Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet

Terjerat Dendam CEO' Penghuni Toilet
Jack Bermimpi


__ADS_3

Ketegangan masih terasa diantara Jack dan Brian. Kedua pria itu bergeming.


"Dia teman kampusku! Apa permasalahan anda?" tanya Lunna mulai tersulut emosi. Jack terlalu ikut campur urusannya. Lagian apa salahnya memeluk teman lama, pikir Lunna.


Jack beralih menatap Lunna. Bibirnya kelu. Dia pun diterpa kebingungan dengan respon tubuh dan hatinya. Ia tak menyahut lantas menyambar cepat tangan Lunna dan menyeretnya paksa menjauhi Kristin, Britney dan Brian yang mematung di tempat.


"Mereka kenapa?" tanya Brian kepada Kristin.


Kristin mengangkat bahu, menandakan dia tak tahu. "Saya tidak tahu kalau ada mengenal Lunna, Mr.Barbosa."


Yaps, pria di depan adalah tim yang bertanggung jawab dengan pemotretan hari ini. Kedua mata Kristin enggan berkedip melihat paras Brian amat menawan dan mempesona, tak kalah tampan dari Jack.


Brian terkekeh kecil. "Iya, Lunna, satu-satunya teman wanitaku saat kami kuliah di Finlandia," katanya sambil melirik Britney sekilas yang tengah menebarkan pesona. Brian berdecih kecil lalu beralih menatap Kristin lagi.


*


*


Sementara itu.


"Lepaskan aku!"


Sedari tadi Lunna berusaha mengibaskan tangannya Jack. Tapi, tetap saja tak bisa. Jack mengenggam dengan sangat kuat jari-jemarinya.


"Jack, apamu?! Aku sebentar lagi harus pergi ke studio!" cicit Lunna lagi kala Jack tak mengindahkan perkataannya sama sekali. Dengan tergesa-gesa kaki Lunna melangkah mengikuti ayunan kaki Jack yang lebar itu. Lunna memberengut kesal tanpa menghentikan kibasan tangannya.


Kepala Jack celingak-celinguk di setiap lorong, tak menghiraukan sapaan karyawannya yang lalu lalang sedari tadi.


"Jack!!!" Lunna memekik setelah Jack menghentikan langkah kaki di lorong yang nampak sepi. Seketika Jack mengapit Lunna ke tembok. Lunna diterpa kepanikan saat tak ada jarak diantara keduanya.


"Apa maumu, Jack?! Lepaskan aku!" Lunna hendak mendorong dada Jack. Dengan cepat Jack menyambar dan menyatukan jemarinya ke jemari Lunna.


"Kau kenapa?!"


Lunna menatap tajam Jack. Nafasnya memburu sebab Jack bersikap semau hati.


"Siapa pria itu? Pacarmu? Atau mantanmu?!" tanya Jack semakin mendekat ke wajah Lunna. Secepat kilat Lunna memalingkan muka ke samping kala pangkal hidung mereka hampir saja bersentuhan.


"Bukankah sudah kukatakan tadi, dia temanku!" kata Lunna tanpa menatap lawan bicara.


"Kau pasti berbohong, siapa namanya? Kendrick? Atau Samuel!?"


Jack meradang teringat tempo lalu kala mendapati nama Kendrick dan Samuel, secara berurutan menghubungi Lunna saat istrinya sedang sakit. Jack tak serta-merta mengangkat telepon, namun mematikan ponsel Lunna. Dia yakin kedua pria itu adalah pacar-pacar Lunna. Mengingat Yuri pernah mengatakan bahwa Lunna memiliki banyak mantan.

__ADS_1


Dahi Lunna berkerut hingga lipatan. "Aku tidak berbohong, namanya Brian!"


'Kendrick? Samuel? Itu kan nama kakak kembarku, kenapa dia bisa tahu?'


"Mulai dari sekarang, jangan pernah menyentuh pria manapun! Selain aku!" Jack berseru sambil menarik pinggang Lunna menempel dengan tubuhnya.


"Ah!" Lunna tersentak sejenak. Apa dia tidak salah mendengar? Bukankah di dalam kontrak pernikahan, tak ada larangan bersentuhan dengan lawan jenis.


Lunna menoleh. "Tidak mau! Kau gila atau apa?! Aku ini artis pastinya aku akan–"


"Turuti perintahku!!!" potong Jack cepat. Kedua matanya berkilat menyala.


Lagi dan lagi Lunna terkejut. Suara Jack terdengar meninggi. Ia dapat melihat Jack tengah menahan amarah. Selama satu menit keduanya saling menatap tajam satu sama lain. Tanpa aba-aba Jack melepaskan tubuh Lunna dan berlalu pergi meninggalkan Lunna.


"Argh! Orang aneh!" Lunna menghentak-hentakkan kaki di lantai sambil mengumpati Jack.


***


Berkat bantuan Brian. Tim photographer yang berkerjasama dengan Lunna. Akhirnya Lunna dapat menjalani pemotretan tanpa hambatan sedikitpun. Tadi, Kristin menceritakan semua permasalahan yang telah terjadi. Sebagai teman Brian pun meminta orang kepercayaannya mencari pakaian yang dibutuhkan Lunna.


"Kerja bagus, Lunna," kata Brian setelah sesi photo berakhir.


Lunna mengembangkan senyuman. "Terimakasih, berkat dirimu juga pemotretan berjalan lancar Brian. Maaf atas keteledoran kami tadi," kata Lunna tak enak hati. Sebab Brian membeli pakaian memakai duit pribadinya.


"Hmmmmmmmmm!"


Jack berdeham keras sembari mengibaskan tangan Lunna dan Brian. Mata Lunna membola melihat Jack berada di studio photo. Sedangkan Brian mengetatkan rahang kala CEO Sugar Entertainmant kembali merusak pendekatannya dengan Lunna. Wanita yang sedari dulu sudah terpatri dihatinya.


"Mr.Harlow, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Brian menahan diri. Dia bingung mengapa pria itu bisa berada di sini. Brian melirik sekilas Yuri yang berdiri tegap di belakang Jack. Sementara itu, Lunna mendengus kesal melihat tingkah Jack semakin menjadi-jadi.


Jack menyentuh pundak Brian, kemudian mendekatkan bibirnya ke daun telinganya. "Aku menjemput istriku, jangan pernah menyentuh tangannya," kata Jack tersenyum sinis lalu menyambar cepat tangan Lunna dan melenggang pergi meninggalkan Brian yang terpaku di tempat.


*


*


Kini, Jack dan Lunna sudah tiba di mansion setelah berdebat di sepanjang jalan. Padahal Lunna masih ingin bersantai-santai sejenak. Wanita itu menggeram sebal saat Jack memaksanya untuk pulang. Yuri yang mendengarkan perdebatan hanya bisa membatin.


'Mereka selalu seperti kucing dan tikus saja, kapan akurnya,' Batin Yuri kala melihat Jack kembali menyeret Lunna menuju kamar.


Malam menyapa. Jack menghela nafas kasar saat Lunna mendiamkannya sedari tadi. Padahal ia berniat melancarkan serangan. Tapi yang ada mood-nya hari ini sangat buruk mengingat kejadian tadi siang. Dia pun keheranan mengapa tak bisa mengontrol ucapan dan sikapnya.


"Pijat kakiku!" Jack menaruh kakinya di paha Lunna yang sedang duduk dan menyenderkan kepalanya ke sandaran tempat tidur.

__ADS_1


Secepat kilat Lunna mengangkat kaki Jack. "Tidak mau!"


"Turuti perintahku Lunna!"


"Tidak mau! Aku bilang tidak mau!!!" sahut Lunna sambil berdiri di tempat tidur. Matanya menatap tajam, setajam silet.


Jack mendongakkan kepalanya ke atas, seketika seringai tipis muncul di wajahnya. Satu tangannya terulur dan mencengkram kaki Lunna hingga Lunna terjembab di atas kasur.


"Argh! Apa maumu?" teriak Lunna saat Jack menindih tubuhnya tiba-tiba.


"Aku mau mencabik-cabikmu!" desis Jack di telinga Lunna.


Mendengar hal itu, Lunna bergedik ngeri. Dia memalingkan muka ke samping saat Jack mulai mendekatkan wajahnya seperti tadi siang. Lunna dapat merasakan sesuatu di bawah sana mengeras. Ia dilanda kepanikan.


"Lepas Jack, badanku masih sakit.. Aku mohon," kata Lunna tanpa sadar.


Jack tak menyahut, namun segera melepaskan tubuh Lunna dan beranjak dari tempat tidur. Kemudian berjalan cepat menuju ambang pintu.


Brak!


Dentuman pintu di tutup kuat, membuat Lunna tersentak kembali. Dia mengerutkan dahi melihat sikap Jack yang aneh akhir-akhir ini.


"Oh God, aku harus bersabar untuk satu tahun ke depan," kata Lunna sembari mengelus dada.


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Jack dan Lunna sudah tertidur pulas. Tampak bantal guling sebagai pembatas diletakkan di tengah-tengah.


Kepala Jack bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Tampak peluh keringat membanjiri dahinya. Nafas pria itu tak beraturan.


Di sebelahnya, Lunna terganggu dengan gerakan tempat tidur. Ia pun membuka kelopak matanya dan mengucek sesaat. Lalu menoleh ke samping. Kedua matanya memicing melihat Jack sepertinya sedang bermimpi buruk. Dia dapat melihat bibir Jack sangat pucat.


"Jangan tinggalkan aku..." desis Jack tiba-tiba.


Lunna yang penasaran, menggeser bantal guling dan mendekatkan tubuhnya.


"Jack, bangun," kata Lunna seraya menempelkan tangan di dahi Jack yang panas.


"Dia sakit?" gumam Lunna pelan. Seketika Lunna menjerit saat Jack tiba-tiba memeluknya.


"Jangan tinggalkan aku...." Dengan mata terpejam Jack memeluk Lunna sangat erat. Bersamaan pula buliran air bening mengalir di sudut matanya.


Mata Lunna berkedip pelan melihat Jack begitu nelangsa. "Ada apa dengan Jack? Siapa yang mau meninggalkannya?" Ia membiarkan Jack mendekapnya, tanpa sadar Lunna menelusupkan wajahnya ke dada bidang Jack.


"Jangan tinggalkan aku..." desis Jack lagi dengan suara yang parau.

__ADS_1


"Apa dia memiliki trauma?" Lunna berucap sambil mendongakkan kepalanya ke atas melihat wajah Jack berkeringat dan tanpa sadar Lunna menyeka peluhnya.


__ADS_2