
Hari datang silih berganti. Tak terasa sudah hampir tiga minggu Lunna berada di mansion. Dia bagaikan tahanan yang tak terkurung. Selama itu pula ia sedang mencari cara untuk melarikan diri, namun tak bisa, pergerakan Lunna sekarang benar-benar diawasi. Semenjak kejadian minggu lalu saat dia berusaha melarikan diri dengan menyamar sebagai salah satu bodyguard Kakeknya. Padahal dia sudah berkamuflase dengan baik.
Lunna merutuki dirinya sejenak, sebab ketika menjadi kelompok mafia Draglife di Rusia hanya ikut-ikutan saja. Dia masuk ke dunia mafia pun hanya sebentar tak sampai bertahun-tahun agar terlihat keren batin Lunna kala itu, meski pun begitu dia pernah berurusan dengan dunia bawah tanah. Seandainya saja dulu ia tak ketahuan Leon, Daddynya itu, mungkin dia sudah menjelajahi dunia hitam.
Lunna menarik nafas pelan kala merasa makanan yang disuguhkan asisten di kediaman kakeknya tak sesuai seleranya. Dia merengut kesal, ia ingin pergi ke restaurant namun itu hanya lah angan-angan saja. Sebab Leon dan Simon tak mengizinkannya keluar. Sesekali Lunna berjalan di sekitar mansion dengan banyak pasang mata memandangnya di segala arah.
Seperti ini, hari ini Lunna baru saja pulang dari taman labirin, melepas rasa bosannya, namun bodyguard Simon menguntitnya bak anak itik.
"Ish, menyebalkan sekali hidup seperti ini!" Lunna menghentak-hentakan kaki di sepanjang langkah, menapaki tangga.
'Astaga, Lunna ingat kau sedang hamil, berhati-hati lah!' Lunna baru saja teringat jika sedang berbadan dua karena hentakan kakinya lumayan keras barusan.
Menarik nafas, kemudian bergegas berjalan kamarnya. Sesampainya di dalam kamar. Lunna duduk pelan di tepi ranjang.
"Nak, coba kau bantu Mommy mu ini mencari cara agar keluar dari sini, kau tidak mau bertemu Daddymu apa?" tanya Lunna menatap ke arah perutnya, seperti berbicara dengan anaknya sendiri.
"Aku masih kecil, Mommy, itu tugas Mommy yang cerewet itu, i don't care!" sahut seseorang di ambang pintu. Dan tentu saja pelakunya adalah Darla yang menyelenong masuk tanpa permisi sama sekali.
Lunna menoleh, melihat Darla tengah menutup pintu. "Ish, dasar Aunty laknat! Kenapa kau ke sini ha, aku sangat muak melihat mukamu itu!" cerocos Lunna memutar bola mata malas.
Darla terkekeh sejenak. "Muak? Ayo lah, aku datang juga karena membawakan kalian sesuatu!" Darla mengangkat totebag yang bertengker ditangannya.
__ADS_1
Mata Lunna memicing, penasaran apa yang di bawa sepupunya itu. "Apa tuh? Makanan?" tanyanya sebab selama beberapa minggu di mansion, tanpa di suruh Darla selalu mengunjunginya dan membawa makanan-makanan.
"Yaps, sebenarnya makanan ini untuk keponakanku sih, bukan untuk kau?!" cicit Darla sembari meletakan totebag di meja.
Mendengar perkataan Darla, Lunna mendengus sejenak, kemudian berkata,"Whatever! Enak tidak?"
"Bukan kah semua makanan yang kau makan selalu kau bilang enak!?" kata Darla ketus sembari membuka totebag dan mengeluarkan makanan yang dia bawa. Ia tentu saja ingat nafsu makan Lunna bertambah dua kali lipat, selama dia membawakan Lunna makanan. Lunna tak pernah sekalipun komplain, malah makan dengan begitu lahap. Darla keheranan mengapa Lunna tak mual dan muntah seperti kebanyakan wanita pada umumnya.
"Aku kan cuma memastikan! Ish, kau lihat itu, Nak. Aunty mu itu sangat bawel! Nanti kalau sudah besar tidak usah kau beli semur jengkol padanya, biar kita buat sendiri!" Jiwa jahil Lunna muncul ke permukaan lagi. Sekarang dia heran mengapa suka sekali, melihat muka Darla yang sebal.
"Whats?! Kau sudah meracuni pikiran anakmu, ya?" Darla melototkan mata.
"Haha, aku cuma bercanda, ayo cepat buka makanannya." Bau wangi makanan memenuhi ruangan kamar Lunna. Ia sangat tak sabar menyantap makanan yang Darla bawa.
Dahi Lunna berkerut hingga tiga lipatan, melihat perubahan raut wajah Darla yang nampak serius.
"Memangnya kenapa? Bagaimana mau bermain sosial media, handphone saja tidak punya. Lagian kau juga di larang Daddy dan Grandpa untuk membawa benda itu ke kamar ku, Kan? Dan asal kau tahu, aku juga malas menonton televisi, tidak ada yang menarik!" cerocos Lunna.
'Syukurlah, aku tidak mau saja kau melihat Jack yang menampilkan kemesraan di depan publik, bergonta-ganti pasangan, ish kenapa aku jadi membenci Jack ya, bukannya berusaha menemui Lunna malah bermain-main di luar sana!'
"Darla! Kenapa kau melamun?!" Lunna kebingungan, melihat Darla tak langsung membalas ucapannya.
__ADS_1
"Hehe, tidak, tidak, aku hanya tak mau kau kenapa-kenapa. Sudah lah, ayo kita makan!" ucapnya sembari duduk di kursi berhadapan dengan Lunna.
Lunna mengangguk pelan, sembari mengambil sendok. Siang menjelang sore. Kini, Lunna dan Darla bermalas-malasan di kamar. Keduanya berkeluh kesah satu sama lain layaknya bestei-bestei pada umumnya. Suara ketukan pintu berbunyi, mengalihkan atensi keduanya. Secepat kilat Darla membuka pintu kamar.
"Nona Darla, maaf menganggu waktu kalian. Tuan Simon meminta kalian untuk datang ke ruangannya," kata Lexi kepada Darla.
Sebelum berucap Darla melemparkan pandangan mata pada Lunna yang sedang merebahkan tubuhnya di kasur.
"Oke, satu menit lagi kami akan ke sana."
Lexi membalas dengan mengangguk.
***
"Kau lihat itu!?" ucap Leon dengan menunjuk ke arah televisi menampilkan Jack bersama seorang wanita.
Deg.
"Eve..."
***
__ADS_1
Kalau lama update, mohon maaf ya kakak². Bab sudah di setor tapi kadang bab bisa nyangkut lumayan lama di aplikasiš