Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Hukuman Untuk Lunna


__ADS_3

Esok pagi. Mansion Harlow sedang diterpa kegaduhan sebab Jack ditemukan tak berdaya di ruang kamarnya. Tersangka utama, Lunna menyuruh Yuri membawa Jack ke ruangan khusus agar pria itu diberikan pertolongan secepat mungkin.


Saat ini Jack sudah mulai siuman di hidungnya di pasang masker khusus agar ia bisa bernafas menurut keterangan Dokter Rogue. Jack dilanda kepanikan semalam, hal itu lah yang membuatnya kejang-kejang. Selepas kepergian Dokter Rogue, Jack masih terbaring lemah di ruangan dan Sahara yang menemani pria itu. Lalu di mana Lunna? Yaps, perempuan itu memanfaatkan waktu dengan berendam di kolam renang.


"Lunna A, Yuri boleh bertanya?" Sedari tadi Yuri berada di dekat Lunna. Bukan apa, semalam dia tak tahu sama sekali apa yang terjadi di dalam kamar. Dia hanya ingat jika Lunna memintanya mengunci pintu kamar dari luar dan jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan dibuka sama sekali.


Lunna yang sedang berenang di tepian kolam, mendongakkan kepalanya ke atas.


"Boleh, mau tanya apa?" tanya Lunna dengan wajah angkuhnya. Walaupun dia tahu apa pertanyaan apa yang akan terlontar dari Yuri. Saat ini ia berpura-pura tidak tahu.


"Semalam Tuan Jack diapakan Lunna?" tanya Yuri penasaran tanpa menatap lawan bicara, sebab saat ini Lunna memakai bikini yang menampakan lekukan-lekukan tubuhnya.


Satu alis Lunna terangkat, tersenyum jahil sesaat, lalu berkata,"Rahasia, Yuri masih kecil, tadi malam Jack dan Lunna mendaki gunung." Nada suara Lunna terdengar mendayu dan sayu.


Yuri menarik nafas pelan kala mendengar suara Lunna. Seketika tubuhnya diliputi hawa panas dan tanpa sadar burung gagaknya di bawah sana menegang. Ia pun tak tahu mengapa bisa bangkit tiba-tiba. Tanpa banyak kata Yuri berjalan cepat menghindari Lunna.


Sedangkan Lunna terkekeh pelan, melihat tingkah Yuri. Sebagai wanita dewasa ia tentu saja mengetahui apa yang akan dilakukan Yuri selanjutnya. Dia mendesah pelan, teringat kejadian semalam. Yah, dia berencana membunuh Jack tanpa menyentuh.


Lunna pun menelepon Darla memesan dua buah kotak besar paket semur jengkol. Berhubung dia juga sudah lama tak mencicipi makanan kesukaannya itu. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, pepatah lama, yang artinya satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil sekaligus. Dan hasilnya dia kesampaian makan jengkol dan membalaskan dendamnya.


Jahat? Lebih jahat mana? Jack atau Lunna? Setidaknya skor seimbang jika ini sebuah permainan.


Lunna menoleh ke atas sesaat, melihat matahari mulai meninggi. Dia bergegas naik ke permukaan. Dan menyambar handuk di kursi santai kolam renang kemudian merebahkan diri di lonjer lounger itu. (Kursi rotan yang biasanya diletakan di area kolam renang)


Lalu mengambil kaca mata di meja kecil dan menaruh di hidung. Lunna segera memposisikan diri senyaman mungkin. Dengan mata terpejam dia menikmati semilir angin menerpa kulitnya.


"Bagus! Suamimu sedang sakit tapi kau malah bersantai-santai di sini!"


Sedari tadi, Jack berjarak beberapa meter dari Lunna. Ia memperhatikan gerak-gerik Lunna dengan seksama melalui kaca pembatas antara ruang tengah dan kolam renang. Dengan bantuan Sahara, pria itu menemui Lunna karena telah membuatnya tersiksa semalam. Dia hendak memberikan hukuman kepada Lunna.


Lunna menarik nafas pelan lalu menaikkan kacamata ke atas rambut. Kepalanya mendongak ke atas.


"Suami? Bukankah kita hanya menikah di atas kertas. Lagian kau seharusnya berterimakasih padaku. Karena berkat diriku, kau bisa beristirahat dengan tenang," sahut Lunna enteng tanpa memperdulikan wajah Jack yang sudah merah padam.

__ADS_1


Jack gamang, mengapa akhir-akhir ini merasa terbakar jika mendengar Lunna mengucapkan suami di atas kertas. Ia pasti tak bisa mengontrol emosi. Pria itu enggan menyahut namun melayangkan tatapan tajam.


"Heh, lancang sekali kau pada Tuan Jack!" Sahara berseru tanpa sadar. Wanita itu sedari tadi mengekori Jack. Dia mulai tersulut emosi melihat Lunna bertingkah semau hati.


Lunna tak menyahut ucapan Sahara memilih berpura-pura menguap, menganggap Sahara amat membosankan.


"Kau!!!"


Sahara hendak menjambak rambut Lunna namun segera ditepis Lunna. Dengan cepat Lunna beranjak, melipat tangan di dada, lalu melirik Jack yang terdiam membisu.


"Gundikmu ini benar-benar tidak tahu diri! Cih!"


Mendengar perkataan Lunna. Sahara melotot tajam hendak menggerakkan tangan lagi.


"Pergi kau!"


Jack mengusir Sahara. Seketika Sahara menghentikan gerakan tangannya. Bibirnya kelu ingin protes, namun, saat melihat sorot mata Jack yang begitu tajam, diurungkannya. Dengan gontai Sahara menunduk lalu berlalu pergi.


"Lunna, kau harus di hukum karena telah menganiayaku!" kata Jack selepas kepergian Sahara.


Wanita itu sebenarnya iba melihat wajah Jack yang nampak pucat. Akan tetapi, dia telan bulat-bulat rasa kemanusiannya itu saat mengingat tindakan Jack padanya. Jack sudah mengoreskan luka batin di hatinya. Pantang bagi Lunna mengasihi seseorang yang pernah membuatnya menderita. Rasa benci teruntuk Jack semakin bertambah besar di palung hatinya.


"Kau sikat semua toilet di setiap lantai terkecuali lantai empat," perintah Jack dengan ekspresi datar.


Lunna mengerlingkan mata sesaat. "Hanya itu?"


Dahi Jack berkerut samar. "Iya," kata Jack pelan. Dia sedikit heran mengapa Lunna tak pernah mengeluh sama sekali. Jika di pikir-pikir toilet di mansion lumayan banyak.


*


*


*

__ADS_1


Kini, Lunna sudah berganti pakaian dengan pakaian casual. Kali ini dia mengenakan hotpants berwarna hitam dan kaos mini setengah perut. Rambut panjangnya ia cepol hingga menampilkan leher jenjangnya. Wanita itu hendak menjalankan aksinya lagi. Tekadnya amat bulat agar terlepas dari belenggu Jack.


Dengan anggun dia melangkah menuju toilet di lantai satu, sambil memakai handscoon. (Sarung tangan karet panjang berwarna kuning)


Yuri menghentikan langkah saat melihat Lunna berjalan ke arahnya. Kedua matanya enggan berkedip mengamati penampilan Lunna yang membuatnya berdecak kagum sesaat. Ya, walaupun terdapat bekas luka dileher, Lunna tetap saja bersinar.


"Lunna mau ngapain?" tanya Yuri kepo tingkat Dewa.


"Lunna mau ehem ehem di toilet sama Jack-Jack!"


Lunna mengedipkan mata centil. Ia akan memancing Jack dan Yuri jika berpapasan agar mereka tak curiga sama sekali. Sekarang Lunna harus selalu waspada pada siapapun yang berada di mansion. Walaupun Yuri baik padanya, tak dapat dipungkiri bisa saja Yuri juga terlibat dalam rencana penyiksaannya kemarin.


"Ehem, ehem," Yuri bergumam sembari berkedip pelan. Karena polos, otaknya masih loading mencari kata ehem-ehem.


Lunna mendesah kasar. Kala melihat raut wajah Yuri kebingungan. "Sudah aku mau ke toilet, tidak usah kau pikirkan kata ehem-ehem itu." Lunna membentuk jari-jarinya dengan bahasa isyarat OK.


Yuri mengangguk patuh, lalu tersenyum sumringah. Lunna membalas dengan senyum palsu. Kemudian Yuri melenggang pergi meninggalkan raut wajah Lunna berubah dingin.


*


*


Sesuai rencana. Lunna hendak pergi ke toilet yang dekat dengan ruang rahasia Jack. Kini, wanita itu bersembunyi di balik pilar yang aman dari jangkauan CCTV. Dengan sabar ia mengintip sesekali di celah tiang kokoh itu.


Lunna menghela nafas kasar kala Jack tak juga keluar. Kemarin, dia tak mendapatkan petunjuk apapun di dalam kamar Jack. Jadi, dia memutuskan mencari, apa yang tak ia ketahui pula di ruang rahasia suaminya. Lunna yakin sekali jika di dalam bilik Jack menyimpan sesuatu.


Lama Lunna menunggu. Kaki Lunna sudah pegal-pegal, sembari sesekali melihat keadaan sekitar. Takut jika misinya ketahuan musuh sebelum dia menyerang.


Detik selanjutnya terdengar bunyi pintu terbuka di sisi sana. Lunna semakin merendahkan tubuh kala Jack keluar. Dia melihat dengan seksama kepala Jack celingak-celinguk sesaat lalu tangannya terulur menekan sesuatu di patung burung merak yang berada di sisi pintu berganda dan tinggi itu.


Push.


Secara otomatis, pintu berukiran kayu itu menutup. Dan Jack pun berlalu pergi.

__ADS_1


'Gotcha!'


Lunna tersenyum sinis melihat punggung Jack menghilang di balik lorong.


__ADS_2