
"Yuri, apa benar Lunna di atas menara itu. Bukan kah tadi kita melihat dia bersama sepupunya?" tanya Jack keheranan.
"Entah lah Tuan, Yuri juga tidak tahu. Bisa saja Lunna dipindahkan ke menara seperti di film barbie rapunzel," sahut Yuri dengan mengedarkan pandangan di sekitar.
Mendengar perkataan Yuri. Dahi Jack berkerut kuat. "Barbie rapunzel? Apa itu?"
"Sudah lah Tuan, lebih baik kita ke sana saja dulu. Ayo."
Yuri mempersilahkan Jack berjalan mendahuluinya. Ia bersiap sedia dengan posisi waspada takut jika beberapa penjaga yang dia beri obat tidur akan terbangun. Yaps, selama seharian ini Jack dan Yuri menyamar menjadi penjaga di mansion Simon. Keduanya merasa lega mendapatkan informasi jika Simon dan orangtua Lunna tak berada di tempat. Bagai angin segar. Keduanya segera menjalankan aksinya malam ini.
Jack mendongak melihat menara bergaya eropa nampak terang di atas sana. Ada keraguan menyelimuti hatinya. Dia yakin sekali jika Lunna tak berada di dalam menara.
"Yuri, kau yakin? Apa wanita itu tidak mengerjai kita?" tanya Jack.
"Hm, coba saja periksa Tuan." Dengan enteng Yuri menjawab tanpa tahu Jack sekarang tengah berpikir bagaiman caranya untuk naik ke atas. Pasalnya menara tersebut sangat lah tinggi.
"Yuri, kau pikir aku ini spiderman, bagaimana caranya ke atas!" kata Jack ketus.
"Shftt, Tuan jangan berisik, iya kenapa Tuan tidak melempar batu untuk mengetes," kata Yuri sembari celingak-celinguk sedari tadi.
Jack mendengus sesaat kemudian menuruti perintah tangan kanannya itu dan melempar batu kerikil ke atas. Secara bersamaan pula secarik kertas di lempar ke bawah. Dengan cepat Jack membuka kemudian membaca seksama.
"Jack, bawa aku pergi, panjatlah menara ini. Aku sangat tak sanggup terlalu lama di sini, aku merindukan bau kentutmu Jack." Dahi Jack berkerut kuat setelah membaca pesan dikertas sama halnya dengan Yuri.
"Ayo cepat lah Tuan. Sebelum kita ketahuan," kata Yuri. Membuat Jack makin bersemangat dan mengambil posisi memanjat menara berwarna krem itu. Dengan perlahan tapi pasti Jack memanjat bangunan itu dan berhasil menggapai bagian jendela ruangan.
"Lunna, keluar lah Baby, ayo," sahut Jack. Detik selanjutnya matanya melebar melihat Darla menyeringai tipis di depan jendela.
"Mana Lunna?" tanyanya ketus.
"Di sana!" Darla menunjuk bangunan di sebelah kanan dengan tersenyum penuh arti.
"Whats?! Lalu mengapa kau mengatakan Lunna ada di sini!" Jack menahan tubuhnya dengan menggengam kuat kusen jendela.
"Haha, hitung-hitung hukuman karena kau tidak bisa melindungi sepupuku!" sahut Darla dengan mengangkat jari tengahnya kemudian menekan jari-jemari Jack hingga pria itu terjatuh ke bawah sana menimpa tubuh Yuri.
Darla malah tertawa lepas melihat Jack dan Yuri nampak kesakitan kemudian dia menutup jendela dan berjalan ke sofa hendak melanjutkan tidurnya.
Sedangkan di bawah sana. Jack bersungut-sungut menyumpah serapah Darla.
"Dasar wanita gila! Aku sumpah dia memiliki suami seorang mafia yang kejam sehingga bisa di siksa oleh suaminya!" Jack merapikan jasnya sesaat.
"Tuan bagaimana? Apa Lunna di atas?" tanya Yuri.
"Tidak ada, Lunna ada di ruangan itu." Jack menunjuk sembari berjalan cepat menuju bangunan sebelah.
"Ha? Lalu di atas siapa?" tanya Yuri penasaran.
"Wanita psyco! Sudah lah, ayo kita ke sana."
Lantas keduanya berjalan cepat menuju bangunan sebelah. Tak mau membuang waktu Jack segera memanjat dan sampai di jendela kamar Lunna. Dengan perlahan dia masuk. Melihat Lunna tengah tertidur pulas seperti kerbau.
"Kau nakal Lunna A, malah tertidur pulas. Awas saja dia!" Jack mengangkat tubuh Lunna dan menggendongnya. Ia kebingungan sesaat bagaimana caranya untuk turun. Namun kemudian dia tersenyum tipis melihat balkon terhubung dengan jembatan dan rooftop di ujung sana. Jack pun bergegas melewati jembatan tersebut.
Akan tetapi tiba-tiba bunyi sirine menggema di seluruh mansion. Seketika sebuah helikopter menerangi tubuh Jack dengan lampu. Membuat langkah kaki Jack terhenti antara jembatan dan rooftop. Deru angin menerbangkan kain yang menempel ditubuhnya.
Derap langkah kaki beberapa penjaga terdengar di setiap sudut-sudut mansion. Dengan cepat mereka mengangkat senjata ke arah Jack dan Yuri.
"Jangan bergerak!" sahut seseorang tak lain dan tak bukan ialah Leon Andersean. Ia berada di ruangan lain yang searah dengan jembatan.
Jack menoleh, tanpa menurunkan tubuh Lunna. "Tuan Andersean, ketahui lah aku tidak pernah membunuh anakku. Justin yang membunuh anak aku dan Lunna. dia saudara kembarku. Izinkan aku membawa Lunna kami saling mencintai Tuan!"
__ADS_1
"Hahaha! Jangan membuat sandiwara Harlow!" sahut Simon tiba-tiba. Dia baru saja masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ada Leon dan Lily.
"Tidak, itu memang benar, Tuan Simon. Lebih baik sekarang kita bicarakan saja baik-baik." Yuri bergegas menghampiri Jack dan Lunna dengan memanjat kemudian mengambil pedang samurai yang tersampir dibajunya hendak melindungi Jack dan Lunna.
"Cih! Kalian cepat tembak mereka. Jangan sampai mengenai Lunna!" perintah Leon.
Mendengar titah. Seketika baku tembak terdengar di mansion. Akan tetapi helikopter berwarna hitam masuk ke mansion dan dua ninja melompat ke bawah.
Yuri dan dua ninja itu menghalau serangan timah ke arah Jack dan Lunna dengan pedang samurai masing-masing. Darla yang menyaksikan perkelahian di ruang melalui kaca raksasa, berdecak kagum melihat ketiganya bisa menghadang peluru dengan cepat.
Dari arah selatan nampak helikopter masuk lagi ke kediaman Andersean. Kali ini helikopter berwarna putih. Semua orang yang mendengar deru helikopter masuk, memusatkan perhatiannya. Seorang pria berstelan jas biru dongker turun dari helikopter dan membuka kacamata.
Seketika Simon, Leon, dan Lily tercengang melihat sosok yang sangat mirip dengan Jack. Berarti benar jika Jack memiliki saudara kembar. Simon mengangkat tangan kanan memberikan bahasa isyarat agar menghentikan serangan.
"Justin!" Jack tersenyum sumringah berharap Justin dapat membantunya. Secara bersamaan pula segera Lunna terbangun. Jack menurunkan tubuh Lunna perlahan. Kemudian berkata,"Baby, lihat aku datang menjemputmu!"
Lunna yang masih mode ngantuk, menguap dan mengucek-ucek sejenak matanya.
"Jack!" panggil Lunna.
"Iya!"
"Iya!"
Bukan hanya Jack yang menjawab namun pula Justin berjarak beberapa langkah dari Jack dan Lunna.
Lunna bersikap waspada, kemudian berlari cepat menjauhi Jack dan Justin. Kini dia berada di tengah-tengah keduanya. Lunna tak mau salah orang. Apalagi rasa trauma kehilangan anaknya masih membekas.
"Tidak, Lunna, ini aku Jack yang sebenarnya!"
"Lunna! Kemari lah Nak, mereka bisa saja menjebakmu!" sahut Simon di ujung sana.
Lunna diterpa kebingungan. Ia melihat Jack dan Justin secara bergantian.
'Kenapa mereka sangat mirip! Tidak seperti kak Sam dan kak Nick!'
Pasalnya dari segi wajah, warna rambut tidak ada yang beda. Belum lagi sekarang mimik muka Jack dan Justin sama-sama mirip yang saat ini tengah menatap satu sama lain dengan tajam. Jadi Lunna sedikit kesusahan mana Jack dan mana saudara kembarnya.
"Baby, ini aku Jack!"
"Baby, ini aku Jack!"
Jack dan Justin menjawab serempak. Jack mendengus melihat Justin yang sengaja mempermainkan dirinya.
"Bisa kah kau diam ha?!!"
"Bisa kah kau diam ha?!!" sahut keduanya bersamaan.
"Kalian yang diam!!!" teriak Lunna dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Lunna A, di sisi kanan itu adalah Tuan Jack! Bukan yang kiri, percayalah pada Yuri." Yuri menatap dingin ke arah Justin yang bersikap tenang.
"Jangan Nak. Bisa saja mereka sedang menjebakmu! Ingat salah satu dari mereka membunuh anakmu, kita tidak tahu!" Lily mulai membuka suara. Jujur dia sangat takut Lunna jatuh lagi ke jurang yang salah. Meski sekarang dia baru percaya jika Jack memiliki saudara kembar identik. Sedangkan Leon terdiam tanpa menurunkan senjatanya. Sedari tadi pistol berlaras pendek itu mengarah pada Jack dan Justin secara bergantian. Sementara itu, Simon melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi sedikitpun sekarang' tengah memikirkan sesuatu.
Lunna di terpa dilema. Lagi dan lagi menatap Jack dan Justin bergantian.
__ADS_1
'Aduh, hanya tato itu yang tidak dimiliki Jack. Tidak mungkin aku membuka baju mereka satu-persatu."
Melihat Lunna nampak kebingungan Justin membuka kemejanya dan menampakkan dadanya yang sudah dipoles foundation tadi. Jadi, tato itu tersamarkan dan tak dapat terlihat.
"Baby, ini aku Jack," sahut Justin.
Jack semakin meradang. Tak mau kalah membuka cepat kemejanya juga. Lunna semakin bingung melihat keduanya sama-sama tak memiliki tato.
'Argh! Bagaimana ini, berpikir lah Lunna, berpikir!'
Di saat Lunna berpikir. Sedari tadi Lily memanggil dirinya namun karena melamun Lunna tak mengubris panggilan sang ibu.
Put!!!
"Lunna kau gila atau apa ha?!" Jack yang asli reflek menutup hidungnya.
"Ha! Itu Jack!" Dengan cepat Lunna berlarian ke sisi kanan.
Justin malah mengibaskan tangan ke udara lalu mendengus kasar. Yuri menghela nafas kasar sedangkan dua ninja membatin di dalam hatinya.
'Nah ini racunnya, mengapa aromanya berbeda-beda ya!' sahut sang ninja wanita.
'Hoek, aku harus bisa mendapatkan racun ini agar bisa melumpuhkan bedebah itu.' Ninja pria menatap Justin dingin.
Darla menepuk jidatnya sendiri melihat Lunna mengeluarkan gas beracun berkekuatan sedang di tengah-tengah ketegangan yang telah terjadi. Tak terkecuali Lily dan Simon menggelengkan kepala perlahan melihat keabsurdan Lunna. Berbeda dengan Leon. Rahang pria itu semakin mengeras ketika melihat Lunna dan Jack saling memeluk satu sama lain di depan sana. Ia menarik pelatuk lalu..
Dor!
Dengan cepat Lily mengarahkan tangan Leon ke atas langit.
"Kau mau membunuh Lunna, Leon!!!" murka Lily untuk pertama kalinya membentak sang suami. Leon tergugu melihat pancaran mata Lily amat menyeramkan.
Di ujung sana. Jack dan Lunna melepaskan pelukannya.
"Mengapa kau kentut, Baby!"
"Diam lah Jack, hanya ini satu-satunya cara. Sudah lah bawa aku pergi dari sini!" Tadi Lunna berpikir cara apa yang paling efektif untuk membuktikan salah satu dari mereka adalah Jack. Entah ide dari mana Lunna teringat Jack memiliki ciri khas jika menutup hidungnya. Setelah mengeluarkan gas beracun. Tanpa ada keraguan sedikitpun Lunna pun mendekati pujaan hatinya.
"As you wish, baby!" Jack seketika mengangkat tubuh Lunna ala bridal style. Kemudian memberikan kode pada Yuri dan dua ninja menjadi tameng agar dia dapat naik ke helikopter.
"Jack Harlow! Kembalikan anakku!" teriak Leon di ujung sana sembari berjalan cepat hendak menghampiri sepasang sejoli itu.
"Never! She mine!" Dengan cepat Jack masuk ke dalam helikopter meninggalkan mansion Andersean. Bersamaan pula Justin masuk ke dalam helikopter miliknya.
'Haha, lumayan menyenangkan menganggumu Jack, ini hadiah sebelum aku pergi untuk menebus dosa-dosaku, tunggu aku Mommy.' Batin Justin sembari menatap Jack yang melayangkan tatapan jahil.
"Siapkan helikopter!!!" raung Leon sambil mengendorkan dasi dijasnya.
"Tidak!" Lily berkata tegas. Membuat Leon tersentak kaget.
"Apa maksud mu!? Aku tidak akan membiarkan Jack membawa putriku!"
"Leon, mereka saling mencintai, biarkan saja mereka."
"No, sampai kapanpun aku tidak akan merestui hubungan mereka!" Leon bergegas ke ruangan lain hendak mengambil kunci mobil sebab Simon sang ayah sedari tadi terdiam, entah apa yang pria tua itu pikirkan. Secepat kilat Lily mengekori Leon. Sesampainya di ambang pintu utama. Lily menyenderkan kepala ke pintu sisi kanan kemudian melipat tangan dada.
"Pergi saja sana! Pergi sana kau, Leon Andersean! Jangan berharap aku akan membukakan pintu surga untukmu!!"
Langkah kaki Leon terhenti. "Whats! Tapi Honey_"
Brak!!!
__ADS_1
Lily segera menutup pintu berganda besar itu dengan kuat. Membuat Leon berteriak frustrasi di pelataran mansion.
"Argh!!! Damn!!"