Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Men and Women


__ADS_3


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di Yokohama (Jepang). Di sebuah rumah khas Jepang seorang wanita berkulit keriput duduk bersimpuh di lantai menghadap ke luar jendela. Bola matanya asik memandangi burung munggil di pencakar langit, sedang mengepak-epakan sayap munggilnya. Terdengar bunyi alunan musik yang begitu lembut di ujung sana menemani sang wanita menikmati pemandangan di atas sana.


Seketika ia sedikit terusik tatkala mendengar bunyi gesekan pintu terbuka. Tanpa menoleh, ia menggerakkan kepalanya sedikit ke sisi kanan.


"Ohayōgozaimasu." [Selamat pagi]


Seorang pria bertato naga didadanya membungkuk sedikit. Ia memakai pakaian kimono berwarna cerah. Dengan perlahan ia mendekati wanita yang tak membalas sapaannya itu.


"Di mana Jack?" tanya sang wanita tanpa menatap lawan bicara. Ia dapat merasakan pria bertato itu sedang duduk dibelakangnya.


"Di Los Angeles. Dia menitipkan salam padamu," kata pria itu sembari menunduk.


Seringai tipis terpatri di wajah sang wanita. Lalu ia terkekeh pelan. "Kau pikir aku percaya?"


Lantas pria itu tak menyahut, memilih melirik wanita bermuka putih di sisi kanan sedang menatap datar padanya. Geisha (wanita penghibur berkerja sebagai pemain alat musik) sedari tadi, wanita itu memetikkan gawai Shamisen (seperti gitar tapi bentuknya kecil) namun tangannya terhenti saat merasa diperhatikan.



Pria itu beralih menatap wanita berkeriput itu. "Terserah, yang terpenting aku sudah menyampaikan salamnya padamu."


"Apa kau sudah membuat wanita itu menderita?" Bukannya membalas perkataan barusan. Ia malah melontarkan pertanyaan.


"Sudah, tapi wanita itu tidak penakut sama sekali seperti–"


"Leon Andersean," desis wanita itu. Menggeram rendah sejenak ketika mengucapkan nama barusan.


"Buat dia lebih menderita lagi! Bilaperlu sampai dia menangis darah!" teriak sang wanita lalu mendengus.


"Kemarin aku sudah mencambuk, menendang, bahkan mencekiknya, dan sekarang giliran Jack, dia sedang menjalankan perannya."


Sang wanita berbalik menatap tajam. "Cih! Hanya itu saja yang kau lakukan!?"


Pria itu mengangkat wajahnya. Melayangkan tatapan tanpa ekspresi sedikitpun.


"Jangan menatapku seperti itu biadab!" Nafas wanita itu memburu. Pancaran mata itu mengingatkannya kepada seseorang. Seketika dadanya bergemuruh sangat kuat.


Plak!!!

__ADS_1


Sebuah tamparan melayang kuat di pipi kanan pria bertato itu. Darah mengalir lembut di ujung bibirnya. Jari-jemarinya menyeka dengan cepat kemudian melirik lagi ke arah Geisha yang terpaku di tempat melihat kejadian barusan. Seulas senyum tipis terukir diwajahnya.


Mata wanita itu membola. "Aku tidak mau tahu! Buat wanita itu menangis darah!!" sahutnya berapi-api.


Pria itu mendengus kasar. Lalu menatap tajam. "Kau ini bodoh atau apa? Jika ingin membuatnya menderita, lakukan dengan perlahan-lahan. Kau diam saja di sini!!"


"Kau berani melawanku ha?!"


"Hahaha, tentu saja aku berani! Kau pikir aku Jack?"


Pria itu melayangkan tatapan dingin kepada wanita itu. Sekarang atmosfer di dalam ruangan sangat gelap. Baik wanita berkulit keriput dan pria bertato naga, masih menatap tajam satu sama lain. Tanpa satupun yang mau mengalah. Dua menit pun berlalu, keduanya masih memandang sengit.


"Aku lupa! Kau hanyalah benalunya, bukan?!" kata wanita itu akhirnya setelah beradu mata cukup lama.


Sang pria terkekeh sesaat sebelum menjawab. "Kalau aku benalu. Lalu kau apa?" Tersirat nada ejekan di setiap kata yang dilontarkan barusan. Membuat wanita itu meradang dan tanpa sadar beranjak.


"Kau sudah berani membantahku?! Baik, aku akan meminta Sensei menghukummu!"


Mendengar gertakan wanita itu. Pria itu malah tersenyum simpul kemudian bangkit berdiri pula. "Aku bukanlah Jack, apa kau lupa? Hukum saja, kalaupun bisa!" Pria itu melangkah mendekati sang wanita lalu mencengkram kuat lehernya.


Sang wanita tergugu sembari menahan sakit di lehernya, kala melihat sorot mata pria di depan seperti iblis. "Dengar! Wanita tua, asal kau tahu, Jack sudah menganggapmu mati! Kau itu tak lebih dari seonggok daging busuk! Jangan banyak bertingkah! Kau lah yang membuat semuanya rumit! Aku bukanlah Jack! Yang bisa kau dan Sensei kelabui! Hahaha!" Seketika dia menghempaskan tubuh wanita itu ke lantai.


"Lalu apa alasan kedatanganmu kemari?" tanyanya, penasaran. Sebab tak mendapat titik terang dari aksi balas dendamnya. Kini, air muka wanita itu berubah.


"Aku ingin menemui Sensei, ada yang harus aku bicarakan terkait dengan Jack," katanya.


Dahinya berkerut kuat. "Jack? Dia kenapa?"


Bukannya menjawab ia berbalik melangkah menuju ambang pintu sembari bahasa isyarat pada wanita itu.


"Jack kenapa?"


Saat ini, keduanya berada di luar, berjalan beriringan hendak ke suatu tempat. Pria itu enggan menyahut. Asik menatap sungai kecil di sisi kanan yang beriak tenang.


"Apakah kau tuli?!" Sang wanita mulai tersulut emosi tatkala pria disampingnya terdiam seribu bahasa.


"Aku tidak tuli, kau bisa mendengarnya jika aku berbicara dengan Sensei. Kau tahu sendiri, aku malas menjelaskan sesuatu berulang kali."Wanita itu membalas ucapannya dengan mendengus.


Ayunan kaki pria itu tiba-tiba terhenti tatkala melihat Sensei bersama seorang wanita di ujung sana. Cukup lama ia memandang wanita muda berpakaian serba putih dengan payung kecil bertengker ditangannya. Semilir angin di sekitar menerpa rambut panjangnya, membuat pria itu terkesima sejenak bagai melihat malaikat yang baru saja turun ke bumi.

__ADS_1



"Siapa dia?" tanyanya penasaran.


Wanita bertubuh ringkih itu mengikuti arah matanya. Seulas senyum tipis terukir sejenak. "Sensei akan menjodohkan Jack dengan wanita itu, cantik bukan?"


Pria itu tak membalas ucapannya. Melainkan menatap lurus ke depan.


"Kenapa kau selalu mengacuhkan ku?" tanya sang wanita.


Pria itu menoleh. Lalu berkata,"Tanyakan pada dirimu sendiri! Apa kau selalu berlaku adil padaku?!" Sebelum mendengar perkataan wanita itu. Secepat kilat ia melenggang pergi.


Membungkuk sedikit. "Sensei," sapanya terlebih dahulu.


Pria tua berpakaian kimono menoleh ke sumber suara. Begitupula wanita yang sedang berbicara bersamanya barusan.


Senyuman merekah di wajah pria tua itu melihat sosok yang memanggilnya. "Di mana Jack?"


Sosok itu mendengus pelan. "Dia masih di LA, Sensei," katanya lalu melirik sekilas wanita cantik di samping Sensei.


"Baiklah, sepertinya Jack sangat sibuk. Kau tahu Aoki, calon suami itu seorang pekerja yang handal," Ia berkata seraya melemparkan senyuman kepada seorang gadis berambut panjang dan berpakaian serba putih itu.


Aoki tersenyum tipis membalas ucapaan Sensei.


"Aoki senang mendengarnya," katanya menatap lembut.


Sensei mangut-mangut senang mendengar penuturan Aoki. Anak dari klan TRIAD yang paling ditakuti di Jepang. Impiannya sebentar lagi akan terwujud berkat perjodohan bisnis antar dia dan TRIAD.


Pria tua itu beralih menatap pria bertato naga didadanya. "Tumben kau kemari? Apa ada masalah?" tanyanya penasaran seraya melirik wanita tua di belakang tubuh Jack.


"Aku hanya ingin bertandang sembari membicarakan Jack."


Tatapan tanpa ekspresi ia layangkan kepada pria tua itu. Namun ekor matanya tak sengaja bertabrakan langsung dengan mata Aoki. Aoki sangat penasaran manakala mendengar nama Jack disebut. Aoki gelagapan sesaat akan tetapi berusaha menutupi kegugupannya dengan menunduk sedikit.


Satu alis pria tua itu terangkat. "Apa Jack baik-baik saja?" tanyanya mulai cemas.


"Dia baik-baik saja, sangking baiknya kelinci pun dimakannya," jawab sosok itu sarkas.


Dahi Sensei berkerut kuat. "Kelinci?" Detik selanjutnya ia melemparkan pandangan kepada Aoki yang juga ikut kebingungan dengan makna kalimat sosok tersebut.

__ADS_1


__ADS_2