
Dua puluh menit pun berlalu. Lunna menahan amarah sebah Jack memaksanya bercocok tanam di dalam mobil tadi. Dengan muka tak berdosa, Jack keluar dari mobil sembari merapikan kemejanya.
"Baby, sekarang kau boleh berkerja tapi aku harus mengawasimu," Jack berkata saat melihat Lunna mengeram sebal.
Sebelum bibir Lunna membuka, Jack berucap kembali.
"Dan jangan pakai bikini ini, karena tidak cocok ditubuhmu yang jelek itu. Mataku sangat sakit melihatnya!' Jack merapikan jas yang ia letakkan di pundak Lunna.
Muka Lunna tertekuk sempurna seraya menatap tajam. "Aku selalu cantik, asal kau tahu saja, Brian dan tim kru mengatakan aku cantik memakai bikini ha?!" protes Lunna.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Ikuti perintahku, karena aku suamimu!" Jack berseru cukup nyaring, melihat Brian berjarak beberapa meter dari mereka. Seulas senyum sinis terbit di wajah Jack.
'Aku tidak salah dengar, Kan?' Batin Brian seraya memegang dadanya yang sakit seketika.
***
Lunna dan Jack berjalan beiringan masuk ke dalam studio. Begitu sampai, Lunna segera meminta maaf karena pemotretan tak sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Berkat kekuasaan Jack dan kinerja Yuri. Tim kru memakluminya. Entah apa yang dilakukan Yuri tadi sampai-sampai tim kru tak protes sedikitpun dan tetap menunggu kedatangan Lunna untuk melanjutkan sesi foto.
"Lun, kau tidak apa-apa, Kan?" Kristin sangat penasaran, melihat Lunna nampak cemberut.
Lunna enggan membalas, malah menarik nafas panjang, dan menampilkan mata yang benar-benar sedih. Kristin menebak jika Lunna tak baik-baik saja.
"Ya sudah, kau lanjut saja dulu fotonya," kata Kristin sembari menyodorkan bikini yang diberikan Yuri tadi padanya. Lunna mengangguk, menerima bikini tersebut. Kemudian bergegas ke ruang ganti.
*
*
*
Jack menatap penuh damba ke arah Lunna di ujung sana, sedang berpose-pose layaknya model yang sudah lama berkecimpung di dunia permodelan. Sedari tadi, pria setinggi 188 cm itu duduk sembari merekahkan senyuman. Akan tetapi, ia menggeram sejenak, saat ekor matanya melihat Brian di ujung sana menatap sengit padanya. Jack heran, mengapa Brian tak pergi dari studio.
"Yuri, mengapa pria itu masih ada di sini?" tanya Jack pelan, sembari melirik sekilas Yuri yang berdiri tegap di sampingnya.
Yuri menoleh sejenak. "Hm, Tuan kita tidak bisa langsung memecatnya karena Ayah-nya juga menanam saham di perusahaan kita."
Dahi Jack berkerut samar. "Siapa ayahnya?" tanyanya penasaran.
Yuri menarik nafas pelan. "Mr.Barbossa, Tuan."
__ADS_1
Jack sedikit tercengang dengan perkataan Yuri barusan. Toni Barbossa adalah seorang pebisnis handal dari negara Rusia, merupakan kolega Jack yang menaruh saham di perusahannya sebanyak dua puluh persen. Dia sedikit bingung, mengapa Brian malah memilih menjadi photographer, bukannya meneruskan perusahaan milik Ayahnya. Jack cukup mengetahui seluk-beluk Barbosa yang memiliki tiga orang anak. Dia pernah sekali berjumpa dengan anak pertama Barbosa, seorang wanita yang sudah berkeluarga. Jack menebak jika Brian anak kedua atau anak ketiga.
"Tuan," panggil Yuri, menyadarkan Jack tengah melamun.
Jack menoleh, mengangkat satu alis matanya."Ada apa?"
Melirik arloji, Yuri berkata,"Kita harus pergi meeting ke hotel, Tuan. Ini pertemuan penting! Yuri berharap Tuan tidak menunda-nunda perkerjaan." Nada suara Yuri terdengar mengancam.
Jack tergugu, dilanda dilema. Benar, dia juga menyadari akhir-akhir ini mengabaikan perkerjaanya.
"Lalu, bagaimana dengan Lunna?" Matanya tak henti melirik-lirik Lunna di ujung sana. Ia tak mampu berjauhan dengan Lunna.
Yuri mendesah, sebelum menjawab,"Tuan, Lunna bukan anak kecil lagi, bisakah Tuan lebih dewasa. Tenanglah di sini ada Kristin yang akan memantau Lunna."
Jack enggan menyahut, tampak berpikir. "Baiklah, hmm, lalu si bedeb@h itu, bagaimana?" Jack menatap Brian begitu dingin yang sedang sibuk melihat Lunna tengah berpose.
"Dia hanya teman Lunna, tadi Yuri sudah mengatakan bahwa Lunna adalah istri Tuan, dan meminta pada Brian untuk menjaga jarak dengan Lunna.
"Apa responnya?"
"Dia diam saja tadi, tak bertanya."
"Hm, baiklah, ayo kita pergi."
Mau tidak mau Jack harus pergi ke tempat pertemuan, mengingat kolega yang akan mereka temui. Seorang pebisnis yang susah untuk di ajak kerjasama. Sebelum melangkah keluar, Jack menatap Lunna yang sedang tertawa di depan sana.
***
Terdengar gemuruh tepuk tangan bergema di ruang studio setelah pemotretan berakhir. Lunna menarik nafas pelan,karena hasil kerjanya tak mengecewakan semua orang. Tanpa sadar, mata Lunna bergerak ke sana kemari, mencari seseorang.
"Dimana Jack-Jack?' tanyanya dalam hati sembari menyambar kain dari tangan Kristin.
'Ah, biarlah, apa yang kau harapkan Lunna. Dia kan seperti hantu, muncul dan pergi sesuka hati.'
"Lun, ganti bajumu sekarang, aku tidak mau kau terkena hukuman lagi," kata Kristin sembari menatap Lunna sedang melamun.
Lunna mengeleng pelan, segera tersadar, lalu bergegas ke ruang ganti. Setelah selesai, mengganti pakaiannya. Ia berjalan keluar hendak menghampiri Kristin.
"Lunna!"
__ADS_1
Mendengar panggilan. Ayunan kaki Lunna terhenti, menoleh ke sumber suara. Kedua mata Lunna memicing. "Brian.. Kau dari mana saja?"tanyanya penasaran sebab, sedari tadi tak melihat batang hidung Brian.
Brian mendekat, menatap lekat wajah cantik Lunna. "Maaf, aku tadi sedang ada panggilan alam," kelakar Brian.
Lunna tertawa pelan, mendengar perkataan Brian. "Kau ini ada-ada saja seharusnya sebelum berkerja kau buang terlebih dahulu."
Brian menggaruk kepalanya, memandangi wajah Lunna sangat cantik jika sedang tertawa. "Kau benar, lain kali aku harus buang semuanya."
Lunna membalas dengan tersenyum tipis. Tanpa sengaja, ia melirik Kristin memberikan bahasa isyarat untuk menghampirinya sekarang. Lunna tentu saja kebingungan, mengapa Kristin menyuruhnya ke sana.
"Oh, ya, kenapa kau memanggilku?" tanya Lunna.
"Hm, ada yang mau aku bicarakan tapi bukan di sini, kita cari tempat yang jauh dari kerumunan."
Melihat raut wajah Brian yang serius, Lunna mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Brian. Di ujung sana Kristin panik bukan main.
**
Kini, Lunna dan Brian berada di luar studio, tepatnya di ruang kecil yang bersebelahan dengan studio. Keduanya duduk saling berhadapan.
"Apa yang mau kau bicarakan, Brian?" tanya Lunna to the point.
Brian tak langsung menjawab. Rasa penasaran dan rasa cemburu masih meliputinya sedari tadi, manakala mendapatkan informasi dari Yuri yang mengatakan Lunna adalah istri Jack Harlow.
"Brian," panggil Lunna, melihat Brian diam seribu bahasa.
"Maaf, kalau boleh tahu, apa benar kau dan Jack sudah menikah?" tanya Brian sembari menatap lekat.
Mata Lunna sedikit melebar, detik selanjutnya ia tertawa keras. "Kalau boleh tahu kau dapat informasi itu darimana?" tanyanya penasaran.
Brian menghela nafas, mendapatkan pertanyaan, bukannya jawaban.
"Dari Yuri."
"Ish, dasar Yuri!" Lunna mengeram sebal sesaat. "Kau bisa menyimpan rahasia, Kan, Brian?" Brian mengangguk, entah mengapa detak jantungnya berdegup cepat menanti jawaban Lunna.
"Iya, aku memang menikah dengan Jack. Tapi hanya menikah kontrak, satu tahun lagi kami akan berpisah. Brian, kau janji bisa tutup mulut, Kan?" Lunna ingin memastikan, melihat Brian hanya terbengong mendengar perkataannya tadi.
"Hehe, tentu saja," kata Brian lalu mengembangkan senyuman lebar.
__ADS_1
'Yes! Hanya menikah kontrak, berarti aku ada kesempatan memilikimu, Lunna."