
...Warning (18+++)...
...----------------...
Mata Jack menelisik keadaan sekitar tanpa menghentikan gerakan pinggulnya. Ekor matanya memicing, melihat sosok berpakaian serba hitam, berjalan cepat, menjauhi tempat penginapan.
'S*it! Siapa mereka? Apa suruhan Sensei? Tidak mungkin, bukanlah Sensei tak berurusan dengan ninja.'
Jack beralih menatap Lunna yang sedang memekik nikmat, kala tubuhnya di hujam bertubi-tubi oleh rudal Jack.
"Ah, Jack!" Tubuh Lunna bergetar hebat, tanda pelepasan pertama baru saja terjadi. Jack yang merasa tidak aman mengajak Lunna untuk menyudahi permainan dan melanjutkan di kamar saja.
"Baby, di kamar saja ya, di sini sangat tidak nyaman," kata Jack sembari mengangkat tubuh Lunna ala bridal style. Lunna mengalungkan kedua tangannya di leher Jack dan mengangguk patuh.
Setelah tiba, di kamar Lunna. Jack segera merebahkan istrinya dengan perlahan di tempat pembaringan. Kemudian membuka kain yang melekat di tubuh Lunna.
"Kau sangat cantik, baby, dan nakal, mengapa kau keluar?" tanya Jack lalu mengecup sekilas bibir ranum Lunna.
Lunna merengut kesal. "Aish, aku bukan anak kecil, kapan lagi aku akan jalan-jalan Jack!"
Tanpa Lunna sadari rona merah nampak jelas di kedua pipinya. Entah mengapa sekarang Lunna merasa jatuh terlalu dalam di lingkaran cinta. Ia menyadari selalu merindukan Jack akhir-akhir ini. Mata Lunna membola, melihat Jack membuka kain yang melilit di tubuh beratletis itu. Ia memalingkan muka ke samping, melihat anaconda milik Jack sangat besar dan panjang.
Jack membungkuk, membaringkan diri di samping Lunna yang kini tengah menyembunyikan wajah memerahnya.
"Baby, kenapa? Aku di sini." Jack tersenyum tipis, berpura-pura tidak tahu.
"Baby." Jack bermain di pucuk Lunna. Wanita itu seketika mendesah mendapatkan serangan mendadak.
"Jack, aku capek loh, hari ini baru saja datang ke Jepang," protes Lunna karena tubuhnya memang benar-benar remuk.
Jack tak mengindahkan perkataan Lunna malah memasukan jarinya ke inti tubuhnya Lunna. Lunna tersentak, kala merasakan sensasi yang berbeda.
"Ahh, Jack please!" Jack melilitkan lidahnya di pucuk istrinya yang sudah memerah akibat permainannya di pemandian tadi, jari-jemarinya tak berhenti bergerak di bawah sana.
Sekarang tubuh Lunna melengkung ke atas dengan meneriakan nama Jack berkali-kali. Detik selanjutnya sebuah cairan keruh mengalir di inti tubuhnya.
Lunna terkulai lemas. Beralih menatap Jack yang sedang memandanginya juga.
Kedua mata Jack sudah berkabut gairah. Dengan cepat ia mengubah posisi badan lalu mengusap perlahan pipi Lunna.
__ADS_1
"Baby, kalau nanti aku suruh pejamkan mata, pejamkan saja ya," kata Jack lembut. Mendengar suara Jack yang begitu syahdu. Lunna mengangguk seraya tersenyum tipis.
Sebelum mendorong tubuhnya, Jack mengecup kembali leher Lunna dengan pelan.
"Baby, kau sangat cantik," kata Jack menatap lekat pada wanita yang sudah membuatnya dimabuk kepayang.
Lunna membalas dengan menatap Jack penuh damba. Pusara mata Jack membiusnya sejenak. Seketika ia lupa jika tubuhnya tadi remuk karena beraktivitas seharian. Perlakuan Jack amat lembut akhir-akhir ini di saat mereka sedang bercinta.
"Baby, sebenarnya berapa banyak pria yang sudah mencium bibirmu?" Jack sesekali memainkan lidahnya di area favoritnya.
"Ahh... dua saja, mantanku Robert dan Jack-Jack," sahut Lunna diiringi dengan kekehan saat mengucapkan nama Jack.
Mendengar hal itu, ada rasa bangga karena hanya Robert dan dirinya. "Kau nakal ya, menganti nama ku sesuka hati." Ia mengecup sekilas bibir Lunna.
Lunna enggan menyahut. Karena dia benar-benar mode minta di manja.
"Maka dari itu, kau harus dihukum malam ini,"desis Jack di telinga Lunna, lalu satu tangan Jack terulur di bawah sana mengarahkan ular kadut ke sarangnya.
Jleb!
"Ahhhh!! Jack, pelan-pelan ya, aku mohon." Suara Lunna terdengar memelas.
Jack menggerakan tubuhnya dengan perlahan-lahan sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Entah mengapa ia merasa sedang diawasi. Dia yakin sekarang yang menyerang Lunna adalah Sensei tapi pria tua itu tak menggunakan anak buahnya melainkan orang lain. Jack pun tak tahu siapa itu. Ia akan mencari tahu sendiri dengan memancing umpan sembari menikmati lembah surgawi.
Lunna berteriak tatkala Jack menaikkan tempo permainan tak seperti tadi. Tanpa sadar kuku-kuku Lunna mengores punggung Jack.
"Ahh, baby," Lunna meracau sendiri, memanggil Jack dengan sebutan baby.
Jack semakin bersemangat mendengar suara nan syahdu Lunna, membuatnya tak berhenti menghentakan tubuhnya.
"Arghh...ah.." Jack dan Lunna menggeram rendah saat keduanya bersamaan mencapai puncak kepuasaan. Jack masih mengeluarkan semua bibit-bibit di bawah sana. Dada suami istri itu naik dan turun berusaha meraup udara di sekitar. Nampak peluh keringat menghiasi tubuh polos keduanya.
Detik selanjutnya. Secepat kilat Jack mengangkat tubuh Lunna, secara bersamaan pula sebuah busur panah menembus dinding penginapan khas Jepang tersebut.
Tak!
"Baby, tutup matamu ya." Kini, Jack berdiri dengan memegang kedua paha Lunna. Sedangkan Lunna mengalungkan tangannya di leher Jack sembari mengatup mata.
'D*mn, siapa yang berani denganku? Aku yakin mereka klan ninja!' Pinggang Jack bergerak pelan lalu berjalan ke dinding sebelah kanan saat melihat busur panah kembali dilontarkan dari luar.
__ADS_1
Tak!!
Dahi Lunna berkerut samar saat menangkap suara yang amat asing.
"Jack, suara apa itu?" Lunna bertanya setelah Jack menempelkan tubuhnya di dinding.
"Bukan apa-apa, baby, hanya suara dari luar sana." Jack menghujam tubuh Lunna dengan cepat agar wanitanya tak kembali bertanya lagi. Alhasil Lunna kembali memekik nikmat. Saat ini, Jack menghentak lebih kuat dan cepat sampai-sampai Lunna kewalahan mengimbangi Jack. Terjadilah pelepasan kedua. Jack melabuhkan kecupan di kening Lunna yang sudah banjir dengan keringat.
"Jangan buka matamu, sampai ku suruh buka."
Alih-alih bertanya Lunna menurut, karena jujur saja dia juga keletihan dan ingin segera tidur. Jack memindahkan Lunna lagi ke tempat pembaringan lagi.
Tak!!!
Busur panah kembali menembus dinding, Jack menggeram kesal di dalam hati. Untung saja ia dengan cepat melindungi Lunna dengan berpindah-pindah tempat.
'B3debah, kau salah bermain denganku. Aku harus menyelesaikan permainanku dan membuat Lunna tertidur.'
Jack membalik tubuh Lunna lalu menaruh bantal di perut istrinya. Posisi Lunna sekarang tertelungkup di kasur. Wanita itu memekik kala Jack memasukkan rudalnya dari belakang.
"Ahh, Jack!"
Lunna mengangkat dagunya ke atas. Sedangkan Jack bergerak cepat tanpa memperdulikan permintaan Lunna sedari tadi yang mengatakan untuk lebih pelan. Jack menyusuri punggung Lunna seraya menghirup aroma tubuh Lunna yang sudah bercampur keringat yang begitu memabukkan baginya.
"Baby...." Lunna tanpa sengaja membuka matanya lalu menoleh ke samping, melihat Jack tersenyum tipis kemudian menciumnya tiba-tiba.
"Kau sangat seksi, baby, kau milikku!" desis Jack setelah melepaskan lilitan lidahnya.
"Sekarang tutup matamu lagi," sambungnya sembari menuntun Lunna mengubah posisi badan menjadi nungging lebih tepatnya guk guk style.
Secepat kilat Jack memasukkan rudalnya dan memacu lebih cepat dari sebelumnya. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Tak ada lagi suara ******* yang terdengar di bilik kamar Lunna. Wanita itu sudah tertidur pulas dengan memeluk erat sembari menaruh kepalanya di dada Jack. Nampak beberapa busur panah menghiasi dinding-dinding kamar Lunna.
Sedangkan Jack belum terlelap. Jack tengah memandangi langit-langit kamar. Seulas seringai tipis terbit diwajahnya tiba-tiba, jika benar Sensei dalang di balik penyerangan. Ia sangat kecewa sebab Sensei bertindak semau hati. Matanya beralih ke samping. Dengan perlahan Jack mencari ponsel di dalam kimononya yang tergeletak di sisi kanan.
"Hallo, Yuri, kau di mana? Kemarilah ke penginapan Lunna. Lunna sudah tidak aman." Jack memutuskan sambungan tanpa mendengarkan balasan Yuri.
"Aku mencintaimu, Lunna."
Sebuah ungkapan cinta yang ia utarakan namun Lunna tak bisa mendengarkan. Cukup lama Jack melabuhkan kecupan di pucuk kepala kemudian memeluk Lunna dengan begitu erat.
__ADS_1