Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Berhenti Menjadi Artis


__ADS_3

Helikopter sebanyak dua buah, terbang menjauhi mansion Jack. Simon mendekap erat sang cucu dipangkuannya.


"Apa yang dia lakukan padamu, Sugar?" Simon menatap lekat Lunna yang tertidur dengan damai.


Beberapa hari yang lalu, ia mendapatkan semua informasi dari Lexi, mengenai hubungan Jack dan Lunna' yang membuatnya tercengang. Akibat kesibukannya, Lunna terperangkap di dalam permainan Jack. Ia yakin sekali Jack sedang membalaskan dendamnya. Pria bermata coklat itu berkilat menyala saat mengetahui jika Jack membelenggu Lunna dengan sebuah video.


"Lexi." Simon melirik Lexi tengah menatap Lunna juga.


"Iya, Tuan."


"Hubungi Leon dan Lily katakan pada mereka kita harus memberitahu Lunna kebenarannya, aku tidak mau jika Lunna menaruh hati pada Jack," Simon berkata tanpa menatap lawan bicara.


"Baik Tuan," balas Lexi.


Tak membutuhkan waktu lama. Simon tiba di kediamannya. Ia bergegas merebahkan tubuh cucunya di kamar Lunna sewaktu kecil.


"Grandpa, tidak mau kau tersakiti, Lunna." Simon menarik nafas pelan, kemudian menutup tubuh Lunna dengan selimut.


Sementara itu, di Indonesia.


Setelah menerima pesan singkat dari Lexi. Leon dilanda keresahan saat Simon menyuruhnya datang ke Los Angeles secepat mungkin. Leon pun bertanya akan tetapi balasan dari Lexi, mengatakan sudah saatnya Lunna mengetahui semua kebenaran tentang orangtua kandungnya.


Sedari tadi, Lily menenangkan Leon yang nampak uring-uringan sebab wanita bermata biru laut itu, memahami kegundahan Leon yang pastinya tak mampu melihat reaksi Lunna nantinya.


"Honey, tenanglah, Lunna pasti akan mengerti," ucap Lily sambil mengelus dada Leon.


Leon enggan membalas perkataan sang istri malah mendekap tubuhnya begitu erat.


"Kita akan ke Los Angeles sekarang, hmm entah mengapa perasaanku tak enak, Honey. Sebaiknya kita membawa Montero yang di Indonesia ke sana." Lily mengelus punggung sang suami.


"Bagaimana dengan Romeo?" tanya Leon. Karena putra bungsunya itu akhir-akhir ini terlihat keletihan.


"Tenanglah, aku yakin Romeo bisa menjaga dirinya," ucap Lily.


"Hm, baiklah, sekarang kita bersiap-siap." Leon mengurai pelukan kemudian mengecup sekilas bibir sang istri.


*

__ADS_1


*


Kembali ke Los Angeles.


Pagi menyongsong. Sisa-sisa hujan semalam masih terasa menyelimuti kota Los Angeles. Di sebuah mansion besar dan megah, dikelilingi dengan taman dan labirin, nampak pria berstelan jas hitam berdiri tegap di setiap sudut-sudut ruangan.


Cicitan burung bergema di telinga Lunna. Wanita berambut panjang itu melenguh sejenak kala tidurnya terusik. Dengan perlahan ia membuka matanya, berkedip pelan, kepala Lunna bergerak ke segala arah, matanya membola melihat ruangan nampak berbeda.


"Aku di mana?!" Lunna mengubah posisi badannya, kemudian memindai furniture di dalam ruangan satu-persatu.


"Whats?! Ini kan mansion Grandpa, mengapa aku bisa di sini? Jack di mana? Baby!"


Lunna mode lupa atau apa malah memanggil Jack. Dia pun beranjak, mencari keberadaan Jack ke sudut-sudut ruang. Seketika langkah kakinya terhenti.


"Haaaaaaa! Mengapa aku bisa di sini?!" Lunna melangkah cepat menuju ambang pintu hendak menemui Grandpa menanyakan mengapa dia ada di sini. Akan tetapi, dahi Lunna berkerut kuat saat pintu tak bisa terbuka sama sekali.


'Tidak mungkin di kunci, Kan?' Lunna berusaha memutar gagang pintu berkali-kali, namun usahanya sia-sia.


"Grandpa! Buka pintunya!" Lunna memukul-mukul pintu berganda besar itu.


"Grandpa!! Buka pintunya!" Mata Lunna berembun entah mengapa perasaannya mulai tak karuan. Apalagi, tak melihat keberadaan Jack membuat dadanya seketika sakit, dia pun bingung ada apa dengan dirinya.


Di luar kamar.


Lexi menarik nafas panjang, mendengar dan melihat pintu kamar Lunna bergerak-gerak. Ia diperintahkan Simon untuk tak membuka kamar Lunna sama sekali sampai Leon dan Lily tiba di Los Angeles. Lexi diterpa kebingungan, ingin sekali masuk ke dalam, hendak menenangkan Lunna.


Lima menit pun berlalu, tak ada pergerakan lagi dari pintu kamar Lunna. Dering handphone mengalihkan atensinya, dengan cepat Lexi mengangkat benda pipih tersebut.


"Lexi, hidupkan televisi di kamar Lunna." Begitu mendengar perintah dari Simon. Lexi segera menekan tombol remote controls.


Lunna terkejut kala televisi di ujung sana menyala seketika. Dengan tertatih-tatih ia beranjak sembari mengusap perlahan jejak tangisnya. Mata Lunna membola melihat dan mendengar pembawa acara mengatakan bahwa artis Lunna A hengkang dari dunia Entertainmant.


"Apa-apaan ini!? Apa maksudnya? Grandpa!!!" Lunna kembali memukul pintu, meminta penjelasan atas semua pemberitaan tentang dirinya. Lunna menebak jika kakeknya dalang dari semua ini.


"Jack, kau di mana?! Aku merindukanmu!" Lunna merosot ke bawah perlahan-lahan di pintu kamarnya. Mata Lunna sudah menganak sungai, ia bingung, resah dan gelisah. Pikirannya berkecamuk mencoba menerka-nerka apa yang telah terjadi semalam.


*

__ADS_1


*


*


Siang menjelang sore. Suasana kediaman Simon nampak tenang. Lunna memperhatikan makanan di atas mejanya masih penuh, padahal makanan itu sudah berada di dalam kamar sebelum ia terbangun tadi pagi.


Ceklek!


Bunyi pintu terbuka. Membuat Lunna bangkit berdiri, dan keluar dari dalam kamar.


"Mommy!" Lunna berhamburan memeluk Lily, seketika ia kembali menitihkan air mata.


"Mommy, Lunna sudah menikah Mom, Lunna merindukan Jack, Mom," kata Lunna tanpa melonggarkan sedikit pelukannya.


'Astaga, benar dugaan Daddy, bagaimana ini, Lunna sudah mencintai Jack.' Lily bingung saat merasakan tubuh Lunna bergetar kuat di dalam dekapannya.


"Namanya Jack Harlow, Mom. Dia CEO di agensiku, Mom, aku rindu padanya, Mommy. Mom, mengapa ada berita di televisi kalau aku berhenti? Aku mau menemui Jack, Mom." Lunna mengurai pelukan hendak mengayunkan kakinya.


Namun pergerakannya terhenti manakala Lily memegang pergelangan tangan Lunna.


"Nak, kita makan dulu ya, nanti kita akan menemui Jack dan menanyakan pada Grandpa," kata Lily. Ia yakin sekali jika Lunna belum makan sama sekali, apalagi baju tidur Lunna masih menempel di tubuhnya dan melihat wajah sang anak nampak sedih.


"Tapi, Mom, Lunna mau bertemu–"


"Nak, iya, iya selesai makan kita pergi ke tempat berkerjamu ya, lihat anak Mommy, belum makan dan belum mandi." Lily berbohong, hanya itu satu-satunya cara yang dapat ia lakukan sekarang. Ia segera menarik lengan Lunna dan menuntunnya ke ruang makan. Lunna tergugu, akan tetapi mengikuti langkah kaki Lily.


Suasana di ruang makan begitu mencekam. Hanya terdengar dentingan sendok sesekali beradu dengan piring. Leon menatap datar pada sang putri, begitu pula Simon.


Lunna merasa aura di sekitarnya teramat berbeda. Jika sebelumnya Leon selalu memeluk dan menyapanya, tapi tidak hari ini. Daddnya lebih banyak terdiam. Berbeda dengan Lily, sedari tadi mengembangkan senyuman padanya.


"Lunna, ke ruangan Grandpa sekarang!" titah Simon sembari menaruh napkin di meja. Dengan cepat pria itu berjalan diikuti Leon mengekorinya dari belakang.


"Nak, ayo kita ke ruang kerja, ada yang mau kami bicarakan," kata Lily membuyarkan lamunan Lunna yang tengah kebingungan dengan situasi saat ini. Mendengar perkataan Lily, Lunna mengangguk lemah.


"Jelaskan pada Daddy, sudah berapa lama kau menikah kontrak dengan Jack Harlow?! Daddy sangat kecewa padamu, Daddy tidak pernah mengajarimu untuk berbohong," Leon berucap tegas sambil menatap tajam pada sang putri.


Deg.

__ADS_1


__ADS_2