangku kepala Justin di atas pahanya. Wanita itu menangis melihat tubuh anaknya bersimbah darah.


Justin menyemburkan darah berkali-kali. Ia menatap sendu sosok yang telah menancapkan pedang hingga tembus ke bagian depan dadanya tadi.

__ADS_1


"Mengapa kau melakukan ini pada kami, Aoki?" tanyanya bingung dan penasaran.


"Hahaha! Mengapa kau sama bodohnya dengan Sensei! Kalian itu mengira TRIAD mau mempunyai hubungan dengan kalian! Haha, jangan bermimpi! Kalian itu tak sepadan dengan kami! Ah ternyata bersandiwara menjadi wanita pemalu dan anggun itu sangat lah menyebalkan! Asal kau tahu Justin, aku lah yang membunuh Sensei. Cih, pria miskin seperti Sensei tak sebanding dengan keluargaku yang kaya raya, termasuk kau, Justin! Jangan berharap dapat menjadi suamiku!"


Justin dan Erika tergugu mendengar perkataan Aoki barusan. Mereka enggan menyahut larut dalam kesedihan dan rasa sakit yang mendera tubuhnya.


"Tuan!!!" panggil Mozzy dari luar sambil berusaha menendang-nendang pintu kamar yang sialnya susah sekali untuk terbuka.


"Haha, maka dari itu kalian harus aku habisi!!!" Aoki kembali berlari mendekati Justin dan Erika. Namun dengan gesit Erika menghadang Aoki dengan mencekal pergelangan tangan wanita itu sejenak. Akan tetapi mungkin karena tenaga Erika yang lemah dan faktor umur juga, ia terjatuh ke lantai. Melihat ada celah, Aoki hendak menghunuskan pedang ke arah perut Erika.


Jleb! Jleb!


"Justin!" pekik Erika ketika melihat Justin bangkit dan melindungi Mommy-nya.


"Haha!" Aoki mundur beberapa langkah melihat ketidakberdayaan Justin.


Erika mendekat, kemudian menatap sendu putranya itu. "Nak, bangun, maafkan Mommy yang selalu tidak adil padamu, Mommy sekali lagi minta maaf, ini semua salah Mommy, karena membawa wanita iblis ini ke sini..." ucap Erika lirih dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


Justin menyentuh kedua pipi Mommy-nya lalu berkata,"Aku yang minta maaf karena tak bisa melindungi Mommy..."


"Kau tidak salah, Nak. Untuk apa meminta maaf, seharusnya Mommy yang melindungimu."


"Hahaha, lihat lah keluarga bahagia ini!" Sedari tadi Aoki menikmati tontonan dihadapannya. Wanita berparas khas Jepang itu seketika melepas jubah hitamnya dan rambut wignya yang panjang. Kini wujud Aoki terlihat jelas, rambut aslinya seperti seorang pria.


Alih-alih menanggapi perkataan Aoki. Justin menggengam erat tangan Mommy-nya. "Aku akan bertemu Daddy sebentar lagi Mom...."


"Tidak! Mommy tidak mengizinkanmu, jangan tinggalkan Mommy sendiri di sini!"


"Kalau begitu peluk aku, Mom, maka aku akan menemani Mommy di sini...." Justin mengecup sekilas punggung tangan kanan Erika. Dengan cepat Erika memeluk sang anak yang di sekujur tubuhnya berlumuran darah.


Detik selanjutnya.


"Justin!!!" raung Erika.


"Hahaha, tenanglah kau juga akan menyusul mereka!!" Aoki kembali mengangkat pedang.


Brak!!!

__ADS_1


Dor! Dor!


Sebelum Aoki melayangkan pedang ke tubuh Erika. Seseorang menembak Aoki sebanyak dua kali Secara bersamaan pula Erika ambruk di tempat.


__ADS_2