
Saat ini, Lunna dan Kristin menuju Yokohama. Barusan pihak sutradara mengatakan mereka untuk menginap di sana agar lebih dekat dengan lokasi syuting. Suasana di dalam mobil hening, keduanya menerka-nerka sesuatu yang berkecamuk di dalam benaknya masing-masing.
'Duh, Jack ada di sini. Aku berharap tidak akan bertemu dirinya. Semoga saja Yuri mau di ajak kerjasama. Huh! Menyebalkan!'
Lunna memberengut kesal sembari menyilangkan tangan di dada.
'Wanita tadi siapa ya? Apa ada hubungan dengan Yuri? Hei, Kris, kau harus positif thinking, mungkin saja itu temannya atau jangan-jangan wanita itu pacar Yuri. Sudahlah, Kris. Kalau memang iya, lebih baik kau mundur. Pantas saja, kemarin Yuri menolak ajakanku, ada hati yang harus dia jaga.'
Kristin terlihat sedih. Ia tak menyangka, kisah cintanya kandas sebelum berlabuh. Ia bersikap dewasa dan menerima fakta tersebut.
'Dimana kau jodohku?' Kristin nampak cemberut.
'Kenapa aku jadi merindukan Jack sih?!' Lunna mendengus kasar sembari memandang keluar jendela.
Tanpa sadar keduanya terlihat kesal. Sang supir di depan menggeleng kepala melihat gelagat dua wanita yang diam seribu bahasa tak seperti tadi.
Sementara itu. Aoki masih menunggu jawaban dari Yuri. Detik selanjutnya, tanpa sadar Yuri menarik tangan Aoki. Aoki terkejut bukan main. Jantungnya berdetak cepat kala sentuhan tangan Yuri begitu hangat. Ia mode bengong, saat Yuri menuntutnya pergi ke Shibuya. Beberapa jam yang lalu, Aoki memang meminta Yuri, menemaninya berbelanja kimono untuk festival nanti malam.
Saat ini, rasa penasaran masih ada di relung hati Aoki. "Yuri-kun," panggil Aoki sembari menghentikan langkah kaki. Matanya menatap lekat punggung pria dihadapannya.
Secara bersamaan pula, ayunan kaki Yuri terhenti. Dia menoleh, lalu berkata,"Ada apa, Aoki-chan?"
"Siapa wanita tadi?" tanyanya lagi. Entah mengapa dadanya bergemuruh melihat wanita berambut panjang tadi begitu dekat dengan Yuri. Apakah wanita tadi pacar Yuri ketika di luar negeri, Aoki bertanya-tanya dibenaknya.
Sebelum bibir Yuri membuka. Ia menarik nafas panjang sejenak. "Aoki-chan tak perlu tahu!" katanya ketus tanpa sadar.
Deg.
Aoki mematung. Untuk pertama kalinya, Yuri menaikan nada suaranya. Hati Aoki semakin berdenyut nyeri. Berarti benar, wanita tadi pacar atau seseorang yang istimewa bagi Yuri. Kedua mata Aoki mulai berkaca-kaca, memandang lekat pada pria yang sudah ia cintai sedari dulu.
Kala itu, Aoki hanya menganggap Yuri, kakak laki-lakinya namun lama-kelamaan sebuah rasa ketertarikan muncul di relung hatinya. Dahulu, Yuri adalah kakak kelas-nya sedangkan Aoki, adik kelas yang baru saja masuk ke sekolah. Aoki pernah di buli teman-teman wanitanya, akan tetapi Yuri bak malaikat menolong Aoki dari terkaman teman-temannya. Disitulah awal pertemuan Aoki dan Yuri bermula.
Beberapa tahun kemudian, Yuri pun melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi keluar negeri. Aoki baru menyadari jika ia ternyata mencintai Yuri. Setelah kepergian Yuri, Aoki begitu nelangsa. Ingin menyatakan perasaan namun tak ada kontak sama sekali. Sebab ayahnya tak memperbolehkan Aoki memiliki ponsel.
Bagai pungguk merindukan bulan, Aoki tetap menunggu Yuri. Akan tetapi, beberapa bulan lalu. Dia semakin bertambah sedih, saat ayah-nya hendak menjodohkannya dengan seorang pria yang ia kagumi sebagai seorang kakak.
__ADS_1
Iya, pria itu adalah Jack. Aoki pernah dua kali melihat Jack. Sewaktu pria itu bertandang ke kediamannya, berbicara dengan ayahnya. Aoki sangat terkejut melihat Yuri bersama Jack. Dari kejauhan ia menatap Yuri dengan segala kerinduan yang terpendam. Ia tak berani menyapa. Takut akan menangis ketika berhadapan dengan Yuri. Jadi, Aoki hanya memandangi saja tanpa menyapa Yuri.
"Yuri-kun...." Tanpa terasa buliran bening mengalir di pelupuk mata Aoki.
Menyadari kesalahannya. Yuri menarik nafas panjang, melihat Aoki menangis. "Aoki-chan, maafkan Yuri," katanya sembari mengusap sekilas kepala Aoki perlahan.
Aoki mengusap cepat jejak tangisnya sembari mengangguk pelan.
"Yuri sedang banyak masalah. Lebih baik kita secepatnya membeli kimono. Aoki tidak tahu, kan. Tuan Jack jika marah sangat menakutkan, seperti orang gila," kata Yuri mencoba menghibur Aoki. Pria itu melemparkan senyuman kepada Aoki yang sudah berhenti menangis.
Seulas senyum tipis muncul di wajah munggil Aoki. "Aoki tidak mau melihat Jack-sama marah-marah,"katanya sembari menatap pergelangan tangannya masih di genggam Yuri. Dengan sigap Yuri melepaskan cengkraman tangan Aoki saat melihat arah pandangan mata Aoki.
"Iya, ayo sekarang kita membeli kimono kesukaan Aoki-chan." Yuri merekahkan senyuman sembari melirik arloji di pergelangan tangan.
Tak butuh waktu lama. Yuri dan Aoki tiba di pusat perbelanjaan terdekat. Aoki segera mencari keperluannya, menelisik kimono yang menarik dimatanya.
"Yuri-kun." Saat ini, Aoki mencoba salah satu kimono berwarna pinky. Ia ingin meminta pendapat Yuri, rona merah nampak jelas di pipinya, menunggu reaksi Yuri.
Yuri sedang mengetik pesan di layar ponselnya. Mendengar panggilan, ia pun menoleh.
"Bagaimana?" Yuri gelagapan, melihat Yuri, memandanginya dari atas sampai ke ujung kaki. Kepalanya menunduk sembari menyelipkan anak rambutnya ke telinga.
Yuri tersenyum tipis kemudian kembali menatap layar ponsel. "Bagus," jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Mendengar suara Yuri biasa saja, Aoki mendongak, melihat Yuri sibuk dengan ponselnya.
'Sepertinya kurang bagus.' Tanpa banyak kata, ia berjalan menjauhi Yuri hendak mencari kimono lagi.
Sedangkan Yuri masih sibuk mengirim pesan pada Kristin menanyakan keadaan Lunna. Ia keheranan mengapa Kristin tak menanyakan kabarnya, apakah sudah makan, seperti sebelum-belumnya. Sekarang balasan Kristin pun singkat.
'Kenapa Kristin tidak membalas pesanku?' Batin Yuri setelah mengetik pesan, menanyakan apakah Kristin sudah makan atau belum. Namun hanya di read Kristin saja. Dia membuang nafas kasar.
"Yuri-kun." Kini, Aoki mengenakan kimono berwarna cerah, memperlihatkan wajah kentara khas jepang yang munggil dan menggemaskan. Ia meremas sesaat pakaian bermotif bunga-bunga itu berharap Yuri menyukai pilihannya.
Yuri mendongak, kemudian tersenyum simpul, lalu mengelus perlahan kepala Aoki lagi. "Cantik, yang ini saja," katanya sembari menaruh ponsel di saku celana.
__ADS_1
Mendengar perkataan Yuri. Kedua pipi Aoki merah merona. Ia menunduk cepat, tak berani berlama-lama menatap Yuri, yang selalu membuat jantungnya cenat-cenut seperti kesentrum ikan belut listrik.
"Iya, Yuri-kun." Ia memegang dadanya yang masih berdebar-debar tak karuan. Setelah itu, Aoki membayar belanjaan.
"Aoki-chan, kita makan dulu habis itu kita pulang. Hari sudah semakin malam."
Aoki membalas dengan mengangguk.
***
Kini, Yuri dan Aoki sudah tiba di Yokohama. Keduanya berjalan beriringan memasuki pelataran rumah. Di sisi kanan dan kiri cahaya lampu temaram menerangi langkah kaki keduanya. Aoki menundukkan kepalanya, sesekali melirik Yuri di samping yang juga terdiam sedari tadi.
"Yuri-kun..." Aoki bergumam lirih tanpa sadar Yuri mendengar namanya di panggil.
"Ada apa, Aoki-chan?" tanyanya tanpa menghentikan langkah kaki.
Aoki terlihat salah tingkah. Dia pun tak tahu mengapa, mengucapkan nama Yuri barusan. Menutupi kegugupannya. Terlintas suatu pertanyaan dibenaknya.
"Hmm, wanita tadi siapa?" Sampai sekarang Aoki masih penasaran.
Langkah kaki Yuri terhenti, begitu pula Aoki. Dengan sigap Yuri menghadap Aoki, kemudian mengenggam kedua tangan Aoki. Jantung Aoki serasa ingin melompat keluar, saat Yuri mendekatkan wajahnya. Tanpa sadar ia memundurkan kepalanya.
"Aoki-chan, namanya Lunna A, dia istri Tuan Jack. Jangan kasi tahu siapapun, jika kita bertemu seorang wanita di Shibuya, wanita itu sedang dalam marabahaya," kata Yuri menatap lekat bola mata Aoki yang berkedip pelan.
Aoki ngefreeze. Melihat wajah Yuri sangat dekat. Aroma tubuh maskulin Yuri menyeruak ke indera penciumannya. Ia tak sadar jika Yuri memanggil namanya berulang kali.
"Aoki-chan!"
"Siapa wanita yang kalian temui di Shibuya?"
Deg.
Yuri terpaku, mendengar suara yang sangat ia kenali.
"Yuri! Kau dengar aku tidak?!" tanya Jack lagi, melihat Yuri tak langsung membalas. Kedua matanya memicing melihat gelagat Yuri seperti menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1