Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Extra Chapter - Truth


__ADS_3

"Apa maksudmu? Apa kau meninggalkan mayat Jeff di hutan? Tanpa menguburnya begitu?" tanya Simon sambil menepuk pundak anaknya.


Leon melirik sekilas, sebelum bibirnya membuka ia menarik nafas panjang.


"Dad, aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu, karena aku di malam itu melihat sosok pria kecil bersama Jeff. Aku tidak tau itu Jack ataupun Justin. Asal Dady tau, aku tidak pernah membunuh Jeff. Malam itu, aku hanya menembaknya di bagian paha saja. Dia masih bernafas, dan memohon pengampunan dariku, saat itu aku teringat dengan ketiga anak laki-laki ku juga Dad. Aku tidak jadi membunuhnya, memilih pergi meninggalkan Jeff di kegelapan malam. Sewaktu aku pergi pun, dia masih hidup dan tak lupa mengucapkan terima kasih padaku." Leon kembali menghirup udara lagi sembari menerawang ke belakang sejenak.


"Berarti di malam kejadian Jeff masih hidup? Mengapa kau berbohong dan mengatakan membunuh Jeff?" tanya Simon semakin bingung dan heran karena baru mendapatkan sebuah fakta penting.


Leon mengangguk lalu kembali berkata,"Aku mengikuti naluriku Dad. Ada seseorang yang ingin menjadikan ku kambing hitam, aku pun bingung saat mendapatkan kabar jika Jeff meninggal tragis. Begitu mendengar hal itu, aku memerintahkan Maximus dan Eslin untuk mencari informasi lebih lanjut mengenai kabar tersebut. Tapi hasilnya nihil, tak ada jejak-jejak yang tertinggal di lokasi kejadian. Aku malah penasaran dengan orang terdekat Jeff. Entah mengapa aku merasa Jeff masih hidup sampai sekarang, bisa saja dia selalu berada di dekat kita..." Kalimat akhir yang dilontarkan Leon terdengar pelan dan lirih.


Hening sesaat.


Baik Leon dan Simon sama-sama hanyut dalam pikirannya masing-masing. Keduanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi sedikitpun.


"Kalau pun pradugamu benar jika Jeff masih hidup, di mana dia sekarang? Dan siapa yang kau curigai Nak?" tanya Simon semakin dibuat penasaran.


*


*


*


"Ugh, kenapa Eslin belum melihat story instagramku sih?!" Saat ini Darla tengah duduk di kursi kayu sembari mengetik pesan di whatsapp hendak menanyakan kegiatan Eslin seperti biasanya. Ya, walaupun Eslin hanya membaca dan tak berniat membalas pesan dari Darla. Akan tetapi Darla tak menyerah sedikitpun malahan dia semakin tertantang.


"Ih, apa dia lagi sama dedemit itu ya!" Darla mendengus kemudian menghapus pesan yang baru saja dia kirim.


"Darla!" teriakan Lily dari samping membuat Darla menjatuhkan ponselnya.


"Aunty! Ngeselin banget sih!" Darla membungkukan badan seraya mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Hehe, serius amat sih! Kau sedang melihat apa? Aplikasi dating?" Lily beralih mengedarkan pandangan ke depan.


"Idih, ngapain coba pakai aplikasi itu, nggak banget!" cerocos Lunna sembari memotret es krim dan minuman bir di atas mejanya kemudian memposting foto itu di sosial media dengan cepat.



Lily segera duduk dihadapan Darla sembari kepalanya celingak-celinguk menelisik sesuatu. Sedari tadi dia merasa ada yang kurang. "Darla! Di mana si kembar?!" pekiknya setelah menyadari jika cucu-cucunya tak bersama Darla.


Darla menoleh seraya menunjuk ke depan. "Tadi di sana..." ucapnya lirih manakala si kembar tak ada di penglihatannya juga.


"Dimana Darla?! Kau jangan bercanda, jelas-jelas di sana tidak ada mereka!" Lily mulai panik. Dia segera beranjak kemudian mengedarkan pandangan di keramaian pantai.


Darla pun melakukan hal serupa. Gurat kekhawatiran nampak jelas diwajahnya. "Tadi ada di sana Aunty, mereka sedang bermain pasir," kata Darla sembari tak berhenti mencari si kembar.


"Darla! Mengapa kau meninggalkan mereka ha!? Mereka itu masih kecil, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka?! Kau sangat ceroboh Darla!" Lily mendengus kasar merutuki keteledoran Darla.


Darla tergugu. Dia bersalah karena telah melalaikan tugasnya dalam menjaga si kembar.


Lily dan Darla menoleh. "Si kembar hilang!!!" teriak keduanya serempak.


***


Bruk!


"Awh!"


"Irina!" teriak Icarus dan Ivan bersamaan melihat sang adik tersungkur ke pasir karena tak sengaja menabrak tubuh seorang pria tua dihadapannya.


Pria itu menoleh, kemudian mengangkat tubuh munggil Irina. "Kau tidak apa-apa, little bunny?" tanyanya seraya membersihkan badan Irina.

__ADS_1


Irina tersenyum simpul. Lalu berkata,"Hehe tidak apa-apa, sehalusnya Ilina yang minta maaf, kalena tadi nablak." Pria tua itu mengulas senyum mendengar perkataan Irina.


Icarus dan Ivan memperhatikan dengan seksama pria tua itu.


"Irina, kau tidak apa-apa, Kan?" tanya Icarus khawatir.


"Tidak apa-apa, Kak."


"Maaf, Mister. Adikku memang sangat nakal! Apa kah permohonan maafnya diterima. Saranku sih, tidak usah dimaafkan," cerocos Ivan dengan tersenyum jahil.


"Ih! Ilina tidak nakal tau!" Irina melipat tangan di dada dengan muka tertekuk sempurna.


Mendengar hal itu pria tua itu semakin menebarkan senyuman. "Akan aku maafkan tapi dengan satu syaratnya," katanya.


Mata Irina berkedip pelan menampilkan wajah puppy eyesnya. Takut jika pria itu ingin meminta yang aneh-aneh padanya.


"Panggil aku Grandpa, maka kau akan aku maafkan, bagaimana?" Pria tua itu mengelus kepala Irina dengan pelan.


"Hanya itu saja, Kan?" Irina menatap penuh selidik.


Pria tua itu membalas dengan mengangguk.


"Oke, Grandpa!" Irina meloncat-loncat kecil melihat di ujung sana Mommy dan Daddynya berserta keluarganya berlarian ke arah mereka.


"Oke, baiklah, aku permisi dulu. Kalian jangan jauh-jauh bermainnya, nanti orangtua kalian kesusahan," ucap pria tua itu seraya mengelus kepala si kembar satu-persatu. Kemudian tanpa banyak kata ia melenggang pergi dari hadapan si kembar.


"Icarus! Ivan! Irina! Kalian dari mana saja?! Jangan membuat Mommy dan Daddy khawatir." Jack dan Lunna segera mendekap ketiga anaknya. Setelah berputar-putar mencari keberadaan mereka tadi.


Jika keluarga Andersean sibuk memeluk si kembar. Berbeda dengan Leon. Ia menatap datar punggung pria tua yang tadi berbicara dengan si kembar.

__ADS_1


"Ada apa Leon?" tanya Simon mengikuti arah pandangan Leon. Leon enggan menyahut. Menerka-nerka sesuatu yang berkecamuk di dalam otaknya.


__ADS_2