
Hari datang silih berganti. Bagaikan sebuah mukjizat dalam waktu tiga hari. Keadaan Lunna sudah mulai membaik. Setelah melakukan pengobatan dan pemeriksaan rutin dari Dokter Rogue. Tak terdapat luka yang serius di organ dalam Lunna, semua nampak normal.
Dokter Rogue terkesima dengan daya tahan tubuh Lunna. Kebanyakan pasien wanita yang ia obati pasti akan bersungut-sungut ataupun mengeluhkan apa yang mereka rasakan. Tapi Lunna tidak sama sekali. Malahan wanita itu makan dengan lahap saat di beri makanan oleh suster yang membantu Dokter Rogue selama mereka di mansion.
Dan hari ini, Dokter Rogue pamit pulang kembali ke Los Angeles. Sebelum pulang pria bertubuh gempal itu tak lupa berfoto bersama Lunna. Sebab anaknya di rumah salah satu fans sejati Lunna.
"Hah.. Akhirnya aku sudah sembuh," kata Lunna setelah melihat Dokter Rogue dan suster keluar dari kamar Jack.
Lunna mengamati kamar Jack yang menurutnya besar dan megah. Namun juga terlihat sedikit aneh, karena terdapat beberapa bagian dinding yang berbeda warna. Belum lagi salah satu lukisan yang terpajang di dinding adalah lukisan harimau albino. Lunna sangat tak menyukai lukisan itu karena mata harimau melotot tajam seakan sedang menatapnya.
"Hii Jack-Jack kenapa sih? Pajang lukisan aneh begitu sih!" Lunna berbicara sendiri. Lalu menggeleng cepat kesukaan Jack memang sesuai dengan orangnya yang aneh, dingin dan menyebalkan itu.
"Aduh, aku mau makan semur jengkol sudah lama nggak makan itu!"
Bibir Lunna mengerucut sangat tajam karena sudah lama tak mengecap rasa nikmat dari semur jengkol. Detik kemudian ia beranjak pelan, lalu berjalan, menyusuri kamar Jack. Lunna berharap dapat menemukan petunjuk untuk terlepas dari jeratan Jack.
Lima menit pun berlalu, Lunna mengerutkan dahi, saat tak mendapati satupun foto di kamar Jack. Benar-benar misterius menurut Lunna. Seketika Lunna mematung kala merasakan kejanggalan.
"Tunggu dulu, astaga! Berarti malam ini aku akan tidur dengannya! Haa aku sampai lupa!"
"Bagaimana ini?!"
"Oke, oke tenang Lunna, kau harus melancarkan rencanamu!"
Lunna berbicara sendiri sambil mengigit jari kuku-kukunya. Tanpa sadar ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia sedang memikirkan cara untuk membalas perbuatan Jack kemarin. Sungguh jika ada racun di mansion ingin sekali dia menaruh di minuman Jack sekarang jua. Tapi, ia mau membalas dendam dengan perlahan-lahan biar Jack juga mengalami apa yang dia rasakan.
"Ayo Lunna berpikirlah! Wahai otak-otak kecilku berkerjasama lah dengan Mommy!" kata Lunna sambil menghadap ke atas langit-langit kamar.
"Aha!!" Lunna memekik sembari menutup mulut karena teriakannya menggema di ruangan.
Kepalanya celingak-celinguk mengarak ke daun pintu berharap tak ada Sahara yang tiba-tiba menyelenong masuk seperti kemarin.
"Fiuh..." Lunna lega karena tak ada tanda-tanda pintu terbuka. Detik selanjutnya, senyum licik terpatri diwajah cantiknya.
*
*
*
Saat ini, Jack dan Yuri baru saja menyelesaikan perkerjaan yang menumpuk dalam beberapa hari ini. Dengan cepat Jack melonggarkan dasinya lalu menyenderkan kepala di kursi kebesarannya. Sedangkan Yuri berdiri tegap sambil menunduk sedikit.
"Bagaimana keadaan Lunna?" tanya Jack tiba-tiba.
Yuri mengangkat wajah, lalu berkata,"Baik, Tuan. Dokter Rogue sudah pulang.
"Benarkah?" Jack ingin memastikan sebab beberapa hari ini juga dia tak bertemu Lunna karena sibuk dengan perkerjaan dan ia pun tidur di apartment miliknya yang berada di Los Angeles.
"Iya Tuan,"jawab Yuri cepat.
Pria itu melihat raut wajah Jack dengan seksama. Yuri sangat penasaran mengapa dalam beberapa hari ini Jack tak pulang ke mansion. Biasanya walaupun ia keletihan Jack akan tetap pulang ke mansion. Sibuk dengan pikirannya Yuri tak menyadari jika Jack sedari tadi memanggil namanya.
"Yuri!!!" Jack berteriak hingga Yuri terlonjak kaget.
"Ma-af Tu-an," kata Yuri tergagap sambil mengelus dada.
"Kenapa kau melamun?!" Jack bertanya ketus. Lalu menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Yuri memikirkan Lunna, Tuan," jawab Yuri jujur.
Mata Jack melotot tajam mendengarkan penuturan Yuri. Entah mengapa dadanya serasa panas dan terbakar. "Kau memikirkan istriku?!"
Yuri meneguk ludah dengan kasar, enggan menyahut.
'Tuan Jack kenapa ya?' Yuri bermonolog dalam hati. Matanya berkedip cepat sambil berulang kali menelan saliva.
*
*
*
Setelah perkataan Yuri yang mengatakan sedang memikirkan Lunna. Sedari tadi Jack melayangkan tatapan tajam pada Yuri hingga sesampainya mereka di mansion. Jack tetap menatap tajam sangat tajam.
"Ingat, kau harus tahu batasan!" Jack berseru sebelum melangkah menuju ruangan rahasianya. Sedangkan Yuri menanggapi dengan menarik nafas panjang mendengar ultimatum yang diberikan Jack.
'Padahal Yuri hanya memikirkan Lunna A saja, memangnya salah?'
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Jack baru saja keluar dari ruang rahasia. Dengan gontai ia berjalan memasuki kamarnya. Dahi Jack berkerut hingga tiga lipatan mendapati ruangan nampak sepi.
"Apa dia sedang makan?" Jack bergumam pelan karena biasanya jam tujuh Sahara sudah menyiapkan makan malam. Tak mau membuang banyak waktu. Ia melangkah ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Beberapa menit pun berlalu. Jack keluar dari kamar mandi dengan tubuh bagian atasnya yang masih nampak basah. Kedua matanya memicing melihat gundukan selimut di atas ranjang. Ia yakin sekali bahwa itu adalah Lunna yang sudah berada di pulau mimpi. Jack melirik sekilas jam di atas nakas, waktu menunjukkan pukul setengah delapan. Dia menerka-nerka apa wanita itu selalu tertidur cepat atau sedang menghindarinya. Dia menggeleng lalu bergegas menuju walk in closet.
Setelah memakai piyama. Jack menaiki tempat tidur dan merebahkan diri di samping tubuh Lunna.
'Bedeb@h kecil ini, sepertinya sengaja, jangan kau pikir akan bebas dari jeratanku! Karena selama satu tahun ke depan kau akan menderita.'
Jack menatap tajam ke arah Lunna yang semua tubuhnya tertutup selimut. Saat ini Lunna tengah membelakangi Jack. Pria itu beralih menatap langit-langit kamar. Lama dia termenung. Seketika matanya terasa berat dan kelopak mata Jack mengatup dengan perlahan memasuki ruang mimpi.
*
*
Di sebuah kamar yang seluruh catnya bernuansa gelap. Terdengar korokan cukup nyaring dari mulut seorang wanita. Lantas Jack yang berada di pulau mimpi, melenguh sejenak kala suara aneh mengusik tidurnya. Dengan cepat ia membuka mata.
"Oh my God! Dia ini wanita atau bukan?!" Untuk pertama kalinya Jack melihat seorang wanita cantik tidur dengan menggorok. Belum lagi Lunna sekarang memonopoli tempat tidurnya. Mulut Lunna terbuka lebar hingga air liur mengalir di sudut bibirnya. Pria itu menggeleng pelan kemudian mendengus kasar lalu membalikkan badan sambil menutup kepalanya dengan bantal.
Bugh!
Jack mengaduh kesakitan sejenak kala tubuhnya di timpa sesuatu yang berat. Dengan cepat melempar bantal ke sembarang arah menoleh ke belakang.
"Wanita ini benar-benar!!!" Jack meradang dengan cepat mengibaskan kaki Lunna. Namun Lunna malah mengangkat satu kakinya lagi hingga mengenai wajah Jack.
Bugh!
"Si@l!" Jack mengibaskan kaki Lunna lagi. Pria itu sekarang duduk di atas ranjang dengan mata melotot tajam ke arah Lunna.
"Lunna bangun!!" pekik Jack. Lunna bergeming meski teriakan Jack menggelegar di ruangan. Dia melonggo sesaat melihat Lunna tidur seperti kerbau.
Tak mau menyerah ia menggeser tubuhnya, kemudian mendekatkan bibir di daun telinga Lunna. Menarik nafas dengan sangat panjang.
"Lunna!!!!" Bukannya bangun, Lunna malah bergumam kecil lalu kembali mengorok lagi. Jack seakan tak percaya tak ada tanda-tanda Lunna akan terbangun juga. Nafas Jack mulai memburu.
"Argh!!!" Jack menjambak rambut, frustrasi sebab korokan Lunna sekarang semakin nyaring memekakkan telinganya.
__ADS_1
Sekarang Lunna berganti posisi membelakangi Jack. Jack mencoba tidur kembali kala kaki Lunna tak bergerak seperti tadi.
Belum sempat kepalanya menyentuh bantal. Ia mencium aroma tak sedap.
"Bau apa ini?" Jack mengerutkan dahi sembari mengibas udara disekitarnya. Dengan perlahan ia mencari sumber aroma.
Put!
Terdengar bunyi gas beracun keluar dari bokong sintal Lunna.
"Lunna!!!" teriak Jack hendak mencekik leher Lunna namun tiba-tiba sebelum tangannya menggapai leher Lunna.
Put!!
Put!!
Put!!
Put!!
Put!!
Put!!
Put!!
Put!!
Put!!!!!!
Muka Jack memerah sebab aroma yang dikeluarkan dari bokong Lunna membuat ruangan dikelilingi asap berwarna hijau pekat.
Perut Jack bergejolak ingin memuntahkan segera makanan yang berada di lambungnya. Bergegas dia beranjak. Dia masih mendengar bunyi kentut Lunna bersenandung nyaring di tempat tidur. Kakinya berayun lincah ke ambang pintu, satu tangannya terulur memutar gagang. Namun dia mengerutkan dahi sebab pintu tak bisa dibuka.
"Yuri!!"teriak Jack karena dia tak sanggup lagi. Aroma di dalam ruangan membuatnya kepalanya berputar-putar. Secepat kilat ia memukul kuat pintu berganda itu.
"Yuri tolong!" Keringat bercucuran dari keningnya kala semua udara ruangan menyesakkannya.Tangannya tak berhenti memukul-memukul pintu.
Sementara itu di luar kamar.
Yuri mengerutkan dahi melihat pintu kamar Jack bergerak-gerak. Ia mengaruk kepalanya sesaat.
"Ingat Yuri, jangan dibuka pesan Lunna A. Apapun yang terjadi jangan dibuka! Ya benar," kata Yuri mengingat perkataan Lunna beberapa jam lalu.
Kembali ke kamar.
Kini, Jack telah memuntahkan makanan yang tadi siang ke lantai. Dia sudah tak peduli. Seluruh badannya sudah berkeringat. Dengan sisa tenaga ia kembali mengedor-gedor pintu.
"Jack," panggil seseorang dari belakang. Secepat kilat Jack memutar tubuhnya.
Put!!!!!!!!!!!
Lunna mengarahkan bokongnya ke arah Jack. Membuat Jack terbatuk-batuk sambil berusaha menutup hidungnya lagi. Kepalanya seketika pening dan penglihatannya buram. Dengan perlahan pria itu merosot ke bawah. Tubuhnya bergetar seperti orang kejang-kejang. Nampak buih-buih busa pun muncul di sekitar mulutnya.
Bruk!
Sebelum mata Jack menutup. Ia dapat melihat Lunna tersenyum tipis padanya.
__ADS_1
Gelap....