Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Kelinci Kecil


__ADS_3

Kecanggungan masih terasa di ruang tengah. Yuri menoleh ke samping, melihat muka Kristin memerah karena malu. Dipenglihatan Yuri, Kristin sangat cantik dan menggemaskan.


'Lain kali Yuri akan membawa Kristin ke kamar.' Yuri bermonolog di dalam hati.


"Selesaikan perkerjaanmu terlebih dahulu, Yuri. Setelah itu baru kau boleh bermain," kata Jack seraya menghela nafas.


"Iya, Tuan. Yuri akan menyelesaikan laporan sebentar lagi. Yuri minta maaf, Tuan." Yuri membungkuk sedikit sebagai tanda permohonan maaf karena telah menunda perkerjaan. Jack membalas hanya dengan berdeham.


"Ada apa?" tanya Sahara yang baru saja masuk ke ruangan. Mata wanita itu terlihat sayu dan rambutnya sedikit berantakan.


Seketika Jack dan Yuri menoleh. Kedua mata Jack memicing melihat Sahara di jam segini tertidur. Dia menggeram sebal di saat semua orang sibuk berkerja, Sahara malah beristirahat.


"Kau baru bangun tidur?!" tanya Jack ketus.


Sahara menundukkan kepala menyadari kelalaiannya dalam berkerja. Pasalnya ia tahu Jack sangat tak suka orang yang berleha-leha dalam melakukan tugas. Dia pun bingung tadi mengapa bisa sampai tertidur di dapur saat tengah mengelap lemari.


"Saya-" Belum sempat ia menjelaskan. Jack berkata,"Gajimu aku potong 70 persen!"


Sahara mengangkat wajah. "Tapi Tuan...." Ia hendak membela diri, namun saat melihat pancaran mata Jack ia tak meneruskan kembali ucapannya.


Jack mendengus. Lalu beralih menatap Yuri dan Kristin. Kristin sedari tadi hanya terdiam sambil mempererat jas Yuri agar badannya tak terekspsos.


'Aku berharap Lunna sudah keluar dari ruangan.'


"Di mana Lunna?" tanya Jack kepada Yuri.


"Nyonya..." Perkataan Yuri menggantung di udara. Ia pun tak tahu di mana keberadaan Lunna saat ini. Dengan cepat matanya menatap Kristin meminta jawaban. Kristin menggeleng pelan sebagai tanda tidak tahu.


"Aku di sini!" Lunna menghampiri Jack lalu menatap datar ke arah suami di atas kertasnya itu.


"Kau dari tadi berenang?" tanya Jack keheranan sebab Lunna masih memakai bikini dan hanya menutupi bagian bawahnya dengan kain.


"Iya, aku berjemur sebentar tadi," jawab Lunna lalu melirik ke arah Kristin tengah duduk di sofa dilindungi Yuri. Dahinya berkerut samar sesaat.


'Ada apa ini? Mengapa baju Kristin di lantai, dan mengapa telinga Yuri memerah? Apa aku melewatkan sesuatu.'


"Mengapa kau tak mengganti bajumu dahulu! Cepat ganti! Dan kau Yuri jangan melihat Lunna! Kalau kau melihatnya matamu akan ku congkel," cicit Jack cepat sembari menyambar tangan Lunna dan menyeretnya keluar dari ruangan.


Yuri dan Sahara saling melemparkan pandangan satu sama lain. Sedangkan Kristin semakin mengeratkan pegangan tangannya. Sedari tadi ia tak menyadari menggengam tangan Yuri.

__ADS_1


'Yuri dan wanita itu kenapa? Ih kenapa berantakan sekali ruangan ini. Baju siapa itu?" Pikiran Sahara berkecamuk, menerka-nerka sesuatu yang tidak ia ketahui.


*


*


"Aduh, kau kenapa sih?!" Lunna mengibaskan tangan Jack setelah tiba di lorong mengarah ke kamar Jack.


Jack mendengus. Tanpa aba-aba mengapit tubuh Lunna ke tembok seraya mengangkat dagunya.


Lunna mulai terlihat panik kala tubuh keduanya saling bersentuhan. Ia dapat melihat pancaran mata Jack menyiratkan kemarahan.


"Kenapa?" tanya Lunna manakala Jack hanya terdiam memandangi dirinya dengan intens.


"Aku tidak suka kau memakai baju kekurangan bahan ini, jika kau berenang pake baju yang tertutup saja. Atau bilaperlu tidak usah berenang!" Jack menekan tubuh Lunna hingga tak ada celah sedikitpun diantara mereka.


Mata Lunna membola kemudian membalas tatapan Jack. "Kau gila atau apa? Kalau berenang ya harus–"


"Kenapa kau selalu keras kepala? Sehari saja kau turuti permintaanku, Lunna Andersean!" Jack menjauhkan wajahnya dan melepaskan tubuh Lunna.


"Suka-suka aku! Lagian kita bukan suami istri sungguhan!!" Lunna berseru sembari melipat tangan di dada.


"Ih, menyebalkan sekali! Argh! Sia-sia aku ke ruangan itu!" Lunna menghentak-hentakkan kaki ke lantai setelah melihat Jack menghilang dari penglihatannya.


Beberapa menit yang lalu, Lunna terpaksa keluar dari ruang rahasia Jack sebab tak menemukan satupun petunjuk. Dia diterpa kebingungan dan mulai panik tatkala ruangan nampak kosong sama sekali. Lunna beranggapan Jack sudah memindahkan semua barang-barangnya ke suatu tempat. Kini, ia berharap Kristin mendapatkan informasi dari Yuri.


***


Cicitan burung-burung munggil di sisi sana bersenandung kecil. Lunna baru saja selesai memoles krim malam diwajahnya. Pikirannya menerawang pada siang hari, ketika Kristin mengatakan bahwa Jack memiliki seorang ayah yang sudah lama meninggal. Kristin hanya mendapatkan informasi itu saja, selebihnya tidak ada, karena Yuri benar-benar bungkam dan tak mau mengatakan latar belakang Jack lebih jelas.


Ceklek!


Pintu terbuka.


Kedua mata Jack melihat Lunna tengah melamun di ujung sana. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar. Seulas senyum penuh arti terbit diwajahnya sejenak.


"Kelinci kecil siap di cabik-cabik," desis Jack pelan tanpa melepaskan pandangan mata dari Lunna. Tungkai kakinya berayun mendekati istrinya itu. Jack berdiri tepat di belakang Lunna. Kedua tangannya terulur dan menyentuh pundak Lunna.


Lunna tersentak kala kulitnya terasa dingin. Ia mengeleng cepat. Kedua bola matanya menatap langsung Jack melalui cermin. Saat ini Jack sedang membungkukkan badan, dagunya ia taruh di pundak Lunna.

__ADS_1


"Kenapa kau melamun?" Jack tersenyum sinis.


Lunna mendengus, lalu menelan saliva pelan menutupi kegugupan yang tiba-tiba menderanya. Entah mengapa suara Jack terdengar seksi sekarang ditelinganya.


"Aku tidak melamun, lepaskan tanganmu!"


Lunna mengibaskan cepat tangan Jack, lalu beranjak cepat, memutar tubuhnya dan memalingkan muka ke samping melihat Jack memandangnya tajam.


Jack menyeringai tipis, melihat kekesalan Lunna. Entah mengapa wajah Lunna yang sebal membuat ia senang. Satu alis Jack terangkat, lalu berkata,"Kalau melamun kau sangat jelek ternyata."


Mata Lunna terbelalak. Apa? Dia tidak salah dengarkan? Jack mengatakan dia jelek? What the hell? Jack adalah orang pertama yang mengatakan dia jelek?! Lunna sungguh tak terima. Wajah mempesona dan menawan ini dikatakan jelek!


"Kau juga jelek!!!" Lunna memekik lalu mendorong tubuh Jack. Ia hendak menaiki tempat tidur. Mood-nya tiba-tiba hancur dalam sekejap mata.


Namun langkah kaki Lunna terhenti kala Jack mencekal tangannya dan menarik pinggangnya.


Deg.


Lunna tergugu melihat sorot mata Jack menyiratkan kemarahan. Radar S.O.S seketika menyala. Dia merasakan dirinya dalam bahaya sekarang.


'Apa Jack tahu aku masuk ke ruangannya.' Kepala Lunna mendongak ke atas. Keduanya memandang satu sama lain.


Walaupun cahaya lampu temaram. Ia dapat melihat Jack mengulas senyum tipis. Sebuah senyuman yang mengerikan bagi Lunna.


Lama keduanya bergeming tanpa ada yang membuka suara. Lunna memalingkan muka ke sisi kanan, menelisik keadaan sekitar. Ia hendak melarikan diri jika Jack akan menghukumnya kembali.


Dengan terpaksa Lunna menatap bola mata Jack yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kau mau apa?"


Jack membalas dengan tersenyum sinis.


"Menurutmu apa yang aku lakukan jika seseorang tak menuruti perintahnya?"


Seketika Lunna memekik kala Jack mendorong tubuhnya terjembab ke atas kasur. Secara bersamaan pula ia melihat Jack mengangkat gunting yang dia tidak tahu sejak kapan benda tajam itu bertengker di tangan Jack.


Tangan kiri Jack mencengkram kedua tangan Lunna lalu menaruh di atas kepala Lunna. Sementara itu, satu tangannya mengangkat gunting ke udara.


Kedua kakinya berusaha memberontak tapi tak bisa karena Jack mengurungnya tanpa memberikan ruang sedikitpun.

__ADS_1


"Argh!!! Jangan Jack!" Reflek Lunna memejamkan mata saat tangan Jack mulai berayun.


__ADS_2