Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Seandainya


__ADS_3

Keesokan harinya. Jika semalam Lunna yang memimpin permainan. Tapi tidak hari ini, melainkan Jack lah yang menghujam tubuh Lunna bertubi-tubi padahal Lunna baru saja terbangun dari tidurnya. Namun, Jack malah menerkamnya layaknya ia adalah makanan pembuka di pagi hari.


"Ahh, baby, sudah, hari ini aku harus syuting loh." Lunna memperingati agar Jack tak membuatnya kelelahan.


"Five minutes! Okay?" kata Jack dengan nafas yang terengah-engah.


Lunna merengek sesaat, lalu berkata,"Tubuhku semuanya sakit baby, semalam kan sudah."


"Semalam, Kan? Pagi ini belum, baby." Jack kembali menggerak badannya hingga Lunna memekik lagi untuk kesekian kalinya.


Hingga waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Jack menyudahi pergulatan panas mereka saat melihat Lunna keletihan. Lunna meringis sejenak saat inti tubuhnya masih terasa perih. Menggeleng pelan karena Jack ternyata sangat buas. Sepuluh menit yang lalu, Jack pamit undur diri terlebih dahulu karena ada urusan sebentar dan akan kembali sore hari nanti.


Kini, Lunna dan Kristin menuju lokasi syuting yang tak jauh dari tempat penginapan. Lunna memejamkan matanya sesaat di dalam mobil. Rasa letih masih menderanya. Kristin yang duduk di sampingnya, mengeleng pelan, melihat leher dan tubuh Lunna dipenuhi jejak-jejak permainan Jack. Tadi, Lunna meminta bantuan kepadanya untuk mengoles foundation di belakang punggung Lunna. Kristin tak habis pikir, apa Jack dan Lunna tak lelah? Entahlah, padahal ia hanya beberapa ronde dengan Yuri sudah membuat tubuhnya benar-benar remuk.


Lima belas menit berlalu. Lunna dan Kristin telah tiba di tempat tujuan. Dengan anggun keduanya keluar dari dalam mobil. Kemudian menyapa satu-persatu tim kru di lokasi syuting.


Setelah berbincang-bincang bersama tim dan membaca script film. Lunna segera melakukan pengambilan scene pertama.


*


*


*


Saat ini, Lunna sudah selesai dengan syuting filmnya. Wanita berambut panjang itu menyeka peluh keringatnya karena cuaca hari ini sangatlah panas. Sesekali, Lunna menyeruput soft drink berwarna hitam pekat. Dia mendesah pelan, baru saja terpisah dengan Jack sudah membuatnya merindukannya. Dia sedikit bingung, mengapa begitu sensitif dan begitu melow.


"Hah...." Lunna menyenderkan kepalanya di sofa empuk. Ia sedang menunggu Krisfin yang sedang berbicara pada Mr. Demian di ujung sana.


Seketika Lunna beranjak, lalu berkata,"Fiuh, lama sekali Kristin." Dengan cepat mendekati Kristin dan Mr. Demian yang tengah asik bercengkarama ria. Begitu melihat gerakan mata Lunna, Kristin peka bahwa artis-nya itu sudah kecapean. Tak mau membuat mood Lunna berantakan, Kristin menyudahi pembicaraan.


Saat ini Lunna dan Kristin berada di dalam mobil hendak kembali ke penginapan. Tak ada pembicaraan di sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Kris, kita makan dulu yuk ke restaurant Jepang, aku masih lapar," kata Lunna tiba-tiba memecahkan keheningan di dalam mobil.


Kristin yang tengah menikmati panorama kota Yokohama di siang hari, menoleh ke samping.

__ADS_1


"Kau tahu restaurant yang enak di sini?" Kristin penasaran sebab dia tak mengetahui tempat makanan Jepang yang enak di Yokohama.


Lunna melirik sekilas, kemudian berkata,"Tahu dunk, Darla semalam mengatakan padaku ada restaurant yang menarik di sini."


Kristin nyengir kuda. "Oke deh, kita ke sana sekarang, aku juga lapar, hehe," katanya diiringi kekehan kecil.


Lunna mengangguk, lalu meminta sang supir di depan kemudi mengantarkan mereka ke tempat yang ingin mereka datangi.


Tak membutuhkan waktu lama. Lunna dan Kristin telah tiba di restaurant yang menyajikan makanan seafood khas Jepang. Mata Lunna berbinar-binar menatap daftar menu dihadapannya. Dengan cepat ia pun memesan makanan yang enak menurutnya. Kristin juga sama, ia sangat antusias melihat menu daftar makanan yang mempunyai banyak pilihan. Setelah selesai memesan, keduanya mencari tempat duduk yang nyaman.


Banyak pasang mata mulai menyadari kehadiran Lunna, membuat sebagian masyarakat Jepang meminta foto padanya. Dengan senang hati, Lunna meladeni fans-nya itu.


Sembari menunggu makanan datang, Lunna dan Kristin bercengkrama ria satu sama lain.


"Lun, aku masih penasaran mengapa kau semalam sangat antusias ingin membuat Jack jatuh cinta padamu?" tanya Kristin di sela-sela pembicaraan. Semalam, ia belum sempat menginterogasi Lunna mengapa artis-nya itu tiba-tiba ingin membeli pakaian dinas malam.


Lunna menarik nafas panjang. Air mukanya seketika berubah sendu. "Jack tidak mencintaiku, Kris."


Kristin tersentak sekaligus keheranan. "Whats?! Kau sedang bercanda, Kan?" tanyanya dengan mimik muka seakan tak percaya.


"Tapi Lunna, menurutku Jack juga mencintaimu, aku bisa melihat sendiri dari cara dia memandangimu, Lun. Ah aku tidak percaya, pasti kau sedang meng-prank aku, Kan?" Kristin masih diselimuti rasa tak percaya. Wanita itu sangatlah yakin dengan feeling dan intuisinya jika Jack juga menaruh hati pada Lunna.


"Aish, kau ini. Kurang kerjaan sekali aku mengprank dirimu, tidak lah. Aku tidak tahu, Kris tapi perlakuannya padaku, memang berbeda dengan perkataannya, aku bisa merasakannya. Tapi semalam dia mengatakan tidak mencintaiku."


Kristin tergugu, melihat pancaran mata Lunna tersirat kesedihan. Ingin sekali ia mengatakan bahwa Jack sepertinya sudah memiliki kekasih, karena kemarin melihat Jack berjalan bersama seorang wanita, tapi Kristin pun masih diterpa dilema, takut jika praduganya salah, siapa tahu saja wanita itu teman atau sepupu Jack. Kristin masih mencoba berpikiran positif. Suasana seketika hening sejenak.


"Hmm jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Seulas senyum kecil terukir di wajah cantik Lunna. "Aku akan membuat Jack jatuh cinta padaku, bagaimana pun caranya," katanya angkuh.


Kristin mengembangkan senyuman melihat sorot Lunna tak sendu seperti tadi. Berdecak kagum sesaat dengan pola pikir Lunna. Jika kebanyakan wanita pasti akan mundur perlahan-lahan saat mengetahui pujaan hatinya tak menaruh rasa padanya tapi tidak bagi Lunna. Sel-sel kecil Kristin bingung apa saja isi kepala Lunna itu selain semur jengkol dan makanan.


"Baguslah, aku akan membantumu sebisa mungkin tapi jangan mendadak seperti semalam!" Kristin memutar bola matanya.


Lunna malah membalas dengan tertawa kecil. "Haha, sorry, Kris, habisnya aku harus kejar setoran agar aku cepat hamil."

__ADS_1


Kristin berdecih. "Iya, iya, whatever!"


"Kris, aku mau ke toilet sebentar ya," kata Lunna sembari beranjak.


Kristin membalas dengan mengangguk. Selepas kepergian Lunna. Ia menyambar ponselnya hendak menanyakan keberadaan Yuri. Entah mengapa ia sangat merindukan Yuri. Setelah malam panas kemarin. Yuri dan Kristin memutuskan untuk menjalin kasih. Setelah mendengarkan penjelasan Yuri, hati Kristin berbunga-bunga ternyata gayung cintanya bersambut.


Kristin memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Lunna. Tanpa sengaja ia melihat sosok pria yang sangat dikenalinya bersama dua orang wanita di ujung sana baru saja keluar dari sebuah ruangan VIP. Mata Kristin membola.


'Cih, dasar Jack! Kau sangat keterlaluan, aku penasaran siapa wanita itu." Kristin memperhatikan gerak-gerik Jack sedang menatap datar wanita paruh baya di sebelah tubuhnya.


'Apa itu ibu Jack?" Kristin tengah menebak-nebak.


Seketika wanita paruh baya itu memutus kontak matanya dan berjalan menuju toilet, sedangkan Jack dan wanita bertubuh munggil itu keluar dari restaurant.


***


Bruk!


"Awh!" Erika mengaduh kesakitan sebab lantai menuju toilet sangat licin dan tanpa sengaja ia pun terpleset.


"Oh my God, anda tidak apa-apa, Nyonya!" Seorang wanita berpakaian trendy berjalan tergesa-gesa hendak membantu Erika yang tengah berusaha bangkit berdiri.


Erika tersenyum tipis, melihat sosok wanita berparas bule sama seperti dirinya tengah memapahnya untuk berdiri.


"Terimakasih," kata Erika tulus. Setelah wanita berparas cantik itu merapikan sesaat kimono Erika yang nampak kotor sedikit.


Sang wanita itu membalas dengan tersenyum lebar.


"Baiklah, Nyonya, lain kali berhati-hatilah, aku pamit dulu," katanya sebelum melangkah.


Erika tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Iya, kau juga berhati-hati, nona manis."


"Baik, aku permisi dulu, Nyonya." Sang wanita melemparkan senyuman sesaat kemudian berlalu pergi.


'Cantik sekali, seandainya saja aku memiliki seorang anak perempuan seperti dia, pasti aku sangat beruntung.' Batin Erika melihat punggung sang wanita menghilang di ujung sana.

__ADS_1


__ADS_2