Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jangan Masuk Lagi!


__ADS_3

Kedua mata Lunna tak berkedip, berharap kaki Jack segera bergerak. Belum lagi suasana di ruangan begitu hening. Sedari tadi, Lunna menahan diri agar tak mengeluarkan kegaduhan. Lunna merutuki dirinya sendiri, sebab menyantap jengkol terlalu banyak kemarin demi melancarkan aksi balas dendamnya. Alhasil ia sendiri yang kerepotan. Sekarang seluruh tubuh Lunna sudah basah dengan peluh keringat.


"Tuan," panggil Sahara memecah keheningan. Sepertinya wanita bertubuh semampai itu juga diterpa kebingungan dengan sikap Jack yang tiba-tiba terdiam.


Lantas tak ada sahutan sama sekali dari Jack. Pria itu masih bergeming di posisi semula. Lunna dapat melihat sendal rumahan yang biasa digunakan Jack. Berulang kali Lunna menelan ludahnya sendiri. Menetralisir rasa takut dan gugup yang melebur menjadi satu. Sekarang Lunna pasrah jika ketahuan menyelinap masuk ke dalam ruang rahasia Jack.


"Tuan Jack!" Seseorang menyelenong masuk ke dalam. Lunna mengenali suara itu, Yuri. Iya, pria itu mengapa dia berada di sini? Sekarang Lunna harus waspada terhadap semua orang yang berada di mansion termasuk Yuri. Pikiran negatif tentang pria berkebangsaan Jepang itu melayang-layang dibenaknya.


Pria itu tak menyahut namun segera melangkahkan kaki mendekati Yuri. Tak ada pembicaraan hening! Tanpa banyak kata ketiganya keluar dari ruangan.


Terdengar suara pintu menutup dengan pelan. Lunna sedikit bernafas lega. Tapi sekarang apakah ia bisa keluar dari tempat persembunyian dengan aman? Mengingat Jack atau siapapun itu bisa langsung masuk.


Lunna menimbang-nimbang sejenak, jadi dia akan menunggu sekitar satu jam. Takut, jika Jack, Sahara ataupun Jack kembali ke ruangan.


'Astaga, apakah aku bisa kentut sekarang?' Lunna bertanya pada diri sendiri. Sebab sekarang jantung Lunna berdetak cepat karena harus menahan gejolak di dalam perut dan di bokong.


Put... put..


Lunna mendesah pelan. Akhirnya ia bisa mengeluarkan gas di dalam perutnya dan tidak menimbulkan suara yang nyaring seperti biasa. Akan tetapi, Lunna mengerutkan dahi saat menangkap aroma tak sedap memenuhi ruang persembunyiannya.


'Si@l, bau sekali, hoek. Oh my God, pantas saja Jack-Jack sampai pingsan. Ternyata kentutku benar-benar bau.' Lunna membatin lagi, karena baru menyadari kentutnya sangat bau dan menyengat.


'Baiklah, untuk sementara waktu aku tidak makan jengkol! Maaf jengkol, Mommy terpaksa menghindarimu dulu.'


Sudah cukup lama Lunna bersembunyi di bawah meja. Tubuhnya serasa remuk dan kebas karena meringkuk di bawah meja. Mata Lunna bergerak ke segala arah, sepertinya sudah aman dan tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.


Dengan perlahan Lunna mengeluarkan tubuhnya lalu beranjak dan segera meraup udara di sekitar sembari menyeka keringat di dahi.


Nafas Lunna tersengal-sengal. Misinya kali ini hampir saja membuatnya terluka. Setelah mengatur tempo pernafasan ia bergegas membuka kembali lemari kecil. Dahi Lunna berkerut kuat tatkala mendapatkan lemari kosong.


'Whats?! Aku tidak salah lihat jelas-jelas tadi ada di sini!'


Lunna mengigit kuku-kukunya, bertanya-tanya mengapa benda tersebut hilang. Ia tentu saja tidak salah lihat, walaupun cahaya lampu ruangan temaram. Lunna dapat melihat dengan sangat jelas.


Deg.

__ADS_1


'Apa Jack tadi memindahkannya?' Seketika rasa takut melingkupi ruang hatinya. Saat mengingat Jack cukup lama berdiri tadi.


Tanpa banyak kata Lunna berjalan cepat ke ambang pintu memikirkan bagaimana caranya keluar. Setidaknya Lunna bisa mengelak nanti. Kepala Lunna celingak-celinguk mencoba mencari celah sembari memutar otaknya.


Seketika ekor mata Lunna memicing melihat tuas di sisi kiri pintu berganda itu. Tanpa pikir panjang Lunna menarik tuas tersebut.


Push.


Lunna bersorak di dalam hati dan bergegas keluar ruangan. Sebelum melangkah kepala Lunna mendongak ke atas melihat pergerakkan kamera. Ia masih diliputi rasa takut sebab bisa saja radar kamera merekam dirinya tengah memasuki ruang rahasia Jack.


*


*


*


"Fiuh...."


Lunna mendesah sesaat setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi. Kini, dia sudah berada di dalam kamarnya. Wanita itu bernafas lega namun sekaligus keheranan mengapa Yuri datang diwaktu yang tepat. Belum lagi gelagat Jack yang cukup aneh. Lunna berharap Jack tak menaruh rasa curiga kepadanya. Kalaupun iya, dia yakin menghabisi Jack dengan cara yang lebih brutal.


Lunna mengeleng, mengusir pikiran bodohnya.


"Aku bingung mengapa ada bingkai foto Daddy dan seorang wanita di ruangan Jack ya?"


Yaps, Lunna melihat bingkai foto Daddy-nya dan seorang wanita yang tidak ia ketahui siapa? Seandainya saja ia sempat memotret bingkai foto tadi, pasti dia akan menanyakan langsung kepada Daddy-nya.


...............


Esok hari. Cahaya matahari menyinari ruang kamar Lunna. Wanita itu melenguh sejenak kala sinar matahari menerpa wajahnya. Tubuh Lunna mengeliat lalu membuka perlahan kelopak matanya sembari menguap. Menyipitkan mata lalu mengangkat satu tangannya menghalau cahaya masuk ke dalam retina.


"Hah, aku mau berkerja hari ini!" Lunna berseru sambil mengangkat satu tangan ke atas. Seulas senyum tipis terukir diwajahnya.


*


*

__ADS_1


*


Lunna tersenyum sumringah kala Mommy-nya akan ke sini dalam waktu dekat. Kemarin, Lunna mendapatkan telepon dari Lily menanyakan keadaannya. Sebagai anak yang tak mau membuat Mommy-nya khawatir. Lunna berbohong dengan mengatakan dia baik-baik saja. Dia tak mau membuat Lily cemas. Karena Mommy sambungnya itu sangat bawel dan cerewet jika mengetahui dirinya sakit atau apa.


Lama Lunna merias diri di depan cermin karena harus memoleskan foundation di area leher agar bekas lukanya tak tampak. Sekitar sepuluh menit berlalu dia sudah menyamarkan bekas luka dan sudah memakai long dress berwarna putih.


Kini, Jack dan Lunna sudah berada di dalam mobil hendak menuju tempat lepas landas helikopter. Di sepanjang jalan keheningan meliputi kendaraan roda empat itu. Sedari tadi, tak ada yang memulai pembicaraan.


Yuri melirik Jack dan Lunna secara bergantian. Berulang kali pria itu menarik nafas berharap satu diantaranya berbicara. Yuri dilanda kebingungan saat Lunna mendiamkan dirinya hari ini. Wajah Yuri nampak sedih karena sang idola seakan memberi jarak padanya.


"Lunna A..."


Entah keberanian dari mana, Yuri memanggil Lunna. Lunna menoleh, lalu berkata,"Iya."


"Kenapa Lunna A tak mau berbicara dengan Yuri," kata Yuri dengan raut wajah cemberut.


Dengan wajah datar, Lunna kembali berkata,"Lunna sedang badmood karena datang bulan, bukannya Lunna tak mau berbicara dengan Yuri."


Hanya alasan itu yang terlintas dibenaknya. Padahal memang benar dia sengaja memberi jarak dan batasan. Setelah mengingat kejadian semalam, Yuri bisa jadi musuh di dalam selimut. Lunna harus selalu waspada.


Seketika raut wajah Yuri berubah."Benarkah?"


"Iya, sorry, Yuri."


Yuri mengangguk seraya tersenyum lebar. Dia tentu saja tahu suasana hati wanita ketika datang bulan bisa berubah sewaktu-waktu. Dia mengetahui hal itu dari melihat tingkah laku kakak perempuan dahulu di Jepang yang kerap kali marah tidak jelas dan terkadang bisa menangis tiba-tiba jika sedang datang bulan.


"Kau yakin?"


Akhirnya Jack membuka suara. Sedari tadi pria itu mendengar obrolan Lunna dan Yuri tanpa menimpali ataupun menyela.


Lunna menjawab tanpa menoleh,"Iya yakin, aku sedang datang bulan, jadi jangan membuat masalah denganku!" kata Lunna ketus, padahal tanggal menstruasinya sudah lewat.


"Hmm, bukan karena hal lain?" Nada suara Jack terdengar dingin dan tajam.


Seketika Lunna merasakan hawa di dalam mobil berubah. Tanpa mengubah ekspresi wajah, Lunna berkata,"Bukan, aku memang datang bulan!"

__ADS_1


Jack tak menyahut perkataan Lunna. Keduanya pun tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Tiba-tiba Lunna menegang tatkala Jack menggeser tubuh dan mendekatinya. Lunna dapat merasakan deru nafas Jack menerpa rambut panjangnya. Pria itu mendekatkan bibirnya ke daun telinga Lunna, kemudian berbisik.


"Aku cuma mau mengingatkan, jangan masuk lagi ke dalam ruanganku. Aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari kemarin."


__ADS_2