
Deg.
Perkataan Leon membuat dada Lunna di hujam ribuan belati. Wanita berparas cantik itu teramat kecewa mendengar perkataan Daddynya atau lebih tepat Uncle-nya. Lunna menghirup nafas pelan, berusaha menyembunyikan rasa sesal dihatinya agar Leon tak menaruh curiga.
Apakah Daddynya tidak memiliki rasa iba sedikitpun, meski, ada janin yang sedang tumbuh perlahan diperutnya. Sebegitu bencinya kah Leon pada Jack. Kenapa Jack dimata Leon seperti iblis? Lagian Daddy Jack juga yang membuat masalah karena telah membunuh orangtuanya. Kemarin, Lunna berusaha bersikap dewasa tatkala mendapatkan fakta yang menyakitkan baginya, saat mendapati orangtua kandungnya terbunuh karena ulah Daddy Jack. Namun dia tak mau melihat ke belakang dan terperangkap dengan masa lalu, lebih baik fokus pada masa depannya sekarang.
"Apa kau hamil?" tanya Leon mengamati gestur tubuh Lunna yang terdiam seperti patung sedari tadi.
"Tidak, Dad" Lunna berkata datar, ia mencoba setenang mungkin menjawab perkataan Leon. Walaupun dadanya bergemuruh kuat saat ini.
"Kau membuat Grandpa khawatir, jangan sampai kau hamil anak Jack! Aku tidak sudi memiliki cucu dari Jack, meskipun nanti dia lahir ke dunia, aku tidak akan mengakuinya," Simon berkata lugas membuat hati Lunna semakin remuk redam.
"Iya, aku tahu, lagian aku dan Jack jarang melakukannya," desis Lunna, kemudian menyambar teh di atas meja, menyesap perlahan kerongkongannya yang kering itu. Sungguh ingin sekali ia berteriak melepas semua beban di pundak sekarang jua.
Darla yang mendengarkan perbincangan, hanya bisa membatin. Dia juga sangat kecewa dengan keputusan Uncle dan Grandpa. Darla bersikap biasa saja agar kedua orang yang dia segani itu tak menaruh rasa curiga sedikitpun padanya.
Berbeda dengan Lily, sedari tadi dia mengamati tingkah laku Lunna. Jika Leon dan Simon tak mengharapkan anak Jack, maka wanita itu sangat menginginkan seorang cucu.
Dia tak peduli darah siapa yang mengalir di tubuh sang cucu, sebab semua anak yang lahir ke dunia tak bersalah sama sekali. Mereka hanya makhluk kecil yang tidak tau apa-apa. Lily menarik nafas, ada sesuatu yang menjanggal menurutnya. Entah mengapa feelingnya mengatakan Lunna tengah hamil. Namun Lily enggan menimpali obrolan, diam seribu bahasa sebab ia juga kecewa dengan keputusan suami dan mertuanya itu.
"Kau yakin, Sugar? Grandpa akan mengakuinya walaupun dia anak Jack." Mr. Alabama akhirnya membuka suara. Ia tak mempermasalahkan darah siapa yang mengalir di tubuh cicitnya nanti.
Mendengar perkataan Mr. Alabama membuat Leon dan Simon mendengus kasar. Sementara Lunna tengah bersorak di dalam hatinya.
'Oh my God! Grandpa aku ingin sekali memeluk mu sekarang juga. Kau lihat, anakku ada seseorang yang akhirnya menginginkan kehadiranmu, nanti kalau sudah besar jangan dekat-dekat kedua Grandpa di depanmu ini ya, dengar ya anak Mommy, tanamkan itu di pikiranmu! Jangan sampai luluh, walaupun mereka membelikan semur jengkol, makanan ataupun helikopter nantinya!!'
"Terserah kau, yang jelas aku tidak akan mengakuinya sama sekali," jelas Simon dengan tersenyum tipis.
"Aku yakin, Grandpa. Aku belum hamil." Lunna menjawab perkataan Mr. Alabama.
__ADS_1
Mr. Alabama menarik nafas panjang, kemudian berkata,"Yah, padahal aku sekarang mau cepat-cepat memiliki cicit, aku tak peduli dengan perkataanmu, Simon. Itu urusanmu!"
"Sudah lah, lebih baik kita membicarakan sesuatu yang lebih menarik," kata Leon berusaha meredam ketegangan yang telah terjadi barusan.
Begitu mendengar ucapan Leon semua orang menghela nafas pelan tak terkecuali Lunna. Dia sudah dapat menebak apa yang ingin dibicarakan Leon.
Sebelum bibir Leon membuka. Lunna berkata,"Apa soal perjodohanku?"
Leon, Lily, dan Simon serempak menoleh, menatap Lunna, dan beralih menatap Darla yang sedang sibuk menyantap dessert es krim di mangkuknya.
Merasa diperhatikan Darla mengedipkan pelan matanya. "Apa? Apa salahku, Uncle? Oh come on, lagian kami berdua Lunna kan soulmate jadi tidak mungkin, aku tidak menceritakan isi grup chat keluarga kita," cerocos Darla tanpa meletakkan mangkuk di atas meja.
Lily menggelengkan kepala melihat keponakannya itu makan es krim terus padahal cuaca hari ini teramat dingin.
"Darla, taruh dulu es krimmu!" titah Lily sambil melotot sedikit. Darla membalas dengan nyengir kuda.
"Hehe, sorry, Auntyku yang cantik jelita." Dengan cepat Darla menaruh mangkuk di atas meja.
"Iya, kau sudah tahu siapa yang akan menjadi calon suamimu," tanya Leon.
"Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli, sekalipun dia anak pejabat," kata Lunna ketus.
Semenjak, Leon menampar Lunna kemarin, sikap Lunna padanya berubah seratus delapan puluh derajat. Padahal Leon sudah meminta maaf pada putrinya itu.
"Baiklah, kau pasti senang nanti, dia orang yang sangat kau kenali," Leon berucap datar, mencoba meredam rasa sesal pada dirinya sendiri karena kesalahannya membuat Lunna berani melawannya.
"Hmm, terserah! Aku mau ke kamar, capek!" Sebelum beranjak, Lunna melemparkan senyuman pada Mr. Alabama.
"Baiklah, nanti siang calon suamimu akan datang," kata Leon melihat Lunna bangkit berdiri. Tanpa banyak kata, Lunna melenggang pergi dengan menampilkan ekspresi cuek.
__ADS_1
Menjelang siang. Setelah membersihkan diri, Lunna menatap refleksi dirinya di depan cermin dengan wajah tertekuk sempurna. Dia begitu kesal terhadap Daddy dan Grandpa, sebab mereka sudah terlewat batas. Ingin sekali Lunna melarikan diri sekarang juga. Namun, dari kemarin mansion selalu di jaga ketat.
"Argh!!!" raung Lunna dengan nafas memburu.
"Lun!" Darla menyelenong masuk ke dalam kamar. Mendapati Lunna tengah merengut kesal.
"Hmmmmmmmm!" Lunna membalas dengan berdeham keras.
Darla duduk di tepi ranjang sembari memainkan rambut panjangnya. Dia menghela nafas sejenak, ternyata kisah cintanya dan Lunna begitu miris. Tak semulus jalanan tol.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Darla penasaran.
Lunna menoleh, lalu berkata,"Entah lah!"
Dahi Darla berkerut samar. "Lun, bagaimana dengan anakmu?"
Lunna menarik nafas panjang. "Bisa kah kau diam! Lebih baik kau bantu aku sekarang memikirkan apa yang harus aku lakukan menghadapi calon suamiku nanti?"
"Tidak usah melakukan apa pun, bersikap biasa saja, jadi lah diri sendiri, kalau kau memang mencintai Jack, tolak saja!" ucap Darla apa adanya.
"Kau benar! Aku penasaran siapa pria yang Daddy pilih, apa setampan Jack-Jackku," kata Lunna kemudian beranjak.
Tepat pukul satu siang. Lunna turun ke bawah hendak menemui keluarganya dan sang calon suami. Dengan wajah angkuh Lunna menuruni tangga satu-persatu. Begitu sampai di ruangan, dahi Lunna berkerut kuat, melihat seseorang yang sangat ia kenal.
"Brian? Kenapa kau ada di sini?" tanya Lunna yang masih berdiri. Brian membalas dengan seulas senyuman.
"Lunna, duduk lah dulu, Nak," kata Lily dengan mempersilahkan Lunna untuk duduk di sampingnya.
Lunna menurut, melayangkan tatapan intimidasi pada Brian yang tengah menebarkan senyuman padanya.
__ADS_1
"Lunna, dia adalah calon suamimu," kata Leon tiba-tiba.
Mata Lunna membola mendengar perkataan Daddynya barusan. "Aku menolak perjodohan ini!" Lunna berkata cepat.