
Di sisi lain. Sensei mengerutkan dahi, melihat Justin, Yuri dan Aoki pulang tak bersama Jack. Pria berambut putih itu memerintahkan Yuri untuk mengantar Aoki ke kamarnya. Tinggal lah Justin seorang diri, menatap datar padanya.
"Dimana Jack?" Sensei mencari jawaban.
Justin menghela nafas kasar. Kemudian berkata,"Dia ketinggalan karena tadi mengambil kipas kayu Aoki dan kami tak bisa menunggunya karena perut Aoki sakit."
"Hmm, baiklah, kau beristirahat lah juga."
Justin menunduk sedikit, melenggang pergi meninggalkan Sensei yang terdiam sedang memikirkan sesuatu. Dengan perlahan ia masuk ke dalam ruang tengah, mengambil ponselnya kemudian menelepon seseorang.
"Hallo, Ano, aku memintamu perintahkan anak buahmu mencari Jack di festival bunga, cari dia, laporkan kepadaku apa yang dia lakukan di luar sana. Dan cari kebenaran apakah anak Leon Andersean ada di sini?"
Setelah mendengar jawaban di sebrang sana. Dia memutus sambungan. Kedua mata Sensei menatap lurus ke depan. Dia mendapatkan kabar dari anak buahnya jika Lunna, putri Leon Andersean berada di Jepang.
Seringai tipis muncul di wajah Sensei. "Leon Andersean, kau memperumit segalanya..." desisnya pelan.
*
*
Sementara itu, Jack sedang bersembunyi di balik pohon. Melihat Lunna dari kejauhan tengah berjalan riang bersama Kristin. Saat ini, kedua wanita itu berjalan mengarah ke tempat pusat jajanan. Jack memberengut kesal, saat melihat para pria mencuri-curi pandang pada Lunna sedari tadi.
'Argh! Kau harus aku cabik-cabik, Lunna!!!'
Jack menggeram sebal. Pandangan matanya tak terlepas dari Lunna. Sekarang Lunna tengah berfoto bersama seorang pria yang disinyalir fansnya. Pria bertubuh gempal itu memeluk Lunna begitu erat.
"Argh!" Spontan Jack menggeram sembari mengepalkan kedua tangan, menahan kobaran api didadanya.
"Okaasan! Ada orang gila!" sahut seorang bocil perempuan mengenakan kimono sembari menunjuk Jack yang saat ini bersembuyi di balik tempat sampah.
Okaasan [Ibu]
Lantas sang ibu, menoleh ke arah yang anaknya tunjuk. Wanita berwajah khas Jepang itu menggeleng pelan saat melihat Jack tengah mengaruk kepalanya sembari sesekali melirik seorang wanita di depan sana.
"Ada-ada saja orang zaman sekarang.Mister lebih baik jangan jadi penguntit, katakan saja perasaanmu." Sang ibu berbahasa inggris hendak mengajak Jack berbicara.
Jack nampak kikuk. Dia pun baru menyadari tengah berjongkok di dekat tempat sampah. Pantas saja sedari tadi, ekor matanya tak sengaja melihat orang-orang melayangkan tatapan aneh padanya.
"Mina! Ayo kita pulang! Dia bukan orang gila, nanti kalau sudah besar jangan jadi penguntit ya." Sang putri mengangguk.
__ADS_1
'Kenapa aku jadi bodoh begini sih!' Jack segera bangkit berdiri setelah melihat kepergian ibu dan anak tadi. Dengan cepat ia bersembunyi lagi di balik pohon, saat melihat Lunna memutar tubuhnya.
'Aku akan mengikutinya.' Jack berjalan pelan dari jarak yang paling aman.
*
*
*
Saat ini, Lunna dan Kristin sudah tiba di tempat penginapan. Mata dan perut keduanya sudah dimanjakan. Lunna merasakan tubuhnya sangat pegal karena setelah menempuh penerbangan dari LA ke Jepang. Bukannya beristirahat malah berjalan-jalan.
Lunna mengajak Kristin untuk mandi bersama di Onsen private [pemandian air panas]. Kristin menyetujui saran Lunna. Dia pun merasa tubuhnya sangat remuk.
"Lun, kau duluan lah dulu. Aku mau berteleponan dengan Mr. Demian mengenai lokasi syutingmu besok," kata Kristin melihat Lunna membuka pintu kamarnya.
"Oke, jangan lama-lama, kau harus membantuku mengosok punggungku," kata Lunna sebelum menggeser pintu.
"Oke, oke, tidak akan lama, pergilah, aku akan menyusulmu nanti." Lunna mengangguk sembari mengeser pintu khas Jepang tersebut.
*
*
*
[Sumber : Google]
"Wow!" Dengan cepat Lunna mengulung rambutnya, membuka pakaian luaran dan handuknya, kemudian melempar kain itu ke sembarang arah. Lunna bergegas memasukkan tubuh polosnya ke pemandian.
"Ah, enaknya!" Lunna memejamkan mata sembari memijit pundaknya sendiri.
"Ugh, walaupun hari ini sangat melelahkan tapi aku senang, kapan lagi coba, untung saja tidak ada si Jack-Jack itu. Ngomong-ngomong apa yang dia lakukan sekarang?"
Telinga Lunna menangkap gesekan pintu. Tanpa membuka matanya, Lunna berkata,"Kris, cepatlah kemari, gosok punggungku ini. Ada spons di sana."
Bunyi kaki yang tercelup ke pemandian terdengar jelas di telinga Lunna. Dahi Lunna berkerut samar saat Kristin tak menanggapi perkataannya.
__ADS_1
'Kenapa Kris tak menjawabku sih? Apa dia sedang badmood karena Yuri sudah punya pacar, kasihan sekali Kris. Ah biarlah." Lunna sudah mengetahui kegundahan hati Kristin. Dia pun tak bisa berkata apa-apa. Dan berharap Kristin bisa menemukan tambatan hatinya.
"Kris, kau jangan galau terus," kata Lunna.
"Sekarang pijat punggungku, hehe." Sekarang Lunna dapat merasakan Kristin berada di belakang tubuhnya.
"Kris, mengapa tanganmu sangat besar!" Lunna merasa tangan Kristin sangat kokoh sedang memijit-mijit pelan punggungnya.
"Kris!" Dia tersentak kaget kala merasa Kristin mengigit pundak sisi kanannya. Dengan cepat matanya membuka lalu berbalik. Matanya membulat seketika melihat Jack tersenyum penuh arti padanya.
"Jack, apa yang kau lakukan di sini?!" jerit Lunna sembari menutup dadanya.
"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau ada di sini, Baby?" Jack bergerak ke depan hendak mengusili Lunna yang nampak menggemaskan dimatanya.
Lunna dilanda kepanikan sebab sekarang, di belakang tak ada ruang lagi. "Jack, kau mau apa?"
Seringai tipis muncul di wajah Jack. "Menurutmu, apa yang akan di lakukan pria dan wanita di tempat pemandian berduaan?" Dengan satu kali tarikan, Lunna sekarang sudah berada di dekat Jack.
Lunna memekik kala dadanya menabrak tubuh atletis Jack. "Ja-hmmmf!"
Secepat kilat Jack mengangkat pinggang Lunna, menaruh Lunna di atas pahanya sembari mencium rakus bibir istrinya. Lunna tanpa sadar melingkarkan tangan di leher Jack. Keduanya bercumbu mesra, saling mencium satu sama lain, mel*litkan lidah dengan menggebu-gebu lalu bertukar s@liva. Suara ecapan-ecapan terdengar kuat memenuhi tempat pemandian onsen. Kini, nafas dua insan manusia itu semakin memburu.
Lunna mendesah dengan mengatupkan kedua matanya, kala Jack mengecup leher jenjangnya, dan meninggalkan jejak kemerahan.
"Kau sangat nakal, Baby," desis Jack pelan seraya meng*lum biji kacang hijau Lunna.
"Ahh, aku minta maaf, hentikan Jack. Aku tidak tahan." Lunna dapat merasakan rudal Jack sudah mengeras di bawah sana.
Jack terkekeh pelan. "Nope, ini baru dimulai, Baby." Pria itu mengangkat tubuh Lunna dan segera memasukan rudalnya. Jack menuntun Lunna agar dia menggerakan pinggulnya.
"Ahh, Jack. Please!" Lunna memekik nikmat saat rudal Jack menghujamnya dari bawah. Dia terbuai di dalam pemandian bersama Jack yang sedari tadi tak berhenti mencium leher dan dadanya.
"Baby, aku merindukanmu," sahut Jack di sela-sela permainan panas mereka.
"Aku juga merindukanmu." Entah sadar atau tidak Lunna membalas ucapan Jack sembari menikmati sentuhan-sentuhan Jack. Membuat Jack tersenyum simpul.
Tak!
Dari arah selatan, sebuah busur panah melayang dan hampir saja mengenai Lunna. Intuisi Jack yang tepat, membuatnya menggeser tubuhnya tanpa menurunkan Lunna.
__ADS_1