
Setelah mendengar penjelasan Sensei. Yuri diterpa dilema. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya dari Sensei. Meskipun begitu, Yuri tetap menuruti perintah Sensei.
Yuri terlihat cemas tatkala melihat Jack baring tak berdaya di tempat peraduan dengan kepalanya di perban.
'Aduh, padahal aku punya kabar baik, kalau Lunna A, ingin bertemu Tuan Jack. Aku berharap Tuan lekas pulih.'
"Yuri, tinggalkan kami sendirian." Sensei membuyarkan lamunan Yuri. Justin yang berada disamping Sensei tersenyum tipis, melihat adiknya mendapatkan luka dari Sensei. Sementara itu, Erika dan Aoki tak diperbolehkan masuk ke dalam kamar Jack. Jika melanggar, keduanya akan mendapatkan hukuman.
Yuri menghela nafas. Dengan terpaksa melangkah pergi, meninggalkan Jack bersama Sensei dan Justin.
"Justin," panggil Sensei selepas kepergian Yuri.
Justin menoleh. "Iya, Sensei."
"Kau membawa obat yang ku suruh, Kan?"tanya Sensei sambil melirik Jack di tempat tidur sesekali.
Justin tersenyum tipis. Beberapa menit yang lalu, Sensei memerintahkannya untuk mengambil heroin di ruang rahasia Jack. Dia tak tahu rencana apa yang telah dipersiapkan Sensei, namun yang jelas, sepertinya rencana Sensei menguntungkan baginya.
"Iya, aku membawanya, harus kah aku menyuntiknya sekarang?" tanya Justin.
"Suntik saja sekarang sebelum dia terbangun, jangan lupa suntikan juga obat tidur padanya." Sensei mempersilahkan Justin melakukan tugasnya. Secepaf kilat, Justin menyuntikkan cairan ke tubuh Jack, tidak lupa obat tidurnya.
"Aku sangat kecewa padanya, mulai dari sekarang, kau mengantikan Jack, jadilah seperti Jack. Jadilah CEO di perusahaannya sampai ia mau menuruti perintahku untuk menikahi Aoki," kata Sensei tanpa melepaskan pandangan mata dari Jack.
Justin enggan menyahut, akan tetapi seringai licik terpatri jelas diwajahnya.
'Haha, akhirnya satu-persatu apa yang akan ku inginkan akan segera tercapai.'
*
*
*
"Yuri, bagaimana keadaan Jack?" tanya Erika begitu melihat Yuri sampai di ruang tengah.
Yuri menarik nafas panjang. Entah mengapa perasaannya semakin tak karuan, melihat pancaran mata Sensei tadi. Ia berharap Jack baik-baik saja.
"Hmm, baik-baik saja, Sensei dan Justin bersamanya di kamar." Suara Yuri terdengar meragukan, membuat Erika seketika resah.
"Kau yakin?" tanyanya ingin memastikan. Erika menatap lekat Yuri berharap pria dihadapannya menyampaikan keadaan Jack apa adanya.
Yuri tergugu, membasahi bibir sedikit, hendak membuka bibirnya.
"Yuri!"
Yuri mengurungkan niatnya menjelaskan prasangkanya tentang Sensei dan Justin tatkala mendengar panggilan Sensei dari belakang.
__ADS_1
Yuri menoleh, lalu membungkuk sedikit. "Iya Sensei."
"Mulai hari ini, Justin mengantikan Jack. Dia akan berkerja di perusahaan, jangan sampai orang tahu. Sensei akan meminta bantuan investor dari Jepang menanam saham di perusahaan Jack. Jack sedang sakit, berdoa saja agar beberapa hari ke depan dia lekas pulih. Lakukan saja perintahku, jangan banyak membantah." Sensei menatap tajam ke arah Erika.
Erika berdecak kesal di dalam hatinya, ada sesuatu yang janggal menurutnya. Belum lagi gelagat Sensei nampak mencurigakan. Ada rasa tak rela kala Sensei mengatakan Justin akan menggantikan Jack untuk sementara waktu.
"Iya, terserah padamu. Aku ingin bertemu Jack sekarang." Erika ingin melihat keadaan Jack sekarang juga. Entah mengapa perasaannya teramat gelisah sedari tadi.
"Tidak boleh ada yang masuk ke kamar Jack, kecuali aku dan Justin. Termasuk kau juga Yuri," kata Sensei melirik Erika dan Yuri secara bergantian.
Sedari tadi Yuri terdiam mendengarkan penuturan Sensei. Rasa cemas dan gelisah menyelimuti hatinya. Saat ini ia berharap Jack baik-baik saja.
"Baik, Sensei," balas Yuri kemudian membungkuk sedikit. Sedangkan Erika mendengus kasar mendengar perkataan Sensei.
*
*
*
Esok hari. Suasana mansion Andersean di lantai satu nampak ramai tak seperti biasanya. Mr. Alabama bertandang ke rumah besannya itu. Begitu mendengar keadaan cucunya. Sepulang dari negeri Belanda, pria paruh baya itu segera mengunjungi kediaman Simon Andersean ingin menemui cucunya itu dan mengatakan kebenaran tentang siapa dirinya pada Lunna.
Simon, Leon, dan Lily menyambut kedatangan Mr. Alabama dengan baik. Ketiganya sedang sarapan bersama di ruang makan sembari bercengkrama ria.
Berbeda dengan Lunna di lantai empat. Wanita berambut panjang itu sedang mengigit bibirnya. Kini, ia tengah berada di toilet, duduk di atas closet sembari memperhatikan benda pipih yang bertengker di tangan kanannya. Mata Lunna membulat seketika mengamati benda pipih tersebut.
"Ish! Tunggu sebentar!" Dengan tergesa-gesa Lunna memasukan benda pipih itu ke dalam laci dan mengunci rapat laci tersebut. Kemudian berjalan cepat menuju ambang pintu.
"Kau ini selalu saja mengganggu ku, Darla!" Lunna merengut saat Darla menyelenong masuk setelah ia membuka pintu kamar mandi.
"Menganggu? Kau itu lama sekali! Hampir satu jam aku menunggumu tau! Sudah pergi sana kau! Aku mau...."
Put!!!
"Darla!!" teriak Lunna sambil menutup hidungnya.
"Haha, rasakan itu, pergi sana, syuh syuh!" Darla tertawa kemenangan saat mengeluarkan gas beracun miliknya. Sedari tadi, dia sudah menahan diri untuk tidak kentut di dalam kamar. Jiwa jahilnya meronta-ronta ingin menjahili Lunna.
"Si@lan!" Lunna menghentak-hentakan kaki sejenak ke lantai sebelum menutup pintu.
Sesampainya di kamar. Lunna menarik nafas kemudian duduk di tepi ranjang. Satu tangannya terulur menyibak piyama tidurnya.
"Mommy tak menyangka, kau hadir terlalu cepat, Nak."
Lunna mengelus-elus perutnya yang masih rata itu. Iya, ketika di toilet Lunna mendapati garis dua terpampang jelas di test-pack. Kemarin ia baru saja teringat jika tanggal menstruasinya lewat. Tak mau menerka-nerka dia pun meminta Darla membelikannya test-pack.
Binar kebahagian terpancar jelas diwajahnya. Berharap kehadiran anaknya dapat meluluhkan hati Leon dan Simon. Sebab, ia mendapatkan informasi dari Darla akan dinikahkan dengan seseorang yang tidak ia ketahui identitasnya itu.
__ADS_1
"Jack, kau akan menjadi seorang Daddy," Lunna bergumam pelan. Kemudian mendesah pelan mengingat pembicaraannya dan Kristin mengatakan Jack di sana tidak baik-baik saja.
"Lunna! Kau kenapa?" tanya Darla yang baru saja keluar dari toilet.
Lunna menoleh, lalu berkata,"Kemari lah, ada yang mau aku bicarakan."
Dahi Darla berkerut samar, melihat senyuman Lunna yang merekah bak bunga mawar merah. Tanpa banyak kata, Darla duduk di samping Lunna.
"Ada apa? Kau mau minta apa lagi? Jangan bilang jengkol? Atau makanan Jepang lagi?!" kata Darla ketus sembari mencebikkan bibir, sebab di mansion Lunna menjadikannya sebagai kurir makanan.
Lunna memutar bola mata malas. "Ish, kau itu selalu saja overthinking! Kau ingat aku kemarin memintamu membelikanku test-pack, Kan?"
"Hmm, iy..." Perkataan Darla mengantung di udara. Matanya membola, melihat ekspresi Lunna yang senyam-senyum sendiri sedari tadi.
"Oh my GOD!!!" Reflek Darla mengambil bantal dan memukul-mukul tubuh Lunna bertubi-tubi.
"Stop!! Apa yang kau lakukan, Darla?! Kau ingin membunuh anakku?" Lunna melototkan matanya sembari mengambil bantal dari tangan Darla dan melempar ke sembarang arah.
"Jadi, kau hamil?" tanya Darla menyampaikan praduganya.
Lunna mengangguk cepat.
"Wow, aku tak menyangka ternyata kecebong Jack sangat cepat bermutasi?!"
"Iya, aku juga tak menyangka, dan anehnya aku tidak muntah-muntah, seperti orang hamil pada umumnya."
Darla mencak-mencak sendiri. Detik selanjutnya, ia berkata,"Tapi, Lunna apa yang akan kau lakukan sekarang, kau kan mau dijodoh kan?"
"Tenanglah, aku akan mengatakan pada Daddy dan Grandpa untuk membatalkan perjodohanku dan menggunakan bayiku ini agar Jack dapat di terima sebagai menantu mereka," kata Lunna percaya diri.
"Hmm, kau yakin, Lunna?"
"Iya, aku yakin, aku minta padamu jangan mengatakan pada siapapun mengenai kehamilanku."
"Baiklah, lebih baik sekarang kita bersiap-siap, di bawah sana ada tamu penting, lebih baik kau cepat memberitahukan Grandpa dan Uncle."
Lunna membalas dengan mengangguk pelan.
*
*
*
Saat ini, Lunna dan Darla berada di ruang keluarga bersama Simon, Leon, Lily dan Mr. Alabama. Rasa senang menjalar di relung hati Lunna manakala mendapat satu kebenaran jika Mr. Alabama adalah kakeknya tadi.
"Dad, Grandpa, bagaimana jika aku hamil anak Jack?" tanya Lunna menatap lurus ke depan, melihat Leon dan Simon secara bergantian. Mendengar perkataan Lunna, suasana di dalam ruangan begitu mencekam.
__ADS_1
"Gugurkan!" sahut Leon tegas.