Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Kurung Jack


__ADS_3

Sensei mendengus kasar. "Kau selalu ikut campur! Aku tidak punya fotonya!"


"Cih! Tentu saja, aku harus ikut campur, Jack anakku!"


"Haha, kau kemanakan Justin? Dia anakmu juga, mengapa kau selalu pilih kasih Erika?"


Sensei heran dengan sikap Erika terhadap Justin, ketika pertama kali Erika dan Justin datang ke kediamannya hendak mencari Daichi. Kala itu, Erika baru saja menyadari salah membawa anak. Wanita itu seketika memukul-mukul Justin tanpa alasan yang jelas. Justin tentu saja mengalami trauma psikis. Sebab diperlakukan semena-mena oleh ibunya sendiri. Sensei yang iba pun berusaha menyembuhkan luka Justin.


"Karena sorot mata Justin mirip dengan Jeff. Aku sangat membenci Jeff! Seandainya saja malam itu, aku tidak salah membawa anak. Mungkin saja Justin bisa menyusul Jeff." Erika menarik nafas sejenak kemudian melanjutkan perkataannya.


"Mengapa Jeff menyesal, membunuh orang yang tidak bersalah. Dia sangat naif sekali. Cih! Lagian itu kesalahan Leon, karena menolak berkerjasama dengan mendiang Pablo, alhasil orangtua kandung wanita itu menjadi korban. Seandainya saja Jeff masih menjadi ketua Gangsta Paradise, setidaknya dia bisa dilindungi anak buahnya itu. Ckck!"


Sensei menggelengkan kepala sejenak, mendengarkan ucapan Erika. Beruntung sekali Daichi tak memilih wanita ular dihadapannya itu.


Prang!!!


Sensei dan Erika terkejut mendengar pecahan kaca di ujung sana. Keduanya menoleh ke sumber suara sembari beranjak dari kursi. Melihat Jack menatap tajam dan dingin kepada mereka dari ambang pintu.

__ADS_1


Sedari tadi, Jack menguping pembicaraan Sensei dan Erika di ruangan. Tadi, dia ingin pergi ke ruangan lain bertemu Yuri. Jack terkejut mendengar alasan Leon membunuh Daddy-nya karena Daddy-nya lah melenyapkan orangtua kandung Lunna.


Seketika Jack ling-lung, ternyata kesalahan itu berasal dari Daddy-nya sendiri. Ia menyesal karena menaruh dendam pada orang yang salah. Dia memang pantas dibenci Simon dan Leon. Rasa sesal membuncah di relung hatinya, apa jadinya jika Lunna tahu jika Daddy-nya membunuh kedua orangtuanya. Ia ingin meminta maaf pada Lunna dan menebus kesalahannya sampai keluarga Lunna memaafkannya.


"Kau bilang apa?!" Jack berjalan cepat mendekati Erika, kemudian mengguncang tubuh wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu.


Erika tergugu, melihat sorot mata Jack berkilat menyala. Menyiratkan kemarahan terpendam.


"Jadi, Daddy membunuh orangtua Lunna ha?! Gara-gara kau! Semua gara-gara kau, wanita tidak tahu di untung! Daddy mau bertobat, karena dia tahu tindakannya salah! Gara-gara kau juga kak Justin membenciku!!!" raung Jack dengan nafas yang memburu.


Semenjak kejadian malam itu, Justin bersikap dingin padanya tak seperti dahulu yang selalu mengajaknya bermain dan merangkulnya selayaknya adik dan kakak.


Bayangan masa lalu berputar-putar dibenaknya sejenak. Ia baru saja teringat ketika tersesat di dalam hutan diselamatkan oleh seorang pria dan pria itu lah yang mengirimnya ke Jepang, menemui Mommy-nya dan Justin. Jack hanya ingat tanda segitiga terukir di muka pria itu.


Plak!!!


Jack menampar kuat pipi Erika hingga wanita paruh baya itu tersungkur ke lantai. Tak ada satu patah katapun yang terlontar dari bibir Erika. Yang ada rasa benci pada Jeff, mendiang suaminya semakin bertumpuk.

__ADS_1


Jack mengepalkan kedua tangannya kemudian beralih menatap Sensei.


"Aku tidak mau menikahi Aoki!!! Aku mencintai anak musuh kalian!! Kubur semua angan-angan kalian! Aku manusia yang paling bodoh karena telah dibohongi kalian selama ini!" Jack memutar tumitnya, berjalan cepat menuju ambang pintu, enggan mendengarkan jawaban dari Sensei yang sekarang menatap datar punggungnya.


Prang!!!


Bruk!


"Apa yang kau lakukan Sensei?!" pekik Erika melihat Sensei melempar teko teh tepat di kepala Jack.


Jack tersungkur ke lantai dengan darah mengalir perlahan di lantai. Erika bergegas mendekati Jack, memeriksa denyut nadi anaknya. Sedikit lega, Jack hanya pingsan saja.


Erika tersulut emosi." Mengapa kau melukai Jack?" tanyanya pada Sensei.


Alih-alih menjawab, Sensei malah tersenyum sinis. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Jack dan Erika di ruangan.


"Yuri, kurung Jack dikamarnya!" perintah Sensei, melihat Yuri baru saja tiba.

__ADS_1


Dahi Yuri berkerut kuat mendengar perintah dari Sensei. Beberapa detik yang lalu. Ia berniat memeriksa keadaan Jack. Namun, ketika sampai di dalam kamar Jack, ruangan nampak kosong. Yuri panik bukan main dan mencari keberadaan Jack ke sana kemari.


__ADS_2